Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-72


__ADS_3

"LEA!" suara Bang Wi menggelegar di gang.


Elijah mempercepat langkahnya sembari tertunduk, menyembunyikan air matanya yang mulai merebak dan hampir bertabrakan dengan Irgi yang penasaran mendengar teriakan Bang Wi.


"El?" Irgi tergagap melihat Elijah berurai air mata.


Elijah menundukkan kepalanya cepat-cepat dan menghambur menjauhinya. Lalu berbelok melewati warung Bimo, dan bergegas ke mobil Denta, yang terparkir tak jauh dari warung itu.


Denta terperanjat ketika gadis itu membuka pintu dan melempar koper ke jok belakang sembari tersengak-sengak.


"Jalan!" pinta Elijah sedikit tercekik, lebih terdengar seperti perintah daripada permintaan.


Denta tergagap sesaat sebelum akhirnya menyalakan mesin dan memundurkan mobilnya. Lalu meluncur pelan melewati gang rumah Bang Wi.


Bang Wi dan Evan menyeruak dari gang itu ke arah Irgi dengan tergopoh-gopoh.


Denta melirik ketiga pembalap itu melalui sudut matanya. Lalu tersenyum samar.


Lagi-lagi Elijah tidak menyadarinya. Terlalu sibuk meratapi diri.


"Ke mana dia?" tanya Bang Wi pada Irgi sembari terengah-engah.


"Udah pegi," jawab Irgi refleks karena terkejut.


"Pegi ke mana?" tanya Bang Wi lagi setengah menghardik.


"I---itu barusan nek mobil!" Irgi menjawab tergagap-gagap sembari menunjuk ke arah mobil Denta yang sudah menghilang.


"Mobil apaan?" Bang Wi dan Evan bertanya bersamaan.


Membuat Irgi semakin tergagap. "Mobil… mobil apa dah," jelasnya terbata-bata. "Kek… kek mobil Komar, lah! Cuma lebih gahar!"


"Mobil siapa?" Bang Wi bertanya lagi setengah melengak.


"Mana gua tau!" jawab Irgi setengah memekik. "Taksi online kali!"


"Mana ada taksi online mobilnye kek Komar?!" hardik Bang Wi.


"Lah lu nanya gua, terus gua nanya sapah?" sergah Irgi frustrasi.


Bang Wi dan Evan bertukar pandang. Lalu saling terdiam. Sama-sama termenung. Menenggelamkan diri ke dalam pikirannya masing-masing.


Irgi menelan ludah dan mengamati wajah keduanya dengan raut wajah bingung. Tak tahu bagaimana lagi ia harus bereaksi.


"Itu… racer wanita yang waktu itu, kan?" Cici Maria bertanya ketika Bang Wi dan Evan kembali. Wanita itu memandangi mereka dari teras dengan tatapan penuh keingintahuan.


"Ya," Evan menjawab tanpa minat.


"Dia keponakan saya," Bang Wi menimpali juga tanpa minat.

__ADS_1


Lalu keduanya bergegas ke dalam rumah dan kembali ke ruang makan dengan raut wajah yang seolah mengatakan, "Let me alone!"


Cici Maria mengikuti mereka dengan tergopoh-gopoh. Tapi begitu sampai di dalam, situasinya terasa semakin riskan. Membuat wanita itu merasa tak nyaman. Kehadirannya di tengah-tengah kedua pria itu terasa seperti pengganggu, sementara Bang Wi dan Evan hanya terdiam. Lebih tepatnya merasa tak dianggap.


Cici Maria tersenyum kikuk dan membuka suara dengan ragu-ragu, "Mmmm… Bang Wi, begini… karena saya masih ada urusan, saya mau pamit dulu," katanya memohon diri. "Untuk sementara, itu saja dulu yang bisa saya sampaikan."


Evan dan Bang Wi menoleh pada wanita itu dengan ekspresi seolah baru melihatnya, seolah-olah Cici Maria muncul begitu saja secara tiba-tiba.


"Oh," Bang Wi tergagap sesaat sebelum melanjutkan. "Maaf," katanya cepat-cepat. "Saya belum bisa ngasih jawaban sekarang, tapi nanti saya coba pikirin, lah!"


"Gak perlu buru-buru, Bang!" tukas Cici Maria berbasa-basi, lalu menoleh pada Evan. "Ehm, Van… bisa tolong anterin saya?" pintanya setengah merayu.


Evan mendesah pendek dan beranjak dari kursinya, "Oke," katanya sembari melirik sekilas pada Bang Wi.


Cici Maria tersenyum lebar dan membungkuk sekilas ke arah Bang Wi.


Bang Wi tersenyum tipis dan ikut bangkit dari tempatnya, lalu menggiring mereka sampai ke teras. Memandangi punggung keduanya dengan tatapan kosong.


Mencapai ujung gang rumah Bang Wi, Evan berhenti dan tersenyum basa-basi. "Saya cuma bisa nganter sampe sini ya, Ci!" katanya—PHP.


Cici Maria melengak antara terkejut dan patah hati. "Kamu gak balik ke sirkuit?" tanyanya beralasan. "Motor kamu kan masih di sana?"


"Saya sih gampang, Ci!" sanggah Evan. "Sekarang yang penting Cici udah tau kan rumah Bang Wi, jadi… lain kali Cici gak perlu repot-repot nyariin saya lagi kalo mau ketemu Bang Wi."


Cici Maria tersenyum kikuk, merasa sedikit tertohok di ulu hatinya. "Oke, oke! Kalo gitu makasih ya, Van. Udah mau nganterin saya ke sini. Maaf, lho! Udah ngerepotin."


Evan hanya tersenyum tipis dan mengangguk sekilas. Tak ingin berbasa-basi lebih lama lagi.


Evan mendesah kasar dan mengatupkan mulutnya. Merasa sedikit jengkel. Lea pasti salah paham liat dia, pikirnya muram.


Meski kepergian Elijah tak menyisakan harapan baginya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, masih terselip sedikit keyakinan bahwa Elijah masih menyimpan rasa yang sama meski setipis bulu dandelion. Rasa yang sama seperti ketika gadis itu menjadikan nama Evan sebagai satu-satunya pria yang ia doakan. Rasa yang sama seperti ketika gadis itu merasa tersengat melihat Evan tersenyum pada gadis lain. Rasa yang sama yang membuatnya bertahan dan berjuang di sirkuit sampai dua tahun.


Aku tahu kau mencintaiku, Lea!


Tapi kau tak pernah tahu…


Pada hari pertama kita dipertemukan, hatiku telah disalibkan bersama hatimu.


Mati bersama, bangkit pun bersama-sama.


Tak peduli ke mana kau pergi, tak peduli dengan siapa kau saat ini… hatimu telah mati untuk yang lain.


Bahkan jika kau mencoba memutus kalung salib itu.


Hatimu takkan bangkit jika hatiku tidak bangkit.


Itu adalah buah dari doamu, Lea!


Evan berbalik dan berjalan dengan langkah-langkah lebar, bergegas kembali ke rumah Bang Wi.

__ADS_1


Bang Wi memelototinya dengan dahi berkerut-kerut. "Lu gak jadi nganterin Maria?"


"Udah," jawab Evan singkat.


"Ngater sampe mana, lu? Kok, cepet banget?"


"Sampe warung si Bemo!"


"Si D o n g o!" Bang Wi terkekeh dan menggeleng-geleng. Lalu melanjutkan pekerjaannya di pekarangan samping rumahnya, membersihkan kolam lele.


Evan menjatuhkan dirinya di balai bambu di samping kolam itu, memperhatikan Bang Wi yang sedang bekerja dengan raut wajah murung. Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya.


Keheningan menyergap mereka dalam waktu yang lama.


.


.


.


"O que aconteceu? Porque ela está chorando---apa yang terjadi? Kenapa dia menangis?" Ibu Denta memekik terkejut ketika Elijah berlari melewatinya sembari tersengak-sengak, membekap mulutnya dan menyeret koper.


Denta berjalan di belakang gadis itu dengan langkah-langkah lebar. "Eu também não sei—saya juga tidak tahu," katanya pada ibunya seraya terus berjalan mengekori Elijah.


Gadis itu sekarang sudah mencapai paviliun dan mengurung diri di kamarnya.


"Eli!" Denta mencoba mengetuk pintu kamarnya.


Tidak ada jawaban.


Terdengar isak-tangis gadis itu dari dalam.


Denta mulai terbatuk-batuk karena khawatir. Lalu kembali memanggil Elijah.


Ibunya bergabung tak lama kemudian. Ekspresi wajahnya tak kalah khawatir. "Eli! Buka pintunya!"


Denta terbatuk-batuk lagi.


Ibunya menatap cemas. "Você descansa! Deixe-me convencê-lo---kau istirahat saja! Biar aku yang membujuknya," bisiknya pada Denta.


Denta menghela napas dalam-dalam, menghirup udara banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya, lalu memaksakan senyum. "Eu bem---aku tidak apa-apa," katanya meyakinkan ibunya. "Só um pouco preocupado—hanya sedikit khawatir."


Ibunya mendesah pendek dan menyerah. Lalu kembali memanggil Elijah.


Elijah berhenti menangis dan beranjak dari tempat tidurnya, menyeka wajahnya cepat-cepat dan bergegas ke pintu. Mendengar Denta terus terbatuk-batuk, membuat hatinya serasa tercubit. Ia tak berharap kondisi pria itu kembali memburuk hanya karena khawatir. Dia baru mendingan, pikirnya. Lalu menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kemudian membuka pintu.


Denta segera mencelat ke dalam dan meraup bahu gadis itu ke dalam dekapannya begitu pintu terkuak membuka.


Ibu Denta mendesah lega, sementara tangisan Elijah kembali meledak.

__ADS_1


Kedua bahunya bergetar dalam dekapan Denta. Luluh lantak karena kelembutannya.


__ADS_2