
Memasuki ruang tamu, tercium bau apak ruangan lembap yang lama ditinggalkan. Debu menempel di setiap perabotan. Meja, kursi, rak sepatu, lemari dinding tempat penyimpanan jaket, semuanya terlihat kusam.
Elijah mengedar pandang ke sekeliling seraya melangkah pelan ke gang, melewati sejumlah pintu yang ia duga sebagai kamar.
Rumah itu lumayan besar dengan banyak kamar. Mungkin dulunya bekas rumah keluarga besar, pikir Elijah. Sama seperti rumah bibinya. Mungkin rumah warisan juga.
Seingat Elijah, pamannya adalah putra sulung orang terpandang keturunan pejuang Batavia---keturunan murni suku Betawi.
Ini baru akamsi, nih!
Tak heran dia begitu disegani.
Omong-omong yang mana kamarnya? Elijah bertanya-tanya dalam hatinya seraya meneliti semua pintu dan mendorongnya satu per satu.
Semuanya terkunci!
Elijah melanjutkan langkahnya menuju dapur yang menjadi satu dengan ruang makan, ukurannya juga lumayan besar. Sebuah tudung saji berwarna biru berbahan plastik tertangkup di atas meja makan bundar dengan enam kursi kayu berukir di tengah-tengah ruangan.
Di sudut ruangan dekat pintu keluar terdapat meja racik dari bambu, sebuah kompor minyak zaman dulu bertengger di atasnya. Di atas meja di sepanjang dinding berjejer perangkat masak berbahan aluminium dengan lingkaran hitam di bagian bawahnya. Di sisinya, berdiri rak piring berbahan besi kopong atau baja ringan yang dicat putih dan biru.
Benar-benar klasik, pikir Elijah kagum.
Gimana caranya nyalain kompor minyak? Elijah penasaran. Lalu mendekat ke meja racik. Ia membungkuk mengamati kompor stainless itu dengan mata terpicing, kemudian memutar kenop berbentuk bundar di bagian bawah kompor yang diduganya sebagai pemantik seperti yang terdapat pada kompor gas. Tapi tidak terjadi apa-apa.
Elijah mencoba menekannya. Tetap tidak terjadi apa-apa.
Lalu ia mencoba menekan sembari memutarnya.
Nihil!
Jiah, pikir Elijah merasa konyol. Lalu meluruskan tubuhnya lagi dan menjauh dari meja racik.
Seseorang memperhatikannya dari ambang pintu sembari bersedekap dan menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu.
"Mas Galang?" Elijah terperangah. Gua lupa belum naburin garem depan pintu, pikirnya.
Pria Syantik itu mendesis tertawa seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangan, lalu menarik bahunya dari bingkai pintu dan berjalan melenggok ke arah Elijah. "Gini lho, cara nyalain kompor minyak," tuturnya sembari mengibaskan rambutnya dengan gaya sok cantik. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan pemantik plastik. "Sini," katanya sembari melambaikan tangannya dengan jemari keriting.
Elijah mengikutinya dengan ekspresi geli---maaf, maksudnya jijik!
Pria Syantik itu mencomot sebatang kawat yang bentuknya mirip kembang api yang biasa dimainkan Elijah sewaktu kecil setiap malam pergantian tahun. Ia membuka sumbat kecil di bagian bawah kompor dan mencelupkan kawat tadi ke dalam minyak, kemudian membakarnya.
__ADS_1
Elijah memperhatikannya dengan wajah t o l o l ketika pria itu memasukkan ujung kawat yang sudah menyala ke dalam rongga kecil di bagian atas kompor untuk menyalakan semua sumbu yang berderet melingkar di sekeliling kompor.
Dengan gaya kemayu, Pria Syantik itu mengibaskan rambutnya lagi dan menunjuk kenop yang tadi dipegang Elijah. "Ini tuh, fungsinya buat naikin sama nurunin sumbu," tuturnya seraya menunjukkan cara membesarkan dan mengecilkan api.
Elijah mengangguk-angguk sembari menggigit bibir bawahnya.
"Nah," Pria Syantik itu menarik tubuhnya dan mengedar pandang, kemudian meraih cerek alumunium. "Sekarang kita masak aer, buat ngopi abang-abang ganteng!" katanya sembari mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum genit.
Elijah tersenyum kikuk menanggapinya.
"Masak aer, biar mateng," Galang mulai berpantun sembari melenggok ke arah tong plastik besar di sudut lain ruangan, membuka tutupnya dan menyendok air di dalamnya dengan gayung plastik. "Masak aer buat ngopi abang-abang ganteng!"
Di mana wastafelnya? pikir Elijah tak tahan lagi. Gua pen muntah!
Setelah mengisi cerek, Galang mengibaskan rambutnya lagi, menutup cerek tadi, menutup tongnya lagi, dan berdendang sembari goyang itik. "Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk! Aha-aha!"
Please, deh! Jan kereta sialan lagi! ratap Elijah dalam hati.
Begitu sampai di dekat kompor, Pria Syantik itu memekik dramatis dengan mata dan mulut membulat sebelah tangannya membekap mulutnya dengan gaya dramatis—benar-benar sok cantik!
Nyala kompornya mengecil dan memerah, disertai asap tipis berwarna hitam.
Elijah melongok dari balik bahu manusia setengah raksasa itu—atau mungkin setengah gunung, dengan wajah penasaran seorang anak kecil.
Raksasa gemulai itu menoleh ke sana-kemari, mencari-cari jerigen minyak. Setelah ia menemukannya, ia memasangkan corong pada lubang di bagian bawah kompor itu dan menuangkan minyak tadi ke dalam tabung, dan… seketika apinya membesar dan meletus dengan semburan mengerikan.
Pria Syantik itu menjerit histeris seperti perempuan, yang secara otomatis membuat semua orang di luar menghambur ke dalam dan berjejal di pintu tengah.
Elijah mematung membekap mulutnya.
Api biru menyembur dari lubang tabung minyak.
Galang melejit menjauhi kompor itu sembari membekap kedua telinganya dan menjerit-jerit.
Bersamaan dengan itu, Evan dan Bang Wi menerjang ke tengah ruangan.
Galang spontan menghambur ke dalam pelukan Evan sembari pura-pura menangis, "Dede takut, Bang!"
"Amit-amit!" hardik Evan sembari menyingkirkan Pria Tulang Lunak itu dari hadapannya. "Kaga malu ama bewok, Si B a n g k e!"
Seisi ruangan spontan tergelak dan terbahak-bahak, sementara Bang Wi sibuk mencari-cari kain basah.
__ADS_1
Sejurus kemudian, Bang Wi---dibantu Evan, akhirnya berhasil meredam nyala api dengan menekankan kain basah dan memadamkannya secara perlahan. "Dede! Dede!" gerutu Bang Wi sembari mendelik pada Galang. "Dedemit?"
Seisi ruangan kembali tergelak.
Galang menanggapinya dengan tertunduk sembari menggigiti kukunya menirukan gadis lugu yang krisis percaya diri.
Gagal udah tutorial masak aer ala BBB, kata Elijah dalam hati. BBB maksudnya Banci Besar Banget. Tapi akhirnya gua tau maksudnya "Kompor Meleduk" dalam lagu lawas ciptaan Benyamin Sueb, pikirnya melantur.
"Kaga bisa dipercaya emang," timpal Martin sembari menoyor pelipis Galang. "Suruh masak aer aja udah pen ngeledakkin dapur!"
Galang merengek pada Maha sembari menggamit lengan cowok itu, "Aa, Dede dibuli!"
"Astaghfirullahaladzim!" teriak Maha sembari mencelat menjauhi Galang. "Laa ilaha illallah! Laa ilaha illallah!" gumamnya berulang-ulang seperti ketika ada gempa, kemudian bergidik sembari menepuk-nepukkan telapak tangannya di tengkuk dan di sepanjang lengannya seperti sedang menepiskan debu. Lalu mengusap-usap wajahnya. "Astaghfirullah!"
Seisi ruangan tertawa terpingkal-pingkal.
"Ambil wudhu, lu!" kata Innu.
"Bacain ayat kursi, Grit!" timpal Igun. Maksudnya Great---Maha.
Grit adalah panggilan kecil Maha, karena tak nyaman kalau harus memanggilnya, "Mah!" atau "Ha!"
Ha ha ha…
Gak lucu, ya?
Forget it!
"Mending ke Cang Nizar, lu! Menta tamba," usul Bemo.
Siapa lagi coba Cang Nizar?
Itu sih, cuma mereka yang tahu!
Barangkali Cang Nizar semacam guru spiritual. Yang jelas, tamba dalam bahasa Sunda mengandung arti penangkal atau obat. Sering dikaitkan dengan perdukunan.
"Laen kali, kalo kompor lagi nyala jan diisi minyak," cerocos Bang Wi, menguliahi Galang sembari membungkuk memperbaiki kompornya—dibantu Evan. "Isi minyak dulu, baru nyalain!"
"Maaf, Ayah!" sahut Galang pura-pura patuh, kemudian tertunduk dan memilin-milin ujung t-shirt-nya.
Dasar B a n c i L a k n a t!
__ADS_1