Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-15


__ADS_3

Martin Hernandez.


Yep, kalian tak salah tebak!


Pria kedua yang baru tiba itu memang KoMar, cowok gondrong parlente bergaya semerek yang kejedot tiang saat action pertamanya di bab awal Introduksi.


Dan pria yang ketiga sudah bisa dipastikan adalah Ardian Kusuma---Ko Ard. Cowok gondrong tapi kalem yang tampannya mirip opa-opa Korea.


Mereka semua pembalap?


Kenapa si Dapé gak ikut juga?


Devian memang pembalap, tapi bukan atlet motocross. Dia pecinta Yamaha RX-KING modifikasi. Sebut saja atlet road race. Itu dua hal yang berbeda, meski sama-sama racing.


Jadi, jangan harap Devian ada di sini!


"Ah, kalian datang tepat waktu!" Bibi Aria menyambut mereka dengan hangat. "Ayo, semuanya masuk!"


Ardian Kusuma membungkuk sekilas dan tersenyum tipis.


Dan tanpa sadar Elijah hampir tak berkedip memperhatikan pria itu sejak ia tiba.


Seolah bisa merasakan dirinya sedang diperhatikan, pria itu tiba-tiba menoleh pada Elijah dan mengerutkan keningnya, seperti sedang mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah melihat gadis itu, kemudian tergagap sembari menunjuk ke arah Elijah, "Kamu—"


"Ilah!" Evan tiba-tiba menepis tangan Ardian sembari berbalik ke dalam rumah.


Pria itu terperangah menatap Evan. Igun, Innu dan Maha melewatinya sembari menyenggol bahunya di sana sini. Pria itu spontan mengerutkan keningnya lagi sembari menoleh ke sana kemari dengan ekspresi sedikit bingung.


Elijah spontan mengerjap dan memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya. Lalu buru-buru memutar tubuhnya memunggungi Ardian.


Ardian akhirnya hanya tersenyum tipis dan menggeleng-geleng. Lalu mengikuti yang lain.


Semua orang digiring ke dalam rumah dan dipersilahkan ke ruang makan. Beruntung rumah itu dulunya bekas keluarga besar yang tidak kekurangan tempat duduk.


Bibi Aria menyiapkan perangkat makan tambahan, Elijah dan Delilah membantunya.


Ardian Kusuma tak lepas memandangi Elijah ketika gadis itu menyiapkan perangkat makan untuknya, sementara Komar dan Galang sudah terlibat pembicaraan dengan yang lain.


Evan melirik Ardian secara diam-diam melalui sudut matanya, lalu melirik Elijah.


Senyum gadis itu melembut ketika tatapannya beradu dengan tatapan Ardian.


"Kamu yang waktu itu ke biliar nyari Devian, kan?" Ardian akhirnya bertanya juga.


"Iya," jawab Elijah seraya tertunduk, menaruh piring dan sendok di meja di depan Ardian.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Ardian lagi.


"Cuma selama liburan," kata Elijah.


Evan menyimak pembicaraan mereka sembari bersedekap, pura-pura memperhatikan pembicaraan lain. Isi kepalanya dipenuhi catatan Elijah di buku hariannya. Jadi mereka belum saling kenal? pikirnya. Mereka semua cuma pernah ketemu sekali, ia menyimpulkan.


"Oh," Ardian tersenyum lagi. "Jadi, kamu bukan anaknya?" Ia bertanya lagi sembari mengerling ke arah Bang Wi.

__ADS_1


"Bukan," Elijah balas tersenyum. "Saya keponakannya."


Menyadari Elijah terus tersenyum, Evan mengangkat wajahnya lagi, menatap Elijah dan Ardian secara bergantian dengan alis bertautan.


Igun melirik Evan dan serta-merta mengikuti arah pandangnya. Lalu menyikut lengan Innu yang duduk di sampingnya.


Innu menoleh pada Igun dengan mata terpicing.


Igun menunjuk ke arah Ardian dengan lirikan matanya.


Innu langsung paham.


"Kota asal kamu?" Ardian bertanya lagi.


"Rangkasbitung," jawab Elijah, lagi-lagi tersenyum.


Manis sekali, batin Evan sinis. Lalu teringat empat hal yang ditulis Elijah tentang pria itu. Gondrong, ganteng, gak banyak gaya, gak ada cela.


Gak ada cela? Evan mendengus. "Alus!" pekiknya tiba-tiba, kemudian berpaling ke sembarang arah.


Seisi ruangan serentak menoleh pada Evan. Kemudian menatap Ardian.


"Orang yang metik dia yang nyiangin," seloroh Evan tanpa menoleh.


Anak-anak setan di kiri-kanannya terkekeh.


"Jauh juga, ya?" komentar Ardian, tidak menggubris sindiran mereka.


"Jauh-jauh dari dia, please!" Igun menambahkan.


Ardian mengerjap dan mengedar pandang, lalu kembali mendongak menatap Elijah yang langsung tertunduk dan menjauh dari meja.


Seisi ruangan terbahak-bahak sekarang.


Bang Wi bertukar pandang dengan istrinya.


Elijah masih tertunduk, tak berani menoleh pada mereka.


"Udah ah, pada makan!" instruksi Bang Wi menginterupsi. "Jan ampe, lu-lu pade ntar yang gua makan!"


Ruangan berubah gaduh seiring orang-orang itu bergerak di kursinya masing-masing. Suara-suara sendok yang beradu dengan piring, bercampur dengan suara gumaman rendah, terdengar seperti dengung lebah yang sedang gelisah.


Elijah dan Delilah duduk diapit Bibi Aria dan suaminya, berseberangan dengan tempat duduk Evan. Igun, Innu dan Maha berderet di sebelah kanan Evan, mencuri-curi pandang ke arah Elijah sembari cengengesan—dasar anak setan!


Gak ada ngeri-ngerinya!


Ardian terus terdiam sepanjang sarapan, tapi raut wajahnya seolah terus tersenyum. Cara makan dan pembawaannya di meja makan terkesan elegan seperti para bangsawan.


Benar-benar tidak bercela!


Seusai sarapan, Elijah dan Delilah membantu Bibi Aria membersihkan semuanya dan merapikan ruang makan, sementara para pembalap itu digiring Bang Wi ke rumah ketua RT, mengurus perizinan, menemui beberapa tokoh masyarakat dan mengunjungi karang taruna setempat.


Hari ini sepertinya akan sibuk!

__ADS_1


"Help me hierna hun paviljoen schoon te maken---bantu Bibi membersihkan paviliun mereka setelah ini," pinta Bibi Aria pada Elijah.


"Maak je een grapje---yang benar saja," erang Elijah. "Dat hoeft niet, Tante. Je bent geen dienaar—Bibi tak harus melakukannya. Bibi bukan pelayan."


"Natuurlijk ben ik een dienaar—tentu saja aku pelayan," tukas Bibi Aria. "We zijn allemaal dienaren---kita semua adalah pelayan. Dienaar van God---pelayan Tuhan."


"Dus, zullen we hun huis schoonmaken of dat van God---jadi, kita akan membersihkan tempat mereka atau tempat Tuhan?" Elijah tersenyum sinis.


"Lea," Bibi Aria menegurnya dengan lembut. "God heeft dat bevolen, wat je ook doet, doe het met je hele hart, alsof je het voor de Heer doet en niet voor mensen—Tuhan telah memerintahkan bahwa, apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."


Elijah langsung terdiam. Lalu mengikuti bibinya dengan patuh, tidak berani membantahnya lagi.


Sekarang, kalian akhirnya mengerti, kenapa Elijah dikirim ke tempat bibinya.


Bibi Aria bisa mengubahnya… dari dalam!


Begitu sampai di paviliun para pembalap itu, Elijah sedikit terkejut mendapati seluruh tempat sudah tertata rapi.


Meja kopi di teras mereka seperti tak pernah terpakai, tidak ada remah-remah makanan ringan yang berceceran, tidak ada noda kopi yang menetes, bahkan asbak di atasnya tidak meninggalkan abu sama sekali.


Lantai mereka terlihat licin meski mereka terlihat bolak-balik mengenakan sepatu.


Dapur mereka terlihat apik. Gelas-gelas bekas kopi telah dicuci dan ditata di rak dalam keadaan kering. Area sekitar bak cuci piring bahkan tidak meninggalkan bercak air yang mungkin terciprat ketika mereka mencuci.


Kamar mandi mereka tampak terawat dan berbau segar.


Kamar mereka seperti tak pernah ditiduri laki-laki.


"Ze zorgen er goed voor---mereka merawatnya dengan baik," komentar Bibi Aria agak takjub, ekspresi wajahnya hampir sama terkejutnya dengan Elijah. Bisa katakan hampir tak percaya.


Elijah membeku dalam kebisuan. Cowok-cowok berengsek itu kek'nya gak terlalu buruk, pikirnya, sedikit menyesal karena telah keliru menilai mereka. Meski tidak terlalu keliru mengenai satu hal—cowok berengsek!


Elijah mengembuskan napas sembari menggembungkan kedua pipinya. Lalu berbalik meninggalkan paviliun itu mengikuti Bibi Aria.


Kembali ke kamarnya, Elijah mendapat satu tambahan untuk daftar Cowok 4G-nya.


Innu: Gondrong, ganteng, ganjen, gak ada akhlak!



Igun sama Maha gak masuk?


Enggak!


Mereka berdua belum gondrong.



...Igun...



...Maha...

__ADS_1


__ADS_2