
Evan melihat Cici Maria sudah tidak berada di bengkelnya saat ia kembali---mungkin takkan kembali untuk waktu yang lama. Bisa jadi untuk selamanya.
Tidak ada lagi keseruan yang akan digelar setiap malam seperti malam-malam sebelumnya.
Tidak akan ada lagi acara jalan-jalan untuk merayakan setiap kemenangannya di kemudian hari.
Evan tak peduli!
Tuhan pun tahu Evan tidak membutuhkan donatur untuk mensponsori pesta kemenangannya.
Ia bahkan tidak tertarik untuk merayakan setiap kemenangannya.
Ia tak butuh apa pun dari wanita lain ketika ia berpikir untuk menyerah pada Elijah.
Terutama sekarang, ia telah berubah pikiran!
Tapi bersamaan dengan itu juga Elijah tidak pulang ke rumah pamannya. Dan ia tak yakin untuk berapa lama.
Evan tak bisa tak peduli!
Di mana dia sekarang?
Terakhir kali dia pergi dari rumah pamannya, dia bertemu dengan Denta!
Bajingan beruntung mana lagi yang akan menemukannya kali ini?
Evan percaya ke mana pun Elijah pergi, selalu ada pria yang akan mengulurkan tangannya untuk merangkul dan menaungi gadis itu.
Dan itu membuat hatinya semakin sakit.
Bodoh! Begitulah ia mengutuki dirinya. Lalu menjatuhkan dirinya di kursi tanpa bicara maupun menoleh ke sana-kemari.
Teman-temannya mengawasi dengan ekspresi tegang. Tidak satu pun dari mereka berani membuka suara. Hanya menatap Evan dengan sedikit salah tingkah.
Sampai…
Innu menyikut Igun di belakang panggung Evan secara diam-diam.
Igun berdeham dan melirik sekilas pada Evan, lalu mengedar pandang ke arah teman-temannya.
Teman-temannya membalas dengan tatapan mendesak. Memaksa Igun untuk bicara.
"Bang, sori…" Igun berkata ragu-ragu.
Evan melirik ke arah Igun dengan raut wajah datar.
"Cici Maria—"
"Gua gak mau denger apa-apa soal Cici Maria!" sergah Evan memotong perkataan Igun.
Igun menelan ludah dan tertunduk dengan raut wajah gusar. Lalu melirik teman-temannya lagi.
Innu mengerang tanpa suara sembari memutar-mutar bola matanya. Lalu memberanikan diri untuk membuka suara. "Tapi Cici Maria tepar, Bang!"
"Terus?" Evan menyentakkan kepalanya ke samping, menghujamkan tatapan tajam ke arah Innu.
__ADS_1
"Dia sekarang di kamar Igun!" Innu memberitahu.
Evan mengetatkan rahangnya dan menoleh pada Igun. "Mau lu anterin pulang gak tu orang, hah?" geramnya tak sabar.
"Kita gak ada yang tau rumahnya, Bang!" tukas Igun tak berdaya.
Evan mendesah sembari mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Sekarang ia baru ingat selama ini hanya dirinya yang tahu rumah Cici Maria.
Pernah sekali ia antar-jemput sewaktu wanita itu datang pertama kali sebagai pelanggan. Mobil Cici Maria hari itu mogok sementara waktu sudah larut malam. Dan ia terpaksa mengantar wanita itu pulang dan menjemputnya setelah mobilnya selesai diperbaiki keesokan harinya.
Betul-betul merepotkan, pikir Evan tak sabar.
Entah kenapa ia merasa semua ini seperti jebakan baginya sekarang.
"Ditinggal sebentar aja bisa tepar, gimana ceritanya?" Evan bertanya seraya mengedar pandang.
Teman-temannya serentak tertunduk.
"Lu pada kasih apaan emang?" Evan meninggikan suaranya.
Teman-temannya hanya angkat bahu. Sebagian hanya menggeleng.
Evan menatap Igun dengan mata terpicing, menuntut penjelasan.
"Pas lu cabut tadi…" Igun menjawab ragu. "Doi pingsan!"
Evan mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak. "Pingsan dari tadi, ampe sekarang belon siuman?" Evan bertanya skeptis.
Teman-temannya bertukar pandang.
Teman-temannya serempak tercengang.
"Maksudnya?" Igun bertanya tak mengerti.
"Pingsan yang normal gak lebih dari dua puluh menit! Paham?" Evan berkata dengan enteng.
Igun langsung terdiam.
Evan pergi lebih dari dua jam tadi.
"Kalo lebih?" Giliran Innu sekarang yang bertanya.
"Koma lah, Bego!" timpal Evan tanpa beban.
"Hah?" Igun dan Innu tergagap bersamaan.
Maha dan Irgi saling melirik. Bimo tidak bereaksi—sedang fokus membalas pesan.
"Bawa ke rumah sakit sono!" sembur Evan setengah mengejek.
Igun dan Innu serentak bergegas ke kamar Igun.
Evan terkekeh dengan raut wajah sinis. Lalu melirik ke arah Maha. "Pesenin kopi, Grit!" pintanya.
"Ashiyapp!" Maha merespon cepat-cepat. Lalu bergegas ke luar gerbang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Innu kembali dengan cemberut.
Evan melirik Innu seraya tersenyum miring.
"Kek taik, emang!" gerutu Innu dalam gumaman pelan. Lalu menjatuhkan dirinya di kursi di sisi Evan.
Evan terkekeh menanggapinya.
Bersamaan dengan itu, Igun keluar bersama Cici Maria yang langsung tertunduk begitu melihat Evan, bergegas melewatinya dengan langkah-langkah lebar, menghindari tatapan Evan.
Evan terkekeh dengan tatapan sinis. Mau ngakalin gue! dengusnya dalam hati.
Igun mengantar wanita itu sampai ke mobilnya dan berbasa-basi sejenak, berusaha untuk tetap bersikap hormat mengingat semua kebaikannya selama ini. Bagaimanapun ia tak punya masalah dengan Cici Maria.
Dan Evan sama sekali tidak menyalahkannya.
Evan tidak menyalahkan siapa pun di sini meski jika semua orang berpihak pada Cici Maria.
Ia hanya menyesal ia tak cukup peka selama ini.
Ah, tapi sudahlah! pikirnya. Masalah pribadinya sama sekali bukan urusan mereka!
Bagaimanapun Evan bukan tipe orang yang suka menyalahkan orang lain maupun keadaan saat ia dihadapkan pada masalah.
Masalah adalah realita kehidupan, pikirnya.
Tanpa masalah, aku tak akan tahu kesalahanku!
Sin dolor no te haces feliz—Tanpa rasa sakit kita tak akan tahu rasanya bahagia---Pepatah Spanyol.
.
.
.
"Er zouden geen parels zijn als er geen verwondingen oesters waren—Tak akan ada mutiara jika tak ada tiram yang terluka," bisik Bibi Aria seraya mengelus lembut kepala Elijah.
Gadis itu bersandar di dada bibinya, duduk meringkuk dalam ketenangan yang damai setelah puas menangis, selepas lelah menguras air matanya, tenggelam dalam dekapan tulus pengganti ibunya, satu-satunya tempat terbaik untuk ia pulang.
Evan benar, segala sesuatu yang diambil Tuhan selalu digantikan dengan yang lebih baik.
Tuhan mengambil ibunya, dan menempatkan Bibi Aria di sisinya.
Meski Bibi Aria tak pernah memanjakannya dengan makanan enak setiap hari, menjejalinya dengan uang saku setiap minggu, atau memberi hadiah setiap tahun—tidak seperti ibunya, Bibi Aria memberinya sesuatu yang lebih berharga dari itu semua.
Dalam setiap satu kali bertemu, bibi Aria membekalinya sesuatu yang dapat ia gunakan seumur hidup---motivasi.
Iman, kasih dan pengharapan!
Cahaya kuning pucat berkeredap di tungku perapian, meninggalkan bunyi meretih yang menyamankan dalam cuaca hujan di malam hari.
Dua cangkir cokelat mengepul di atas meja di depan mereka.
"Het duurde tien jaar om een oester wond in een parel te veranderen—Butuh waktu sepuluh tahun untuk mengubah luka tiram menjadi mutiara," lanjut Bibi Aria. "Maar slechts tien dagen om de cocon in een vlinder te veranderen. En zodat je het weet, vlinders eindigen net zo snel als ze geboren zijn. Terwijl de beste parels niet gemakkelijk te verpletteren zijn—Tapi hanya sepuluh hari untuk mengubah kepompong jadi kupu-kupu. Dan asal kau tahu, kupu-kupu mudah berakhir secepat ia dilahirkan. Sementara mutiara terbaik tak mudah untuk diremukkan."
__ADS_1
Waktu selalu punya jawaban untuk setiap persoalan---Kutipan Penulis Keparat.