Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-58


__ADS_3

Semburat jingga matahari sore kian meredup ketika semua orang berkemas dan bersiap-siap.


Semua orang berkumpul di pekarangan rumah bergaya Betawi klasik yang terkesan selalu nyaman seperti rumah nenek, dan perpisahan mereka berakhir kekeluargaan seperti lebaran.


Ketika tiba gilirannya untuk berpamitan dengan Evan, Elijah berusaha untuk menorehkan kesan yang mendalam melalui perkataan gombal yang sangat terkenal, "Thanks, buat kebersamaannya selama dua minggu ini!"


Tapi semua itu menjadi tak berarti ketika kau mengatakannya di depan knalpot racing.


Bayangkan saja kau bicara pada knalpot sepeda motormu, "Berisik!" Selain tidak berpengaruh, hal itu juga hanya akan membuat dirimu merasa konyol.


Mau tahu apa yang dikatakan Evan untuk menanggapi ungkapan Elijah?


"Go EFS!" katanya sembari mengacungkan telunjuk dan kelingkingnya membentuk simbol metal, yang mau tidak mau, membuat Elijah bereaksi lebih konyol.


"Hail!" balas Elijah sembari mengayunkan tinju di depan wajahnya membentuk simbol EFS—sikap tangan menggenggam setang.


Devian terkekeh menanggapi keduanya.


"Kalo simbol metal digenti kek gitu, gua keluar dari band ini!" kelakar Jati sembari menunjuk kepalan tangan Elijah dengan akting marah-marah, lalu berbalik dan menyelinap masuk ke mobilnya---masih dengan akting marah-marah. Teman-temannya tergelak sembari memasuki mobilnya satu per satu.


"Sampe jumpa minggu depan," bisik Evan sembari membungkuk di dekat pipi Elijah.


Elijah tersenyum simpul sembari tertunduk—sedikit tersipu-sipu. Entah bagaimana perkataan itu menyentuh hatinya, dan seketika menyalakan semangatnya yang hampir sekarat.


Satu per satu kendaraan mereka akhirnya beranjak dari pekarangan, sementara Bang Wi dan Devian juga bergegas ke mobil Evan, bersiap untuk menjenguk Galang yang sedang dirawat.


Akhirnya… pikir Elijah merasa hampa. Gua lupa nanyain nomor si Evan!


"So," kata ayahnya sembari melirik sekilas pada Elijah, kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan. "Mana yang lebih berbahaya? Racing atau moshing?"


"Dad…" Elijah mengerang di bangku penumpang depan.


"Daddy kan cuma tanya," seloroh ayahnya. "Bukan melarangmu!"


Elijah menoleh pada ayahnya dengan mata dan mulut membulat.


Keith dan Noah bertukar pandang di jok belakang.


"Je verbiedt het me niet?---Kau tidak melarangku?" tanya Elijah tak percaya.


Keith langsung membeliak sebal. "Jan ngomong Holland, please!" erangnya muak.


"Wil je dat ik je verbied?---kau mau aku melarangmu?" Ayahnya balas bertanya.


"Probeer het niet eens---jangan coba-coba," sergah Elijah seraya tersenyum lebar.


"Doe het dan---kalau begitu lakukan!" ayahnya mengembangkan telapak tangan di sisi tubuhnya.


Elijah terperangah mengangakan mulutnya sembari menoleh ke jok belakang.

__ADS_1


Keith dan Noah menanggapinya dengan mengacungkan ibu jari mereka.


"Dengar, Anak-anak!" Koen van Allent menegaskan. "Mulai sekarang, selain Norah tentunya, Dad tidak akan melarang-larang kalian!"


Seisi mobil bersorak gembira kecuali Norah.


"Kenapa Ayang selalu dibeda-bedain?" protes Norah.


"Itu karena kau berbeda, Sweetheart!" tukas ayah mereka sembari menoleh sekilas ke belakang dan tersenyum pada si bungsu.


Norah menjejakkan kakinya di lantai mobil sembari mencebik, sementara kakak-kakaknya mulai berebut untuk mengutarakan rencana mereka dengan antusias.


"So…" ayah mereka menginterupsi. "Jangan coba-coba mengecewakan Daddy mulai sekarang. Ingat! Daddy bekerja keras supaya kalian semua mendapatkan pendidikan terbaik, jadi… berjanjilah apa pun aktivitas kalian takkan mengganggu sekolah kalian!" Ia memperingatkan sembari melirik ke arah Elijah.


Elijah mengulum senyumnya. "Aku janji, Dad!"


"Kami juga!" timpal Keith dan Noah nyaris bersamaan.


"Ayang juga!" teriak Norah hampir menangis.


Seisi mobil tergelak menanggapinya.


Noah menggasak puncak kepala adiknya sembari tertawa-tawa. "Bersikaplah sesuai usiamu," katanya menasihati. "Siapa tahu Dad berubah pikiran!"


Norah langsung cemberut.


Keith dan Noah terkekeh di kiri-kanannya.


Hari Senin adalah hari menyebalkan bagi sebagian orang, terutama Author.


Di mana semua orang dipaksa bangun sepagi mungkin, ditarik dari mimpi indahnya untuk kemudian dihadapkan pada kenyataan membosankan yang itu-itu lagi.


Dan Author menyebutnya… Hari Alarm Sedunia!


Tapi pagi itu suasana di meja makan keluarga kecil van Allent terasa jauh lebih segar dari biasanya.


Masing-masing anak keluar dari kamar mereka dengan semangat baru yang memancarkan kesegaran masa muda menurut usia mereka sebagaimana mestinya---masa muda sekuat rajawali.


Koen van Allent sedikit tercengang melihat perubahan itu. Luar biasa, pikirnya takjub.


Sedikit pengampunan membawa perubahan yang sangat besar!


"Baiklah, nikmati masa muda kalian dan bersuka citalah!" kata Koen van Allent seusai doa bersama.


Itu adalah pertama kalinya Elijah merasa begitu siap menghadapi hari Senin, seumur hidupnya.


Begitu ia memasuki pekarangan sekolah, beberapa orang terperangah menyadari perubahannya.


Yah, mungkin bukan karena semangat barunya. Tapi lebih kepada apa yang bersifat fisik. Terutama senyumnya!

__ADS_1


Well, siapa yang tidak tahu bahwa Elijah terkenal dengan julukan Wanita Perkakas---pelesetan dari Wanita Perkasa yang berarti tidak pernah ada manis-manisnya.


Ia terbiasa muncul dengan langkah arogan dan memasang wajah perang setiap paginya. Tidak ada senyum, tidak ada tegur-sapa. Semua orang akan dilewatinya tanpa dilirik. Kalau sampai ada yang menghalangi jalan, "Minggir!" dengusnya singkat sembari menguak dan menyisikan siapa pun yang menghambat langkahnya dengan raut wajah datar, seolah seluruh jalan milik bapak moyangnya.


Memasuki ruang kelas, ia akan memisahkan diri di bangku pojok paling belakang dan menyingkirkan siapa pun dari bangku yang dipilihnya. Dan ia tidak pernah mengeluarkan buku catatan sepanjang jam pelajaran.


Hari ini… semua tampak berbeda!


Sepasang matanya berkeriap jelalatan sepanjang ia berjalan, menebarkan senyuman tipis kesana-kemari di sepanjang koridor, kemudian memasuki ruang kelas dan memilih tempat duduk paling dekat dengan meja guru, tempat keramat yang paling ia hindari seumur hidupnya, lalu mengeluarkan buku bacaan.


Hening.


Beberapa anak perempuan meliriknya dengan tatapan canggung—sebagian memandangnya aneh.


Ada bagusnya juga fokus belajar, pikir Elijah. Dengan begitu ia bisa sedikit mengalihkan ketidaksabaran yang menggelora. Tak sabar untuk segera berakhir pekan!


Sementara itu…


Di bengkel modifikasi dan tambal ban tanpa nama di sudut kota Jakarta, Evan juga mulai sibuk dengan rutinitasnya yang membosankan, ditemani musik sendu milik Letto: Cinta… Bersabarlah!


Oh, rasa cinta… bersabarlah menantinya…


Walau tak ku punya, tapi ku percaya cinta itu indah…


"Jiah! Lagu letoy!" ejek Igun sembari tergelak.


Itu di luar kebiasaan Evan.


Biasanya, setiap kali Igun pulang belanja ban dalam, ia akan disambut lagu rock-nya Bon Jovi.


This ain't a song for the broken-hearted!


Tau kan, artinya?


Ini bukan lagu untuk orang patah hati.


Nah, luh!


"Emang ngapa yang dirasa?" goda Igun tak mau berhenti.


"Gua tambel mulut lu, ya!" sembur Evan sembari mengacungkan obeng.


Igun semakin terbahak-bahak. Girang betul diomelin!


Detik berikutnya, sebuah Lamborghini Veneno berwarna merah kirmizi, melesat dari tikungan dan berhenti secara mendadak di depan bengkel Evan, meninggalkan suara berdecit yang memekakkan. Pengemudi di dalamnya menurunkan kaca dan berteriak pada Evan---kek orang ngajak ribut, "Lae! Tambal, Lae!"


Evan dan Igun serentak terperangah.


"B a b i!" gerutu Evan begitu menyadari siapa orangnya.

__ADS_1


Siapa lagi pemilik Lamborghini Veneno berwarna merah kirmizi---Martin Hernandez.


__ADS_2