
"LEA!" teriakan Bang Wi dari luar Pit Box menyentakkan para Pit Crew.
Evan menghambur keluar diikuti yang lainnya, sementara Bang Wi berlari tergopoh-gopoh ke arah parkiran.
Mereka melihat Elijah melesat keluar parkiran dengan mengendarai sepeda motor modifikasi milik pamannya dalam kecepatan tinggi.
Bersamaan dengan itu, sebuah dump truk dengan kapasitas muatan dua puluh ton juga sedang melesat ke arah Elijah dalam kecepatan tak kalah tinggi.
Semua orang memekik ngeri, ketika Elijah sudah terlanjur menyeberang ke tengah jalan, tepat di mana dump truk itu akan melintas.
Suara klakson mobil besar itu mendengking memperingatkan Elijah untuk menyisi karena kendaraan tipe karoseri semacam itu tak bisa menurunkan kecepatan dalam sekejap atau menghentikannya secara mendadak.
Elijah tersentak menoleh ke arah dump truk itu dengan terkejut. Hanya tinggal satu detik, dan mobil besar itu sudah akan melindasnya.
Evan membeku di depan area Paddock dengan wajah memucat.
Suara ban mobil berdecit dalam lengkingan panjang dan nyaring.
Orang-orang mengernyit dan menahan napas sembari menutup matanya, tak sanggup melihat pemandangan mengerikan itu.
Semuanya berlangsung terlalu cepat. Tidak seorang pun menangkap seluruh rangkaian kejadian itu secara mendetail.
Mereka semua sekarang hanya melihat dump truk.
Dump truk itu menggelinding semakin pelan dan baru berhenti beberapa puluh meter di depan.
Waktu seolah terhenti ketika semua orang membuka mata mereka dengan ekspresi terguncang.
Evan terhuyung sesaat merasa limbung.
Terdengar suara erangan dari mulut ke mulut disusul gumaman ribut. Sebagian orang menghambur ke arah gerbang dan membeku.
"CARI MATI LU, YA?!" hardik si pengemudi dump truk dengan suara yang menggelegar.
Sepeda motor Elijah bertengger di seberang jalan tanpa kekurangan suatu apa pun. Entah bagaimana gadis itu bisa lolos dari maut, tapi dia baik-baik saja. Ia menoleh sekilas ke arah pengemudi dump truk sembari mengacungkan jari tengah.
Evan menelan ludah dan mendesah. Perempuan sialan, punya cadangan nyawa berapa sebenernya? batinnya merasa sedikit lega.
Sepertinya apa yang dia ajarkan tidak sepenuhnya sia-sia!
Tanpa pikir panjang, Evan segera bergegas ke parkiran, mengambil sepeda motornya dan melesat menyusul Elijah.
Elijah sudah beranjak meninggalkan tempat itu ketika Evan keluar, tapi Evan tahu ke mana tujuan gadis itu.
Ya, tentu saja!
Ke mana lagi?
Rumah pamannya.
"Bikin orang panik aja!" teriak Evan begitu sampai di pekarangan rumah Bang Wi dan mematikan mesin.
Elijah sedang menuntun kendaraannya menuju garasi ketika Evan datang, tak menggubris teriakan pria itu.
Evan melompat dari sepeda motornya dan menghambur ke arah gadis itu, "Cari sensasi lu, ya? Hah!" geramnya sembari merenggut sebelah bahu Elijah.
Gadis itu menoleh sekilas, menatap wajah Evan dengan raut wajah dingin. Lalu mengedikkan bahunya, melepaskan diri dari cengkeraman pria itu.
Evan mengetatkan rahang dan memutar bola matanya. Lalu mendesah kasar dan berkacak pinggang. Menunggu Elijah selesai mengandangi tunggangannya dengan raut wajah berkerut-kerut antara khawatir sekaligus jengkel.
__ADS_1
Jengkel kepada dirinya yang tidak bisa mengatakan hal yang baik.
Saat sedang panik atau terkejut, Evan memang memiliki kecenderungan berbicara kasar. Dan itu bersifat refleks, seperti cacat permanen yang tidak mungkin bisa diperbaiki.
Celakanya, Elijah paling benci seseorang meneriakinya!
Gadis itu sekarang keluar dari garasi dengan sikap pasif, melewati Evan tanpa menoleh sedikit pun.
"Lea!" Evan mencoba menahan langkah gadis itu dengan mencengkeram sebelah bahunya sekali lagi.
Tapi lagi-lagi Elijah mengedikkan bahu dan melepaskan diri. Lalu berjalan cepat-cepat ke dalam rumah.
Evan mengekor di belakangnya dengan raut wajah bingung, tapi terlalu gagap untuk mengucapkan kata maaf. Sama sulitnya dengan mengatakan kalimat "I love you!"
Elijah menghilang ke dalam kamar dan mengurung diri.
Evan membeku menatap kosong pintu kamar gadis itu dengan perasaan terluka. Napasnya terasa sesak. Jantungnya berdegup tak beraturan. Rasa perih menyayat relung hatinya.
Dia membenciku! batinnya getir.
Haruskah sedalam ini?
Apakah keterlaluan mengatakan Elijah tidak berbakat?
Bukankah hal itu tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi?
Tapi kenapa Elijah bersikap seolah ingin mengakhiri segalanya?
Setidaknya itulah yang dirasakan Evan. Entah kenapa ia merasa bahwa Elijah sedang mencoba meninggalkannya.
Bukan begitu maksudnya, sesal Evan dalam hati.
Evan tak pernah mengajari gadis itu menjadi pembalap. Bukan karena dia gagal!
Bukan pula tidak mengerti sindiran Bang Wi.
Evan tahu persis pria itu tak pernah keliru dalam menilai bakat seseorang. Begitu pun sebaliknya. Bang Wi tahu persis Evan tak pernah mengecewakan. Itu sebabnya ia memilih Evan.
Evan tak pernah gagal dalam menggali bakat seorang pembalap.
Sebaliknya, Bang Wi tak pernah keliru melihat potensi bakat seorang pembalap. Dan ia melihat Elijah memiliki potensi itu.
Tapi Evan tak ingin Elijah menjadi pembalap.
Seperti dirinya!
Buku harian para pembalap adalah bekas luka. Jadi, Evan tak pernah menggali potensi itu.
Bagaimanapun luka kecil di tubuh Elijah yang didapat dari sirkuit di Sukabumi telah melukai Evan juga. Evan tak pernah berharap Elijah terluka lebih parah lagi. Apa yang diajarkannya selama ini hanyalah cara aman mengendarai sepeda motor trail dan juga motor sport.
Jadwal mingguan dan ajakan pertamanya saat mereka di Sukabumi sebetulnya hanya modus Evan supaya Elijah bisa terus berada di sisinya.
Sekarang Elijah sudah menetap di Jakarta. Tidak ada lagi alasan untuk khawatir Elijah akan menjauh meski gadis itu tak lagi latihan di sirkuit.
Elijah akan menjadi miliknya!
Ia bisa menemui gadis itu kapan pun ia menginginkannya.
Mereka bisa punya waktu lebih banyak jika Elijah tak sibuk latihan.
__ADS_1
Dan apa pun yang membuatnya meledak di sirkuit tadi, sebetulnya bukan tentang permasalahan teknis. Tapi tentang segala sesuatu yang membuatnya khawatir melihat Elijah di tengah block pass dan brake check di antara para goon riding.
Cukup! pikirnya tak tahan lagi. Jadi Evan mencari cara untuk membuat gadis itu berhenti dari dunia jalanan.
Alangkah baiknya jika perempuan duduk manis saja di rumah!
Intinya…
"Kamu gak usah ke mana-mana. Diem-diem aja di hati aku!"
Kalimat konyol yang pernah ia titipkan bersama sebotol air mineral dua tahun lalu, bukan sekadar gombalan kosong tanpa makna yang bisa ia lupakan sewaktu-waktu.
Mungkin Elijah sudah melupakannya. Tapi Evan tidak!
Mungkin semua orang menganggap hal itu sebagai lelucon konyol, tapi Evan sebetulnya tidak main-main.
Ia tidak main-main dengan gadis itu. Ia tidak main-main dengan... semua ini.
Dua tahun! kenangnya getir.
Dua tahun ia bersabar menunggu waktu yang baik untuk menyatakan perasaannya pada Elijah.
Dua tahun ia mengatur segala sesuatunya demi memenangkan hati gadis itu.
Dua tahun ia berjuang melawan kekhawatiran akan kehilangan selama menunggu kekasihnya tumbuh.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk menahan diri dari segala godaan setan yang terkutuk, baik yang berseliweran di sekitarnya yang siap menikung di kiri-kanannya sewaktu-waktu, maupun yang bersarang di dalam hatinya sendiri.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk membiarkan perempuan yang dicintainya terombang-ambing di atas ketidakpastian.
Dua tahun kemudian ia merobek hatinya dengan tangannya sendiri!
Sekarang mana yang lebih buruk?
Tidak berbakat atau tidak punya harapan lagi?
Di dalam kekalutannya, Evan mendengar suara mesin sepeda motor menderu dan berhenti di pekarangan.
Tak lama kemudian, Bang Wi berjalan masuk ke dalam rumah dan berhenti di belakang Evan.
Anak laki-laki itu tertunduk dalam penyesalan yang teramat dalam.
"Jadi apa tepatnya tujuan lu yang sebenernya?" tanya Bang Wi di belakang punggung Evan.
Evan serentak menegang, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Bang Wi mendesah pendek dan mengerang tanpa suara.
Evan masih tertunduk membelakangi Bang Wi, menghadap pintu kamar Elijah.
"Lu udah kek adek gue, Van!" perkataan Bang Wi berikutnya menusuk telak di relung hati Evan.
Evan menghela napas dalam dan mengangkat wajahnya, kemudian menoleh ke arah Bang Wi.
Pria itu menatapnya dengan raut wajah datar.
Evan menelan ludah dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Bang Wi. Tapi lalu kembali tertunduk. "Maafin gua, Wi…!" katanya parau.
Bang Wi terkekeh tipis setelah sejenak terdiam. Lalu menepuk sebelah bahu Evan. "Kenapa lu gak pernah terbuka sama gua selama ini?" Ia menambahkan sembari menyeringai.
__ADS_1
Setan emang, pikir Evan. Bikin sport jantung aja, sialan!