Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-30


__ADS_3

Elijah tersengal-sengal, dadanya bergerak turun-naik tidak teratur.


Sepeda motor sialan yang dinaikinya terus-menerus oleng dan berguncang di tengah-tengah rutted. Ia harus menyingkir… menghindari block pass dan brake check. Tapi Harley Kutukan itu malah terjebak di dalam lumpur sebelum mencapai garis finis.


Ia bisa melewati ini, Elijah meyakinkan dirinya. Ia memicingkan matanya, mencoba meneropong jalur off-road di depannya. Garis finis sudah terlihat, hanya tinggal beberapa meter dari tempatnya. Tapi lintasan itu seolah tidak berujung. Elijah hampir kehilangan akal sehatnya ketika ia menyadari bahwa ia tidak bergerak ke mana-mana.


Mesinnya mati!


Sementara itu, desingan suara mesin dari sepeda motor lain terus menderu hingga ia bahkan tak dapat mendengar dirinya sendiri yang sedang berpikir, dan ia tidak dapat mendengar instruksi Evan sehingga ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Ia bahkan tak dapat melihat pria itu.


Badai pasir menyembur ke wajah Elijah ketika seorang pengendara di depannya melakukan stoppie.


Elijah hampir tak dapat bernapas karena badai pasir itu menembus rongga hidung dan mulutnya hingga ia tersedak. Ia mencoba menyalakan mesin.


Pull star-nya tidak berfungsi!


Elijah mencoba mengengkolnya. Mesinnya menyala. Tapi suara yang keluar dari knalpotnya… musik dangdut!


Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk! Kereta berangkat…🎶


Beberapa racer yang melewatinya bersorak dan berjoget-joget di atas sepeda motornya.


Astaga! Elijah mengerang frustrasi.


Ia melihat sekitar menembus kepulan asap, mencari-cari sosok Evan di antara racer lain. Tapi ia malah melihat Evan berada di tepi sirkuit bersama seorang gadis. Elijah berteriak, lalu tanpa sadar ia melompat dari sepeda motornya. Ia bisa mendengar suara tawa Evan di antara kepulan asap tebal, tapi tidak dapat menemukan siapa pun. Lalu tiba-tiba tangan seseorang terjulur menangkap pinggangnya.


Elijah terbangun penuh ketakutan dan bangkit dari tempat tidurnya, secara spontan meraih senjata di bawah bantalnya. Matanya yang masih kabur mengerjap terbuka, dadanya terasa berat saat tatapannya yang panik menyapu sekitar.


Pada saat itu ia baru menyadari bahwa ia tidak sedang berada di tengah sirkuit. Tidak ada rutted, tidak ada goon riding, tidak ada motor jelek dengan suara knalpot musik dangdut.


Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk! Kereta berangkat…🎶


Kenapa musik sialan itu masih ada? Elijah terkesiap.


Dan…


Sepasang tangan kokoh masih melingkar di pinggangnya.


Elijah menarik dirinya cepat-cepat, meluruskan tubuhnya dan terbelalak.


Sepasang mata cokelat menatapnya dari atas kepalanya. Seulas senyum nakal tersungging di sudut bibir merah darah di depan wajahnya.


Evan! Elijah menyadari. Rupanya dia ketiduran di pelukan Evan. Sekarang dia ingat mereka sedang berada dalam minibus.


Ya, Tuhan… pikirnya berdebar-debar.


Itu adalah saat di mana satu doanya digenapi.


"Aku ingin memeluknya sekali saja..."


Yah, sebenarnya bisa dibilang Evan-lah yang memeluknya sepanjang perjalanan.


Lebih dari yang diharapkan, Nona Muda?


Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk!

__ADS_1


"Hey!" Cowok-cowok di bangku belakang bersorak serempak dan berjoget-joget di tempat duduknya. Musik berdentum-dentum mengalahkan suara mesin.


Elijah membenahi posisi duduknya dan bersandar ke jok sembari mendesah pendek.


Sialan, pikir Elijah. Musik sialan ini membuatku bermimpi buruk!


Pernah sekali… aku pergi… 🎶


Masih aja, Penulis Keparat! erang Elijah.


Sialnya Igun malah ikutan nyanyi, "Dari Jakarta… ke Sukabumi!"


"Untuk menengok…" Innu mulai ikut-ikutan nyanyi.


"Yanti di sana!" Cowok berengsek lainnya menimpali serempak---juga dengan bernyanyi.


Mengendarai…🎶


"Harley kutukan!" dendang para bajingan di belakang.


Elijah mengatupkan mulutnya menahan tawa.


Evan spontan membeliak sebal.


Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk!


"Aha-aha!" Cowok-cowok berengsek itu berimprovisasi.


"Keparat berangkat!" senandung Martin Hernandez.


Evan membekap kedua telinganya sembari mendelik.


Elijah terkekeh di sampingnya.


Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk…🎶


Mau udahan kagak lu, Penulis Keparat? hardik Evan kepada Penulis. Keparat sialan!


Sejak kapan Penulis Keparat ini mulai gemar musik dangdut? gerutunya tak habis pikir.


Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk…🎶


Udah apa, BANGSAAAAAAAAAD!!! Evan mulai naik pitam.


Pasti bukan karena nyanyiannya!


"Lu mau matiin kagak tu, kereta sialan?" Evan berteriak pada Mas Supir.


Pria seusia Bang Wi itu hanya terkekeh, disambut gelak tawa para bajingan di bangku belakang.


"Ganti KEONG RACUN!" protes Evan.


Seisi mobil menyorakinya.


"Versi METAL!" request Evan.

__ADS_1


Bang Wi terkekeh sembari melempar botol air mineral ke arah Evan. Yang lain-lainnya ikut-ikutan. Elijah terbahak-bahak di sampingnya—puas melihat Evan dibuli.


"Becandanya kek Yahudi, nih!" umpat Evan sembari menyilangkan kedua lengannya di depan wajah. "Maenannya rajam!"


"Nah, elu kek pezina!" timpal Bang Wi.


Seisi mobil terbahak-bahak—Ardian Kusuma tetap cool down.


Urat gelinya udah putus!


Setelah empat jam perjalanan, minibus itu akhirnya menyisi di halaman sebuah rumah bergaya klasik Betawi. Seperti rumah-rumah juragan di zaman kolonial. Halamannya cukup luas hingga memuat dua sampai tiga mobil.


Truk kargo di belakang mereka menyelinap di sisi minibus itu dan berhenti bersamaan.


Evan keluar lebih dulu, disusul Elijah dan Gilang Wibisana, yang secara otomatis langsung berebut untuk mencapai bagasi.


"Lu, apa sih?" Evan merenggut lengan Galang dan menyingkirkan Pria Syantik itu dari jalannya. "Bagian lu itu, tuh!" tunjuknya ke arah truk kargo. "Lu bagian nurunin motor, nurunin barang-barang bagian gua!" instruksi Evan.


"Gak mau!" rengek Galang dengan gaya wanita, kemudian bergegas ke belakang minibus mendahului Evan.


"Badan aja gede," gerutu Evan.


"Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk!" Galang malah nyanyi sambil goyang itik.


Elijah membekap mulutnya menahan tawa.


"Buseh…" erang Evan dengan tatapan malas. "Diliat p a n t a t b a n c i, kaga diliat p a n t a t," gumamnya sembari berkacak pinggang, disambut gelak tawa bajingan lainnya yang baru keluar dari mobil.


"Coba lu turunin motor, sembari jumping, sembari goyang itik!" tantang Igun pada Galang.


Cowok-cowok lainnya kembali tergelak.


Galang mendengus dan mendelik pada Igun, lalu membuka pintu bagasi sambil goyang itik lagi, "Juk, gijak-gijuk, gijak-gijuk!" dendangnya dengan suara perempuan, kemudian mengeluarkan ransel Evan dari bagasi dan membantingnya ke tanah dengan gaya preman pasar.


"B a n c i laknat!" gerutu Evan sembari membungkuk memungut ranselnya.


"Lu minggir lah, bangsad!" Igun menghambur ke arah Galang dan menariknya menjauh dari bagasi ketika Pria Syantik itu mengulurkan tangan untuk menarik carrier-nya. "Bisa ambak-ambakan perabotan lenong gua!"


Innu dan Maha spontan merangsek ke bagasi dan berebut untuk menurunkan barang-barang Elijah.


Elijah menggeram jengkel dan menyelinap ke tengah-tengah mereka, lalu mengeluarkan sendiri barang-barangnya sembari menyikut cowok-cowok itu. Apa perlu gua juga yang mulain nurunin motor sialan mereka biar anak-anak setan ini mau berebut nurunin semua motor, pikir Elijah sebal. Ia menoleh ke arah truk kargo dan mendapati Evan sudah berada di sana bersama Bang Wi—Ardian Kusuma dan Martin Hernandez mendekat ke arah mereka. Cowok-cowok berengsek ini bener-bener gak berguna, gerutu Elijah dalam hati.


"Lu masuk duluan, gih!" instruksi Bang Wi pada Elijah, sembari merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci rumah, kemudian melemparkannya ke arah Elijah.


Elijah menurunkan ranselnya, menyampirkan softcase gitarnya dan menangkap kunci yang dilemparkan pamannya, kamudian menoleh ke arah rumah dengan mata terpicing. Jadi ini rumahnya Om Wi, pikirnya.


"Jan lupa taburin garem depan pintu biar anak-anak setan itu kagak masuk!" instruksi Bang Wi sekali lagi.


Trio kacau di belakang Elijah serempak menoleh pada Bang Wi dengan wajah cemberut.


"Emang kita uler?" gerutu Igun.


"Kita buaya, Bang!" Innu menimpali.


Bang Wi hanya mencebik menanggapi mereka.

__ADS_1


Ketiga curut berwajah opa-opa Korea itu tergelak bersama menertawakan leluconnya sendiri.


__ADS_2