
Memasuki warung kopi, Elijah merasa tersengat melihat Evan tersenyum lebar saat melongok ke dalam warung. Seketika adegan di warung kopi dekat sirkuit Sukabumi melintas dalam benaknya dan secara otomatis membuatnya gelisah.
Kenapa gua gak bisa lupa kejadian itu? pikir Elijah.
Skandal Yanti sepertinya berpengaruh cukup besar hingga meninggalkan bekas luka yang tak nampak namun terasa nyata.
Setiap detail peristiwa itu seolah masih terjadi di depan matanya.
Ini jelas trauma, Elijah menyimpulkan.
"Lu pesen makan duluan!" kata Evan pada Elijah sembari menunjuk warung nasi di sebelah warung kopi itu. Bisa dibilang warung nasi itu merupakan satu bagian dengan warung kopi.
Tentu saja—itu warung orang tua Igun. Elijah belum tahu saja!
Mang Wawan kok dicemburuin!
Siapa lagi sekarang Mang Wawan?
Mang Wawan adalah ayah Igun. Namanya Iwan Gunawan, lebih dikenal dengan sebutan Bang Iwan Pengkolan atau Mang Wawan---Kang Kopi Pengkolan---maksudnya tuas pengengkol.
Sebagai tukang kopi yang sembilan puluh persen pelanggannya terdiri dari para racer, julukan itu memang tepat untuk menggambarkan cita rasa kopi Mang Wawan yang senantiasa menjadi pelarian pertama ketika para pembalap kehilangan mood dan stamina mereka. Dengan kata lain, kopi Mang Wawan berfungsi sebagai pengkolan untuk menyalakan semangat para pembalap.
Begitu pun warung nasi di sebelahnya---Warung Nasi Pengkolan. Warung nasi itu milik istrinya---Cing Ai—ibu Igun.
Apa sih, begitu aja dibahas?
Biar panjang, Bestie!
Gak paham-paham.
Elijah menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, untuk sekadar menenangkan debar jantungnya yang tak keruan. Wajah Yanti berkelebat dalam benaknya. Jangan bilang gua juga suka sama si Yanti, pikirnya jengkel.
Benar kata orang—suka sama benci memang beda-beda tipis. Tempat orang yang kita benci dan kita sukai sama-sama melekat di hati.
Mencapai teras warung, gadis itu melongok ke dalam dengan sedikit takut-takut.
Seorang wanita seusia Bang Wi tersenyum pada Elijah, "Makan, Neng?"
"Mmm—"
"Jan lebih dari dua rebu!" seloroh Evan dari warung sebelah.
Elijah spontan menoleh dengan tampang cemberut, "Dua rebu, gua makan apaan, Setan?"
"Om lu cuma ngasih dua rebu!" tukas Evan beralasan. Cowok itu sekarang sedang merebahkan tubuhnya di balai bambu di teras depan warung kopi itu sembari menyeringai. Kedua tangannya terlipat di belakang kepalanya sebagai bantal.
__ADS_1
Bayang-bayang peristiwa saat Evan berbaring di teras warung Yanti berkelebat di benak Elijah. Gadis itu mengetatkan rahangnya. Bukan kesal karena candaan Evan. Ia tahu cowok itu tukang becanda. Memangnya kapan dia pernah serius? Tapi Elijah lebih merasa jengkel pada dirinya sendiri.
Kenapa gua selalu dihantui skandal Yanti? batinnya tak sabar.
Evan meliriknya dan mengerutkan dahi. Sedikit terkejut mendapati reaksi Elijah. Lalu buru-buru menarik bangkit tubuhnya dan mendekat pada gadis itu. "Lu gak anggap gua serius, kan?" katanya menyesal---tapi tentu saja tidak kentara.
"Kapan sih lu pernah serius?" sembur Elijah sembari memalingkan wajahnya menghindari tatapan Evan.
Evan terkekeh dan melongok ke dalam warung sedikit membungkuk, "Ada sop nggak, Cing?" ia bertanya pada si pemilik warung.
"Ada," jawab wanita yang dipanggil Ncing itu.
"Nah, cakep! Kasih doi sop-sopan aja," pesan Evan sembari mengayunkan ibu jari ke belakang bahunya---menunjuk pada Elijah. "Jan dialem kalo menta pedes-pedes sama makanan berminyak."
Elijah langsung melotot.
"Jan kasih minum teh!" Evan menambahkan. "Kasih aer putih anget aja!"
"Siap!" Perempuan di dalam warung itu mengacungkan ibu jarinya dengan antusias. Lalu menyiapkan piring sembari mesem-mesem.
Elijah mengatupkan mulutnya dengan raut wajah kesal.
Evan meliriknya sekilas sembari mencolek mulut Elijah yang cemberut—keceplosan! Begitu ia menyadarinya, ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah dengan salah tingkah.
Para racer yang baru tiba di warung itu langsung celingukan menatap Evan dan ibu Igun bergantian. Lalu melirik Elijah yang tertunduk malu dan tersipu-sipu.
"Elah!" erang Devian setengah menggerutu. "Fals lu, Malih!"
Semua mata serempak berpaling pada cowok itu.
Devian mengedar pandang, mengamati satu per satu wajah-wajah di sekelilingnya dengan alis bertautan, "Lu pada ngapa, seh?" tanyanya polos.
Cowok-cowok itu memalingkan wajahnya ke sembarang arah, juga secara serempak.
Devian spontan mengernyit dan memutar-mutar bola matanya. "Pada sakit panas, kek'nya!" gumamnya tak jelas, lalu duduk di bangku sembari mendesah pendek.
Evan mengedar pandang dengan raut wajah masam. Perasaannya kembali tersengat ketika ia melihat Innu. Di antara semuanya, usia Innu adalah yang paling ideal untuk menjadi pasangan Elijah. Ditambah cowok itu juga gondrong.
Sejak mengintip buku harian Elijah, Evan sudah bisa menyimpulkan kriteria cowok idaman gadis tomboi itu: Cowok 4G—Ganteng, Gondrong, Gini, Gitu.
Lebih dari itu, Innu juga tajir mampus!
Sosok cowok yang layak dicemburui.
Kenapa gua harus cemburu? Evan mencoba menyangkal. Tapi hatinya terasa perih.
__ADS_1
Ngaca! Ngaca, ngaca! rutuk Evan dalam hati, memarahi dirinya sendiri. Kagak ada pantes-pantesnya berebut bocah sama anak-anak bocah. Gua pasti udah gila! batinnya tak habis pikir.
"Lu kenal dia di mana?" Devian bertanya pada Evan sembari menunjuk ke arah Elijah dengan dagunya.
Evan duduk di sampingnya—melirik sekilas pada Elijah sebelum bisa menjawab, "Sukabumi."
"Sukabumi?" Devian mengerutkan dahi.
"Iya—di tempat si Dwi. Doi ponakan si Dwi, kan? Emang lu gak tau?" Evan balas bertanya.
"Kagak!" jawab Devian singkat.
"Lu taunye ape sih, Tem?" Evan mendelik pada Devian.
Devian hanya terkekeh.
"Gue kira lu bokinnye?" seloroh Evan mengilik.
"Mana ada gua demen cewek cungkring!" tukas Devian. "Lu demen kali sama dia?" Devian balas mengilik.
"Masih bocah, Tem!" tukas Evan.
Elijah langsung terdiam. Meski jaraknya cukup jauh, diam-diam, gadis itu menguping pembicaraan mereka.
Devian kembali terkekeh.
"Lu nemu di mana?" Evan bertanya sembari terkekeh.
"Gua nemu di panggung festival," cerita Devian. "Gua kirain stand mic, gua jinjing aja udah!"
Evan kembali terkekeh sembari melirik ke arah Elijah.
Gadis itu melahap makanannya dengan raut wajah masam.
Innu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke sisi Elijah. Cowok itu juga sebenarnya diam-diam menguping pembicaraan Evan dengan Devian. Mengetahui kedua cowok itu tidak memiliki perasaan istimewa pada Elijah, Innu merasa sedikit tenang. Sempat terlintas perasaan tak enak selama ia mengira bahwa mungkin Evan menyukai Elijah, terutama setelah Devian muncul, ditambah komentar teman-temannya saat mereka melihat Elijah di Sukabumi. Kebanyakan dari mereka mengira gadis itu kekasih Devian.
Semua mata yang dilewatinya bergulir mengekori cowok itu, tidak terkecuali Evan.
Sementara itu, Devian beranjak bangkit dan memesan makanan.
"Evan gak makan?" suara lembut Cing Ai menyentakkan Evan.
Evan mengerjap dan tergagap---tapi tidak kentara. "Ntar aja, Cing!" katanya pada Cing Ai. Ia menarik bangkit tubuhnya dan bergegas meninggalkan warung.
Jiah!
__ADS_1