
GRAAAK!
Rolling door itu akhirnya berderak membuka, perlahan namun pasti, pintu logam itu tersingkap ke atas.
Sepeda motor tail kompetisi bernomor 666 itu akhirnya menggelinding keluar disambut sedikitnya lima pasang mata yang tidak berkedip sejak rolling door dibuka.
Raungan suara mesin menggaung bersahut-sahutan, para crosser bersiap untuk sesi latihan bebas.
"Yakin lu, dia si Badai?" Devian mengerutkan keningnya. "Perasaan kecil banget!"
"Yaelah, Tem!" Evan yang sedang memanaskan mesin di pit line mendelik sekilas pada Devian. "Pan lu tau doi lagi sakit," geramnya dengan gerakan mulut yang tidak kentara.
Devian langsung terdiam, tapi masih tak yakin dengan sanggahan Evan.
Sepeda motor hitam-hijau bernomor 666 itu mendekat ke arah mereka dan tersentak. Mesinnya tiba-tiba mati.
Elijah menelan ludah dengan mata terbelalak. Nomor sepeda motor di depannya membuat jantungnya meletup---999. Kedua lututnya mendadak terasa goyah. Ia melayangkan pandang ke sisi pit line dan mendapati Igun, Devian dan Maha berada di sana. Ketiga cowok itu sedang mengawasinya dengan mata dan mulut membulat.
Tidak salah lagi, pikirnya. Dia pasti Evan!
Dan kesimpulan itu membuat jantungnya semakin berdebar-debar.
Denta menautkan alisnya di antara kerumunan. Sesuai janjinya, ia akan berada di pit line saat kompetisi berlangsung. Tapi wajahnya tertutup masker ketat berwarna hitam. Ia juga mengenakan topi dan wearpack seragam dengan pit crew Elijah, namun tetap mengenakan kaos ketat berleher tinggi di bagian dalam.
Tidak satu pun dari mereka yang penasaran padanya menyadari keberadaannya di pit line.
Evan mengintip diam-diam ke arah Elijah melalui kaca spionnya dengan alis bertautan. Apa yang salah? pikirnya. Lu gak nge-down kan liat gue?
Elijah masih bergeming di tempatnya seperti tiang garam.
Dede dan Gilang serempak menghambur ke arah gadis itu untuk melihat barangkali ada yang salah dengan kendaraannya, tapi Denta kemudian menahan bahu mereka dan menyeruak di antara keduanya.
Sekarang pria itu sendiri yang menghampiri Elijah, membungkuk di depan Elijah pura-pura memperbaiki sesuatu di bagian pull start sembari berbisik, "Pernah denger pepatah ini, musuh terbesar adalah diri sendiri?"
Elijah mengerjap dan tersadar dari keterkejutannya.
"Kalahin dulu diri kamu," desis Denta di dekat telinga Elijah. "Kalo kamu mau ngalahin dia!" tandasnya seraya mengerling ke arah Evan.
Elijah spontan terperangah. Bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan?
Apa Denta tahu siapa dia?
Apa Denta mengenal Evan?
Bodoh! batin Elijah memarahi dirinya sendiri. Tentu saja mereka saling mengenal. Mereka sama-sama crosser!
Devian masih mengawasi pit crew dan crosser 666 itu dengan mata terpicing. Merasa ada yang aneh.
__ADS_1
Di sudut lain pit line, Ardian Kusuma juga sedang mengawasi mereka seraya tersenyum samar.
Detik berikutnya, suara-suara mesin kembali menggaung dan membahana di udara terbuka.
Denta menyalakan mesin dengan tatapan tajam yang mendesak.
Elijah sedikit terperanjat ketika Denta memainkan pedal gas dan meraung-raungkan suara knalpotnya sebagai isyarat tantangan.
Evan membungkuk di dekat cover body, berpura-pura mengecek bagian mesin sepeda motornya, menunggu Elijah bergerak lebih dulu.
Detik berikutnya, sepeda motor 666 itu akhirnya meluncur melewatinya. Elijah melirik pria itu melalui sudut matanya, masih mencoba memastikan apakah dia benar-benar Evan.
Evan meluruskan tubuhnya sembari tersenyum simpul, kemudian menyusul gadis itu.
Elijah spontan menaikkan kecepatannya begitu menyadari Evan berada tak jauh di belakangnya.
Evan juga menaikkan kecepatannya.
Elijah mencoba menghindari pria itu dengan menyalip peserta lain, tapi pria itu juga menyalip peserta yang sama dari sisi lainnya.
Dia ngincer gue! Elijah menyadari. Lalu ia menyelinap ke tengah-tengah peserta lain.
Evan menyeruak di sisi lain dan melesat mendahului semua orang dan dalam sekejap menjadi posisi terdepan.
G o b l o k! Elijah memarahi dirinya sendiri. Kenapa gue malah ngasih dia celah, sih?
Gadis itu sedang balapan atau sedang melarikan diri?
Kenapa dia malah sibuk menghindari goon riding? pikirnya geram.
Beruntung hanya latihan.
Well, akhirnya sekarang kita tahu kenapa Elijah dijuluki Squid Abadi.
Evan tidak salah. Elijah memang tidak berbakat menjadi racer. Apa yang dilakukannya di sirkuit selama ini bukan balapan, tapi cari aman.
Denta mengatakan, sejatinya tugas pembalap adalah balapan.
Jadi, dalam hal ini, Evan sebenarnya tidak keterlaluan. Tapi itulah yang diajarkannya!
Sepertinya aku harus sedikit lebih keras padanya, pikir Denta. Atau lebih manis lagi!
Begitu sesi latihan bebas berakhir, Denta langsung menyeret Elijah ke pit box. "Yang tadi kamu sebut balapan?" tanyanya mencemooh.
Elijah mengerjap dan tergagap. Apa yang salah? pikirnya tak mengerti. Sedikit merasa jengkel.
Denta menarik helm dari kepala gadis itu dan menurunkannya. Lalu merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Elijah, "Fokuslah pada peranmu, Sayang!" desisnya setengah menuntut. "Apa perlu saya ulangi? Sejatinya tugas seorang pembalap adalah balapan!" tegasnya menekankan.
__ADS_1
Elijah tertunduk dengan raut wajah murung. Merasa sedikit familier dengan desakan itu. Tapi masih tak paham di mana kesalahannya.
"Apa yang kamu lakukan di lintasan tadi bukan balapan!" Denta memberitahu.
Bukan balapan katanya? Elijah spontan mengetatkan rahang. Ia mengangkat wajahnya dan menghujamkan tatapan tajam ke arah Denta.
Bagaimana bisa seseorang yang mati-matian berjuang di tengah sirkuit dikatakan bukan balapan?
Sirkuit adalah ajang untuk balapan!
Dan motocross adalah balapan yang digelar di permukaan tanah, berbatu dan berlumpur, yang terdiri dari rintangan dan gundukan buatan untuk dilompati para crosser. Layout sirkuit motocross juga memanfaatkan lanskap untuk perubahan elevasi, medan dan fitur khas.
Motocross menempatkan penekanan lebih tinggi pada skill dan kebugaran fisik crosser dibandingkan performa motor dari kebanyakan olahraga balap lainnya. Tentu saja, set-up motor disesuaikan dengan gaya balap crosser dengan handling dan suspensi yang sangat penting untuk hasil Grand Prix. Namun, faktor paling besar tetap datang dari teknik, kondisi fisik dan kekuatan mental crosser.
MXGP juga sebetulnya memperlombakan kategori Wanita—WMX. Tapi Elijah tidak sedang berada di kategori itu sekarang.
Dan sampai sejauh ini, bukankah dia sudah hampir memuncaki kualifikasi?
Klasifikasi dari kualifikasi menentukan crosser untuk memilih gate dan start dengan posisi sejajar. Crosser yang memuncaki kualifikasi akan start di gate pertama, diikuti crosser terbaik kedua, ketiga dan seterusnya. Dan Elijah menempati gate terbaik kedua.
Mengingat dirinya adalah satu-satunya crosser wanita di dalam turnamen ini, bukankah hal itu seharusnya sudah lebih dari cukup?
Bagaimanapun ajang ini bukan spesifikasinya!
Ternyata dia gak ada bedanya sama si Evan, batin Elijah getir.
"Gua kan udah pernah bilang, gua gak ada bakat!" tukas Elijah sengit.
Denta tersenyum tipis dan menaikkan wajah Elijah, menarik dagu gadis itu dengan buku jarinya. "Mana yang lebih manis?" tanyanya lembut namun menusuk. "Pernyataan cinta atau pengakuan tentang bakatmu?"
Elijah tidak menjawab.
"Bakat setiap orang hanya satu persen," lanjut Denta. "Tapi cinta bisa mencapai sembilan puluh sembilan persen."
"Sembilan puluh sembilan?" Elijah mengerutkan dahi.
"Ya, satu persennya kan bakat tadi!" sergah Denta.
Lalu keduanya terkekeh. Minimal dia lebih lucu, pikir Elijah.
"Denger, Sayang!" bisik Denta sembari memeluk Elijah. "Saya memang gak nuntut kamu untuk juara, tapi kamu di sini untuk kompetisi. Jadi, kompeten lah sedikit!"
Elijah kembali terdiam. Masih tak paham apa yang harus dilakukan.
Denta menarik wajahnya menjauh, tapi tak melepaskan pelukannya. Ia memandang ke dalam mata Elijah. "Saat kamu berada di sirkuit, semua peserta adalah lawanmu. Jadi kalahkanlah mereka karena takdirnya seorang lawan adalah untuk dikalahkan dan bukan malah mengalah."
Elijah masih bergeming.
__ADS_1
"Kamu punya kecepatan di atas rata-rata," lanjut Denta. "Tapi sampai sejauh ini, kamu belum melawan siapa pun. Kamu terus menghindar dan mencari aman. Kalau saya punya setengah aja dari kemampuan kamu…" Denta menggantung kalimatnya dan merunduk makin rendah, mendekatkan mulutnya ke telinga Elijah, kemudian menambahkan, "Saya gak akan kalah dari Triple Sembilan!"