
Para pembalap dari Jakarta yang berderet di parkiran di tepi sirkuit itu serentak mematung.
Evan menyentakkan kepalanya ke samping dan menoleh ke belakang dengan ekspresi terguncang, antara cemas dan tidak mengerti.
Sepeda motor Elijah mendarat di zona yang tidak rata, setangnya bergoyang tak terkendali, jalannya terseok-seok dan mengentak-entak. Semburan pasir memancar dari ban belakangnya seperti ampas dari mesin penggiling.
Evan mengernyit ngeri ketika gadis itu mencoba menghentikan laju sepeda motornya secara mendadak hingga ban belakangnya mencuat dan sepeda motornya menukik. Evan mengatupkan kedua matanya setengah meringis—tak siap membayangkan akhir dari nasib gadis itu.
Dan…
Hening.
Lalu terdengar sorak-sorai dan gelak tawa.
Evan membuka matanya sedikit takut-takut dan mengintip seraya mengerutkan dahi. Gadis itu berhenti sembari menoleh ke belakang---menatap Evan dari atas kendaraannya yang berdiri kokoh.
Apa yang terjadi?
Dua racer pribumi di kiri-kanannya meninju bahu Elijah dan ber-high five dengan gadis itu sembari tertawa-tawa.
Evan mengembuskan napas kasar dan memutar-mutar bola matanya, lalu menyalakan mesin dan memutar sepeda motornya, kemudian mendekat ke arah Elijah.
"Ngapain sih, lu?" Elijah menghardik Evan. "Kan, belum tiga puluh menit?!" sindirnya tajam.
Evan tergagap sembari menatap kedua pengendara pribumi secara bergantian. Kedua racer itu mengacungkan ibu jarinya ke arah Evan, kemudian berlalu meninggalkan mereka.
"Apa itu tadi?" Evan bertanya setengah tergagap.
"Hasil ngelobi," jawab Elijah sedikit sinis. "Gimana menurut lu? Gua berbakat gak jadi racer? Gua udah bisa ngelobi!"
Evan langsung terdiam, wajahnya berubah masam.
"Itu yang gua dapet dalam durasi kurang dari tiga puluh menit," cecar Elijah. "Apa yang udah lu dapet dari cewek yang lu lobi dalam durasi yang sama?"
Evan mengetatkan rahangnya. "Lu anak kecil tau apa, sih?" dengusnya dingin.
Elijah tersenyum masam.
Evan memutar sepeda motornya ke tepi sirkuit dan kembali ke parkiran tanpa menoleh lagi.
Teman-temannya menatap Evan dengan dahi berkerut-kerut.
Elijah menelan ludah dan tertunduk. Hati kecilnya serasa teriris. Anak kecil? ulangnya getir. Kemudian melanjutkan latihannya sampai lebih dari tiga puluh menit.
"Gigih juga, lu!" puji Igun setelah Elijah bergabung di parkiran.
Innu dan Maha meninju bahunya sembari tersenyum simpul.
Elijah membalas senyum mereka. Lalu mengedar pandang. "Mana yang lain?" tanyanya pada Igun.
"Latihan," jawab Igun seraya menunjuk ke arah sirkuit.
Elijah menatap kendaraan Evan dengan mata terpicing. "Si Evan?"
Igun mengerling ke arah warung dengan tampang malas.
"Sono, yuk!" ajak Elijah sembari menarik lengan Igun. "Gua aus."
__ADS_1
Innu dan Maha mengikuti mereka, sembari mengemukakan komentar masing-masing mengenai kemajuan Elijah.
Beberapa racer pribumi juga sedang menuju ke arah warung. Dua di antaranya menyapa Elijah dengan mengangguk dan tersenyum.
Elijah balas tersenyum.
Ketiga anak setan di belakang Elijah serempak menatap gadis itu dengan pandangan bertanya-tanya. Mencoba menebak-nebak apakah mereka sudah lama saling mengenal.
Ketiga cowok itu belum tahu alasan gadis itu berada di sini. Yang mereka tahu, Elijah tinggal di sini.
"Tukang warungnya mana, nih?" Seseorang bergumam di teras warung.
"Kopi! Kopi!" teriak seorang racer seusia Bang Wi sembari melongok ke dalam warung.
Terdengar erangan bosan.
Elijah melangkah ke teras warung itu dan menyisir seluruh tempat. Di mana Evan? pikirnya.
"Yanti!" seseorang berteriak tak sabar.
"Iya!" terdengar sahutan dari dalam, tapi si pemilik warung tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Ngapain, sih? Lama banget!" gerutu beberapa pria.
Tak lama kemudian, si gadis pemilik warung akhirnya muncul dengan tergopoh-gopoh. "Maaf," katanya terengah-engah.
"Lagi ngapain lu di dalem?" tanya pria seusia Bang Wi sembari melongok ke dalam dengan mata terpicing.
"Ng…" gadis pemilik warung bernama Yanti itu tergagap. "Nggak…"
"Itu…" Yanti terlihat kebingungan.
Elijah seketika menegang. Tiba-tiba punya firasat buruk. Ia melirik Igun dan teman-temannya dengan ekspresi cemas.
Ketiga cowok itu serempak mengerutkan dahi.
"Siapa di dalem?" pria tadi berteriak ke dalam.
Elijah melongok ke dalam, terlihat sekelebat gerakan, tapi tak begitu jelas.
Yanti terlihat makin gugup.
Racer itu menerobos ke dalam warung.
Yanti tersentak dan mencoba menahannya. Tapi pria itu dengan mudah menyingkirkan gadis pemilik warung itu dan melewatinya.
"Ngapain lu di dalem?" hardik si pembalap pribumi.
"Apaan, sih? Gua lagi dikerokin!" teriak seseorang.
Suasana di dalam mendadak gaduh ketika pria itu menyergap seseorang yang bersembunyi di dalam dan menyeretnya keluar, dan seketika itu juga Elijah merasa tersengat dan ingin meledak.
Igun dan kedua rekannya terperangah.
Firasat Elijah benar---itu Evan!
Suasana berubah kisruh. Para pembalap pribumi mulai merubung Evan.
__ADS_1
Igun menoleh ke arah parkiran dan melambai pada Martin. Cowok gondrong parlente itu serentak menghabur ke arah mereka.
Elijah berdiri gemetar dengan wajah memucat.
"Gua lagi dikerok!" teriak Evan mencoba meyakinkan semua orang yang siap mengeroyoknya. "Lu liat nih, kalo gak percaya!" Evan menarik ujung t-shirt-nya dan memperlihatkan punggungnya pada semua orang.
"Iya, sekarang lu dikerok, selanjutnya kita mana tau!" pembalap seusia Bang Wi menoyor kepala Evan.
Yanti hanya tergagap-gagap dan tidak sedikit pun berusaha membuka mulutnya untuk membela Evan.
Ya, Tuhan… Elijah menelan ludah dengan susah payah. Tak dapat bergerak, tak dapat bernapas. Hanya membeku dengan wajah terguncang.
Tak lama kemudian, Martin, Ardian dan Galang bergabung di belakangnya.
Evan melirik ke arah Elijah dan teman-temannya.
Martin memelototinya dengan isyarat bertanya.
Evan mengedikkan bahunya dan menepiskan cengkeraman semua orang, kemudian berteriak pada Elijah. "Lu pulang," instruksinya. "Si Dwi suruh kemari!"
Elijah tetap bergeming.
Orang-orang pribumi itu kembali menyergap Evan lagi dan menariknya di sana-sini.
Teman-teman Evan spontan merangsek ke tengah kerumunan, berusaha meredam amukan massa.
"Masih gak mau pergi?" Evan menghardik Elijah dari tengah-tengah impitan orang banyak.
Elijah mengerjap dan menelan ludah sekali lagi, lalu menatap teman-teman Evan.
Cowok-cowok itu mengangguk cepat-cepat, sembari membentengi Evan.
"Lu denger gua, gak?" Evan menghardiknya lagi. "Gua bilang pulang! Si Dwi suruh kemari!"
Elijah mengetatkan rahangnya dan mendongak. "Kenapa?" geramnya dingin. "Karena gua anak kecil?"
Evan spontan mengerang sementara orang-orang di sekelilingnya mulai agresif. "Lu apa, sih? Dari tadi marah-marah gak jelas. Pacar bukan, apa bukan!"
Elijah langsung tertunduk, merasa terpukul oleh kata-kata Evan, lalu berbalik dan menghambur meninggalkan warung. Bergegas ke parkiran, kemudian menyeruak keluar dan melesat dengan kecepatan gila.
Orang-orang yang dilewatinya tersentak menatap gadis itu.
Tangis Elijah meledak tanpa suara seiring kendaraannya mulai meluncur di jalan raya.
Begitu sampai di pekarangan rumah bibinya, ia melompat turun dengan sempoyongan hingga sepeda motornya terjungkal.
Paman Elijah menghambur ke arah gadis itu diikuti bibi dan sepupunya dengan ekspresi panik.
"Ada apa?" teriak Bang Wi cemas.
"Si Evan—" Lea tak bisa menahan tangisnya.
"Si Evan kenapa?" cecar Bang Wi tak sabar.
Elijah menelan ludah dan terengah-engah, "Si Evan… digerebek," jawabnya parau dan tersengak-sengak, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tanpa pikir panjang dan tanpa bertanya lagi, Bang Wi segera menghambur ke arah sepeda motornya, menariknya berdiri kemudian melompat naik dan menyalakannya. Lalu melesat keluar pekarangan.
__ADS_1