
"Sumpah gua lagi gak enak badan, Wi. Gua cuma numpang rebahan di bale. Gua gak pernah minta dia ngerokin gua, dia sendiri yang nawarin—dia yang maksa!" cerita Evan, berusaha menjelaskan situasinya pada Bang Wi setelah mereka sampai di rumah.
Mereka berbicara di ruang keluarga, tidak ada siapa-siapa di sana kecuali mereka.
"Lagian lu gak enak badan bukannya pulang, Van!" tukas Bang Wi.
Evan menoleh tajam ke arah Bang Wi dan memelototinya. "Lu kan ngasih gua tanggung jawab, Wi!" desis Evan tak kalah tajam.
"Tanggung jawab…" Bang Wi menggumamkan kata-kata Evan.
Evan memicingkan matanya.
"Ngomong-ngomong soal tanggung jawab… orang tua si Yanti juga minta tanggung jawab," lanjut Bang Wi. "Lu mau tanggung jawab?"
"Lu gila?" Evan spontan merongos. "Ngerokin begitu doang menta tanggung jawab!"
Bertepatan dengan itu, Elijah sedang melintas di koridor menuju dapur—tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka. Gadis itu menahan napas dan membekap mulutnya.
"Mereka percaya kok, lu nggak ngapa-ngapain," kilah Bang Wi. "Tapi mereka bilang udah kadung geger."
Elijah tak ingin mendengarnya lagi. Gadis itu membekap kedua telinganya dan berbalik—kembali ke kamarnya, tak jadi pergi ke dapur. Pertama karena untuk mencapai dapur ia harus melewati mereka, kedua karena ia tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Hatinya serasa dicabik-cabik sepanjang hari ini. Ini terlalu menyakitkan bagi Elijah. Lebih sakit dari sekadar tersuruk di rutted dan terpelanting ke jurang berkali-kali. Jika tubuhnya benar-benar remuk-redam hari ini, Elijah yakin ia masih dapat menahannya. Tapi hatinya bahkan tak setangguh sepeda motor trail.
Di koridor, gadis itu bertemu dengan bibinya. Elijah menundukkan wajahnya dan melewati begitu saja adik perempuan ayahnya itu, berusaha menyembunyikan tangisnya.
"Lea?" Bibi Aria menatapnya dengan cemas.
Elijah mempercepat langkahnya dan mengurung diri.
"Lea, gaat het?---kamu baik-baik saja?" Bibi Aria mengerutkan dahi dan bergegas menyusulnya.
Tidak ada sahutan. Pintu kamarnya juga terkunci.
Bibi Aria mengetuk pintunya. "Lea, open de deur---buka pintunya!" pintanya---lebih terdengar seperti perintah daripada permintaan.
Hening.
"Lea!" Bibi Aria meninggikan suaranya. "Tante gaat niet weg voordat je de deur opent---bibi takkan pergi sampai kau membuka pintu," tegasnya.
Terdengar suara berkeriut dan berdebuk. Tapi pintu kamar gadis itu tak kunjung terbuka.
__ADS_1
"Lea, luister---Lea, dengar," Bibi Aria tak mau menyerah. "Ik wil echt niet weten wat je probleem is---aku tak ingin tahu apa masalahmu," katanya. "Maar weet dat, de woede in jou jou ook zal vernietigen---tapi ketahuilah kemarahan dalam dirimu akan menghabisimu juga."
Hening.
Lalu secara perlahan pintu kamar gadis itu berderit membuka. Wajah Elijah muncul dan tertunduk.
Bibi Aria menghela napas lega, lalu menatap wajah keponakannya dengan senyuman seorang ibu. "Mag ik binnenkomen?---boleh aku masuk?" ia bertanya lembut.
Gadis itu menguak pintunya lebih lebar dan berbalik, kemudian berjalan pelan ke dalam kamarnya, wajahnya masih tetap tertunduk.
Bibi Aria melangkah ke dalam dan mengekor di belakangnya. "Je bent zwaar beschadigd, jongedame---kau rusak parah, Nona Muda," katanya. "Je hebt reparatie nodig---kau perlu dibenahi."
Elijah menghentikan langkahnya, tapi tetap tertunduk.
"Stop met medelijden met jezelf te hebben, Lea---berhentilah mengasihani diri, Lea," Bibi Aria menyentuh bahunya. "Iedereen heeft het ook moeilijk---semua orang juga mengalami masa sulit. Je bent niet de enige---kau bukan satu-satunya."
Elijah menoleh ke arah bibinya, tapi masih tak mengangkat wajah.
"Soms verandert God het pad van iemands leven---kadang Tuhan mengubah jalan hidup seseorang," tutur Bibi Aria. "Maar hij verandert zijn belofte nooit---tapi Dia tak pernah mengubah janji-Nya."
Elijah akhirnya mengangkat wajah, memandang wajah bibinya. "Denk je dat hij mijn gebed heeft verhoord?---menurut Bibi, apa Dia menjawab doaku?"
Elijah menelan ludah dan kembali tertunduk.
Bibi Aria tersenyum simpul. "Geloof gewoon in waar je voor bidt---percayalah pada apa yang kamu doakan. Niet waar je je zorgen over maakt---bukan pada apa yang kamu khawatirkan." Lalu menepuk bahu Elijah.
Setelah mengatakan itu, Bibi Aria meninggalkan kamar Elijah.
Elijah masih bergeming.
Kedua pria di ruang keluarga tadi tidak menyadari apa yang terjadi.
"Apa lagunya?" Evan masih menggerutu sembari menaikkan kedua kakinya dan meringkuk—menyandarkan kepalanya di lengan sofa. "Gua yang dikerokin dia yang menta tanggung jawab. Nah, ngerokin aje kaga beres! Udah gua diseret ke dalem, diseret keluar—ditonton banyak orang, sekarang masih aje pen nyeret gua lagi buat tanggung jawab? Gak sekalian seret gua ke neraka?"
Bang Wi meliriknya dengan raut wajah datar sembari bersedekap dan bersandar di sampingnya.
"Aturan gua yang menta tanggung jawab!" cerocos Evan masih belum puas. "Sebagai orang tampan nomor satu di sirkuit, ketampanan gua udah dinodai. Kalo fans-fans gua pada tau, mo taro mana muka tampan gua?"
"Taro kulkas noh, bareng lele!" dengus Bang Wi sembari menunjuk ke arah dapur dengan dagunya.
__ADS_1
Bibi Aria muncul di pintu, dan seketika keduanya terdiam. Perempuan itu mengawasi mereka dengan alis bertautan.
"Halo, cewek!" goda Bang Wi sembari berpaling ke arah istrinya.
Evan spontan mendelik ke arah Bang Wi.
"Apa Lea habis dari sini tadi?" Tanya Bibi Aria tak ingin berbasa-basi.
Evan dan Bang Wi serentak bertukar pandang dan menjawab hampir bersamaan. "Gak ada!"
Bibi Aria langsung terdiam.
Bang Wi mengerutkan dahinya dan melirik Evan sekali lagi. Lalu kembali menatap istrinya, "Ada apa?" Ia bertanya.
Bibi Aria mendesah pendek, lalu balas menatap suaminya. "Kukira… dia mendengar pembicaraan yang tidak baik," katanya seraya mengedikkan bahunya sedikit.
Evan menarik duduk tubuhnya dan melompat berdiri.
"Heh!" Bang Wi spontan menggeram dan menyergap tangan Evan. "Mo ke mana, lu?"
Evan menepiskan cengkeraman tangannya, tapi tidak menjawab.
Bang Wi merenggut tangannya lagi, "Lu barusan doang digerebek, udah pen bikin ulah lagi?!"
"Kalo gitu kali ini harus sampe kawin," sergah Evan sembari menepiskan tangannya lagi, lalu bergegas ke arah pintu.
"Tadi bilangnya sakit?" sindir Bang Wi.
Evan berhenti dan menoleh, lalu menunjuk ke wajahnya sendiri, "Ini namanya Roh Kasih," katanya setengah menggeram, lalu menghambur ke koridor. "Tolong viralin gua, Wi! Please!" teriak Evan sembari berlari menuju kamar Elijah.
Bang Wi terkekeh dan menatap istrinya, dibalas senyum simpul yang dipenuhi makna.
Elijah masih membeku membelakangi pintu ketika Evan mencapai kamarnya, pintu kamarnya masih terbuka.
Evan mengintip ke dalam dan terdiam. Diamatinya punggung gadis itu dan mendadak ragu.
Seolah bisa merasakan kehadiran Evan, gadis itu perlahan menoleh ke arah pintu dan… membeku.
Evan tertunduk dan berdeham, lalu menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu dan menatapnya lagi.
__ADS_1
Giliran Elijah sekarang yang tertunduk. Punggungnya serasa tersengat dan seketika jantungnya berdebar-debar. Gua gak bisa benci sama dia, ia mengakui dalam hatinya.