
"Lu ngapa pindah kemari?" Gigi bertanya pada Evan dengan tatapan heran.
"Ngapa, lu keberatan?" Evan balas bertanya seraya menurunkan ransel dari bahunya, kemudian melemparkannya ke tempat tidur Bemo.
Bemo spontan menyisi dan beranjak dari tempat tidurnya, kemudian menatap Evan dengan alis bertautan. "Pisah ranjang lu, sama Igun?" tanyanya berkelakar, tapi tidak tertawa.
"Anak-anak katanya pen nyusul kemari besok," jawab Evan sembari membongkar isi ranselnya. "Lu mo kosongin kaga tu lemari, hah?" Evan merongos pada Bemo sembari mengerling ke arah lemari.
"Laaah… pan baru besok?" Bemo menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, tapi kemudian bergegas ke sudut ruangan, mengosongkan setengah dari bagian lemari dan membantu Evan menaruh barang-barangnya.
"Sapa aja yang mo nyusul?" tanya Gigi tanpa beranjak dari tempat tidurnya.
"Kaga tau," jawab Evan. "Igun cuma bilang ada tiga orang yang pen nyusul, tapi kaga bilang siapa aja."
Selesai menyusun barang-barang Evan, Bemo menutup lemari, kemudian duduk di tepi tempat tidur Gigi, memperhatikan Evan yang sedang melucuti kemeja dan menggantungnya pada kapstok di belakang pintu.
Denting gitar dari seberang paviliun mereka kembali mengusik perhatian Evan, yang secara otomatis menarik cowok itu mendekat ke jendela, kemudian mengintip ke paviliun Elijah.
Gadis tomboi itu sedang duduk bersila di tempat tidurnya dengan gitar akustik di pangkuannya. Jendela kamarnya terbuka lebar.
Untuk sesaat, Evan terhanyut dalam petikan gitar yang dimainkan gadis itu hingga tanpa sadar ia membeku di depan jendela dengan tatapan menerawang ke seberang paviliun, memandangi wajah Elijah yang duduk menyamping.
Suara gadis itu menarik perhatian semua orang di paviliun seberang.
"Wuihh… suaranya cakep amat!" Bemo tiba-tiba berkomentar seraya mendekat ke arah Evan. "Sapa yang nyanyi? Anak Bang Wi?"
"Ponakannya," jawab Evan sembari menjauh dari jendela dengan ekspresi datar. Lalu membaringkan diri di tempat tidur yang semula ditempati Bemo.
Bemo melongok ke luar jendela sesaat, kemudian kembali ke tempat tidur Gigi.
Gigi hanya melirik sepintas, kemudian kembali sibuk memelototi ponselnya.
Evan bersandar di kepala tempat tidur dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar—diam-diam menyimak nyanyian yang dilantunkan Elijah dan mengikutinya dalam hati.
Elijah sedang menyanyikan sebuah lagu pujian kristiani yang tidak asing lagi di telinga Evan.
"What a beautiful Name it is… What a beautiful Name it is…"
Lagu tiba-tiba berhenti, dan alunan gitar lenyap seketika.
Evan menautkan alisnya dan beranjak dari tempat tidur.
Gigi dan Bemo serentak menoleh pada Evan, kemudian bertukar pandang.
__ADS_1
Evan kembali ke jendela dan mengintip ke seberang paviliun.
Bibi Aria berdiri sembari tersenyum dan bersedekap di sisi tempat tidur Elijah.
Elijah mendongak menatap wajah bibinya seraya mengulum senyumnya. "Je hebt gelijk, tante—Bibi benar," bisiknya lirih. "God verspilt nooit iets, zelfs voor kleine dingen—Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan setiap hal, bahkan hal-hal kecil."
Bibi Aria kemudian duduk di tepi tempat tidur gadis itu dan memeluknya.
Evan mengerjap dan berdeham, lalu menjauh dari jendela.
Kedua teman sekamarnya masih memperhatikannya dengan dahi berkerut-kerut.
Evan melirik sekilas ke arah mereka, kemudian mematikan lampu dan mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan posisi tengkurap. Lalu memejamkan matanya sembari memeluk bantal yang menopang kepalanya.
Gigi dan Bemo serempak mengerang dan menggerutu.
"Men matiin aje, ketauan kita-kita orang masih melotot," cerocos Bemo sembari meraba-raba ke sisi tempat tidurnya untuk menyalakan lampu meja.
Malam berlalu…
Pagi-pagi sekali Elijah sudah bangun dalam keadaan segar bugar.
Waktu baru menunjukkan pukul setengah enam kurang ketika Elijah keluar dari kamarnya dengan mengenakan seragam training dan sepatu olahraga. Hari ini, ia merasa cukup siap untuk melakukan aktivitas.
Di ruang keluarga, di depan perapian, Bibi Aria dan Delilah sedang berdoa bersama kepala keluarga mereka.
Ia memasang earphone di kedua telinganya, memutar musik di ponselnya, kemudian menyelipkan ponsel itu di saku celananya dan menghambur dari teras.
Melihat Elijah keluar dengan perlengkapan joging, Innu yang pada saat itu sedang berkerumun di meja kopi di teras paviliun spontan mengerjap dan terbelalak, kemudian beranjak dari kursi, "Joging, yuuuk…" gumamnya sembari menyeringai, tatapannya terfokus pada punggung Elijah, yang secara otomatis menarik perhatian teman-temannya.
Evan melirik sekilas pada Innu, kemudian mengikuti arah pandangnya.
Maha dan Igun serempak berebut mendahului Innu.
"Wo—woy!" Innu tergagap sesaat, kemudian menghambur menyusul mereka.
Gigi dan Bemo serempak mengerang dan menggeleng-geleng.
"Kaga bole bat liat cewek!" gerutu Bemo.
Evan kembali tertunduk meraih cangkir kopinya di meja dan menyesapnya. Lalu kembali sibuk mempelajari tumpukan dokumen di pangkuannya.
Igun, Maha dan Innu berlari keluar pekarangan sembari saling merenggut bahu, saling menghambat, menjegal dan mempersulit langkah satu sama lain, berebut posisi dengan cara kasar sembari cengengesan.
__ADS_1
Elijah belum menyadari dirinya dibuntuti. Musik keras yang didengarnya melalui earphone membuatnya tuli dari lingkungan sekitar.
Begitu ketiga cowok yang masih berebut itu menyenggol bahunya tanpa sengaja, Elijah tersentak dan menoleh ke sana kemari dengan kebingungan.
"Hai!" Innu menyapanya seraya menaik-naikkan sebelah alisnya ke arah Elijah.
Elijah melepaskan earphone dari telinganya sembari tergagap.
"Awas copet!" serobot Igun sembari merenggut pergelangan tangan Elijah dan menariknya menjauh dari Innu.
Maha memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap di sisi Elijah.
Aksi tarik-menarik pun kembali terjadi antara Innu dan Maha.
Elijah menelan ludah dan memelototi mereka dengan mata dan mulut membulat. "Lu ngapa sih, pada?" hardik Elijah begitu menyadari situasinya. Ia menepiskan tangan Igun dan memelototinya juga.
Ketiga cowok itu cuma cengar-cengir sembari memalingkan wajah ke sembarang arah dan menggaruk-garuk bagian belakang kepala mereka yang sebetulnya tidak terasa gatal, gerakan mereka hampir seragam hingga terkesan seperti kembar idiot bertampang konyol.
Elijah mendengus dan mempercepat larinya.
Cowok-cowok itu tersentak dan menghambur menyusulnya.
Bersamaan dengan itu, mereka berpapasan dengan segerombol pria berkain sarung dengan peci dan baju koko yang baru keluar dari masjid.
Orang-orang itu serentak menyisi dari jalan sembari menoleh ke arah mereka dengan tercengang. Terdengar gumaman di antara orang-orang pribumi itu setelah keempat remaja tadi berlalu melewati mereka sembari tertawa-tawa. Beberapa orang masih memperhatikan mereka sembari meneruskan langkah. Sebagian menggeleng-geleng sembari menggumam.
"Cantik! Tunggu…!" teriak Innu, tak tahu malu. "Aku padamu…"
Elijah berhenti dan menoleh pada Innu sembari melotot. "Sekali lagi manggil gua cantik, dikadek sia ku aing!"
"Nah, luh!" Innu tergagap kebingungan.
"Mampusss!" Igun bersorak dan berjingkrak-jingkrak. Puas melihat saingannya kalah telak.
Maha tergelak sembari menunjuk wajah Innu yang melengak kebingungan.
Elijah meneruskan langkahnya sembari cemberut.
"Lu romannya puas, Gun?" Innu melotot pada Igun. "Emang dia ngomong apa?"
Elijah bilang, sekali lagi manggil gua cantik, gua bacok lu!
Tapi Igun bilang, "Katanya terima kasih!"
__ADS_1
"Nadanya gak kek gitu, Gun?!" protes Innu tak percaya.
Igun dan Maha terbahak-bahak.