
"Ish! Si Dapé gimana sih, kok gak bisa dihubungi?" Elijah tidak berhenti mengerang selama dalam perjalanan. Ada saja yang menjadi keluhannya. Mulai dari musik yang diputar terlalu keras, terlalu kecil, terlalu melow, terlalu norak, pokoknya… T E R L A L U.
"Udah! Udah!" Juna berusaha menenangkan Elijah dari jok penumpang depan. "Dia udah di lokasi, oke?" ia memberitahu.
Tapi tak sampai semenit, Elijah sudah mengerang lagi. Kali ini pada kakaknya. "Geser dikit sih, Beb! Gue kegencet nih…"
"Astaga," erang Keith tak sabar. "Perasaan gue dari tadi kaga ngapa-ngapain, dah!"
"Badan lu kelebaran, tau!" sembur Elijah.
Juna menoleh ke belakang sembari terkekeh tipis dan menggeleng-geleng.
"Ish!" Beberapa menit kemudian Elijah kembali mengerang. "A Ijat!"
"Apa lagi keluhan lu?" sembur Jati dari belakang kemudi.
Seisi mobil terkekeh.
Elijah langsung terdiam dan mengedar pandang.
Semua orang meliriknya dengan tatapan mencela.
Elijah menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Lalu menyandarkan punggungnya tak kalah kasar.
Keith dan Noah melirik sekilas di kiri-kanannya.
Jimmy dan Wanda saling melirik di bangku belakang, kemudian menggeleng seraya tersenyum masam.
Ada yang tak beres dengan Elijah sejak mereka berangkat, pikir semua orang.
"Lu lagi dapet, ya?" komentar Jimmy sedikit sinis. "Gak jelas, lu—dari tadi!"
"Dapet apaan?" seloroh Juna tak kalah sinis. "Emang dia wanita?"
Keith terkekeh.
"Ngapain aja sih lu, selama liburan?" tanya Jati tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan. "Kok jadi baperan?"
"Transgender kali dia jadi wanita," timpal Wanda setengah mencemuh.
Elijah mengatupkan mulutnya dengan raut wajah masam. Suasana hatinya betul-betul sedang buruk.
Bagaimana tidak?
Ini adalah hari terakhirnya berada di Jakarta, dan ia sudah dijemput. Ia bahkan tak sempat menemui Evan---setidaknya untuk memastikan apakah dua minggu mendatang ia benar-benar harus kembali. Atau sekadar mengucapkan selamat tinggal, melihat wajahnya untuk yang terakhir kali.
Ia tak yakin apakah setelah konser ini dia masih punya kesempatan untuk menemui cowok itu lagi. Terutama hari ini, pria itu juga pastinya akan sangat sibuk sampai sore. Sementara dirinya sudah harus kembali ke sekolah keesokan harinya. Satu-satunya kesempatan untuk bisa menemui pria itu hanya pagi ini. Dan itu sudah terlambat!
"Argh! Si Dapé sih, pake gak bisa dihubungi," gerutunya tak jelas.
__ADS_1
"Dapé lagi!" erang Juna sembari membeliak. Lalu menoleh sekali lagi ke bangku belakang. "Lu punya masalah apa sih sama si Dapé?"
"Bukan urusan lu!" sergah Elijah tak ramah.
"Abis dipake kali gak dibayar," seloroh Jimmy tak sabar.
Elijah tidak menggubrisnya.
Juna mendelik dan mendengus, memalingkan wajahnya kembali ke depan. Lalu tak bicara lagi.
"Si Dapé udah sampe di lokasi… Maliiiih…" jelas Jati dengan nada membujuk, tapi tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari jalan. "Lu mau hubungi dia sampe gondrong juga gak bakal direspon. Dia lagi nyeting alat! Paham?"
"Kagak," tukas Elijah tak peduli.
Jimmy dan Wanda kembali terkekeh masam.
"Udah, sih, antebin aja!" tukas Keith. "Ntar ga mati sendiri!"
"Iya kalo diseting sekali puter," gerutu Wanda.
Seisi mobil terbahak-bahak.
Elijah kembali cemberut.
Noah meliriknya dengan prihatin.
Jati memelankan laju mobilnya dan menyisi, "Titik koordinatnya sih, di sini. Tapi di mana lokasi konsernya?" gumam Jati seraya membungkuk dan mengamati sekitar. "Gak ada jalan masuk!"
"Coba telepon si Dapé, Jong!" pinta Jati pada Juna.
Elijah spontan mencebik, "Lu mau hubungi dia sampe gondrong juga kaga bakal direspon," sindirnya.
"Kagak," sahut Jati datar. "Gua kan, udah gondrong!"
Juna terkekeh sembari mengeluarkan ponselnya. Lalu mulai menghubungi Devian. "Gak direspon," katanya memberitahu.
"Jiah!" erang Jati.
Elijah menyeringai licik.
"Coba hubungi pihak sponsor yang kemaren ngubungin kita!" usul Wanda. "Bilang kita udah sampe di…" Wanda merunduk dan menudungi matanya dengan telapak tangan untuk meneropong bangunan di dekat mereka.
"Gedung Diamond!" potong Jati cepat-cepat.
"Apa?" Elijah terperanjat. "Gedung Diamond? Diamond Billiards?"
Seisi mobil serentak berpaling pada Elijah.
"Coba, Ay!" Elijah mendorong Noah untuk menyisi, kemudian menurunkan kaca dan melongok keluar. Lalu mengerang dan memutar-mutar bola matanya. "Ya, ampun!" erangnya tak sabar. "Kenapa gak bilang dari tadi kalo tujuan kita ke gedung diamond," rutuknya pada Jati. "Kan gak perlu muter-muter jadinya!"
__ADS_1
"Kalo kaga begeto Penulis Keparat gak bisa mencapai seribu kata!" sergah Jati sekenanya---kena banget malah!
Seisi mobil masih melengak.
"Jadi konsernya di gedung ini?" tanya Elijah setengah memekik.
"Katanya sih di belakang gedung ini," jawab Jati.
"Di belakang?" Elijah membelalakkan matanya. "Di belakang sirkuit, A n j i m!"
Jati bertukar pandang dengan Juna.
"Emang di sirkuit," kata Jati. "Si Dapé bilang Event Grass Track!"
Ya, Tuhan! pekik Elijah dalam hati. "Kenapa gak bilang dari tadi, Bangsaaaad!" teriak Elijah pada Jati, sedikit terlalu bersemangat. Kalau tau dari tadi gua kan gak perlu galau, katanya dalam hati. Jantungnya berdebar-debar karena gembira dan hatinya kembali berbunga-bunga.
"Lu tau tempat ini?" tanya Wanda terperangah.
"Ya, tau lah! Seminggu ini gua di sini bareng si Dapé dari pagi sampe sore!" sembur Elijah. "Pantes aja si Dapé udah sampe di lokasi!"
"Yailah!" Seisi mobil mengerang bersamaan.
"Kenapa gak bilang dari tadi, Malih!" hardik Jati. "Ini pan job dapetnya dari si Dapé!"
"Lah, lu kaga bilang jobnya dari si Dapé!" Elijah balas menghardik.
Demikian pada akhirnya seisi mobil berubah gaduh seperti panggung festival musik metal.
Suasana hati Elijah berubah drastis dan dalam sekejap hal itu juga mengubah suasana dalam mobil.
Suara nyaring klakson mobil di belakang menyela mereka.
"Yodah nih, masuknya lewat mana, nih?" Jati memajukan mobil mereka perlahan.
"Lanjut aja terus," Elijah memberitahu. "Puterin gedung ini, jalan masuknya ada di belakang kalo mau ke sirkuit."
Begitu sampai di lokasi, Devian menyambut mereka dengan semburan maut ala-ala vocal growl. "Lama amat, Kampret!" geramnya pada Elijah sembari menoyor pelipis gadis itu. "Saben s'ari bolak-balik ke mari masih aje kaga tau jalan!"
"Para bajingan ini gak bilang kalo job ini dari elu!" Elijah balas menggeram dengan vocal growl yang sama---hanya beda nada. "Gua dibawa muter-muter gak jelas dengan gaya sok tau mereka yang gak ada duanya!"
Semua orang tergelak menanggapi kekonyolan mereka sendiri.
"Lagi lu gak bilang kalo kita bakal konser di acara sialan ini," gerutu Elijah pada Devian. "Saben s'ari bareng gua kaga ngomong apa-apa!"
"Saben s'ari kerja lu cuma ugal-ugalan, pake helm full face. Di sirkuit mati-matian naklukkin zona trek, di parkiran mati-matian naklukkin bajingan tengik," cerocos Devian membela diri. "Mana ada waktu buat ngobrol sama gue?"
Elijah spontan melotot pada Devian sembari menginjak kakinya mengisyaratkan supaya bajingan itu tutup mulut.
Teman-temannya menyeringai sembari melotot pada Elijah dengan tatapan lapar kawanan serigala.
__ADS_1
"Bajingan tengik mana yang bikin setan kecil lupa diri?" selidik Jati dengan mata terpicing.