Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-25


__ADS_3

"Sekarang gua tanya, siapa aja orang di sini yang kenal sama orang-orang IMI?"


Hening.


"Gak ada satu pun?" cecar Bang Wi. "Kenal kagak apa kagak, IMI ngasi lu kendaraan sebanyak ini! Si Yanti yang lu-lu anggep udah kek adek, kek pacar sendiri, pernah ngasih apa sama lu semua?"


Semua mata sekarang menatap ke arah Yanti.


Wajah gadis itu spontan memucat.


"Berani lu semua ngejebak ade-adean gua yang udah ngusahain semua ini demi ade-adean lu yang lu pacarin juga?!"


"Bang—" Bandi mencoba memprotes.


"Apa? Gua salah?" potong Bang Wi sembari mendekat ke arah Bandi. "Lu kira gua gak tau, lebih dari dikerokin, anak-anak ini juga pernah keluar-masuk kamar si Yanti. Kagak cuma di warung! Kenapa gak pernah lu gerebek?" Bang Wi menunjuk sejumlah wajah pemuda pribumi yang pernah menjalin hubungan rumit dengan Yanti.


Cowok-cowok itu semakin tertunduk.


Bandi langsung terdiam. Ayahnya mengetatkan rahang, sementara ibunya mulai menangis. Yanti pura-pura pingsan, tak sanggup menanggung malu.


Suasana berubah gaduh ketika sejumlah wanita menjerit dan menghambur mengerumuni Yanti. Ibunya menangis dengan dramatis.


Barisan pemuda tidak berani bergerak ketika para wanita mendesak mereka untuk menggotong Yanti.


Bang Wi mencebik sembari mendelik pada ayah Yanti.


Pria paruh baya itu tertunduk tanpa daya bersama putranya.


"Mau sampe di mana lu sama gua?" tantang Bang Wi pada kedua pria itu. "Lu mo pada dendam sama gua? Bunuh gua kalo lu ngerasa gak puas! Tapi asal lu tau, mau lu bunuh gua, mau lu bunuh semua anak-anak ini juga tetep gak bakal ngubah perasaan si Evan!"


Wajah ayah Yanti serentak melunak. Sebagai jawara paling disegani, harga diri dan nama baik keluarganya benar-benar terkoyak hari ini. Memang sempat terlintas dalam benaknya untuk membalas dendam demi mempertahankan harga diri. Tapi perkataan terakhir Bang Wi menyadarkan pria tua itu bahwa dia memang tidak pantas marah karena putrinya tidak diinginkan. Jika ia makin ngotot sekarang, itu hanya akan membuatnya semakin dipermalukan dan lebih tak punya harga diri.


"Silahkan lu paksa si Evan, lu ancam si Evan biar dia nikahin anak lu!" tantang Bang Wi lagi. "Lu pasung sekalian biar dia gak bisa ninggalin anak lu? Anggap aja si Evan cuma boneka yang gak punya otak, gak punya orang tua, gak punya apa-apa! Mau lu, punya mantu kek gitu?"


Ayah Yanti tetap bungkam.


"Apa lu mau bunuh si Evan sekalian?" sindir Bang Wi---hal itu memang sempat terlintas di kepala Bandi. "Bunuh!" tantang Bang Wi.


Igun langsung mendengus mendengar perkataan Bang Wi. "Bunuh, Bang," gumamnya yang hanya bisa didengar oleh teman-temannya. "Abis itu, elu yang gua bunuh."


Teman-temannya terkekeh sembari menutup mulut.


Bandi melirik mereka secara diam-diam. Ayahnya menoleh pada Yanti yang pura-pura sudah sadarkan diri. Para wanita mengerumuni gadis itu di sana-sini memberikan air minum dan memijat-mijat lengan dan kakinya. Menariknya berdiri dan memapahnya keluar.


"Gitu doang, Ti?" sindir Bang Wi. "Gak ada yang pen disempein gitu? Apa mo gua panggilin si Evan kemari?"


"Udah apa, Dwi!" ibu Yanti mulai histeris. "Gak ada abis-abisnya lu dari tadi. Lu gak liat kondisi si Yanti?"


"Lu kira gegara apa orang sekampung ampe dikumpulin?" teriak Bang Wi mulai naik pitam.

__ADS_1


"Iya! Gua tau ini salah si Yanti!" Ibu Yanti semakin histeris. "Tapi tolonglah liat-liat kondisi!"


"Gua mau urusan ini kelar sekarang juga!" hardik Bang Wi tak mau tahu.


Yanti memutar tubuhnya dengan sempoyongan dan jatuh sekali lagi.


Ibunya menjerit-jerit sekarang. "Matiin aja anak gua! Matiin!"


"Yailahhh…" Igun mengerang tak sabar. "Gua angkut juga ni cewek," bisiknya pada Innu. "Aktingnya jago, komuknya lumayan, gua jual ke produser film bisa kaya gua!"


"Jan lupa uang denger," timpal Innu.


"Deli!" teriak Bang Wi sembari menoleh ke belakang memanggil anaknya. "Ambil golok Papa!" perintahnya, yang secara otomatis membuat semua orang terhenyak.


"Lu mau ngapain?" tanya salah satu tokoh masyarakat pada Bang Wi.


"Mo gua bunuh tu si Yanti!" jawab Bang Wi enteng. "Ada yang keberatan?"


Semua orang serentak memekik.


"Lu semua denger, kan? Emaknya sendiri yang nyuruh gua!" kata Bang Wi. "Cepet, Deli!" desaknya pada Delilah.


"Dwi!" Sejumlah pria dewasa serentak menyergap Bang Wi.


"Lu kira gua gak berani?" teriak Bang Wi pada ibu Yanti.


Situasi kembali kisruh. Pekik jerit para wanita dan teriakan gusar para pria membuncah ketika Delilah muncul membawa samurai, membuat Yanti terlonjak karena ketakutan. "Ampun, Bang! Ampun!" teriak Yanti sembari menghambur ke arah Bang Wi dan tersungkur memeluk lututnya. "Yanti ngaku salah!"


Igun dan Innu bertukar seringai. Maha memutar-mutar bola matanya sembari menjulurkan lidah dengan sikap mencemooh.


"Leh uga aktingnya, si kampret!" bisik Martin sembari mengerling ke arah Bang Wi.


"Akting dibalas akting," timpal Bemo juga dengan berbisik sambil cengengesan. "Yang satu aktris pendatang baru yang satunya lagi sutradara bejat!"


"Pembohong gak pernah sembuh, Yanti!" hardik Bang Wi.


"Yanti janji, Bang!" sergah Yanti cepat-cepat. "Yanti janji gak bakal kek gini lagi, gak bakal gangguin Evan lagi, gak bakal gangguin temen-temen Abang!"


"Terus urusan orang sekampung ini pegimana?" Bang Wi tertunduk dan menyeringai.


Yanti tertunduk lemas dan menelan ludah.


Bang Wi membungkuk dan menariknya berdiri, lalu memutar tubuh gadis itu menghadap semua orang.


Ibu Yanti melarikan diri sembari sesegukan. Beberapa wanita mengikutinya.


Bandi menghambur ke arah Bang Wi dan memeluknya. "Maafin gua, Bang! Maafin adek gua!" pintanya memohon-mohon.


Bang Wi menepuk-nepuk punggung Bandi sembari terkekeh. "Lu kira gua orang gila?" katanya. "Iya kali, gua beneran gorok orang depan orang sekampung! Gua cuma butuh klarifikasi aja, kok."

__ADS_1


Yanti tidak berani mengangkat wajahnya, tapi dia memaksakan diri untuk bicara. "Yanti… Yanti gak tau harus ngomong apa," katanya terbata-bata. "Yanti cuma bisa bilang maaf. Yanti salah. Yanti udah bohong…"


Para penduduk pribumi itu mengerang rendah dan menggumam tak jelas.


"Kek gini kan, enak!" kata Bang Wi.


Semua orang serempak menghela napas. Para petinggi desa dan tokoh masyarakat mengerumuni Yanti sembari menepuk-nepuk bahu gadis itu.


"Jadiin pelajaran, Ti!" kata ketua RT menasihati gadis itu.


"Lu cakep, Ti," puji Bang Wi. "Sayang lu gak punya inner beauty," cemoohnya kemudian.


Ayah Yanti bergabung ke tengah-tengah dan menyalami Bang Wi. "Sampein maaf buat Evan dari kita sekeluarga," katanya benar-benar malu.


Bersamaan dengan itu, Evan muncul dipapah Elijah. Wajahnya masih terlihat pucat.


Semua orang serempak menoleh ke arah mereka.


Yanti menatap Elijah dengan ekspresi terpukul.


"Maaf, semuanya!" kata Evan lemah. "Saya udah bikin geger sekampung."


Igun membeliak sebal mendengar perkataannya. Itu sih bukan permohonan maaf, rutuknya dalam hati. Tapi kata lain dari, Helllloooww… gua artisnya, lho!


Elijah menahan dadanya, ketika Evan mengernyit dan terhuyung. Lalu mengerling ke arah Igun dengan isyarat memohon.


Igun menjulurkan lidahnya, tak mau membantu.


"Maaf, saya lagi gak enak badan, makanya gak bisa gabung. Saya gak maksud ngindar," kata Evan.


"Gak apa-apa, Van! Istirahat aja!" Pak RT menengahi. "Udah beres, kok."


Ayah Yanti menghampirinya dan menepuk bahu Evan. "Saya sekeluarga mohon maaf atas kelakuan Yanti."


Evan tersenyum dan melirik Yanti. "Maafin gua ya, Ti," katanya. "Lu sebenernya cakep. Kaga perlu kek gini juga cowok-cowok pada bacok-bacokan berebutan lu. Tinggal pilih pen yang mana. Gua mah udah punya pacar, Ti. Udah pen nikah malah!"


Bang Wi dan Elijah serempak menoleh pada Evan dengan mata terpicing.


Teman-temannya spontan bertukar pandang.


"Sepuluh taon lagi, lah!" Evan menambahkan.


Cowok-cowok berengsek di belakangnya serempak membeliak sebal. Tidak terkecuali Bang Wi dan Elijah.


Yanti tertunduk dengan perasaan terluka---gak lucu, pikirnya terlanjur geram.


"Ini pacar gua, Ti!" seru Evan sembari mendorong Elijah ke hadapan Yanti.


Bumi di sekeliling Evan seketika dilanda gempa. Cowok-cowok berengsek di belakangnya terguncang semua.

__ADS_1


__ADS_2