
"Siapa yang ngerahin racer-racer tadi?" Evan bertanya pada Devian setelah sampai di bengkelnya.
Devian hanya angkat bahu, "Gak ada," jawabnya tanpa beban sedikit pun. Kemudian mematikan mesin dan menstandarkan sepeda motornya.
Evan mengerutkan keningnya.
Bersamaan dengan itu, Martin muncul di pintu gerbang dan menyeruak masuk menyusul mereka bersama yang lain.
Evan mengedar pandang mengamati wajah mereka satu per satu dengan dahi yang masih berkerut-kerut.
Cowok-cowok itu menyisikan sepeda motor mereka dan memarkirnya sejajar di kiri-kanan Evan dan Devian. Lalu memandangi keduanya dengan alis bertautan.
"Dari mana mereka tau soal penyerangan tadi?" Evan menggumam setelah semua orang mematikan mesin.
Devian melangkah turun dari sepeda motornya dan menoleh pada Evan. "Mereka gak tau apa-apa soal penyerangan itu," jelasnya. "Mereka cuma kebetulan lewat!"
"Hah?" Innu, Igun dan Maha terperangah bersamaan.
"Jadi yang tadi itu Enduro?" Evan mengerutkan keningnya semakin dalam, disambut gelak tawa yang lainnya.
Enduro adalah perlombaan jarak jauh yang lebih mengutamakan ketahanan daripada kecepatan.
"Terus lu berempat tau dari mana kalo kita diserang?" Evan bertanya lagi sembari mengedar pandang, menatap Irgi, Bimo, Martin dan Devian secara bergantian. Masih tak habis pikir, bagaimana semuanya bisa begitu kebetulan.
"Kita pan tau lu berempat pen ngeroyok orang, risiko lah dikeroyok balik!" tukas Martin mengambil alih jawaban. "Pas denger ribut-ribut juga kita udah feeling, lu berempat pasti dibuntutin!"
"Leh uga si kampret," puji Igun sembari menyeringai.
Innu dan Maha terkekeh sembari mendesah lega.
"Pantes aja lu berempat kagak nyusul kita ke pangkalan ojek," gumam Evan setengah menggerutu.
"Kalo kita semua ke sono, jumlah kita ketaker, Dongo!" sergah Devian.
"Yodah, sih! Intinya, kita semua pada akhirnya tetep bekerja sama, kan?" tukas Martin menengahi. "Berarti, Elijah milik kita bersama!" kelakarnya.
Evan spontan melayangkan tendangan dan mendaratkannya di lutut Martin.
Cowok berengsek itu hanya terkekeh, sementara yang lain terbahak-bahak.
.
.
.
"Oke, sekarang kamu udah boleh buka mata dan berbalik!" instruksi Denta pada Elijah.
Sesuai perjanjian, seusai makan malam, Denta akan berganti pakaian tipis berkerah terbuka.
Sekarang mereka sudah berada di kamar Denta.
Elijah diminta berdiri di dekat pintu, membelakangi Denta sembari menutup mata, sementara pria itu berganti pakaian.
__ADS_1
Elijah mengerjap membuka matanya, kemudian berbalik dengan ragu-ragu.
Denta mengenakan celana ketat berwarna hitam mengkilat dengan kemeja putih transparan. Sebagian kancingnya terbuka di bagian dada. Rambut ikalnya yang berwana cokelat madu dibiarkan tergerai hingga ke bahu.
Elijah mengerjap sekali lagi, kemudian terkesiap.
Sosok Denta tampak memukau sekaligus rapuh. Dada dan perutnya yang rata tampak melengkung karena berat badannya yang telah menyusut. Ikat pinggangnya tampak kebesaran di pinggang rampingnya. Kulit dadanya yang pucat terlihat transparan seperti kemeja putihnya.
Elijah hampir tak mampu menahan dirinya untuk tidak menghambur menyongsong pria itu dan memeluknya.
Pria itu terlihat seperti akan menghilang dalam keredap cahaya lembut yang dipantulkan kandil di atas kepalanya.
Dia terlihat seperti hantu, pikir Elijah muram. Ia melangkah perlahan mendekati pria itu tanpa berkedip. Seolah khawatir jika ia mengerjapkan mata, sosok di depannya benar-benar akan menghilang.
Denta menyongsong gadis itu seraya tersenyum samar.
Sekarang keduanya sudah saling berhadapan dalam jarak satu langkah. Elijah mendongak mengamati pria itu dengan tatapan lembut. Pada saat itulah ia baru menyadari apa yang disembunyikan pria itu di balik kerah tingginya selama ini.
Nodul tiroid---benjolan pada leher yang disebabkan oleh kelenjar getah bening.
Namun yang lebih buruk dari itu adalah metastasis—penyebaran sel kanker dari satu organ atau jaringan tubuh ke organ atau jaringan tubuh lainnya. Kanker telah menyebar ke luar organ atau jaringan dari tempat kanker pertama kali muncul. Sel kanker tersebut biasanya menyebar melalui darah atau kelenjar getah bening. Sesak napas dan batuk berdarah yang diderita Denta selama ini disebabkan oleh kanker yang sudah menyerang paru-paru.
"Terkejut?" tanya Denta seraya tersenyum miring. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
Elijah menelan ludah dan tertunduk, "Ya," jawabnya terus terang.
Senyuman penuh pemahaman Denta kembali melebar.
Elijah melangkah makin dekat dan memeluk pinggang Denta, telinga dan pipi gadis itu menempel di dadanya yang terbuka. Degup jantung pria itu bergemuruh di telinganya. Denta mengusap lembut kepalanya seperti biasa.
Lalu…
"Maafin gue," sesal Elijah dalam bisikan lirih.
Denta mendesah dan tersenyum. "Gapapa," katanya. "Saya senang akhirnya bisa terbuka. Mulai sekarang saya gak perlu nutupin apa pun lagi!"
.
.
.
"Maaf, Pak! Saya gak bisa menemukan konten maupun akun yang Bapak maksud," kata seorang gadis pada Ardian Kusuma.
Gadis itu adalah seorang cracker yang direkomendasikan seorang pria di seberang teleponnya kemarin siang. Dan malam harinya, gadis itu langsung dikirim ke kediaman Ardian Kusuma.
Sudah lebih dari satu jam gadis itu berkutat di depan komputer di ruang kerja pribadi Ardian Kusuma, tapi tak juga menemukan konten yang katanya perlu dihapus maupun akun pengirim yang dimaksud Ardian.
"Aneh!" gumam Ardian setelah yakin gadis itu tidak keliru dan mengeceknya sendiri, melakukan pencarian ulang melalui ponselnya. "Apa ada kemungkinan orang terkait mengganti nama Id-nya atau mengganti judul video yang diunggahnya?" tanya Ardian tak puas.
"Sekalipun benar demikian, konten viral akan tetap berada di halaman utama rekomendasi," tukas gadis itu. "Saya menduga hacker lain sudah meretas akun terkait dan menghapus konten tersebut."
"Apa itu mungkin?" tanya Ardian tak yakin.
__ADS_1
"Kenapa gak mungkin?" sanggah gadis hacker itu seraya tertawa sungkan.
Ardian langsung terdiam.
"Bapak bilang, konten ini terkait nama baik seseorang. Kalo Bapak aja peduli, gak menutup kemungkinan orang terkait lebih peduli, kan?" Gadis itu menambahkan.
Betul juga, pikir Ardian. Tapi entah kenapa ia tak yakin Elijah bisa melakukannya. Pasti ada campur tangan orang lain di belakangnya.
Mungkinkah si Bugatti Masonry?
Atau…
Evan?
Daripada itu, kenapa ia tidak mencoba meminta bantuan gadis ini untuk melacak siapa pemilik Bugatti Masonry?
"Apa kamu juga tau cara melacak pemilik kendaraan?" tanya Ardian.
Gadis itu menoleh dan terkekeh. "Gak perlu hacker kalo Bapak cuma mau tau data pemilik kendaraan," katanya. "Bapak tinggal ke Samsat, kelar!"
"Masalahnya bukan sekadar data pemilik," tukas Ardian.
Gadis itu menoleh dan mengerutkan dahi.
"Tidak sesederhana itu!" Ardian menambahkan.
"Oke, saya paham!" Gadis itu akhirnya tersenyum maklum.
Ardian mengerjap dan tersenyum samar.
Sejak gadis itu tiba, ia merasa bahwa gadis itu sedikit mirip dengan Elijah.
Gadis itu kembali tertunduk mengetikkan sesuatu pada keyboard sementara matanya kembali terfokus ke layar monitor.
"Omong-omong, berapa usia kamu?" tanya Ardian.
"Dua satu," jawab gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari monitor.
"Masih sekolah atau…?"
"Baru mulai kuliah!" potong gadis itu. Masih terfokus pada layar monitor.
"Kuliah di mana?"
"IKJ!"
Ardian terkesiap dan membeku. Isi kepalanya seketika dipenuhi gagasan-gagasan baru. Kenapa bisa begitu kebetulan? pikirnya.
Keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Ardian!
Atau malah sebaliknya?
Gadis hacker itu adalah gadis yang dua kali menabrak Elijah di kampus.
__ADS_1
Sisca Asia atau lebih dikenal sebagai Six di kalangan para hacker.