
Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali, Evan dan Igun sudah kembali ke rumah Bang Wi dengan membawa sepeda motornya masing-masing.
Elijah mengintip dari jendela kaca di ruang tamu begitu mendengar suara raungan knalpot yang terasa tak asing, seolah suara itu sudah bercokol sekian lama dalam kepalanya. Senyuman gadis itu menghangat melihat kendaraan jenis Harley Kutukan yang dikendarai Evan. Ketemu lagi, katanya dalam hati. Cowok berengsek belepotan oli!
Cowok itu mengenakan pakaian yang sama seperti ketika pertama kali Elijah melihatnya di tikungan depan gedung Diamond Billiards, celana jeans robek-robek, t-shirt putih berlapis kemeja flanel merah-putih, hanya saja belum belepotan oli.
Evan membungkuk untuk menstandarkan sepeda motornya. Tak lama kemudian, mesin kendaraan itu mati. Cowok itu menyibak rambutnya yang ikal gelombang berwarna cokelat madu---sama persis seperti waktu pertama Elijah melihat wajahnya dan menjadi gila.
Adegan itu membuat Elijah berdebar-debar. Letupan kekaguman mengetuk setiap inti sarafnya, dan ia hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak menghambur keluar dan menyambutnya sembari menjerit histeris seperti fans gila, ketika pria itu melangkah turun dan berjalan menyeberangi pekarangan dengan langkah-langkah lebar menuju teras.
Igun mengikutinya seraya mengedar pandang ke sekeliling pekarangan dan meneropong ke arah garasi. Tanpa teman sebayanya, cowok itu terlihat jauh lebih tenang dan dewasa.
Mungkin karena pengaruh Evan.
Evan sudah menjadi semacam panutan bagi Igun. Bisa dikatakan, ia hampir memujanya.
Igun adalah fans Evan juga!
Luar biasa ya, Evan?
Ternyata gak cuma cewek, cowok juga nge-fans abis!
Lebih dari itu, Evan sudah menjadi seperti kakak bagi Igun—mungkin juga ayahnya.
Dua tahun lalu…
Igun sudah hampir putus sekolah karena terlalu sering membolos dan menggelapkan uang yang diberikan orang tuanya untuk biaya sekolah.
Igun tidak terlahir dari keluarga berada seperti Innu. Bahkan jika dibandingkan Maha, Irgi dan Bimo, uang jajannya tidak pernah mencukupi gaya hidupnya yang suka membolos dan menghamburkan uang di meja biliar.
Yah, tapi sebenarnya Igun melakukan itu juga demi meraih keuntungan dari taruhan dengan teman-temannya di meja biliar. Hanya saja peruntungan Igun tahun itu tidak sebaik di awal-awal. Teman-temannya bermain baik dari hari ke hari sementara skill-nya tidak mengalami kemajuan.
Pada saat-saat itulah, Evan sering menemukan Igun tidur di bangku taman di depan bengkelnya karena tak berani pulang. Dan itu berlangsung hampir setiap pagi selama berbulan-bulan.
Merasa prihatin dengan keadaan Igun, Evan menawari anak itu pekerjaan sambilan di bengkelnya dan memberinya kamar di tempat yang sama untuk ia tinggal.
Lebih dari itu, Evan juga mengenal baik orang tua Igun sebagai pemilik warung kopi langganannya di dekat area sirkuit. Dari kedua orang tua Igun, Evan akhirnya mengetahui masalah yang menimpa anak itu. Lalu ia menutupi kekurangan biaya sekolah Igun, sehingga anak itu bisa kembali ke sekolah.
Bagi Igun, Evan bukan sekadar malaikat penolong, tapi juga teladan.
__ADS_1
Tidak hanya memberinya ikan, tapi juga mengajarinya cara memancing.
Demikian pada akhirnya sosok Evan di mata Igun sudah menjadi seperti manusia setengah dewa, dengan bengkelnya sebagai kuil suci.
Dan…
Di sinilah Igun berada sekarang!
Mengekori montir tampan itu ke mana pun sebagai asistennya.
"Paket!" teriak Evan sembari mengetuk pintu depan rumah Bang Wi.
Bang Wi menghambur dari dapur dan tertegun mendapati keponakannya sedang cengengesan di belakang pintu sembari membekap mulutnya. Dengan penasaran, ia mengintip keluar melalui kaca jendela dan mengerang. Lalu berbalik dan kembali ke dapur, "Lu terima dah tuh paket anak setan!" katanya pada Elijah setengah menggeram.
Elijah membuka pintu sembari terkekeh.
Evan menatapnya dengan alis bertautan.
Gadis itu langsung terdiam, membalas tatapan Evan dengan mata dan mulut membulat. Terpesona!
Igun muncul di belakang Evan tak lama kemudian dan tergagap. Ia melirik wajah Evan secara diam-diam melalui sudut matanya dan menyadari cowok berengsek itu sedang terpesona juga. Hampir tidak kentara!
Orang lain yang tidak mengerti Evan mungkin tidak bisa membaca isyarat itu.
Terkejut oleh kemunculan Igun, Elijah mengerjap dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah, "Warungnya belum buka," kelakarnya pura-pura polos.
"Kita kaga pen pesen kopi, kok!" tukas Evan sembari memalingkan wajahnya juga ke sembarang arah dan mengusap bagian belakang kepalanya dengan salah tingkah.
Elijah menggigit bibir bawahnya, mengulum senyumnya. Entah bagaimana, sikap tolol Evan membuatnya ingin merobek-robek cowok itu.
Igun memutar-mutar bola matanya secara diam-diam. Lalu berdeham sembari menyelipkan kedua tangannya ke saku celana.
Elijah meliriknya dan langsung tertunduk.
Evan mengikuti lirikan matanya dan tampak gelisah---itu juga tidak kentara.
Tapi tentu saja Igun tahu!
Pada saat itu, Igun akhirnya mengerti bahwa ia harus berhenti menggoda Elijah mulai sekarang. Lebih tepatnya berhenti berharap.
Evan kelihatan seperti anjing penjaga yang menjaga wilayah Elijah.
__ADS_1
Igun tidak pernah mengizinkan dirinya untuk menginginkan apa pun milik Evan kecuali pria itu membaginya. "Kita kemari sebenernya cuma pen menta sumbangan!" kelakarnya mencairkan suasana.
Elijah terkekeh sembari menyisi dari pintu dan mempersilahkan kedua cowok itu masuk untuk bergabung bersama Bang Wi di ruang makan.
Seusai minum kopi, Evan meminta izin untuk membawa Elijah ke sirkuit—dengan gaya jenaka tentunya. Kapan dia pernah serius?
Evan tidak pernah menunjukkan kesungguhannya terhadap segala sesuatu. Bahkan ketika ia sangat menginginkan sesuatu atau menyukai seseorang. Hal itu membuat sosoknya terkesan berengsek.
Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat sisi baiknya seperti… dukun, mungkin, atau orang-orang terdekatnya seperti Bang Wi dan Igun.
Bimo, Irgi, Bibi Aria dan orang tua Igun, termasuk ke dalam golongan orang tertentu dengan kemampuan khusus. Khususnya tidak memandang sisi buruk orang lain.
"Jan telat sarapan," pesan Bang Wi sebelum mereka pergi.
Evan menadahkan tangannya ke arah Bang Wi dengan raut wajah serius.
Dengan raut wajah serius pula, Bang Wi merogoh ke dalam saku celananya, mengeluarkan selembar uang dua ribuan lecek dan memberikannya pada Evan.
Igun tergelak bersama Elijah di samping Evan.
Evan mengantongi uang itu dengan raut wajah datar dan mencium punggung tangan Bang Wi—macam anak esde yang pamit sekolah.
Bang Wi terkekeh sembari menoyor tulang kering anak itu dengan ujung sepatunya.
Evan berkelit menghindari pria itu sembari cengengesan. Lalu berbalik ke koridor. "Lu bawa motor gua," instruksinya pada Elijah seraya bergegas menuju garasi. "Motor lu belum dites!" katanya memberitahu.
Igun dan Elijah menyeberangi pekarangan menuju kendaraan mereka.
"Lu masih inget kan, perbedaan motor trail sama motor bebek?" tanya Evan di depan pintu garasi.
"Ya," jawab Elijah sembari melangkah naik ke atas sepeda motor Evan.
"Oke," kata Evan sebelum menghilang di balik pintu. Tak lama kemudian, deru mesin menggaung di dalam garasi.
Elijah masih berkutat memposisikan gir, ketika Evan keluar dari garasi, sementara Igun sudah menyalakan mesin.
"Bisa nggak?" tanya Igun ketika gadis itu terlihat kesulitan mengengkol sepeda motor Evan.
"Bisa," jawab Elijah cepat-cepat. Bersamaan dengan itu, mesin sepeda motor yang dikendarainya berderu menyala.
Evan memperhatikannya dari sisi pekarangan.
__ADS_1
Igun menggelindingkan sepeda motornya ke luar gerbang lebih dulu untuk memimpin jalan, sementara Evan mengayomi di belakang Elijah.