Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-59


__ADS_3

Waktu bergerak secepat torak…


Dalam hitungan hari, si troublemaker berevolusi menjadi siswi teladan. Nilai-nilainya meningkat drastis secara mengejutkan.


Dan perubahan drastis pada diri Elijah itu akhirnya mulai menuai kontroversi mengingat reputasinya.


Sebagian turut gembira, sebagian memandang skeptis, sebagian memandang sinis, sebagian lagi merasa… kehilangan---seperti Jimmy.


Jimmy adalah kakak kelasnya di sekolah. Baru sebulan lalu, mereka duduk bersama di kantin sekolah—Elijah, Jimmy dan Wanda.


Wanda sekarang sudah kuliah, menyusul Jati, Juna dan Keith. Giliran Jimmy masih setahun lagi.


Sekarang ia duduk sendirian di meja mereka yang biasanya. Elijah bahkan tak pernah muncul di kantin sejak awal musim ajaran baru. Yang dikerjakannya selama jam istirahat hanya membaca—di kelas, di perpustakaan, bahkan di bangku taman di pekarangan sekolah.


Tak sedikit orang mencurigai Elijah telah kehilangan sesuatu yang paling berharga---seperti… kehormatan mungkin, sehingga ia kehilangan kepercayaan diri dan berubah menjadi pemurung.


Well---yeah, mereka sebetulnya tidak sepenuhnya keliru.


Elijah memang telah kehilangan sesuatu yang paling berharga, tapi bukan kehormatan.


Elijah kehilangan separuh jiwanya!


Lima hari dalam sepekan hidupnya terasa timpang, itulah sebabnya kenapa ia berusaha keras memfokuskan perhatiannya hanya pada belajar.


Dan itu terasa berat pada pekan yang pertama. Lalu mulai terbiasa pada pekan-pekan berikutnya. Begitu seterusnya hingga semuanya terasa biasa-biasa saja. Semakin lama, semakin terbiasa.


Begitu terbiasa sampai… ia tidak terkejut lagi mendapati Cici Maria tak pernah absen setiap minggunya.


Perempuan itu sekarang sudah seperti kakak pertama di tengah para Racer Bebek Goreng yang bersarang di bengkel Evan.


Elijah berusaha keras untuk mengabaikan kecurigaannya meski Cici Maria tetap tak bisa menutupi tujuan aslinya. Begitu keras sampai Elijah berbalik merasa lelah untuk tetap bersikeras.


Alih-alih, dengan keras kepala Elijah mengalihkan semuanya hanya pada belajar.


Belajar membiasakan diri melewati hari-hari tanpa Evan, belajar bersabar menunggu akhir pekan.


Putaran waktu sepekan pun akhirnya terasa biasa lagi.


Jarak tempuh antara kota Rangkasbitung dan kota Jakarta pun semakin terasa biasa saja.


Hari-harinya berjalan semakin teratur dengan jadwal-jadwal jelas.


Jadwal latihan band sekarang ditentukan hanya pada Jumat malam. Sabtu paginya, Elijah sudah berangkat ke Jakarta bersama Devian.


Tidak ada lagi aksi kabur dari rumah di atas pukul sepuluh malam, meski jadwal latihan di luar Jumat malam tetap berjalan—tanpa Elijah.


Devian sekarang sudah punya waktu luang lebih dari biasanya. Dia sudah kuliah sekarang. Begitu pun teman-teman Racer Bebek Goreng-nya---Igun, Innu, Maha, Irgi, Bimo dan Dede.


Banyak hal berubah seiring perubahan Elijah. Sebagian baik, sebagian memprihatinkan. Sebagian lagi tidak berubah sama sekali---seperti Norah.


Norah seperti tidak bertumbuh meski ukuran tubuhnya mengalami banyak perubahan. Ia sudah seperti bayi besar sekarang.


Sementara itu, Koen van Allent semakin gemuk namun lebih energik dari hari ke hari berkat tidak adanya beban kekhawatiran.


Elijah dan saudara-saudaranya telah meraih banyak prestasi yang membanggakan sejak diberikan kebebasan.


Kenapa rasanya deskripsi ini beraroma peleraian—kek mo udahan?


Belum, kok!


Ini cuma part pemugaran alam semesta ciptaan Penulis Keparat. Semacam bloking dalam aksi panggung teater untuk mengubah suasana cerita sebagai penunjang masuknya adegan baru.


Bagian paling menyiksa yang dianggap sebagai neraka bagi semua penulis.

__ADS_1


Sebut saja pemuaian alur!


Deskripsi pengganti dari sekadar kalimat singkat yang membosankan, "Waktu berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun… dan seterusnya… dan seterusnya!"


Omong-omong…


Pembaca udah enek puyeng belum?


Kalau belum… mari kita lanjutkan deskripsi yang lebih membosankan lagi.


Mengenai Turnamen Classic Racing, yah, Evan benar. Turnamen itu hanya sekadar ajang promosi dan pencarian bakat. Hanya kejuaraan kecil kelas pemula yang bahkan tidak mendapat hadiah apa-apa kecuali keanggotaan.


Dan…


Elijah bahkan tak masuk sepuluh besar.


Ini adalah dunia ciptaan Penulis Keparat, di mana jumlah kata lebih penting dari tokoh utama.


Lupakan soal antagonis dan tokoh utama yang terus ditindas yang akan selalu menang di akhir episode!


Dunia Penulis Keparat tidak sepasaran itu.


Di dunia Penulis Keparat kesetaraan dijunjung tinggi. Di mana semua tokohnya digambarkan gila tanpa terkecuali. Bahkan saat tokoh digambarkan baik---mereka cuma pura-pura sembuh.


Elijah sempat khawatir kebersamaannya dengan Evan segera berakhir. Tapi Evan tidak sedikit pun menunjukkan kekecewaannya. Alih-alih, cowok itu justru memintanya untuk berlatih lebih keras lagi. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Elijah mengerti bahwa Evan juga berharap Elijah kembali di pekan berikutnya.


Jadi ia bertahan dengan jadwal mingguannya.


"Itu si Lea?" pekik Windy terkejut ketika Elijah melongokkan kepalanya di ambang pintu.


Windy adalah teman Safira---kekasih Keith. Namanya Windy Lestari. Dan kekasih Keith bernama Dini Safira—lebih akrab disapa Ira.


Mereka semua sedang berkumpul di basemen rumah van Allent bersama Dian Anggara—teman Safira juga, Wanda, Jati dan… Juna.


Tapi setelah kuliah, mereka terpisah-pisah.


Windy sekarang menjalani pendidikan kebidanan dan mengenakan hijab. Makin cantik dan terlihat lebih dewasa.


Elijah hampir tak percaya melihat perubahannya.


Itu adalah pertama kalinya Elijah bertemu lagi dengan teman-teman Safira sejak liburan akhir semester. Padahal mereka berkumpul di rumahnya hampir setiap malam.


Sejak Koen van Allent memberikan kebebasan pada anak-anaknya, Keith dan teman-temannya sering berkumpul di basemen sampai larut malam.


Elijah tak pernah bergabung dengan mereka. Ia turun ke basemen hanya untuk mengambil beberapa buku. Di basemen itu ada perpustakaan keluarga di samping ruang duduk dan perapian. Jadi, untuk mencapai perpustakaan itu, mau tidak mau, Elijah harus melewati mereka.


Juna mengerjap dan terkesiap melihat kemunculan Elijah.


Elijah tak pernah memangkas rambutnya lagi semenjak bertemu Evan. Sekarang rambutnya sudah sebahu dan mulai mengembang seperti rambut singa. Tapi ia tak kehabisan akal. Ia mengikat bagian rambutnya yang mengembang itu ke belakang dalam gaya hun menirukan gaya Innu.


Well---yeah, paling tidak, sekarang gadis itu sudah sedikit peduli soal penataan rambut.


Bukankah itu perubahan yang luar biasa?


Dan… jelas saja hal itu membuat Elijah terlihat semakin manis.


Juna sampai tak berkedip memandangi gadis itu.


Wanda menyikut Jati diam-diam dan mengerling penuh arti ke arah Juna.


Jati mengikuti lirikan matanya dan menyeringai.


"Lea makin cantik, deh!" goda Windy ketika Elijah melintas melewati mereka.

__ADS_1


Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Benar, pikir Juna tak bisa memungkirinya. Semakin lama Elijah memang terlihat semakin menarik dari hari ke hari. Penyesalan atas keputusannya untuk sekadar memperlakukan Elijah seperti adik sendiri di masa lalu, sekarang terasa seperti… karma.


"Si Lea rambutnya udah panjang mah, lu kalah telak, Yan!" seloroh Windy pada Dian Anggara, sementara kedua matanya tak lepas memandang Elijah dengan sorot kekaguman.


Dian spontan mengerjap dan tersenyum kikuk ke arah Elijah. Dari bola matanya yang bergerak-gerak gelisah, terlihat jelas gadis itu merasa tersengat oleh perkataan Windy.


"Bohong, Yan!" sergah Elijah dari depan rak buku. "Jan dengerin! Windy mah provokator!"


"Gak punya perasaan, emang!" timpal Wanda sembari mendengus pada Windy. "Kirain pake kerudung, bacotnya rada direm."


"Gua pan pake kerudung di kepala, Wang!" sanggah Windy tanpa beban. "Bukan di bacot!"


Seisi ruangan tergelak menanggapi Windy.


"Si El kok gak marah ya, dipanggil Lea?" Jati bertanya heran sembari memperhatikan Elijah dengan dahi berkerut-kerut.


"Udah berubah dia sekarang!" tukas Keith sembari tersenyum lebar.


"Iya, lah! Kan udah dewasa!" Ira menimpali, sekadar menanggapi argumen kekasihnya.


Juna kembali mengerjap. Entah bagaimana perkataan Ira terasa seperti menamparnya.


Semua mata dalam ruangan sekarang tertuju pada satu titik yang sama---Elijah.


Juna mengikuti arah pandangan semua orang dengan tatapan muram.


Elijah tidak menggubris mereka, perhatiannya terfokus pada pencariannya di sepanjang rak buku.


Dan sikap itu terasa semakin melukai Juna. Ia hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak beranjak dari sofa itu dan memberanikan diri mendekati Elijah. Mengatakan dengan nekat di depan semua orang, bahwa ia menyukai gadis itu sejak lama.


Juna sama sekali tidak khawatir bagaimana teman-temannya akan menggodanya, mengejeknya dan mengolok-olok dirinya. Ia hanya tak enak pada Keith.


"Kira-kira kalo gua yang manggil Lea di-sliding kagak, ya?" seloroh Jati sembari mengerling pada Elijah. "Kan dia sekarang racer!" katanya dramatis.


Keith dan Wanda tertawa, sementara cewek-cewek mengerutkan dahi, tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Coba aja," tantang Wanda. "Kalo lu punya cadangan nyawa!" Ia menambahkan, yang secara otomatis disambut gelak tawa semua orang.


Elijah berbalik pada mereka.


Dan seketika seisi ruangan mendadak hening.


Elijah mengedar pandang meneliti wajah-wajah mereka dengan alis bertautan, lalu bergegas meninggalkan ruangan sembari mendekap buku tebal yang tak pernah disentuhnya seumur hidup.


Seisi ruangan masih melengak setelah kepergian Elijah. Mata mereka terpaku memandangi ambang pintu.


Tiba-tiba Keith terkekeh, "Lu pada ngapa?" ejeknya sembari mengedar pandang meneliti semua orang.


Seisi ruangan tertawa gelisah.


"Tau, kek si El pernah makan orang aja, sih!" timpal Jati---sok kuat. "Romannya pada ngeri?"


"Elah!" sergah Wanda sembari menyentil telinga Jati. "Lu juga ikut melongo tadi!"


"Lha, gua mah jan ditanya!" tukas Jati. "Emang gua ngeri sama dia!"


Seisi ruangan serentak tergelak.


"Ngeri patah hati lu, ya?" sindir Wanda sembari melirik sekilas pada Juna.


"Seh, ngarep aja kaga berani gua!" timpal Jati sembari bergidik. "Gua nyembah dari jauh aja, dah!" katanya sembari membungkuk di atas meja dengan kedua tangan terangkat di atas kepala, membentuk sikap menyerah.

__ADS_1


Seisi ruangan sekarang terbahak-bahak, sementara Juna hanya tersenyum tipis.


__ADS_2