
Noah menguap lebar di sofa ruang tengah. Diliriknya jam dinding di atas perapian.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Perlahan Noah menutup buku di pangkuannya, mematikan pemutar musik dan berjalan sempoyongan karena mengantuk, menaiki tangga menuju kamarnya.
Pintu kamar Elijah masih terbentang membuka saat ia melewatinya. Ia mengintip ke dalam dan tersenyum. Rasa kantuknya seketika hilang.
Elijah duduk bersila di tempat tidurnya, tidak menyadari keberadaan adiknya. Ia mengenakan kaus ketat tanpa lengan berwarna hitam dengan celana pendek ketat sewarna. Rambutnya masih diikat sebagian dalam gaya hun. Sebelah tangannya menggenggam cangkir teh. Sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya.
Noah mengeluarkan ponsel dari sakunya dan tersenyum jahil. Ia membuka kamera dan mengarahkannya pada Elijah. Mengambil beberapa gambar.
Elijah menyesap tehnya, kemudian menaruh cangkir itu di atas nakas di sisi kepala tempat tidurnya. Lalu menggeliat meregangkan otot-ototnya.
Noah mengambil gambarnya lagi. Di luar dugaan, hasilnya sangat memukau. Seperti gambar-gambar tema Logophile Girl atau Bibliophile untuk wallpaper di website global yang paling terkenal.
Noah memang memiliki bakat bagus di bidang fotografi. Tapi ia terlalu pemalu dan tidak punya wibawa atau kemampuan untuk membuat subjeknya merasa nyaman. Jadi ia lebih suka melakukannya dengan cara diam-diam, mencoba menangkap segala sesuatu seperti apa adanya tanpa harus mengarahkannya.
Siapa sangka kakak perempuannya yang tidak pernah mau difoto itu ternyata cukup fotogenik.
Tanpa pikir panjang, Noah mengunggah hasil terakhir tangkapan kameranya ke media sosial dengan caption, "Pacar gua yang di rumah!" Kemudian menandai akun Elijah.
Ponsel Elijah spontan berbunyi. Pada saat itulah ia baru menyadari keberadaan Noah. Dan… "NOAAAAAAAAAAAH…!" Ia melolong meneriaki adiknya setelah membuka notifikasi, sementara adiknya sudah menghambur ke dalam kamarnya sendiri dan mengurung diri, tepat di sebelah kamar Elijah.
Detik berikutnya, ponsel mereka mulai berisik diserbu notifikasi. Dalam sekejap, konten itu sudah direspon ratusan teman dari kubu Noah dan kubu Elijah.
"Putus! Putus! Putus!" komentar Ezra Barabas—dari kubu Noah.
"Ada yang patah tapi bukan tangkal awi," komentar Anton Kurniawan---dari kubu Elijah.
"Otw rumah lu," komentar Sultan Khanza---dari kubu Noah.
"Sayang! Aku minta putus!" komentar Bintang Timur---dari kubu Elijah.
"Tuker tambah sama pacar cina," komentar Senja Terakhir---dari kubu Noah. "Kalo masih kurang gua tambah pacar Mekah."
"Aduh! Missen… posemu bikin cowok-cowok jatuh dalam dosa!" komentar Jimmy Ibrahim—berteman dengan keduanya.
"Sedia payung, Guys! Bentar lagi bakal hujan," komentar Windy Lestari---berteman dengan keduanya, sangat paham Elijah anti kamera.
"Pen nge-like takut dosa," komentar Raden Juanda---Wanda, berteman dengan keduanya.
"Gua gak liat! Gua gak liat!" komentar Jati Achmad disertai emoticon monyet membekap wajahnya.
Juna menyukai kiriman Noah dan tidak berkomentar. Tapi pandangannya tak mau lepas dari layar ponselnya. Memandangi foto Elijah dengan senyuman samar.
__ADS_1
Wanda mencebik dan menjulurkan lidah di belakangnya—mengejeknya diam-diam.
Di tempat lain…
Maha yang sudah berteman dengan Elijah juga melihat kiriman itu. Ia mengetuk profil Noah untuk melihat informasinya. Kakak perempuan: Eleazah van Allent. Seketika senyumnya melebar.
Innu yang kebetulan sedang duduk di sampingnya spontan meliriknya. Lalu mengintip layar ponselnya. "A n j i r, udah temenan aja si b a n g k e!" gerutu Innu sembari merebut ponsel Maha.
Evan, Igun, Dede, Irgi dan Bemo serempak menoleh ke arah mereka.
"Wo---woy!" Maha gelagapan dan melompat untuk merebut ponselnya dari tangan Innu.
Innu sudah melompat dari bangku dan menghambur menjauhinya.
"Woy! Balikin, a n j i r!" Maha merangsek ke arah Innu.
Igun dan Dede serempak menangkap Maha dan menariknya menjauhi Innu, lalu keduanya berkerumun di kiri-kanan Innu.
Evan memperhatikan mereka dengan tatapan curiga. Pasti cewek, terkanya---tidak meleset.
"Hah!" Dede memekik sembari memelototi ponsel Maha. "Doi udah punya pacar?"
"Noah van Allent?" gumam Igun sembari mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat. Di mana ya, gua pernah denger nama van Allent? pikirnya.
Evan menyeringai diam-diam. Lalu mengeluarkan ponselnya. Ia masih ingat siapa Noah van Allent. Berteman, pikirnya. Berusaha menebak-nebak apa yang perlu diakses. Lalu ia memilih jejaring sosial yang paling terkenal—Facebook.
Evan mendesah pelan dan mengerutkan dahi, mencoba menimang-nimang apakah ia akan mengirimkan permintaan pertemanan saat itu juga. Tapi… nggak, pikirnya. Itu terlalu norak. Cowok-cowok berengsek itu pasti melakukannya juga.
Dan benar saja!
Cowok-cowok itu sekarang mulai mengeluarkan ponselnya masing-masing dan mengakses jejaring sosial yang sama, mengirimkan permintaan pertemanan secara serentak.
Ponsel Elijah menjadi semakin berisik. Gadis itu mengerang dan membekap kedua telinganya dengan raut wajah muak. Tapi notifikasi dari aplikasi lain membuatnya mengerutkan dahi.
Ada pesan masuk di WhatsApp-nya dari nomor tak dikenal. Seseorang---entah siapa mengiriminya gambar, membuat Elijah penasaran.
Dan begitu ia membukanya, mata dan mulutnya juga membuka.
Ternyata foto Evan.
Cowok itu melipat tangannya di belakang kepala seperti… sedang terlentang.
Elijah membekap mulutnya sembari cengengesan. Foto aib! pikirnya geli.
Siapa pengirimnya?
__ADS_1
Evan?
Elijah bertanya-tanya dalam hatinya. Meski foto yang terkirim memang foto Evan, kan belum tentu pengirimnya Evan, pikirnya. Terutama foto aib.
Lalu ia membalas pesan itu dengan satu kata singkat bersama tanda tanya, "Siapa?"
Singkat, padat, jelas, ketus!
Dibalas dengan satu kata singkat yang sama---singkat, padat, jelas, ketus.
"Yanti!"
Elijah langsung terdiam. Isi dadanya seketika bergemuruh, sementara isi kepalanya serasa terbakar.
"Maksud," balas Elijah disertai emoticon mencebik. Lalu melempar ponselnya dengan wajah cemberut.
Detik berikutnya, panggilan suara masuk.
Elijah melirik ponselnya sekilas dan mengabaikannya.
"Gak jelas," dengusnya sembari mendelik. Lalu mengerutkan dahinya. "Si Yanti tau nomor gue dari mana, ya?" gumamnya tak habis pikir. Lalu ia melirik ponselnya lagi, panggilan sudah berakhir.
"Masak sih, dari Bibi Aria?" gumamnya sekali lagi. Gak mungkin! Ia menggeleng. Lalu melirik ponselnya lagi.
Pesan baru masuk dari nomor yang sama.
Elijah mengerang dan mendesah kasar, lalu merenggut ponselnya dan membuka pesan.
"Si Evan pen ngomong sama lu!"
DEG!
Jantung Elijah serasa meledak seperti dentuman dahsyat paling terkenal—Big Bang.
Lalu panggilan video masuk dari nomor yang sama.
Sialan! geram Elijah tak sabar. Tak kuasa menahan gejolak kemarahan yang ditimbulkan dari dugaan-dugaannya yang mengerikan mengenai apa yang sedang berlangsung yang akan segera dilihatnya di seberang sana.
Membayangkan Evan yang sedang berbaring terlentang seperti dalam foto… dengan Yanti berada di sampingnya.
Itukah yang sedang coba diperlihatkan Yanti?
Jahat sekali!
Kenapa dia pen banget gua tau kalo dia lagi sama si Evan? pikir Elijah frustrasi. Apa dia cuma pen mastiin kalo gue gak ada apa-apa sama si Evan? Si Evan pasti udah cerita kalo waktu itu dia cuma pura-pura bilang gua pacarnya!
__ADS_1
Miris! pikir Elijah getir.
Ngapain kudu begitu kalo akhirnya mereka pacaran juga?