
Pria itu mengenakan wearpack hitam mengkilat bergaris putih abu-abu yang melekat pas di dada bidangnya dan tampak memikat di pinggang rampingnya.
Cahaya matahari berkilau memantulkan warna keemasan dari rambutnya yang berwarna cokelat madu, membiaskan wajahnya yang membelakangi cahaya, menjadikan sosoknya tampak bersinar dan sangat memukau, seperti muncul dari mimpi, sebagai perwujudan sosok khayalan setiap wanita.
Elijah mengerjap untuk memastikan itu bukan khayalan, tapi berapa kali pun ia melakukannya, sosok itu tetap di sana sebagai bukti bahwa itu bukan khayalan.
Ini nyata!
Pria itu di sini!
Dan pria itu sedang menatapnya sekarang—benar-benar menatapnya.
Pandangan mereka bertemu.
Dan terkunci.
Udara di paru-paru Elijah berdesing keluar.
Ya, Tuhan…
Bibi Aria benar, pikirnya.
"Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan setiap hal, bahkan hal-hal kecil."
Tuhan mengirimnya ke sini bukan untuk menjauhkannya dari pria ini, tapi untuk mempertemukan mereka.
Tuhan menjawab doaku, batin Elijah takjub. Ini jelas mukjizat!
"Tolong ajarin ponakan gua, Van!" Suara paman Elijah membuat pria itu berpaling dari Elijah.
Elijah masih tergagap, tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu.
"Ajarin apa, lu?" Sebelah alis pria itu terangkat tinggi.
"Ajarin tinju!" Paman Elijah menghardiknya. "Pake nanya…" rutuknya.
Pria itu memalingkan wajahnya lagi pada Elijah, meneliti gadis itu dari atas sampai ke bawah, lalu kembali ke atas---ke wajahnya.
Elijah mengerjap dan tersenyum gugup. Jantungnya berdebar-debar.
Pria itu tiba-tiba mengerang sembari memutar-mutar bola matanya. "Yailahhh, Wi… doi masih bocah. Lu, yang bener aja, Wi?!"
Buseh! Senyum Elijah langsung lenyap. Apa dia kata? Masih bocah?
Setan amat, cowok… rutuk Elijah dalam hati.
Paman Elijah spontan menoyor pelipis cowok itu sembari mengomel, "Justru karena doi masih bocah, makanya gua minta lu ajarin," katanya setengah menggeram. "Kalo doi udah gede, lah, lu menang banyak!"
Cowok itu mengernyit sembari mengusap-usap pelipisnya.
"De, kenalin!" Om Wi berpaling pada Elijah, "Ini Evan," katanya seraya menepuk sekilas bahu Evan. Lalu berpaling pada Evan sembari mengetatkan rahang, "Kuyuk," geramnya. "Kenalin, ini Lea!"
Cowok itu menatap Elijah dan tidak menyalaminya. "Lu udah pernah bawa trail?" tanyanya terus terang.
__ADS_1
Elijah menggeleng.
"Bisa bawa motor?" tanya Evan lagi.
Elijah menggeleng lagi.
Cowok itu kembali mengerang dan menggeram ke arah Om Wi. "Ini sih, namanya bukan ngajarin balap, Dwiiii… tapi momong!"
Elijah membeliak sebal, sedikit tersinggung dengan ucapannya.
Ternyata di matanya, Elijah hanyalah seorang bocah!
Orang ini lebih ngeselin dari Juna Lubis, pikir Elijah.
"Nyeloncong, Anak Setan!" Om Wi menoyor pelipis Evan sekali lagi. "Dwa-dwi…"
Emang! Elijah mengiyakan dalam hatinya.
"Iya, Paman!" teriak Evan sembari mengedikkan kepalanya menghindari toyoran Om Wi. "Sekarang paman mending pulang, gih!" ejeknya. "Ini pan jamnya anak muda."
"B a b i," gerutu Om Wi sembari melengos, lalu kembali ke sepeda motornya. "Gua pulang dulu ya, De!" katanya pada Elijah. "Mau nyiapin tempat buat anak-anak setan," ia menambahkan seraya menunjuk ke arah Evan dengan mulutnya.
Kedua mata Elijah spontan membulat. "Mereka mau tinggal di rumah Om?" tanyanya setengah memekik.
"Mau di mana lagi? Kaga ada yang ngarah!" kata Om Wi sembari mendelik pada Evan.
"Sapa bilang kaga ada yang ngarah?" sergah Evan. "Ibu-ibu di mari pada perebutan gua!" angkuhnya sembari menepuk dada.
Gak heran, sih! Elijah mengakuinya dalam hati.
Elijah tidak tertawa. Perhatiannya sudah tidak terfokus pada pembicaraan Om Wi. Mendengar pria pujaannya akan tinggal serumah dengannya, tak elak membuat hatinya berbunga-bunga. Perasaannya meletup-letup. Rasanya seperti dapat undian.
Macam dapat uang kaget!
Ah, hatinya bersorak. Tuhan sungguh baik!
Begitulah manusia. Memuji Tuhan saat gembira, bersungut-sungut saat terkena masalah. Tapi itu masih lebih baik daripada melupakan-Nya sama sekali.
Tak jarang orang sukses merasa kesuksesannya didapat karena dirinya hebat.
Nah, kan… Author jadi khotbah!
Sampai di mana tadi?
Ah, ya… itu dia---uang kaget.
Elijah tak bisa menggambarkan kegembiraannya. Author juga tidak.
Pokoknya begitu!
"Titip ponakan gua, tuh! Awas, jan digalakin!" Om Wi berpesan pada Evan sebelum memutar sepeda motornya, kemudian berlalu dari tempat itu.
"Lewerrr, pak tua!" rutuk Evan sembari menendang ban belakang sepeda motor Om Wi.
__ADS_1
Kebisuan menyergap Elijah setelah kepergian Om Wi. Jantungnya kembali berdebar-debar, dan secara otomatis membuatnya mendadak kikuk dan salah tingkah.
Tapi pertanyaan Evan kemudian membuat Elijah lemas.
"Lu yakin pen belajar ini?" tanya Evan sembari mengerling ke arah sepeda motornya. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia tak yakin. Lebih tepatnya sedikit mencela.
Kalau boleh jujur sebenarnya Elijah sendiri juga tak yakin. Tapi kan tak mungkin dia mengatakan bahwa yang dia inginkan adalah pembalap ini, dan bukan menjadi pembalap.
Well, pikir Elijah. Yang penting dia sudah di sini, kan?
Evan meneliti gadis itu sekali lagi, dari atas sampai ke bawah, lalu ke atas lagi. "Berapa tinggi lu?" Ia bertanya lagi.
"Seratus lima lima," jawab Elijah sembari menatap Evan sedikit malu-malu, tapi tidak kentara---tertolong oleh wajah cueknya yang khas.
Evan menaikkan sebelah alisnya, menstandarkan sepeda motornya, melangkah turun, kemudian mendekat ke arah Elijah sembari menyisir rambutnya dengan jemari tangannya. Tatapannya tak lepas dari Elijah.
Elijah menggigiti bibir bawahnya sembari tertunduk. Tapi perkataan Evan berikutnya membuat gadis itu spontan mendongak.
"Bongsor juga lu ya," kata Evan. "Padahal masih esempe!"
"Gua udah esema!" sembur Elijah sembari melotot.
Cowok itu melipat kedua tangannya di depan dada, alisnya bertautan. "Masa' sih?" tanyanya tak percaya. Lalu membungkuk sembari mendorong sedikit bahu Elijah dan meneliti gadis itu dari depan ke samping, kemudian ke belakang. Seperti seseorang yang sedang memeriksa boneka manekin untuk menilai pakaian yang dikenakannya.
Ya, Tuhan, erang Elijah dalam hatinya. Cowok ini ternyata gak sopan!
Dengan sedikit cemberut, Elijah mengedikkan bahunya untuk menepiskan tangan Evan.
Cowok itu melipat tangannya lagi, tapi masih sedikit membungkuk. "Gua kasih tau, ya," katanya memperingatkan, "Mesin motor ini beda dari mesin motor anak esempe."
"Anak esema!" koreksi Elijah.
"Ah, sama aja!" Evan bersikeras. "Intinya mesin motor ini, gak secemen mesin motor anak-anak dan wanita."
"Intinya, lu mau apa kagak ngajarin gua?" Elijah bertanya terus terang.
Evan langsung terdiam. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
Elijah memelototinya dengan mulut terkatup. Jangan kira karena gua suka sama lu, terus lu boleh semena-mena sama gua, geram Elijah dalam hati.
"Yakin nih, gak bakal nyesel?" Evan bertanya lagi. Ekspresinya masih tak yakin.
Au lah, ah! batin Elijah tak sabar. Ia menggembungkan pipinya sembari memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak. Kebanyakan iklan!
Tiba-tiba Evan menyambar pergelangan tangan Elijah dan menariknya dengan kasar. Ekspresi wajahnya berubah dengan cepat. "Jangan nangis lu, ya?" ancamnya ketus.
Ya, Tuhan… ratap Elijah dalam hati. Baru ga berapa menit… rasanya gua udah pegel ati!
"Naek!" perintah Evan seraya mengangguk ke arah sepeda motornya.
Sesaat Elijah ragu-ragu.
"Naeeekkk!!!" Evan mendesak Elijah dan mendorong pinggangnya. Bisa dibilang hampir menjinjingnya.
__ADS_1
Kenapa gua bisa demen sama yang beginian, sih? Elijah membatin frustrasi.