
"A n j i r, nomor gue diblokir!" pekik Evan mengejutkan semua orang.
Semua orang meliriknya dengan alis bertautan.
Evan melirik teman-temannya dengan raut wajah seperti orang meringis.
Semua orang memelototinya dengan ekspresi cemas.
"Lu ngapa, Bang?" tanya Innu khawatir.
"Kaga—gue g o b l o k!" jawab Evan sembari memalingkan wajahnya cepat-cepat, lalu menepuk dahinya sendiri dengan sikap dramatis. "Salah efek… gue salah efek!" erangnya sembari mengusap-usap wajahnya dengan frustrasi.
"Epek-epek?" gumam Igun dengan raut wajah tolol.
Semua orang tergagap mengawasi Evan.
Bagaimana tidak?
Itu adalah pertama kalinya mereka melihat Evan disergap anxiety.
Evan terlihat seperti orang mau mati!
Keesokan harinya…
Cowok berengsek itu terlihat seperti mayat hidup.
"Lu… sakit, Bang?" Igun akhirnya bertanya serius.
"Kopi! Mana kopi?" geram Evan macam orang kesurupan, tidak menggubris pertanyaan Igun.
Igun menelan ludah dan menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan raut wajah bingung.
Detik berikutnya, Devian muncul di gerbang bengkel mereka dengan Harley Kutukan-nya.
Evan mengerjap dan mengangkat wajahnya sedikit antusias. Secercah warna kehidupan terpancar di wajahnya sepersekian detik, dan kembali memucat dalam hitungan detik.
Igun mengamati cowok itu dan melirik ke arah Devian dengan alis bertautan.
Hari itu adalah hari Sabtu, tapi Devian datang sendirian.
Rasanya gua mulai paham, pikir Igun. Ia mendesah pelan, kemudian bergegas keluar gerbang untuk memesan kopi. "Lu mo ngopi nggak?" tanyanya pada Devian.
"Kopi hitam kupu-kupu! Kopi hitam semangatku!" Devian malah menjawab dengan nyanyian.
Igun spontan mendengus sembari berjoget-joget menirukan anak-anak Reggae dengan raut wajah kesal.
Devian terkekeh sembari mengayunkan sebelah kakinya ke arah Igun, melayangkan tendangan.
Igun menyingkir sembari mengumpat.
Devian menstandarkan sepeda motornya dan melangkah turun, kemudian berjalan menyeberangi halaman dengan langkah-langkah lebar. Lalu menjatuhkan dirinya di kursi plastik di sisi Evan.
"Mana Lea?" tanya Evan terus terang. Itu adalah pertama kalinya ia menunjukkan perasaannya secara terang-terangan.
Devian mendesah berat dan meliriknya. "Doi sakit," jawabnya muram.
__ADS_1
"Hah?" Evan spontan terperangah, menyentakkan punggungnya dari sandaran kursi. "Sakit apa?"
Devian hanya mengangkat bahunya sedikit.
Evan menelan ludah dan memalingkan wajahnya dari Devian, menatap kosong onggokan peralatan bengkelnya yang berserak di lantai.
Devian meliriknya dengan mata terpicing. "Lu lagi sakit juga, Van?" tanyanya cemas.
Evan mengerjap dan terperangah. Tidak seperti dia yang biasanya!
Devian mengerutkan keningnya.
Evan mendesah lagi. Lalu melirik Devian dengan raut wajah memelas. "Pinjem hape lu, Pe!" pintanya.
Devian mengerutkan keningnya semakin dalam, mengeluarkan ponsel dari kantong jaketnya, kemudian memberikannya pada Evan. Kedua matanya tak lepas mengawasi cowok berengsek di sampingnya.
"Dikonci, anjing!" geram Evan sembari melemparkan kembali ponsel itu pada Devian.
Devian terkekeh tipis, "Nah, lu gak bilang pen minjem konci juga!" godanya, kemudian membuka kunci layar ponselnya dan menyodorkannya kembali pada Evan.
"Telepon Lea!" pinta Evan lagi.
Devian menurutinya sembari menggerutu. Setelah panggilan tersambung, ia menyodorkan ponselnya lagi.
"Ngapa, Tem?" tanya Lea sebagai pengganti sapaan, "Halo!"
Evan berdeham.
Elijah langsung terdiam. Jantungnya meletup mendengar suara itu. Bukan Devian! Ia menyadari.
Devian serentak mendelik dan memutar-mutar bola matanya. Ternyata lagi galau, si anjing! pikirnya dongkol.
Elijah tidak menjawab.
"Gua kan cuma becanda!" Evan menambahkan.
Elijah masih bergeming.
"Buka blokiran gua!" desak Evan.
"Lu siapa, sih?" Elijah akhirnya merespon---menjengkelkan.
Evan spontan mengerang.
"Yailahhh!" gerutu Devian tak sabar, lalu menyambar ponselnya dari tangan Evan, "Itu pacar lu tadi yang ngomong," semburnya pada Elijah. "Lu buka dah blokirannya! Hape gua sibuk!" tandasnya ketus.
"W-w-w---wait!" pekik Elijah gelagapan. "Pacar gua---siapa maksudnya?" tanya Elijah setengah berteriak.
Devian tidak menggubrisnya. Ia menurunkan ponsel dari telinganya dan memutus panggilan.
"Setan!" maki Elijah sembari melotot ke layar ponselnya seolah benda itu adalah Devian. Ia menghela napas berat dan mengembuskannya dengan kasar. Lalu tercenung dan mengerutkan dahinya. Blokiran? pikirnya. Lalu terperangah begitu menyadari apa maksudnya.
Ia ingat semalam memblokir nomor asing yang katanya nomor Yanti.
Jadi itu nomor si Evan? geramnya dalam hati. Lalu menghapus nomor itu dari daftar blokir dan menelponnya.
__ADS_1
"Apa coba maksudnya?" rutuknya jengkel.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu panggilannya direspon.
Evan memang sedang menunggunya!
Begitu panggilan tersambung, hal pertama yang dilakukan Evan adalah terkekeh.
"Tawa lu, Bangsad!" sembur Elijah ketus. Hati kecilnya berjingkrak mengetahui pesan semalam ternyata hanya kerjaan iseng bajingan itu.
"Kok gua girang yak, dicemburuin?" seloroh Evan sembari cengengesan. Seluruh warna kehidupan kembali terpancar pada wajahnya.
Igun melengak di tepi teras sementara kedua tangannya menenteng dua cangkir kopi. Ia melirik Devian dengan isyarat bertanya.
Devian menjawabnya juga dengan bahasa isyarat, menyilangkan jari telunjuk di keningnya membentuk kode gila.
Igun terkekeh tanpa suara, kemudian menyodorkan satu cangkir kopi ke arah Devian dan meletakkan cangkir kopi lainnya di meja rotan di depan kursi Evan.
"Jan bilang kalo lu sakit gegara chat semalem!" dengus Evan melalui ponselnya.
Emang! Elijah mengaku dalam hatinya. Tapi tentu saja tidak mengatakannya. "Gue cuma kurang tidur aja, kok!" katanya tidak berbohong. Dia memang tidak tidur karena terus menangis sepanjang malam.
Evan mengulum senyumnya. Matanya berkaca-kaca. Hati kecilnya merasa tercubit membayangkan gadis itu menangis sepanjang malam.
Igun mencibir ke arah Evan sembari melewatinya. Ia bergegas ke kamarnya, menyambar jaket di belakang pintu dan mengenakannya, lalu bergegas menuju sepeda motornya. "Gua belanja ban dulu," katanya pada Devian.
Devian mengacungkan jempol sembari menyesap kopinya.
"Titip abang gua," Igun menambahkan sembari menunjuk ke arah Evan dengan dagunya, lalu melangkah naik ke atas sepeda motornya dan menyalakan mesin. "Jika sakit berlanjut segera hubungi dokter!" tandasnya.
"Dokter hewan!" timpal Devian.
Evan mengayunkan tendangan ke arah Devian, yang secara otomatis ditangkis dengan tendangan pula. "Sekarang lu udah tidur?" tanyanya pada Elijah.
"Udah," jawab Elijah singkat dan pelan. Wajahnya tersipu-sipu di seberang telepon.
"Mau ke sini, nggak?" tanya Evan sok manis. Sebenarnya sedang merayu. Tapi tidak kentara.
"Mmm…" Elijah menggumam dan terdiam. Pura-pura berpikir. Padahal, Pengen banget, katanya dalam hati. Hampir tak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya pada saat itu juga.
"Ntar sore…" ungkap Evan ragu-ragu. "Anak-anak Ninja pada pen ke Bogor."
Elijah menelan ludah. Jantungnya berdebar-debar karena gembira. Hatinya berbunga-bunga.
"Innu, sama Ardian juga ikut," Evan menambahkan. "Lu mau ikut nggak?" ia menawarkan. "Tapi pulangnya besok malem!"
"Yah," gumam Elijah kecewa.
"Pan Senennya libur, Malih!" tukas Evan menirukan gaya bicara Devian.
Elijah mendesis tertawa. "Emang iya?" tanyanya sembari melirik kalender di meja tulisnya. "Lah, iya!" pekiknya gembira. Kalendernya menunjukkan hari Senin tanggal merah. "Gua ikut!" serunya antusias.
Evan tersenyum simpul. "Mau dijemput?" ia menawarkan.
"Gue naek bis aja!" jawab Elijah cepat-cepat, sedikit terlalu bersemangat. "Jemput di halte, ya?"
__ADS_1
"Oke!" jawab Evan sembari tersenyum lebar. "Telepon aja kalo udah sampe!"