
"Gue kalah, Lea!" bisik Evan lirih. "Gue kalah telak!"
Elijah tersengak-sengak. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Evan, membalas pelukan pria itu dan menyusupkan wajahnya di leher Evan.
Evan menaikkan sebelah tangannya ke bagian belakang kepala Elijah, kemudian menarik wajahnya dari bahu gadis itu. Ia memiringkan bahunya sedikit, kemudian merunduk dan membenamkan bibirnya di bibir Elijah.
Tubuh keduanya kembali bergetar.
Saat bibir hangat dan lembut Evan menyentuh bibirnya, Elijah mengetatkan rangkulannya di pinggang pria itu dengan campuran keinginan yang tak tertahankan dan kelegaan yang luar biasa. Ciuman pria itu mengaburkan batas antara kepahitan dan keharuan.
Rasa kebebasan bernyanyi melalui pembuluh darahnya. Rasa bahagia mengetuk setiap ujung sarafnya.
Tangan Evan menyentuh tengkuknya dengan lembut. Sentuhan lembut pria itu begitu cekatan dan terasa menenangkan, melumerkan pertahanan seorang wanita.
Bibir Evan sekarang memagut bibirnya dengan perlahan, dengan bujukan tegas yang membuat Elijah memiringkan kepalanya dan membuka bibirnya untuk merasakan lidah Evan yang seperti beludru.
Denyut nadi Elijah bergerak cepat ketika ia akhirnya bergelayut di leher pria itu. Elijah bisa merasakan debaran jantung Evan di dadanya.
Evan melepas pagutannya dan menegakkan tubuhnya, kemudian menggenggam wajah Elijah dan menciumnya sekali lagi. "Gue takluk sama lu, Lea!" ungkapnya dalam bisikan parau. "Lu berhasil naklukkin gue, naklukkin Denta… sekarang lu juga naklukkin track Kejurda!"
Elijah spontan mendongak menatap Evan dengan mata dan mulut membulat. "Denta—" pekiknya tersadar.
Evan mengerjap dan menelan ludah. Lalu tersentak mengingat sesuatu. "Ikut gua!" katanya cepat-cepat seraya merenggut pergelangan tangan Elijah. "Gua tau di mana Denta!"
Elijah mengikutinya dengan terseok-seok, tak dapat mengimbangi langkah-langkah lebar Evan.
Evan sekarang menuntunnya ke pit line melewati kerumunan yang secara otomatis membuat semua orang terperangah memandang Elijah.
Ardian membeku di sisi tenda promosi, menatap pasangan itu dengan seringai tipis.
Devian dan Maha tercengang.
Igun dan Innu terkesiap.
"Lu—" Bang Wi tergagap, menunjuk wajah Elijah. Meneliti gadis itu dengan mata dan mulut membulat, dari atas sampai ke bawah, lalu kembali ke atas—ke wajahnya. "Triple enem!" pekik Bang Wi.
"Pinjem mobil lu, Nu!" sela Evan cepat-cepat, tidak menggubris semua orang.
Innu mengerjap sesaat, melirik Evan sekilas, kemudian merogoh saku wearpack-nya, mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikannya pada Evan, lalu kembali menatap Elijah dengan sorot mata berbinar-binar.
Evan menarik Elijah menjauh dari pamannya, menjauh dari para bajingan yang memelototinya dan menyeruak di antara kerumunan.
Semua orang masih tergagap memandangi Elijah. Terdengar gumaman rendah seperti dengung lebah yang sedang gelisah.
"Jurda!"
"Cewek?"
Evan melingkarkan tangannya di bahu Elijah dengan posesif. Membuat semua mata semakin membulat.
__ADS_1
Sejurus kemudian, kedua pembalap itu sudah menghambur meninggalkan area sirkuit, meluncur di jalan raya dan berhenti di pekarangan parkir sebuah rumah sakit.
Elijah spontan tergagap dengan wajah memucat. Ia mendongak menatap bangunan di depannya dengan gelisah. "Ke—kenapa kita ke sini?" Elijah bertanya terbata-bata.
Evan menyelinap keluar dan membukakan pintu untuk Elijah, menuntunnya keluar dan menutup pintu mobil. Kemudian merangkul bahu gadis itu dan membimbingnya ke lobby. "Gue liat dia drop tadi, pas kita masih di podium," Evan memberitahu.
Elijah mengerutkan dahinya. "Siapa yang ngasih tau lu ke mana dia dibawa?"
"Gak ada," jawab Evan singkat. Lalu membungkuk di depan meja resepsionis.
Setelah bertanya sesaat pada petugas resepsionis, keduanya bergegas ke tangga bertanda panah ke ruang ICU.
"Rumah sakit ini langganan dia," Evan melanjutkan penjelasannya setelah mereka mencapai bordes.
Elijah langsung terdiam. Berpikir keras. Mereka jelas bukan orang lain! Ia menyimpulkan. Tapi sebelum ia sempat bertanya, perhatiannya teralihkan oleh dua sosok di koridor yang sedang berjalan tergopoh-gopoh di belakang dua perawat dan dua petugas security yang sedang gegas mendorong sebuah brankar.
"Denta!"
"Tante—"
Elijah dan Evan memekik nyaris bersamaan.
Perempuan paruh baya di belakang brankar itu serentak menoleh ke arah mereka dan terbelalak, "Evan?"
Gilang sekarang ikut menoleh dan terkesiap.
Elijah menghambur ke arah mereka dan mencoba menggapai tepi brankar, tapi Gilang segera menahannya, para perawat dan petugas security itu mendorong brankar itu ke dalam ruangan dan menahan mereka.
"Hanya ibu pasien yang boleh masuk!" instruksi perawat pada mereka.
Ibu Denta menatap sekilas ke arah Elijah dan tersenyum sedih, lalu mengusap bahu gadis itu untuk menenangkannya.
"Denta!" Elijah menerjang ke arah pintu dan secara otomatis membuat Evan dan Gilang spontan menangkap gadis itu. Elijah mengetatkan rahangnya dan meronta. "DENTAAAAA…!!!"
Evan mengetatkan rengkuhannya dan menyentakkan tubuh Elijah menjauh dari pintu.
Pintu berhasil ditutup.
Elijah menyentakkan tangan Evan dan menjatuhkan dirinya di lantai sembari meraung.
Evan turut menjatuhkan dirinya, ia berlutut di sisi Elijah dan meraup gadis itu ke dalam dekapannya, kemudian menyusupkan wajahnya di tengkuk Elijah. Please, ratapnya dalam hati. Jangan begini! Sebutir air mata bergulir di sudut matanya. Tubuhnya turut bergetar seiring tangis memilukan meluncur di bibir Elijah.
Elijah masih meratap menyerukan nama Denta hingga suaranya berubah serak. Tubuhnya meluruh nyaris tersungkur. Air matanya tertumpah dan mungkin terkuras habis.
Kejutan hari itu tak tanggung-tanggung mengguncang Elijah.
Memenangkan kejuaraan!
Menjebol pertahanan Evan!
__ADS_1
Dan…
Menghantarkan Denta ke ruang ICU!
Elijah luluh lantak dalam sekejap.
Evan mengetatkan rangkulannya dengan tangan gemetar.
Gilang membekap wajahnya dengan saputangan sembari tersengak-sengak. Tak tega melihat Elijah.
Seorang dokter menyeruak melewati mereka dan menyelinap ke dalam ruang ICU.
Elijah kembali menegang dan meronta.
Evan menahannya sekuat tenaga.
Pintu ruangan itu kembali tertutup.
"Quero falar com Evan---aku ingin bicara pada Evan," bisik Denta pada ibunya.
"Eo Elijah—Bagaimana dengan Elijah?" tanya ibunya prihatin.
"Não quero ver ela chorar—aku tak ingin melihatnya menangis," tukas Denta.
Lalu ibunya menyampaikan permintaannya pada dokter.
Dokter yang baru saja masuk itu tertegun sesaat, mencoba menimang-nimang seraya memandang ke arah Denta. "Maaf," sesalnya dengan berat hati. "Kami tak bisa mengizinkan satu orang lagi untuk masuk."
"Kalau begitu saya yang akan keluar," ibu Denta mengajukan tawaran.
"Baiklah," dokter itu menyerah.
Ibu Denta menghambur ke pintu dan membukanya.
Elijah spontan mendongak dengan tatapan penuh harap.
Ibu Denta menatap gadis itu dengan iba, kemudian melirik pada Evan. "Dia ingin bicara denganmu!" Ia memberitahu.
Evan dan Elijah serentak bertukar pandang. Tatapan gadis itu mendesak Evan dengan isyarat permohonan.
Evan mengusap kepala gadis itu dan melirik ke arah ibu Denta dengan tatapan penuh arti.
Ibu Denta menghampiri Elijah dan berjongkok di depan gadis itu, sementara Evan beranjak dan berjalan masuk.
"Evan—" Elijah mengulurkan tangannya ke arah Evan, mencoba merenggut tangan pria itu.
Tapi ibu Denta segera menahannya dan memeluknya. Mengusap-usap punggung gadis itu, mencoba menenangkannya.
Evan melangkah masuk ke ruang ICU. Pintu terbanting menutup di belakangnya.
__ADS_1
Elijah kembali menangis dan meratap.