Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-79


__ADS_3

"Oke," seru Gilang antusias, ia menepukkan kedua telapak tangannya yang keriting dengan gaya elegan menirukan gerak-gerik Miss Universe. "Bersiaplah untuk terpesona," katanya dramatis. Lalu melayangkan sebelah tangannya ke arah pintu ruang pas yang masih tertutup tirai.


Detik berikutnya, tirai itu terkuak perlahan dan muncullah Elijah dalam versi lain.


"Tadaaaa…!" seru Gilang—sok cantik.


Denta mengerjap dan terkesiap dengan tatapan terpesona. Kenapa jadinya tidak lucu, pikirnya. Dia benar-benar cantik, pujinya dalam hati.


Elijah melangkah keluar dan berhenti di sisi Gilang, tergagap dengan wajah tersipu, berdiri kikuk sembari tertunduk.


Denta tersenyum simpul sembari memalingkan wajahnya sesaat, lalu kembali menatap Elijah dengan wajah tersipu juga, tak berhasil menutupi kekagumannya.


Gilang tersenyum imut dengan raut wajah bangga.


"Well—" Denta berdeham dan mengulum senyumnya. "Saatnya foto selfie!"


Elijah makin tertunduk dan tersenyum malu.


Denta melangkah perlahan mendekatinya, "Bolehkah saya berfoto bersama Nona?" godanya seraya membungkuk ke arah Elijah menirukan gaya bangsawan Eropa.


Gilang cekikikan sembari membekap mulutnya dengan jemari tangannya yang melentik, bersikap seolah-olah dialah yang sedang digoda.


Elijah tersenyum lebar sembari mengangkat wajahnya, menatap Denta dengan wajah merona. Darahnya berdesir memompa detak jantungnya hingga kecepatan maksimum.


Denta meluruskan tubuhnya dan melangkah lebih dekat lagi, lalu menyentuh bahu Elijah dengan lembut, kepalanya tertunduk menatap ke dalam mata gadis itu.


Sekarang tatapan keduanya bertemu dan terkunci. Jantung keduanya berdebar-debar.


Alangkah baiknya jika waktu berhenti di sini, pikir Denta. "Te amo," bisiknya lirih.


Elijah mengerjap dan mengulum senyumnya, tak yakin bisa membalas pernyataan cinta yang diutarakan Denta. Bukan karena faktor bahasa, tapi karena wajah Evan tiba-tiba berkelebat di pelupuk matanya.


Alangkah baiknya jika ia adalah Evan, damba Elijah dalam hatinya.


Senyuman penuh pemahaman Denta melebar di sudut bibirnya. Sebelah tangannya berpindah ke pinggang Elijah, tapi tatapannya tak mau beralih dari kedua mata gadis itu, memperhatikannya dengan tatapan penuh kesabaran dan terang-terangan. Seolah pria itu bisa menembus kedalam diri Elijah dan mendisiplinkan isi pikirannya supaya menjadi pantas. Seolah pria itu memiliki seluruh waktu di dunia untuk mendapatkannya kapan saja.


Gilang memperhatikan mereka sembari menggigiti kuku dengan wajah tersipu-sipu, seolah-olah dialah yang sedang kasmaran.


Denta melirik sekilas pada Gilang dengan isyarat permohonan.

__ADS_1


Pria Syantik itu mendesah pendek dengan gaya imut yang jelas dibuat-buat, lalu mengeluarkan ponselnya, bersiap untuk mengambil gambar pasangan itu.


"Wait!" sela Denta sembari mengangkat sebelah tangannya ke arah Gilang. Lalu merogoh ke dalam saku long coat-nya. "Pake hape saya aja," pintanya seraya mengulurkan ponselnya pada Gilang.


"Errrgh!" Gilang mengerang sembari mendelik seperti perempuan. Lalu mengantongi kembali ponselnya dan meraih ponsel Denta.


Beberapa gambar diambil dengan cekatan, bahkan sebelum Denta dan Elijah siap.


Itu lebih natural daripada harus mengarahkannya, pikir Gilang. Dan hasilnya memang jauh lebih fotogenik yang diambil diam-diam. Kedua makhluk sensitif itu sama-sama gagap kamera.


Usai berfoto keduanya berpamitan pada Gilang.


Denta menyelipkan setumpuk uang ke tangan Gilang dengan diam-diam dan… "Jangan lupa tutup mulut," bisiknya pada Gilang. Ia menautkan ibu jari dan telunjuknya kemudian menggerakkannya dari sudut bibir kiri ke sudut bibir kanannya sebagai isyarat tutup mulut, lalu mengedipkan sebelah matanya pada Pria Syantik itu, yang secara otomatis ditanggapi Gilang dengan isyarat kesepakatan yang sok cantik.


Pria Syantik itu menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O, sementara jemari lainnya melentik keriting seperti tangan penari.


Elijah berbalik ke kamar pas untuk mengganti pakaiannya lagi, tapi kemudian Denta menahannya dengan alasan tantangan belum selesai sampai tiba gilirannya.


Lalu dengan terpaksa, Elijah mengenakan gaun manis berwarna merah menyala itu sampai ke rumah sembari misuh-misuh.


Ibu Denta terkesiap melihat penampilannya. "Muito lindo—sungguh cantik," desisnya penuh kekaguman.


Elijah mengerjap dan tertunduk malu, lalu mencubit lengan Denta diam-diam.


Kau tak sadar betapa dirimu sangat… indah, pikir Denta. Dan aku berharap kau tetap seperti ini. Biarlah hanya aku dan Mama yang tahu keindahanmu. Jadi, tetaplah menjadi gadis tomboi yang anti kamera dan juga riasan!


Jangan biarkan dunia melihat keindahanmu!


Sementara mereka berbahagia…


Di jalan pinggiran kota…


DRAAKKK!


Suara benturan logam berderak bersahut-sahutan. Meledakkan bunyi berdesing yang memekakkan. Raungan kendaraan mengaung seperti gemuruh badai raksasa yang siap meluluh-lantakkan seisi bumi.


Evan dan kawan-kawannya sudah hampir sampai di bengkel ketika sejumlah pengendara sepeda motor mengepung mereka. Dan mereka tak punya pilihan selain menghadapinya.


Evan tak berharap para penyerang itu mengetahui kandang mereka. Jadi, ia membanting setang secara mendadak, memiringkan sepeda motornya dan berputar dalam posisi sliding, lalu menyisi ke bahu jalan dan berhenti dalam posisi menghadap ke arah sebaliknya.

__ADS_1


Igun, Innu dan Maha serentak mengikutinya meski cukup terkejut dengan serangan mendadak itu.


Sejurus kemudian, keempat racer itu merangsek ke tengah-tengah barisan pengendara yang siap menerjang.


Igun dan Innu melesat lebih cepat, menghadang mereka, juga dengan teknik sliding.


Dan…


BRUAAAK!


Ledakan logam kembali membahana.


Setengah dari kelompok pengendara liar itu terpelanting ke bahu jalan. Setengahnya lagi melesat ke arah Evan dan Maha.


Salah satu pengendara yang tadi terjatuh, segera beranjak sembari menggeram, kemudian menerjang ke arah Innu dengan melambungkan sepeda motornya dalam teknik jumping.


Innu memekik tertahan seraya mengangkat sebelah tangannya untuk melindungi kepala, tak sempat untuk menghindar.


Tiba-tiba Igun juga melambungkan sepeda motornya, menerjang ke arah pengendara itu.


Pengendara itu kembali terpelanting dan tidak bisa bangkit kembali.


Innu terperangah dengan wajah pucat, Igun mendarat tak jauh di sampingnya.


Dua orang pengendara bertubuh besar tiba-tiba menggotong salah satu sepeda motor yang jatuh terguling dan melemparkannya ke arah mereka.


Teriakan nyaring Evan dan Maha membahana memperingatkan Igun dan Innu. Disusul suara ledakan logam yang mendengking. Kemudian suara berderak yang memekakan.


Sepeda motor yang dilemparkan itu mendadak terlempar ke arah yang berlawanan. Membuat semua orang tersentak dan tergagap.


Dua orang pengendara sepeda motor trail melesat di udara, membendung sepeda motor yang dilayangkan para penyerang ke arah Innu dan Igun.


Dua pengendara berambut keriting menyeringai di belakang barisan para penyerang sembari memain-mainkan pedal gas.


Igun dan Innu masih tercengang di tempatnya. Semuanya terjadi begitu cepat dan terlalu mendadak. Otak mereka mungkin tak siap untuk mencerna apa yang terjadi.


Evan terkekeh melihat keempat pendatang itu, Irgi, Bimo, Martin dan Devian.


Para pengendara yang menyerang mereka mendadak kalang kabut dan berhamburan ke segala arah begitu menyadari apa yang terjadi.

__ADS_1


Bukan hanya tambahan empat pengendara, tapi ratusan pengendara sepeda motor trail lainnya juga sedang menyeruak ke arah mereka.


Detik berikutnya, para penyerang itu sudah kabur sepenuhnya, tidak terkecuali mereka yang sudah rebah dan berjatuhan, semuanya beranjak dan menghambur, lintang-pukang cari aman.


__ADS_2