
"Gua boleh numpang tidur di kamar lu, nggak?" tanya Evan sekenanya.
Elijah spontan berbalik dan memelototinya, "Minta dihajar, ya?" semburnya.
Evan cuma cengengesan dan berjalan sempoyongan ke dalam kamar Elijah, lalu menjatuhkan dirinya di tempat tidur gadis itu dalam posisi tengkurap.
"Heeeeh…!" Elijah melompat ke sisi tempat tidurnya dan merenggut lengan kemeja Evan. "Lu ngapain, sih… maen nyelonong aja masuk kamar orang langsung rebahan. Pacar bukan, apa bukan!" cerocos Elijah sekalian menyindir.
Evan tidak menggubrisnya, ia menarik bantal dan menyusupkan wajahnya yang terasa makin panas. Kepalanya kembali berdenyut-denyut lebih parah dari tadi siang—demamnya makin parah.
"Evan!" Elijah menghardiknya dan menarik kerah kemejanya. "Lu mau bangun nggak, hah? Gua Jambak lu ya!"
Evan mengangkat wajahnya dan berguling terlentang, lalu tiba-tiba menarik lengan Elijah dan menjatuhkan gadis itu di sampingnya, kemudian memeluknya seperti guling.
"Evaaaan…!" Elijah mulai menjerit dan bergeliat-geliut berusaha melepaskan diri. "Lu salah kamar, B e g e!" gerutunya sembari menyentakkan bahunya dari rengkuhan Evan. Seketika terlintas dalam benak Elijah bahwa mungkin Evan juga melakukan hal yang sama pada gadis pemilik warung itu atau pada gadis lain, siapa pun yang baru dikenalnya di mana pun di setiap tempat, dan serta-merta pikiran itu membakar isi kepalanya, membuat Elijah makin memberontak.
"Gua kedinginan," rintih Evan sembari mengetatkan pelukannya.
"Bodo amat!" hardik Elijah sembari terus memberontak.
"Ilah!" dengus Evan seraya mengaitkan sebelah kakinya ke kaki Elijah dan menjepitnya. "Kemaren gua peluk dari belakang kek gini lu girang seharian, baru sehari doang kaga gua peluk udah kek emak-emak kurang belanja," cerocos Evan seenak perutnya.
Elijah mengetatkan rahangnya dan menyentakkan tubuhnya sekali lagi. Sebuah kesadaran paling mengerikan seketika muncul mengejutkan dirinya, kesadaran betapa indah dan luar biasanya dipeluk seperti ini, tapi sekaligus menyakitkan.
Tidak lama lagi, pria itu harus menikah dengan wanita lain—setidaknya itulah yang diyakini Elijah, dan ia malah terhanyut dalam pelukannya.
Ya, Tuhan! Aku baru saja menemukannya, ratap Elijah dalam hati. Dan tanpa ia sadari, sebutir air mata bergulir di sudut matanya dan jatuh di punggung tangan Evan.
Evan tercengang dan menarik tangannya, kemudian beranjak cepat-cepat, menarik bahu gadis itu dan menghelanya hingga duduk. "Lu nangis?" tanyanya terkejut.
Elijah membekap wajahnya dengan telapak tangan dan mulai terisak. Kedua bahunya bergetar.
Evan melengak kebingungan, tak tahu harus bagaimana. Ia tak dapat berpikir. Kepalanya berdenyut-denyut lagi, wajahnya serasa terbakar. Ia menyusupkan wajahnya di bahu Elijah seraya berbisik lirih, "Sori…"
Elijah berhenti menangis, tiba-tiba merasa aneh. Tubuh Evan mendadak terasa berat dan… panas. Elijah menyeka kedua matanya dan menoleh.
Evan tidak bergerak.
Elijah menelan ludah dan berdeham, "Ba—Bang…" bisiknya parau.
Tidak ada reaksi.
Elijah mengerutkan dahi dan mengedikkan bahunya.
Evan langsung terkulai dan terjungkal.
Elijah memekik dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
Cowok itu meringkuk di belakangnya dengan mata terpejam. Wajahnya pucat dan kelopak matanya memerah.
"Bang—" Elijah tergagap kebingungan. Lalu menepuk pelan pipi Evan. Panas.
Dia demam! Elijah menyadari.
"Evan!" Elijah menepuk pipinya lagi.
Tetap tidak ada reaksi.
Gawat, pikir Elijah. Dia pingsan!
"Bibi—" Elijah memekik gusar sembari menghambur keluar kamar, berlari menuju dapur.
Paman dan bibinya tersentak melihat kedatangannya.
"Kenapa?" tanya Bang Wi setengah menghardik saking terkejut.
"Evan—"
"Kenapa lagi?"
"Dia pingsan," jawab Elijah dengan suara tercekat.
"Hah?" Pamannya spontan melotot. "Lu apain?"
"Evan pingsan kenapa?" Bibi Aria mengambil alih interogasi.
Elijah tergagap-gagap, menatap paman dan bibinya secara bergantian dengan ekspresi kalut.
"Tenanglah!" Bibi Aria menepuk bahunya. "Evan kenapa?"
"Di---dia… dia demam," kata Elijah terbata-bata.
Paman dan bibinya mendesah bersamaan.
Bang Wi langsung terkekeh, "Baru pingsan aja lu segitunya. Gimana kalo dia mati?"
Elijah langsung cemberut.
"Pah…" Bibi Aria menegur suaminya, lalu menuntun gadis itu ke sisi dapur. Memberi pengarahan mengenai pertolongan pertama pada orang pingsan dan cara merawat orang demam. Ia tak bisa membantu Elijah untuk saat ini karena ia harus menyiapkan makan malam untuk banyak orang.
Elijah menyimak instruksi bibinya dan bergegas kembali ke kamarnya membawa sebaskom kecil air dingin dan sehelai handuk tangan.
Paman Elijah sudah berada di kamarnya ketika ia kembali, membenahi posisi tubuh Evan dan menyelimutinya.
Elijah meletakkan baskom berisi air dingin di atas nakas di sisi kepala tempat tidurnya, mencelupkan handuk tangan dan memerasnya, lalu mulai mengompres Evan. "Pake pingsan di kamar gua," gerutunya sembari menekan-nekankan handuk basah di dahi pria itu.
__ADS_1
Bang Wi terkekeh sembari berdiri bersedekap di dekat tempat tidurnya.
"Om, ini gimana…?" erang Elijah pada pamannya. "Masa dia tidur di kamar gua, sih!"
"Emang ngapa sih, De?" sergah pamannya. "Orang pingsan, kagak ngigit!"
"Ntar digerebek lagi! Baru ga digerebek, masa mau digerebek lagi!" seloroh Elijah.
"Alah, gerebek, gerebek apaan?" tukas Bang Wi. "Dari jaman kuda ngigit besi ampe jaman besi ngigit kuda, kaga pernah ada tuh, yang namanya gerebek-gerebekan kek tadi di kampung ini. Akal-akalan si Yanti aja itu mah!"
Elijah menatap pamannya dengan alis bertautan.
Pamannya tiba-tiba membungkuk ke arah Elijah seraya berbisik, "Lu mau tau siapa yang tadi ngegrebek si Evan? Itu temen-temen nongkrong di Yanti semua!"
"Hah?" Elijah terperangah. "Si Yanti Anak Tongkrongan?
"Ya, iyalah! Bapaknya preman, abangnya preman," ungkap Bang Wi sembari meluruskan tubuhnya lagi. "Mau digerebek mah dari dulu aja, anak-anak itu siang-malem di rumah si Yanti!"
Elijah langsung terdiam, tercenung dengan dahi berkerut-kerut.
"Belum sih gua bikin malu!" rutuk Bang Wi.
Bersamaan dengan itu, Bibi Aria muncul di ambang pintu dan memberitahu, "Bandi ke sini bawa Ketua RT."
Bandi adalah kakak Yanti, yah, bisa dibilang ade-adean Bang Wi. Bandi pernah ikut Bang Wi untuk mencari pekerjaan di Jakarta dan tinggal di rumahnya selama menganggur sampai dia benar-benar bisa membiayai hidup sendiri, diperkenalkan sana-sini sebagai adiknya supaya Bandi bisa diterima di tiap tongkrongan di Jakarta.
Jadi, Bandi sekarang datang sebagai apa?
Kakak Yanti?
"Gua jabanin lu, mau ampe di mana!" geram Bang Wi sembari bergegas keluar kamar Elijah.
"Pah!" Bibi Aria menyergap tangan suaminya. "Jangan ada keributan, oke?" Ia memperingatkan.
Bang Wi mendesah pendek dan memaksakan senyum, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Lea! Berdoa!" Bibi Aria menginstruksikan.
"Berdoa?" Elijah terperangah. "Buat dia?" tanyanya sembari mengayunkan ibu jarinya ke belakang bahunya.
Bibi Aria tidak menjawab, hanya menatapnya dengan isyarat peringatan, lalu bergegas mengekori suaminya.
"Lagi?" erang Elijah setelah kepergian bibinya. Lalu menoleh ke arah Evan.
Pria itu masih terbaring lemah di tempat tidurnya dengan mata terpejam.
"Cuma lu doang satu-satunya cowok yang pernah gua doain," gerutu Elijah sembari mendengus pada Evan. "Dan sekarang gua harus doain lu lagi?! Ish!" Ia mengentakkan kakinya ke lantai dengan raut wajah sebal.
__ADS_1