
Mengalah?
Menghindar?
Mencari aman?
Itukah masalahnya selama ini?
Elijah berpikir keras ketika semua peserta bersiap di gate.
Momen start pembalap motocross merupakan momen krusial. Tapi Elijah bahkan tak bisa berkonsentrasi.
Tatapannya terfokus pada sepeda motor bernomor 999 di gate pertama.
Begitu gate diturunkan, crosser yang memiliki motor terkencang dengan mesin kuat dan traksi seratus persen akan mampu mengungguli kompetitor lainnya di tikungan pertama.
Dia terkenal sebagai pembalap tercepat, pikir Elijah. Benarkah aku bisa mengalahkan dia?
Dan…
Gate akhirnya diturunkan.
Raungan mesin kendaraan menggelegar seperti ledakan halilintar di kaki langit.
Elijah melesat melewati sedikitnya sepuluh kompetitor dalam sekali hentak.
Gilang dan Dede serempak terkesiap di line pit.
Denta tersenyum lebar di balik maskernya.
Ini dia! Evan spontan menyeringai ketika gadis itu melewatinya. Ia meraungkan knalpotnya seraya melambung melewati dua crosser dalam teknik jumping mencoba menyusul gadis itu.
Tapi Elijah menaikkan kecepatannya dan meliuk-liukkan setangnya dalam gerakan zig-zag, berusaha mengecoh konsentrasi Evan dengan teknik menggeser ban belakang saat menikung, menirukan teknik Gerry McCoy—menipu lawan dengan gerakannya. Dimana saat ia masuk tikungan ke kiri, setangnya dibelokkan ke kanan—meski space gerak setang sangat sempit namun aksinya tetap terlihat jelas, sehingga arahnya sulit dibaca oleh peserta di belakang, dimana racing line teracak secara masif.
Denta spontan mengerutkan keningnya. Teknik itu juga biasa digunakannya saat lawan di belakangnya melakukan teknik jumping. Strategi rahasianya bersama Evan.
Yah, teknik sliding ini memang sudah mewabah di kalangan para pembalap kelas sirkuit buatan berpembatas karung dan ban mobil bekas—apa lagi kalau bukan road race di Indonesia.
Teknik balap kian berkembang dari waktu ke waktu seiring berkembangnya pula teknologi motor balap.
Setiap pembalap melakukannya.
Tapi selain tak mudah bagi pembalap melakukan aksi menikung ekstrim dengan keterbatasan merk ban yang ada, penempatan teknik ini juga tak banyak dimengerti pembalap lain kecuali hanya di tikungan.
__ADS_1
Menempatkan teknik sliding untuk mengecoh peserta di belakang yang sedang jumping, tak banyak yang melakukannya kecuali Evan dan Denta.
Ini baru si Badai! pikir Evan semakin merasa tertantang.
Mencapai Bermed Corner—Sudut tikungan, dimana sisi luar tikungan terdapat tanah agak tinggi yang sering dimanfaatkan pembalap untuk melahap tikungan dengan kecepatan cukup tinggi untuk menyalip, Evan tidak diberi celah untuk overtaking.
"Good job, My Girl!" pekik Denta di sisi Gilang, sementara Pria Syantik itu sudah berlanting seperti cheerleaders.
"Braapp-braapp! Braapp-braapp!" Dede berseru-seru menyemangati dengan antusias sembari menepuk-nepuk tinjunya, mengawasi Elijah dengan bersemangat.
Ardian mengawasi mereka di sisi lain pit line dengan mata terpicing.
Igun dan Maha juga melirik sekilas pada mereka dan bertukar pandang.
Devian tak lepas memandang Elijah dengan alis bertautan. Itu gaya si Badai, pikirnya terkejut. Masih tak yakin pengendara sepeda motor bernomor 666 itu Denta yang asli.
Saat Step On---sebuah lompatan kecil sebagai media bagi pembalap sebelum melibas Table Top—gundukan tanah yang tinggi dan cenderung datar pada bagian atasnya yang mampu mengangkat pembalap sebelum terjun ke sesi selanjutnya, Evan berhasil melewati Elijah dan mencapai Step Off lebih cepat.
"Arrrrrgh!" Denta mengerang sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
Ardian meliriknya lagi.
Step off adalah sebuah tumpuan tanah kecil selepas Table Top. Step On dan Step Off ini hampir selalu ada bersama-sama. Sederhananya Step On untuk persiapan pertempuran Table Top dan kemudian dari Table Top landing-nya ke Step Off---bodo ah!
Membuat Elijah semakin terfokus hanya pada Evan.
Pada saat Lompat Ski---Drop-off panjang setelah bagian yang tinggi di trek, Elijah berhasil menyalip Evan.
"Yess!" pekik Gilang dan Dede sembari melompat dan mengepalkan tangan mereka.
Denta kembali tersenyum lebar.
Drop-off adalah turunan terjal dimana sepeda motor harus melompat turun dan bukan hanya meluncur turun.
Melewati tantangan Double---Dua 'punuk' besar berturut-turut dimana pembalap biasanya mendarat di sisi turunan pada tanah yang kedua, Evan kembali memimpin.
"Yess!" Giliran Igun dan Maha sekarang yang bersorak dengan tangan terkepal.
Gilang mendengus sembari mendelik ke arah mereka.
Di Sharp Turn---tikungan yang sempit dimana hanya menawarkan sedikit ruang untuk kesalahan, Elijah kembali membuat kejutan dan melewati Evan. Bagian ini paling sulit untuk koreksi racing line dan biasanya memperlambat kecepatan motor signifikan dan perlu skill dan teknik tinggi.
Dede dan Gilang kembali berjingkrak.
__ADS_1
"Fokus! Fokus, Sayang!" Denta memohon-mohon dengan rahang mengetat.
Sayangnya di bagian Turn Sweeping---bagian trek yang lebih luas dimana sering digunakan untuk menyalip dan juga mencatat kesalahan pembalap pada tikungan sebelumnya, Elijah membuat kesalahan. Pada bagian tersebut sebetulnya masih memungkinkan pembalap untuk mempertahankan kecepatannya, tapi Elijah sedikit lengah dan kecolongan.
Sekarang Evan kembali memimpin.
"Arrrrrgh!" Denta kembali mengerang.
"Ergh!" Gilang menjejakkan kakinya sembari menggerutu.
Dede menggeram sembari mengepalkan tangannya dengan ekspresi gemas.
Di Whoops---beberapa gundukan kecil-kecil yang cukup banyak, Elijah kembali mengambil keuntungan.
Giliran Igun dan Maha sekarang yang menggeram dengan ekspresi gemas.
Pada dasarnya, bagian ini dapat membantu mempercepat laju motor. Seringnya para pembalap melaju dengan kecepatan tinggi dan melompati beberapa gundukan tersebut bukan dengan melewati satu persatu.
Sayangnya, Evan terlalu menganggap enteng tantangan ini.
Di Three---tiga gundukan besar berturut-turut, kebanyakan pebalap biasanya mendarat di downside dari bagian lompatan yang kedua dan meluncurkan kembali pada bagian ketiga, akan tetapi Evan dan Elijah berhasil melompati bagian yang kedua dan mendarat di downside dari lompatan ketiga dalam posisi imbang.
Para pendukung kedua pembalap itu menegang bersamaan.
Ardian melirik mereka satu per satu sembari tersenyum simpul.
Evan dan Elijah masih bertahan dalam posisi imbang. Sesekali Evan berhasil melewati gadis itu, tapi tak sampai dua detik, gadis itu berhasil melewatinya lagi. Begitu juga sebaliknya.
Begitu seterusnya kedua pembalap itu saling mengejar, hingga tak sadar sudah menyelesaikan perlombaan sepanjang tiga puluh menit plus dua lap, melakukan overlap dan mencapai finis terdepan dengan masing-masing mengantongi poin imbang, melupakan peserta lain, seolah-olah di atas lintasan itu hanya ada mereka berdua.
Pada saat Booter---satu lompatan yang benar-benar besar, yang mampu memberikan waktu lama untuk pengendara 'terbang' dan berada tepat sebelum atau di garis finis sebagai sisi untuk pengendara mendarat, kedua pembalap ini melakukan aksi dramatis yang membuat semua orang menahan napas dan terkesiap.
Evan melambungkan sepeda motornya dalam teknik jumping, kemudian bersalto di udara.
Sementara Elijah menyerampang dan berputar-putar di udara seperti baling-baling pesawat terbang.
Lalu keduanya mendarat bersamaan di garis finis dengan ban sepeda motor Elijah berada di posisi paling depan.
Waktu seolah terhenti ketika semua mata menatap garis finis, bahkan Elijah.
Gadis itu membeku dengan mata dan mulut membulat.
Apa aku benar-benar menang? pikirnya tak yakin. Lalu mengerjap untuk memastikan pemandangan di garis finis itu bukan sekadar halusinasi.
__ADS_1
Sorakan para penonton menggelegar bersama keputusan resmi---Elijah adalah pemenangnya!