
Sekiranya impian bisa dititipkan…
Sekiranya ini adalah permintaan terakhirku…
Bolehkah aku menitipkan mimpiku?
Elijah terhenyak dan terduduk, seperti seseorang yang mencoba menarik dirinya dari kolam air, napasnya tersengal dan keringat membanjir di wajahnya.
Gadis itu mengerjap dan mengedar pandang, meraba-raba dalam kegelapan. Lalu tersadar.
Ia berada di paviliun rumah Denta!
Ia menghela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Lalu menyalakan lampu di atas meja di sisi kepala tempat tidurnya.
Pembicaraannya dengan Denta tadi pagi terbawa ke dalam mimpinya.
Kenapa? pikirnya gelisah.
Kenapa dia bicara begitu?
Menitipkan impian katanya?
Permintaan macam apa itu?
Kenapa perkataannya membuatku gelisah?
Seberapa parahkah penyakitnya?
Apakah cukup mematikan?
Lalu, jika itu benar… apakah ia bersedia?
Tiba-tiba Elijah merasa begitu sedih.
Jika itu benar… apakah aku akan patah hati lagi—kehilangan seseorang lagi?
Seketika lubang gelap dalam hatinya terkuak kembali. Kekosongan menyergap dirinya lagi.
Aku bahkan baru mengenalnya beberapa hari, kenangnya getir. Dan aku sudah mau patah hati?
Dia bahkan belum ke mana-mana, dan aku sudah merasa kehilangan?
Perasaan sialan macam apa ini?
Apakah aku mencintai Denta?
Apakah aku benar-benar tertarik padanya jika ia tidak mirip Evan?
Lalu ia mulai membayangkan jika Ardian yang sakit-sakitan, atau Juna.
Tidak, katanya dalam hati. Aku tidak mencintai Denta. Aku hanya kasihan padanya jika ia seperti Ardian… atau Arjuna.
Aku tertarik pada wajah Evan!
Menyedihkan! batinnya getir. Tak bisa mendapatkan Evan, aku mencari pelarian pada pria lain yang mirip Evan.
Aku tak boleh memberi harapan pada Denta!
Mungkin sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini, Elijah memutuskan.
__ADS_1
Tapi ketika pagi tiba, ia melihat kondisi Denta semakin membaik.
Pria itu terlihat semakin bugar dari hari ke hari, dan wajahnya tidak pucat lagi.
Seketika, perkataan ibu Denta terngiang di benaknya.
"Sejak Denta bertemu denganmu, semangat hidupnya mulai bangkit. Ketahuilah, El. Sudah lama sekali Denta terpuruk tanpa semangat hidup. Saya tahu hal itu tak bisa membantunya sembuh. Tapi paling tidak… kamu bisa membantunya menikmati hidup."
Dia benar-benar pulih! pikirnya takjub. Lalu rasa tak tega menyergap dirinya, dan ia mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah ini.
"Denta membutuhkanmu!"
Benar, kesehatan Denta bergantung padaku, pikir Elijah. Dan aku bahkan tidak perlu melakukan apa-apa. Aku hanya perlu… ada. Itu saja.
Tidak buruk!
Dia selalu membantuku, tidak ada alasan untuk tidak membantunya.
"El?" Denta mengamatinya dengan mata terpicing. "Kamu kenapa?" Pria itu sedang membungkuk di sisi sepeda motornya, sedang memanaskan mesin.
"Ah—gapapa, kok!" jawab Elijah terbata-bata.
Denta memandangnya dengan skeptis. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Kamu gak pules ya, tidurnya?" tanyanya menyelidik.
Elijah mengerjap gelisah. Tiba-tiba teringat mimpinya.
"Kamu gak betah tinggal di sini?" tanya Denta lagi. "Atau gak nyaman tinggal sendiri?"
Elijah tergagap-gagap, tak tahu harus menjawab apa, bagaimana menanggapinya. Yang mana dulu yang harus dijawab? pikirnya kebingungan.
Ternyata si tampan kalem elegan yang ini juga sejenis knalpot racing!
"Gue… semalem kebangun, terus gak bisa tidur lagi," cerita Elijah sedikit terbata-bata, tak berharap Denta tahu soal mimpinya.
"Ya," Elijah mengaku. Tapi tak ingin menceritakan isi mimpinya.
"Kamu gak biasa tinggal sendirian, ya?" tanya Denta lagi. Ia beranjak berdiri dan mendekat ke arah Elijah.
Elijah langsung tertunduk. Tidak menjawab pertanyaan Denta.
"Mau saya temenin?" Denta membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Elijah sembari tersenyum nakal.
Elijah mengulum senyumnya, sedikit tersipu. Jantungnya berdebar-debar dan seketika membuatnya merasa sedikit aneh. Ia belum pernah berdebar-debar seperti itu kecuali saat berdekatan dengan Evan.
Ia jelas memiliki perasaan khusus pada Denta. Tapi karena pria itu mirip Evan, Elijah tak yakin perasaannya pada Denta benar-benar tulus. Dan itu membuat dirinya terus-terusan merasa bersalah.
Apakah boleh menjalani hubungan seperti ini? pikirnya bimbang.
Denta terkekeh dan mengusap puncak kepalanya. Lalu melingkarkan tangannya di bahu Elijah.
Sekali lagi, Elijah tak mampu menolak.
Pria itu sekarang menuntunnya mendekat ke arah sepeda motornya. "Saatnya pemanasan," katanya sambil menepuk-nepuk jok.
Elijah bergeming dalam kebimbangan, menatap ragu sepeda motor itu.
Denta menunggu dengan tatapan menuntut. Sekali lagi, sebelah alisnya terangkat tinggi. Persis seperti Evan.
Elijah mendesah pelan dan memaksakan senyum, lalu melangkah naik ke atas sepeda motor itu. Sensasi rasa dingin menjalar dari telapak tangannya yang menggenggam setang, lalu merambat ke lengannya seperti sengatan listrik, menyentakkan degup jantungnya hingga menggebu-gebu.
__ADS_1
Semangat Elijah seketika bangkit!
Berada di atas sepeda motor itu membuat dirinya merasa begitu tangguh. Kembali menjadi dirinya. Dirinya yang paling keren. Tiba-tiba ia ingin melejit dan melesat di atas kecepatan seratus, mengabaikan dunia di sekitarnya, dan melupakan semua bebannya!
Kecepatan adalah kesejatian, pikir Elijah. Karena di dalam kecepatan, setiap orang hanya terfokus pada jalurnya.
Ia tersenyum pada Denta dengan mata berbinar-binar.
Cowok itu membalas senyumnya, lalu berbalik memunggunginya dan menghilang ke garasi. Tak lama kemudian, ia kembali membawa helm trail dan memasangkannya di kepala Elijah.
Sejurus kemudian, gadis itu sudah melesat keluar gerbang dan meluncur di jalan servis area perumahan.
Mencapai gerbang perumahan, gadis itu memutar dan kembali ke jalur sebaliknya, karena sepeda motor trail kompetisi tidak diizinkan beroperasi di jalan raya.
Bertepatan dengan itu, sebuah sepeda motor sejenis menyeruak dari gang di perempatan blok di depan Elijah.
Elijah tersentak dan mengerem sepeda motornya secara mendadak, begitu juga si pengendara sepeda motor yang hendak menyeberang tadi. Lalu keduanya sama-sama membeku.
Elijah tergagap dengan mata dan mulut membulat, kelopak matanya bergetar.
Pengendara itu tidak memakai helm. Elijah mengenali wajah itu. Wajah tampan yang membuatnya gila---Evan Jeremiah.
Ngapain dia di sini? pikir Elijah terkejut.
Kenapa bisa begitu kebetulan?
Apakah ia berhalusinasi lagi?
Tapi berapa kali pun ia berkedip berharap bisa menghalau halusinasi di hadapannya, wajah pengendara sepeda motor trail itu tidak berubah.
Cowok itu meneliti Elijah dan sepeda motornya dengan mata terpicing.
Elijah menelan ludah.
Apa dia mengenaliku?
Tidak! Elijah menyadari. Ia mengenakan helm full face. Evan tak bisa melihat wajahnya.
Cowok itu bukan sedang mengawasi Elijah, tapi sepeda motornya.
Evan mengenali sepeda motor itu.
Tapi sebelum pria itu membuka mulutnya, Elijah sudah melesat meninggalkannya.
Evan mengerjap dan tergagap. Lalu mengejar kendaraan itu.
Elijah memekik tertahan menyadari pria itu tak jauh di belakangnya. Kenapa dia ngejar gue? pikirnya panik. Dia gak boleh tau tempat gue! tekadnya dalam hati. Semuanya bakal sia-sia. Udah berjalan sejauh ini, kenangnya getir. Dan gue udah punya Denta. Lalu ia mempercepat laju sepeda motornya.
Cowok berengsek itu juga melakukannya.
Gawat! pikir Elijah.
"Asal lu tau, ya! Dia… terkenal sebagai pembalap paling cepet!"
Kata-kata Devian melintas dalam benaknya.
Lalu Elijah teringat jalan lain. Denta bilang, "Jalan ini sering bikin keder apalagi kalau malem!"
Tanpa pikir panjang, Elijah bertolak dari arah yang seharusnya, kemudian memutar ke jalan alternatif.
__ADS_1
Evan akhirnya menyerah dan berhenti mengejarnya setelah gadis itu berbelok di perempatan blok.
Bukan tak mampu mengejarnya. Tapi karena teringat sesuatu. Ada hal lebih penting yang harus ia lakukan di area perumahan ini.