
"Lu kemaren kan bilang kalo lu pen daftar di Kejurda atas nama Denta," Dede berkilah. "Denta Maharaja!" ulang Dede menirukan gaya bicara Elijah.
Elijah langsung terdiam, tapi matanya masih mengawasi Dede dengan tatapan curiga.
"Dia kan, orangnya?" Dede menambahkan.
"Emang gue udah bilang kalo Denta itu dia?" Elijah menunjuk ke arah Denta dengan dagunya.
Dede kembali tergagap. Lalu memalingkan wajah sembari mengusap bagian belakang kepalanya. "Tapi tebakan gue gak meleset, kan?" sergahnya setengah menggumam.
Elijah hanya mengerjap, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Denta.
Cowok itu menatapnya dengan raut wajah datar. Wajahnya sudah mulai pucat lagi setelah kejadian kemarin.
Dan Elijah menebak pria itu mungkin tak senang melihatnya dekat-dekat dengan pria lain. Jadi, ia buru-buru berpamitan pada Dede.
"W—wait!" Dede menyambar bahunya lagi. "Tunggu!"
"Turunin tangan lu, A n j i r!" Elijah memelototinya.
Dede menarik tangannya cepat-cepat. "Sori," katanya sembari tersenyum singkat. Lalu merogoh ke dalam ranselnya dan mengeluarkan sesuatu. "Gue udah daftarin lu di Kejurda," katanya sembari menyodorkan amplop cokelat ukuran folio ke arah Elijah. "Ini technical handbook-nya."
Elijah menerimanya dan menggoyangkan amplop itu di sisi wajahnya sembari tersenyum lebar. "Thanks, ya?" katanya semringah. Lalu segera menghambur meninggalkan Dede.
Cowok itu mengawasinya seraya tersenyum tipis. Lalu melirik ke arah Denta.
Denta balas meliriknya dengan raut wajah datar. Lalu berbalik memunggunginya sembari merangkul bahu Elijah.
"Apa itu?" tanya Denta setelah mereka meluncur di jalan raya. Ia menunjuk ke arah amplop coklat di pangkuan Elijah dengan ekor matanya.
Elijah mengulum senyumnya, "Coba tebak!" tantangnya dengan ekspresi manja---fals.
Denta terkekeh sembari mengalihkan pandangannya ke depan. "Pasti bukan beasiswa!" ejeknya. "Tukang rusuh!"
Elijah terkekeh sembari tertunduk dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, merasa sedikit malu mengingat tingkah lakunya tadi. Andai dia tahu, katanya dalam hati. Alasan gue meledak…
Denta melirik amplop di pangkuan Elijah sekali lagi dan melihat logo IMI. Lalu tersenyum. Akhirnya aku akan mati dengan tenang, batinnya muram. Rasa senang bercampur getir mengoyak isi dadanya.
Mengetahui kematianmu di depan mata… tentu tak mudah menghadapinya. Selain menunggu kematian, kau tak punya motivasi lain.
Dan selama penantian itu, hidupmu terasa mati.
__ADS_1
Hidup dan mati terasa tidak ada bedanya!
"Saya akan berada di pit line saat kamu bertanding nanti," gumam Denta seraya tersenyum simpul.
Elijah mengerjap dan meliriknya dengan mata berbinar-binar. "Lu udah tau?" tanyanya terkejut.
"Well, logo IMI gak sulit untuk dikenali!" tukas Denta.
Elijah spontan tertunduk menatap logo di sudut bagian atas amplop itu dan tersenyum. Lalu kembali mengangkat wajahnya dan menoleh pada Denta, mendadak terlihat ragu, "Tapi…" ia menggantung kalimatnya seraya tercenung.
Denta meliriknya sekilas dan kembali memperhatikan jalan. "Jangan khawatir, Eli!" katanya seolah bisa membaca pikiran Elijah. "Saya gak minta kamu juara. Saya cuma minta kamu gak berhenti."
Keheningan menyergap mereka beberapa saat.
"Kegagalan hanya proses, Eli!" gumam Denta setelah sejenak terdiam. "Kemenangan hanya upah---buah dari apa yang kita tanam! Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Dan saya sedang mencoba menanam spirit."
Elijah mengerjap dan melirik Denta.
"Saya ingin tetap hidup meski saya sudah mati," Denta menambahkan, lalu melirik Elijah.
Elijah langsung terdiam. Lagi, batinnya getir. Kesedihan menyergapnya lagi. Pria itu terasa menghilang lagi.
Bisakah dia berhenti membicarakan kematiannya?
Pria itu bahkan masih di sini.
Tapi rasanya seperti sudah tiada!
"Lanjutkan mimpi saya, Eli!" pinta Denta. "Maka saya akan tetap hidup," kemudian menambahkan, "Di dalam dirimu!"
Kelopak mata Elijah bergetar, tak mampu membendungnya lagi, air matanya merebak di pelupuk mata.
"Kamu gak mau kan kehilangan saya?" desak Denta.
Elijah menggeleng sembari membekap mulutnya dengan sebelah tangan.
"Lanjutkan mimpi saya!" ulang Denta menandaskan, lalu menyisikan mobilnya dan berhenti.
Elijah masih tertunduk dan tersengak-sengak ketika Denta memarkir mobilnya di belakang gedung biliar, tepat di tempat Devian menyisikan sepeda motornya pada hari pertama Elijah melihat Evan.
Pria itu mengembuskan napasnya perlahan, kemudian menyandarkan punggungnya dan memandang ke arah sirkuit setengah tercenung.
__ADS_1
Elijah masih terisak.
Denta meliriknya dan menyodorkan kotak tisu pada gadis itu.
Elijah mencomot beberapa lembar dan menyeka hidungnya.
Denta mengusap puncak kepalanya seperti biasa, lembut dan penuh kasih sayang.
Setelah menyeka seluruh sisa air mata di wajahnya, Elijah akhirnya mengangkat wajah, menatap ke arah Denta, masih belum menyadari di mana ia berada.
"Saya masih di sini, Eli!" bisik Denta sembari terkekeh, seolah semua yang dikatakannya selama perjalanan tadi hanyalah lelucon.
Elijah ikut terkekeh, berusaha kembali ceria. Pada saat itulah ia baru menyadari di mana mereka berada. Ia melirik ke arah sirkuit dengan raut wajah muram. Tatapannya tertuju pada sosok Evan yang sedang berdiri di tepi sirkuit, berteriak menginstruksikan sesuatu pada Innu sembari berkacak pinggang. "Ngapain ke sini?" tanyanya sembari berpaling menghindari tatapan Denta.
"Menikmati hidup," jawab Denta sembari melirik sekilas pada Elijah, lalu memalingkan wajahnya ke arah sirkuit dan tersenyum samar. Akhirnya saya tahu hatimu milik siapa, katanya dalam hati.
"Yang kek gini lu bilang nikmatin hidup?" tukas Elijah mencemuh. "Cuma nikmatin hal-hal yang lu suka?"
Denta mengerutkan keningnya, setengah melengak, setengah menyeringai. "Oke," tantangnya. "Mari kita lakukan hal-hal yang paling kita benci dan tidak pernah kita lakukan?"
"Deal!" Elijah balas menantang, lalu mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan.
"Deal!" Denta menjabat tangannya sembari menyeringai.
"So…" lanjut Elijah bersemangat. "Kita mulai dari yang paling sederhana. Apa yang gak pernah lu lakuin di jalanan kek gini?"
"Hmmm…" Denta menggumam seraya berpikir. "Ngopi di pinggir jalan," katanya.
"Cari kang kopi keliling!" perintah Elijah sembari menyeringai.
Denta menghela napas berat dan menyalakan mesin, lalu menggelindingkan mobilnya menjauhi tempat itu. Melajukkannya perlahan menyusuri tepian trotoar di sepanjang taman, lalu berhenti setelah mereka menemukan tukang kopi keliling yang bersepeda.
Elijah menghambur keluar dengan bersemangat, kemudian memesan dua gelas kopi dengan wajah semringah.
Denta menyusulnya keluar mobil dan bergabung di dekat sepeda tukang kopi, menatap risih gelas plastik dengan raut wajah ngilu, lalu mengedar pandang dengan ekspresi nyaris frustrasi—kesulitan mencari tempat duduk. Tidak ada bangku taman di sekitar tempat itu. Mau duduk di mana? pikirnya.
Setelah membayar pesanan mereka, Denta membantu Elijah membawakan minumannya dan menoleh ke sana kemari dengan raut wajah bingung, sementara Elijah sudah menjatuhkan dirinya di atas hamparan rumput Jepang di sepanjang tepi trotoar.
Denta spontan mengernyit menatap gadis itu.
"Duduk!" perintah Elijah sembari menepuk-nepuk hamparan rumput di sisinya.
__ADS_1
Denta terkekeh gelisah sembari menyodorkan minuman Elijah dan duduk di sampingnya. Kemudian mengernyit lagi.
Elijah balas terkekeh di sampingnya sembari membekap mulutnya dan memalingkan wajah.