Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-41


__ADS_3

Sesuai permintaan Evan, kedua makhluk yang disebut Rekan Media disingkirkan sepenuhnya dari cerita!


Anggap saja, sesi wawancara tadi sudah selesai. Atau anggaplah kedua makhluk itu tak pernah ada di dalam cerita.


Atau pembaca lebih suka membayangkan mereka menguap begitu saja seperti kepulan asap knalpot akibat oli mesin yang ikut terbakar di ruang pembakaran mesin?


Suka-suka kalian saja!


Author tidak akan membatasi imajinasi kalian.


Tapi mengenai hutang penjelasan Evan bagaimana?


Evan tak hanya berhutang penjelasan kepada Elijah, tapi juga kepada pembaca.


Kalau para racer membaca karya Author, Author pasti dihujat tidak lama lagi!


Jadi, please deh, Bang Tampan…


"Kenapa kesannya jadi kek gue yang salah?" protes Evan kepada Author. "Hutang penjelasan kepada pembaca harusnya tanggung jawab Author. Gue tokoh utamanya—Protagonis pria. Tokoh utama gak boleh salah pokoknya. Protagonis gak pernah salah!"


Elijah memelototi Evan dengan intensitas tatapan yang bisa membakar separuh bumi, menguras lautan, mengeringkan mata air…


"Gue bisa jelasin ini!" pekik Evan menyela deskripsi Author.


Elijah melengos sebelum Evan bisa menjelaskan situasinya.


Itulah akibatnya kalau tokoh mulai murtad sama authornya!


Evan mengerang sembari memutar-mutar bola matanya. "Gua pan belon ngomong," gerutunya kepada Author. "Mangap aje belon, Elijah udah ngeloyor! Kalo udah begini pegimane urusannye?"


Susullah, Bang Tampan!


Norak!


Gadis itu sekarang bergegas ke parkiran dengan langkah-langkah lebar, sementara Evan tertinggal jauh di belakangnya.


Cowok berengsek itu hanya melengak kebingungan sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak pernah terasa gatal.


Begitu ia terpikir untuk menyusulnya, Elijah sudah beranjak menaiki sepeda motornya, menyalakan mesin dan berlalu pergi.


"Penulis Keparat!" rutuk Evan tak sabar.


Para racer pendatang yang sedang berkerumun di tempat itu serentak berpaling ke arah Elijah dengan tatapan terpana. Sebagian dari mereka bersiul dan bersorak usil. Mata mereka bergulir mengikuti gerakan Elijah dengan keredap tatapan yang berapi-api, ketika gadis itu melewati kerumunan.


Devian tercengang menatap Elijah dari arah sirkuit. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Apa dia betul-betul Elijah? pikirnya tak yakin.


Ke mana perginya cewek cuek muka datar yang dikenalnya selama ini?


Innu dan Maha juga terperangah mengawasi gadis itu. Merasa tersengat melihat bajingan lainnya menggoda Elijah.


"Lea—" Evan tergagap begitu mencapai parkiran, memandangi punggung gadis itu dengan ekspresi menyesal.


Elijah sudah terlanjur menutup diri!


Gadis itu berlalu semakin jauh dan tidak menoleh lagi.


Innu dan Maha serentak saling melirik satu sama lain.

__ADS_1


Devian terkekeh tipis sembari menggeleng-geleng, kemudian melanjutkan latihan.


Para racer pendatang tadi melirik Evan dengan intensitas tatapan antara penasaran dan sedikit risih.


"Ada yang lagi ribut sama bokinnya, Bro!"


Kurang lebih seperti itulah arti isyarat dari tatapan semua orang.


Sebagian dari mereka merasa tak enak hati pada Evan karena menggoda Elijah tadi.


Dia bokin Bang Je? pikir beberapa orang.


Evan mengalihkan perhatiannya ke arah gerombolan itu dan memaksakan senyum, kemudian menghampiri mereka dan menyalaminya satu per satu. Berusaha bersikap segirang mungkin.


Bemo dan Gigi bertukar pandang dengan Igun.


"Anggap tongkrongan sendiri, Bang, ya!" Evan mempersilahkan tamu-tamunya untuk kembali bersantai. "Gue tinggal dulu bentar," katanya berpamitan.


Tak lama kemudian, Evan sudah menghambur keluar sirkuit melambungkan sepeda motornya.


Hilang sudah keseruan dalam cerita ini!


Cerita ini terasa suram tanpa ketololan yang hakiki seperti biasanya. Tidak ada sesi saling melempar lelucon karena ketua geng-nya sekarang dilan—


Dilan-Milea?


Maksudnya, dilanda galau!


Evan gak lucu kalau lagi baper.


Dan…


Igun yang punya segudang cara untuk mengacau mendadak pendiam.


Innu yang biasa banyak mulut mendadak diserang sariawan akut. Sejak tadi siang sampai sekarang kerjanya cuma cemberut.


Maha dan Dede sedikit terlalu fokus pada latihannya masing-masing hingga terkesan seperti serius. Padahal mereka tak bisa serius!


Langit mendung sore itu seolah ikut-ikutan memasang wajah serius meski Serius sudah bubar.


Dan…


Pertanyaan mengenai, "Kapan sih, Evan pernah serius?" Hari ini tak berlaku lagi!


Apa sebenarnya yang terjadi? Evan bertanya-tanya dalam hatinya. Perasaan sialan macam apa ini? Kenapa hatiku terasa begitu sakit?


Jiah!


Fals lu, Kuyuk!


"Deskripsi lu yang kelebaran!" protes Evan tak terima..


Gak ada temen ribut, Authornya yang diajak ribut.


Memasuki pekarangan rumah Bang Wi, anak anjing piaraan Bang Wi diajakin ribut juga.


"Cari mati lu, ya?" gertaknya pada anak anjing yang spontan menggeram begitu sepeda motor Evan memasuki pekarangan.

__ADS_1


Dia kan cuma berusaha bersikap waspada. Salah dia di mana coba?


Bang Wi melongok dari pintu garasi untuk memeriksa siapa yang datang, meskipun jawabannya sudah bisa dipastikan. Sejak awal pria itu sudah menebak tidak lama lagi Evan akan datang. Ia hanya memastikan saja.


Cowok itu menggelindingkan ban sepeda motornya melintasi lapangan rumput dan berhenti di depan garasi.


"Peringatan gua waktu itu masih berlaku," sambut Bang Wi setelah Evan mematikan mesin. "Berani bikin ponakan gua nangis, elu gua bikin nangis!"


"Emang doi nangis, Wi?" tanya Evan serius.


"Lu pikir aje ndiri!" seloroh Bang Wi.


"Perasaan kaga gua apa-apain," gumam Evan, dahinya berkerut-kerut—seperti sedang berpikir keras, tatapannya menerawang udara kosong di depannya.


Bang Wi mengembuskan napas kasar, kemudian mengamati wajah Evan sembari bertolak pinggang.


Evan tiba-tiba mengerjap dan menstandarkan sepeda motornya, kemudian melangkah turun dari kendaraan itu dan bergegas ke dalam rumah.


Bang Wi diam saja. Tidak berusaha mencegah anak itu. Hanya menatap punggungnya dengan ekspresi datar. Segala sesuatu di dalam dirinya ingin mencegah anak itu masuk.


Tapi Evan sudah keburu mencapai teras.


Tentu saja Bang Wi percaya Evan takkan melakukan hal buruk pada Elijah. Anak laki-laki itu kelihatannya saja berengsek. Aslinya tidak begitu.


Bang Wi sama sekali tidak khawatir jika pun terpaksa harus meninggalkan Elijah hanya berdua dengan Evan. Dibandingkan dengan Ardian, Bang Wi lebih percaya pada Evan meski Ardian kelihatan jauh lebih santun dan pendiam.


Hanya saja…


Ia merasa kedekatan Elijah dengan Evan sepertinya mendatangkan pengaruh buruk bagi Elijah. Elijah berubah drastis setelah mengenal Evan.


Gadis itu menjadi sedikit… terlalu lembek!


Mudah sakit dan sering merajuk. Sedikit cengeng dan sedikit-sedikit mengurung diri.


Itu tidak terdengar seperti Elijah!


Sebagai Lady Metalhead, Elijah akan memilih moshing daripada ambil pusing. Lebih suka mengamuk dibanding harus merajuk.


Di mana harga dirinya sebagai Metalhead?


Sepertinya Evan terlalu memanjakannya, pikir Bang Wi.


Apa hanya perasaannya saja?


Bang Wi tidak berani menyimpulkan bahwa Elijah mungkin menaruh hati pada Evan. Dia masih anak-anak! Begitulah yang dia yakini. Evan bahkan menganggapnya sebagai momongan.


Ah, seandainya Bang Wi tahu…


Bang Wi pasti screaming.


Terlepas dari semua itu, ada hal lain yang membuat Bang Wi mencoba mencegah Evan masuk.


Tak sampai tiga menit, Evan sudah kembali—menghambur keluar dengan raut wajah gusar.


Elijah tak ada di dalam!


Itulah yang ingin dikatakan Bang Wi tadi.

__ADS_1


Lagi, Authornya bertele-tele… 😌


Biar panjang, Bestie---kaga idep!


__ADS_2