
"Saya mohon maaf soal nuansa natalnya," kata Bibi Aria pada Windy ketika mereka---Windy, Ira dan Dian, membantu Bibi Aria menata ulang ruang makan dan menambah hidangan baru, sementara Delilah sibuk menjaga Norah bersama Keith dan Noah. "Semuanya ide Lea!" Bibi Aria menambahkan seraya tersenyum hangat.
"Gapapa, Tante!" tukas Windy seraya balas tersenyum. "Kami semua cukup fleksibel," katanya sembari merangkul kedua sahabatnya Ira dan Dian. "Terutama untuk jamuan makan!" Windy menambahkan.
Lalu para wanita itu meledak tertawa.
Bang Wi dan ayah Elijah sedang sibuk menata pekarangan untuk acara pesta taman dibantu para racer, sementara para personel Babylon the Great masih bersantai di seputar meja kopi di teras depan—mereka artisnya, yekan?!
Evan dan Elijah masih pedekate di kap mobil Bugatti Masonry---mereka lagi, tokoh utama!
Persiapan malam tahun baru di rumah tua Bibi Aria itu kali ini seperti hajat besar---maaf, maksudnya pesta besar.
Para tetangga yang melintas sampai bertanya-tanya ada acara apa di rumah juragan—Bibi Aria merupakan salah satu tuan tanah di desa itu, jadi kebanyakan penduduk memanggilnya Juragan.
"Sayang gak ada sound system," komentar Irgi sembari berkacak pinggang dan mengedar pandang.
Dede melirik ke arah Irgi dan mengikuti arah pandangnya.
Irgi menunjuk bagian sudut taman di bagian pekarangan depan yang menurutnya sangat cocok jika dijadikan panggung musik. "Kalo ada panggung di sono pasti kek pesta kawinan," kelakarnya.
Bimo dan Igun tertawa menanggapinya.
"Tapi keren juga sih kalo ada panggungnya," Innu menanggapi serius angan-angan Irgi. "Gue kangen liat performance Babylon the Great!"
"Rocker sialan!" kelakar Igun menirukan gaya pidato Evan.
Yang lain-lainnya tertawa sembari menoleh pada Evan.
Evan balas melirik mereka dengan alis tertaut. "Pada ngomongin gue lu, ya?" tuduhnya.
"Kaga," jawab Igun datar. "Kita lagi ngomongin rocker sialan!"
Elijah langsung melotot.
Cowok-cowok racer itu tertawa lagi.
Cowok-cowok metalhead di meja kopi serempak menoleh ke arah mereka.
"Peace, Bang!" kata Igun cepat-cepat, kemudian mengacungkan dua jari membentuk simbol "peace" ke arah mereka sembari menyeringai. Lalu melesat kabur.
Semua orang terbahak-bahak menanggapinya, termasuk mereka para metalhead yang masih saja bermanja-manja di kursi rotan. Rocker sialan!
Elijah terkekeh sembari membekap mulutnya dengan sebelah tangan.
Evan meliriknya seraya mengulum senyum.
Untuk pertama kalinya sejak kepergian Denta, Elijah bisa tertawa lagi.
Kedua bucin keparat yang seperti bayi itu bertengger di kap mobil. Elijah duduk menekuk, memeluk kedua lututnya, sementara Evan nyaris rebahan dengan siku menopang tubuhnya---bagus gak kepeleset!
Menyadari lirikan mata Evan, Elijah langsung tertunduk dan mengatupkan mulutnya mengulum senyumnya juga.
"Hei!" bisik Evan seraya tersenyum nakal. "Lu belum jawab pertanyaan gue," katanya.
"Pertanyaan yang mana?" Elijah meliriknya dengan alis tertaut.
__ADS_1
"Gue udah kek si Badai belon?" ulang Evan sembari tersenyum miring.
Elijah terkekeh lagi sembari memalingkan wajahnya dan tertunduk. Tersipu. Lalu mengulum senyumnya lagi seraya memiringkan kepalanya sedikit dan berbisik, "Lebih baik!" katanya dalam gumaman pelan, nyaris tak terdengar.
Evan tersenyum dan memalingkan wajahnya juga. Tersipu.
Wuanjiiiirrrr… Fals gak sih, adegan ini?
Ya, tapi bagaimanapun orang kasmaran memang begitu. Fals.
Cengeng, norak dan tidak masuk akal.
Banyak orang berubah akibat kasmaran.
Yang semula tangguh mendadak rapuh. Yang angkuh jadi luluh. Yang rusuh jadi lusuh. Yang cool in jadi bucin. Yang killer jadi baper. Yang malu-maluin jadi sok malu-malu. Yang b'lagu jadi pemalu. Yang pemalu jadi pemahat---lah?
Hehe!
Begitulah cinta!
Mengerat, mengunggis, menggerogoti—seperti virus.
"AYANG!" teriakan histeris Noah dan Delilah menyentakkan dua makhluk bucin keparat yang bertengger di atas kap mobil.
Cowok-cowok racer dan para metalhead serentak menoleh ke arah mereka.
Evan dan Elijah melompat dari kap mobil ketika Noah dan Delilah menghambur ke arah mereka, tergagap-gagap dan kebingungan. Lalu terhenyak begitu menyadari apa yang terjadi.
Rupanya Norah sedang tengkurap di bawah kap mobil, menempelkan telinga di tromol kendaraan itu.
Norah tersenyum pada Elijah, "Bait suci Salomo!" katanya sembari menunjuk tromol mobil itu.
"Ya Tuhan!" erang Elijah sembari memutar-mutar bola matanya.
Perkara tromol saja membuat gencar!
Evan mendesis tertawa sembari membekap mulutnya.
Noah dan Delilah terengah-engah.
Semua orang tergelak dan terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, Bibi Aria muncul di pintu menyela mereka. "Ayo, Anak-anak!" serunya riang. "Sebentar lagi kita akan makan malam. Ayo, semuanya masuk!"
Para metalhead beranjak dari tempat duduknya. Cowok-cowok racer berebut kran untuk mencuci tangan di halaman depan.
Evan melingkarkan sebelah tangannya di bahu Elijah dan menuntun gadis itu ke dalam rumah.
Seisi ruangan menatap mereka bersamaan.
Dian Anggara mengerjap dan terbelalak menatap Evan. Lalu mengerling sekilas pada Jimmy.
Dian Anggara tergila-gila pada Jimmy, dan selama itu, ia selalu cemburu pada Elijah. Merasa tersaingi dan mengira Elijah menaruh hati pada Jimmy.
Tentu saja Dian merasa tertampar setelah melihat Evan.
__ADS_1
Ketampanan Jimmy bahkan tidak mencapai setengahnya dibanding ketampanan Evan.
"Ngapa lu melototin dia?" Elijah menggeram pada Dian. "Emang dia pisang?"
Seisi ruangan sontak terperangah.
"Lea!" Ayah Elijah balas menggeram.
Seisi ruangan berdebuk dan berkeriat-keriut. Semua orang bergerak gelisah.
Dian mengerjap dan berpaling.
Evan mengatupkan mulutnya menyembunyikan senyuman bangga. Diam-diam merasa senang dicemburui. Dia mencintaiku! batinnya berdebar-debar---bucin parah.
"Sudahlah, biarkan dia!" Bibi Aria menginterupsi. "Lea hanya bercanda," katanya pada Dian, lalu menarikkan kursi untuk gadis itu.
Dian tertawa gelisah seraya mengangguk-angguk, kemudian duduk tertunduk.
Elijah mengerling ke arah Evan, cowok itu balas mengerling ke arahnya. Lalu keduanya sama-sama tertunduk seraya tersenyum malu.
"Fals!" bisik Devian di belakang mereka.
Elijah terperanjat dan menoleh ke arah Devian. "Setan!" geramnya balas berbisik.
Evan terkekeh bersama cowok-cowok metalhead di kiri-kanan Devian.
"Oh, kom op!" erang Bibi Aria tak sabar.
Evan dan Elijah segera bergabung dengan mereka di meja makan, lalu duduk berdampingan seraya berpegangan tangan di bawah meja---buset!
"Ik houd van je!" bisik Evan sembari membungkuk pura-pura mengambil makanan di depan Elijah.
Elijah menahan senyumnya.
Ayah Elijah melirik mereka dengan tatapan curiga.
Evan tersenyum pada pria tua itu.
Detik berikutnya, ketukan di pintu depan menyela mereka.
"PERMISI!" teriak seorang pria.
Bibi Aria serentak menghambur ke depan. Lalu kembali dan bertanya sembari mengedar pandang, "Siapa yang pesan pizza?"
Semua orang serentak menghambur ke depan dan terperangah.
Seorang pria berseragam kurir makanan membungkuk di depan Elijah seraya menyodorkan tumpukan kotak pizza yang tidak sedikit. Wajahnya tersembunyi di bawah topinya.
Elijah memicingkan mata mengawasi seikat rambut lurus hitam mengkilat yang mencuat dari lubang topi di belakangnya. Ujung rambutnya mencapai tengkuknya.
Elijah merunduk mengintip wajahnya.
Lalu tiba-tiba kurir itu mengangkat wajahnya dan menyeringai.
Semua racer mengerang bersamaan.
__ADS_1