
"Ijah dataaaaang…" seru Elijah di depan pintu garasi.
Ketiga pria di dalam garasi itu serentak menoleh.
"Sape Ijah?" tanya Evan, mengerutkan dahi.
"Kang kopi idola," jawab Elijah dengan senyuman miring. Ia berjalan ke dalam dengan nampan di sebelah tangannya, kemudian berhenti di depan Evan, melirik ke arah cowok itu dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Ijah udah kek Yanti belon, Bang?" tanyanya menyindir.
Igun mendesis tertawa, sementara Evan hanya melengak, "Sakit ape sih, lu?" gumamnya sembari menekankan punggung tangannya di kening Elijah. Dan asal tahu saja, punggung tangan cowok itu belepotan oli.
Bang Wi terkekeh tipis.
"Kopi item buat Om Wi sama A Igun," kata Elijah sembari menyodorkan nampan ke arah pamannya, tidak menyadari dahinya belepotan oli.
"Mantap!" seru Igun sembari melompat berdiri dan meraih cangkir kopinya.
"Kopi mix buat Bang Je!" Elijah menambahkan sembari menyodorkan nampan ke arah Evan.
Evan spontan menautkan alisnya. "Tau dari mana lu panggilan norak kek gitu?"
"Dari kang kopi lain," jawab Elijah sembari menyeringai. "Tapi bukan kang kopi yang gak jadi kopinang," kemudian ia mengembangkan sebelah tangan di sisi tubuhnya sembari membungkuk, mendekatkan nampan ke arah Evan menirukan gaya pelayan kerajaan Eropa klasik. "Kopinang kau dengan bis mogok!" godanya.
"Kupinang!" sembur Evan mengoreksi ucapan Elijah sembari melotot, kemudian meraih cangkir kopinya.
"Kang kopi mah bebas pen ngomong apa juga," sergah Elijah sembari mencebik.
Igun terbahak-bahak.
"Papa kamu pecinta burung, ya?" goda Evan, balas mencebik, "Kok kamu gacor banget?"
Igun tersedak kopinya karena tertawa.
Bang Wi tergelak sembari menoyor kepala Evan.
"Ponakan lu ajak berobat, Wi!" seloroh Evan sebelum menyeruput kopinya.
Bersamaan dengan itu, sebuah Bugatti La Voiture Noire memasuki pekarangan.
Semua mata serentak menoleh ketika mobil mewah itu menepi di dekat Jeep butut Evan.
Evan sampai tak jadi menyesap kopinya.
"Wuaaaaahhhh…" Elijah tercengang dan berdecak kagum. "Tamu beginian kopinya apa, Om?"
"Kopikir aja sendiri!" sembur Evan sembari mendengus. Lalu menyesap kopinya.
Igun dan Bang Wi kembali tergelak.
Pintu Bugatti La Voiture Noire itu terbuka, seraut wajah tampan bak boneka migi berambut sebahu menyembul dari balik pintu kemudi.
"Hua Ze Lei!" pekik Igun menirukan gaya b a n c i l a k n a t---Gilang Wibisana.
__ADS_1
Ardian Kusuma, melangkah keluar dari mobil mewah itu dan menoleh ke arah Jeep Evan dengan alis bertautan, kemudian membuka pintu belakang mobilnya, mengeluarkan sekotak besar pizza dan sekeranjang buah-buahan sembari menerawang ke teras rumah dengan mata terpicing, lalu menoleh ke arah garasi.
"Dalam rangka apa dia bawa sajen sebanyak itu ke rumah gua?" gumam Bang Wi sembari berkacak pinggang.
"Kek gak pernah muda aje, Wi!" sindir Evan.
Ardian Kusuma terkenal paling pelit meski dia punya segudang uang. Kedatangannya yang tiba-tiba dengan tentengan yang tak seberapa itu saja sudah mengundang tanya bagi seseorang yang jarang masuk hitungan Ardian Kusuma seperti Bang Wi.
Bang Wi bukan tidak tahu cowok itu memiliki minat pada Elijah, hanya saja ia tidak mengira keponakannya bisa menempati posisi ekslusif di hati Ardian.
Sementara Elijah, dengan polosnya tidak mengerti isyarat sindiran Evan.
Bang Wi mendesah pendek dan menoleh pada Elijah, kemudian terkekeh melihat bercak oli di kening keponakannya. Seketika pikiran jahil melintas di kepalanya. "Paranin, De!" perintahnya sembari mengerling ke arah Ardian.
Evan dan Igun serempak menoleh setengah mendelik.
Bang Wi menempelkan telunjuk di bibirnya, setelah Elijah berbalik memunggungi mereka.
Evan dan Igun spontan mengerutkan dahi.
Bang Wi mengatupkan mulutnya menyembunyikan senyuman geli.
Evan dan Igun akhirnya mengerti. Lalu keduanya melongok ke arah pintu. Penasaran.
Elijah mendekat ke arah Ardian, sementara cowok itu melengak dengan mata membulat.
Evan dan Igun mulai cekikikan.
Elijah mengangguk cepat.
"Oh," gumam Ardian tampak kecewa. Rupanya dia bukan syok karena wajah Elijah yang belepotan oli, tapi lebih karena dugaan mengenai adegan yang sangat dekat antara Evan dan Elijah di dalam garasi sana. "Di mana Bang Wi?" Ia bertanya lagi, sekadar mengalihkan perasaannya yang berkecamuk---sekalian menyelidik.
Elijah hanya mengerling ke arah garasi.
Ardian tersenyum tipis, kelegaan tersirat pada wajah tampannya yang kelihatannya saja tenang. "Ada siapa lagi?" koreknya sampai ke dalam-dalam.
"Igun," jawab Elijah singkat.
Senyum Ardian semakin melebar. Ia mengulurkan kotak pizza ke arah Elijah, "Bisa tolong pegang ini sebentar?" tanyanya lembut membujuk.
Elijah mengulurkan nampan yang sejak tadi didekapnya, mengisyaratkan supaya Ardian meletakkan kotak pizza itu di atasnya.
Ardian menaruh kotak pizza itu dengan hati-hati, kemudian menyeka noda oli di kening Elijah dengan ibu jarinya.
Elijah tertunduk sembari mengulum senyumnya.
Evan dan Igun serempak menggumam di dalam garasi.
Tak berhasil membersihkan noda hitam di kening Elijah, Ardian kemudian menurunkan keranjang buah dari tangannya, menarik lengan kemeja mahalnya dan mengorbankannya sebagai lap.
Bang Wi dan Evan serentak bertukar pandang.
__ADS_1
Igun melirik keduanya secara bergantian.
Bersamaan dengan itu, sebuah sepeda motor sport warna hitam memasuki pekarangan dan menyelinap di antara mobil Ardian dan mobil Evan. Menyusul kemudian sebuah Lamborghini Veneno berwarna merah kirmizi di belakangnya.
Semua mata serentak berpaling ke pekarangan.
Pengendara sepeda motor sport itu ternyata si Tuan Muda dari keluarga bangsawan Jawa, Wisnu Aditya---Innu.
Innu menurunkan helmnya dan menoleh ke arah Lamborghini Veneno yang baru tiba itu dengan alis bertautan, Martin Hernandez keluar dari mobil mewah itu dengan hidung mendongak.
"Buseh!" Evan dan Igun kembali menggumam.
Ardian mendesah tipis. Kedua bahunya menggantung lemas.
Bang Wi mengerang dan menggeleng-geleng. "Gua kaga ikutan dah, ah!" gumamnya tak berdaya.
"Baru ga sehari," gumam Evan muak. "Rumah lu udah kek sarang penyamun!"
"Jan lupa sapa yang ngotot pen bawa Lea kemari!" sembur Bang Wi sembari melotot pada Evan.
"Namanya sebenernya siapa, sih?" Igun menyela sembari mengerutkan dahi. "El, apa Lea?"
"Elly!" jawab Evan sedikit sinis. "Ellyas Pical!"
Igun dan Bang Wi kembali terkekeh. Lalu kembali menatap keluar.
Innu dan Martin mulai saling mengejek.
"Minggir orang kaya mau lewat," dengus Martin sembari menepis bahu Innu ke samping.
Cowok berambut sebahu bergaya hun---mirip pendekar samurai Jepang itu bahkan belum turun dari sepeda motornya. Ia menjulurkan kakinya ke gang menghalangi jalan. "Tuan Muda pegal-pegal," selorohnya balas mendengus.
Martin menendang kaki Innu dan keduanya mulai baku hantam.
Elijah mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.
Ardian membungkuk meraih keranjang buahnya, kemudian menarik Elijah ke dalam garasi, disambut tatapan permusuhan Igun dan Evan. Ardian spontan mengerjap dan membeku. "Sori—" katanya tergagap.
"Gosah minta maaf," potong Evan cepat-cepat, kemudian mendelik ke arah tangan Ardian yang menggenggam pergelangan tangan Elijah. "Lebarannya udah liwat!"
Elijah menarik tangannya dari genggaman Ardian dan berbalik ke arah pamannya.
Pamannya memalingkan muka sembari komat-kamit, "Gua gak ikutan! Gua gak ikutan!" gumamnya yang hanya bisa didengar oleh Elijah.
"Saya nggak tau… kalau kalian juga ada di sini," lanjut Ardian mencoba memperbaiki keadaan dengan menciptakan sedikit pelesetan yang mendadak terlintas dalam benaknya. "Jadi saya cuma bawa sedikit…" ia mengerling ke arah kotak pizza di nampan Elijah.
Bisa betul… pikir Evan yang bisa membaca kepalsuan dari basa-basi pria tampan elegan—atau lebih tepatnya pembohong elegan itu. "Alus!" sindirnya sembari melengos.
Igun mengatupkan mulutnya menyembunyikan senyum, sembari melengos juga.
Detik berikutnya, Martin dan Innu menyeruak ke arah pintu dengan berebut.
__ADS_1