
Evan menjejakkan kakinya di teras, melangkah pelan ke arah meja kopi di mana teman-teman Elijah duduk berkumpul. Ia membungkuk sekilas dan tersenyum.
Teman-teman Elijah membalasnya juga dengan tersenyum dan menganggukkan kepala mereka.
"Sori ganggu istirahatnya," ungkap Evan membuka percakapan.
"Gapapa, Bang!" tukas Jati cepat-cepat.
Kecuali Devian, cowok-cowok metalhead di seputar meja itu berdiri serempak.
"Duduk aja!" Evan mempersilahkan mereka untuk kembali duduk. "Gua ke sini cuma pen ngucapin terima kasih, sekaligus pen minta maaf… barangkali ada salah-salah kata, atau ada hal yang kurang berkenan selama event!" Ia kembali tersenyum.
"Slow, Bang!" Jati menyelinap keluar dari tempat duduknya, menghampiri Evan dan menepuk bahu pria itu. "Event lu keren!"
Evan mengedar pandang.
Juna tersenyum datar ketika tatapan Evan menyapu wajahnya.
Tiba-tiba saja Elijah menyambar pergelangan tangan Evan dan menariknya menjauh, kemudian menuntunnya ke dalam rumah.
Teman-teman Elijah serentak terperangah.
"Si El agresif juga ya, kalo udah demen sama cowok?" komentar Jati tanpa berpikir.
Teman-temannya hanya terdiam.
Elijah dan Evan sekarang sudah mencapai dapur.
Di dekat meja makan, Elijah melepas kalung dari lehernya dan menjejalkannya ke telapak tangan Evan.
Evan tertegun menatap kalung di tangannya, lalu menatap Elijah dengan alis bertautan, "Kenapa dilepas?" tanyanya bingung.
"Takut ilang," tukas Elijah.
Evan terkekeh, "Kalung ini udah gua kasih buat lu," katanya tanpa beban sedikit pun.
"Serius, lu?" Elijah terperangah.
Evan mengerutkan keningnya.
"Kalung itu buat gua?" Elijah bertanya lagi.
"Kenapa?" Evan balas bertanya. "Lu nggak suka?"
Elijah menelan ludah, "Suka banget," jawabnya menggumam, nyaris tak terdengar.
"Terus?" Evan menaikkan sebelah alisnya.
"Lu nggak lagi nge-prank, kan?" tanya Elijah curiga.
Evan kembali terkekeh, lalu tertunduk dan menggigit bibirnya.
Elijah menatapnya.
Evan balas menatap Elijah.
Entah untuk ke berapa kalinya, tatapan mereka kembali bertemu dan terkunci.
__ADS_1
Dia serius! Elijah menyimpulkan.
Evan memasang wajah tersinggung. Entah hanya akting atau memang tersinggung sungguhan.
Yang jelas, itu tidak terlihat seperti Evan!
"Sori," kata Elijah sembari tertunduk. "Lu kan gak bilang apa-apa waktu pakein kalung itu di leher gue."
Evan tidak menjawab. Ia mendekat dan memasangkan kembali kalung itu di leher Elijah. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
Dan itu jelas terasa makin aneh!
Elijah mengangkat wajahnya dan mengerjap, menatap Evan.
Pria itu balas menatapnya lagi, tapi mulutnya tetap terkatup. Kedua tangannya masih berkutat di belakang leher Elijah.
Elijah kembali tertunduk dan berdebar-debar ketika Evan akhirnya merunduk makin rendah dan mencondongkan tubuhnya makin dekat karena belum berhasil mengaitkan kalung itu, hingga napas hangat pria itu menyapu lehernya, membuatnya merinding.
Setelah berhasil mengaitkan kalung itu, Evan tak lantas menurunkan tangannya. Ia mendaratkan telapak tangannya di bahu gadis itu, "Kalung sama bajunya gak usah dibalikin,' katanya.
"Tapi—" Elijah tertunduk makin dalam.
"Ya—gua tau semuanya barang bekas," ungkap Evan.
"Nggak!" sergah Elijah cepat-cepat, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Evan lagi. "Bukan itu maksud gue!"
Evan menaikkan sebelah alisnya.
"Ini terlalu banyak," desis Elijah parau, lalu menggenggam bandul kalung itu.
Evan kembali terkekeh. "Tibang kalung!" katanya enteng.
"Emang lu mau gua kasih kalung anjing?" Evan balas melotot.
Gak ada romantis-romantisnya!
Giliran Elijah sekarang yang terkekeh, tapi matanya berkaca-kaca. Jadi, apa artinya ini? ia bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu membenamkan wajahnya di dada Evan. Tak sanggup membendung tangisnya.
Evan mengerjap dan tertegun.
Kedua bahu gadis itu bergetar dalam genggamannya. Luluh lantak dan tidak berdaya.
Bukan karena pemberian Evan, tapi lebih kepada apa yang tak pernah dijelaskannya.
Elijah mengharapkan kepastian!
Lebih dari sekadar pemberian dan perkataan menyenangkan tanpa makna.
Ketidakpastian pria itu membuatnya lelah dan sangat frustrasi.
Pria itu telah memberinya banyak hal, melakukan banyak hal yang membuat Elijah berani menaruh harapan. Tapi di waktu yang sama, sikap ambigu pria itu mengecilkan harapannya. Membuat Elijah merasa dipermainkan.
Evan menggigiti bibir bawahnya dan mengernyit. Rasa hangat sekaligus perih menyelinap di sela-sela hatinya. Ia menurunkan sebelah tangannya dari bahu Elijah, kemudian melingkarkannya di pinggang gadis itu, sementara tangan satunya merambat ke bagian belakang kepala Elijah, membenamkan wajah gadis itu makin dalam ke dadanya.
Elijah semakin terisak.
Tubuh keduanya bergetar seiring dekapan yang kian mengetat.
__ADS_1
Dorongan hatinya semakin mendesak. Tapi Evan bahkan tak tahu apa yang harus ia katakan.
Bukankah ia knalpot racing yang hanya mengerti caranya meledak-ledak?
Sebagai seorang mekanik, Evan tahu cara mengatasi motor ngadat. Tapi cewek ngadat?
Ya, Tuhan… ratap Evan dalam hati. Anak orang nangis!
Di tengah kekalutannya, tiba-tiba suara bariton seseorang mengejutkan keduanya.
"Ehem!" ayah Elijah tahu-tahu sudah berdiri di pintu dapur. Menatap mereka seraya berkacak pinggang.
Bang Wi berdiri miring di sampingnya, menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu sembari bersedekap.
Evan melepaskan dekapannya secara perlahan, dan mendudukkan Elijah di kursi, lalu menyeka air mata gadis itu dengan punggung tangannya. Kemudian mengangkat wajahnya dan memaksakan senyum.
Ayah Elijah masih bergeming, mengawasi Evan dengan raut wajah dingin.
"Dia kecape'an," jelas Evan beralasan.
Tapi tidak sepenuhnya bohong.
Elijah memang sedang capek---capek ati!
Bukan begitu, Malih?
Baru perasaan, nyang dimaenin… belon nyang laen!
Bang Wi dan ayah Elijah mendekat perlahan ke meja makan.
Evan tidak terlihat gentar. Ia tetap bertahan di dekat Elijah dengan sebelah tangan melekat di bahu gadis itu.
Elijah menghela napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan, menyeka pipinya dengan telapak tangan, kemudian menoleh pada ayahnya dan memaksakan senyum. "Well, Dad! Kenalin, ini Evan!" katanya seraya menepuk punggung tangan Evan di bahunya. Lalu mendongak menatap wajah Evan. "Bang, ini Pacar Tua gue!"
Evan tersenyum dan mengulurkan sebelah tangannya untuk menyalami Koen van Allent. Pria itu menyambut uluran tangannya tapi tidak membalas senyumnya. Evan tidak ambil pusing. Apalah artinya senyum? pikirnya. Westerling juga senyum---kata Iwan Fals!
Koen van Allent menarik salah satu bangku, kemudian duduk di sisi Elijah.
Mau tidak mau, Evan terpaksa mengikutinya. Ia menarik bangku juga, kemudian duduk di sisi lain Elijah untuk menghormati orang tua itu. Tak peduli bagaimana orang tua itu akan memandangnya, Evan tidak berniat lari maupun menghindarinya.
Sementara itu Bang Wi juga tidak sekali pun berusaha menegurnya atau sekadar memberi isyarat bahwa ia sedang dalam masalah.
Itu terasa sedikit aneh, tapi sekaligus menenangkan Evan.
Tidak ada terguran artinya tidak ada yang salah!
Bang Wi menyalakan kompor dan menjerang air, sementara Evan terjebak dalam kebisuan yang menyiksa.
Koen van Allent tidak mengatakan apa-apa dalam waktu yang lama, sementara tangannya menepuk-nepuk lembut punggung tangan putrinya.
Elijah tidak bereaksi. Hanya tertunduk dengan kedua tangan terlipat di atas meja seperti anak sekolah dasar yang sedang menyimak pelajaran yang hanya masuk telinga kiri—keluar telinga kanan.
"Entah sudah berapa tahun berlalu," kata ayah Elijah dalam nada datar, setelah lama terdiam. "Sejak terakhir Daddy memelukmu."
Evan melirik Elijah melalui sudut matanya, untuk melihat reaksi gadis itu.
Elijah tetap bergeming.
__ADS_1
"Apa itu membuatmu patah hati?" tanya ayah Elijah.
Evan dan Elijah serentak membeku.