Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-29


__ADS_3

"Mama yakin sama keputusan Mama?" Bang Wi bertanya pada istrinya setelah pesta selesai.


"Mama percaya Evan bisa jaga Lea," tukas Bibi Aria seraya tertunduk di bak cuci, membersihkan perabot dari sisa-sisa bumbu.


"Ya, Papa juga percaya. Evan gak bakal macem-macem, dia pasti mandang Papa."


"Evan tidak memandang Lea sebagai keponakan Papa," bantah Bibi Aria.


"Ya, tapi di mata Evan, Lea cuma anak bocah!" sergah Bang Wi.


"Ya, tapi bukan sebagai keponakan Papa!" Bibi Aria bersikeras.


"Iya, sih!" Bang Wi akhirnya mengakui. "Bakat Lea yang bikin Evan penasaran. Dia bilang anak itu bisa jadi sesuatu."


"Berani taruhan sama Mama?" tantang Bibi Aria.


"Hah?" Bang Wi langsung melengak, tidak mengira istrinya begitu… mafian. Istri siapa sih, nih? pikirnya terkejut.


Bibi Aria membungkuk sedikit, mencondongkan tubuhnya ke arah Bang Wi. "Evan akan tetap penasaran meski Lea tidak berbakat apa-apa," bisiknya dramatis.


"Oke," sahut Bang Wi sekenanya, sebenarnya masih sedikit tergagap. "Tapi bukan itu intinya!" Ia menambahkan, nada bicaranya kembali normal---normalnya Bang Wi. "Mama sendiri yang bilang ayahnya nitipin Lea di sini biar dia terhindar dari temen-temennya. Asal Mama tau, anak-anak Jakarta pergaulannya lebih kacau dari temen-temen Lea."


"Selama Lea di sini, Lea adalah tanggung jawab Mama," tukas Bibi Aria. "Tapi selama Lea di Jakarta, Lea akan jadi tanggung jawab Papa. Lakukan saja bagian kita!" tegasnya. "Sisanya, bagian Tuhan!"


Bang Wi langsung terdiam.


Kesepakatan pun diambil.


Lea akan dibawa ke Jakarta!


.


.


.


Seusai sarapan, Lea mengemas semua barang-barangnya seperti ketika dia berangkat ke sini, membungkus gitar akustiknya dengan softcase, dan mengeluarkan buku diary dari laci meja, kemudian menjejalkannya ke dalam ransel.


"Em… Lea…" Delilah menghampiri Elijah seraya mendekap sesuatu.


Elijah mengalihkan perhatian dari ranselnya di tempat tidur dan menoleh pada Delilah.


"Over leven in God---mengenai hidup dalam Tuhan…" Delilah berkata ragu-ragu.


Elijah menutup ritsleting tasnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Delilah, kemudian mengerling ke arah dekapan sepupunya itu dengan alis bertautan.


"Ik heb iets voor je---aku punya sesuatu untukmu," Delilah menyerahkan sesuatu dalam dekapannya tadi ke tangan Elijah.


Elijah menatap pemberian sepupunya dan menelan ludah. Alkitab?


"Sorry het was niet mijn bedoeling---maaf aku tidak bermaksud…" Delilah menggantung kalimatnya dan tertunduk.

__ADS_1


"Het is ok---tidak apa-apa," kata Elijah memotong perkataan sepupunya seraya mengangkat Alkitab itu dan tersenyum. "Dit is een leuk cadeau! Dank je---ini hadiah bagus! terima kasih."


"Het lijkt misschien stijf—itu mungkin terkesan kaku," kata Delilah. "Maar weet, daarin staan alle antwoorden op elk probleem en Gods beloften geschreven---tapi ketahuilah di dalam sana tertulis semua jawaban untuk setiap persoalan dan janji Tuhan."


Elijah tertunduk dan mengulum senyumnya, lalu menyelipkan Alkitab itu ke bagian depan ranselnya. Semua? pikirnya tak yakin.


Sebagai orang percaya, Elijah tahu persis setiap kitab suci berisi janji Tuhan. Tapi semua jawaban untuk setiap persoalan…


Ah, Elijah tidak tahu saja, bahkan Cowok 4G tercatat dalam Alkitab. Evan Jeremiah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan salah satu cowok 4G dalam Alkitab.


Apa itu sepeda motor trail?


Elijah menunggangi kuda api!


Bukan Elijah yang ini, tapi Elijah yang asli dalam kitab suci.


Oh---hei! Kenapa Penulis Keparat ini malah sibuk membahas soal kitab suci?


Sorry! Deskripsi ini tidak dimaksudkan untuk mendoktrin, menginjili, maupun menghasut kalian. Apalagi menyinggung dan melecehkan suatu kepercayaan.


Itu hanya siasat untuk memperbanyak jumlah kata!


Semua orang juga menulis kisah religi, kan?


Tidak sedikit orang menyisipkan ajaran agama ke dalam cerita mereka. Jadi, kenapa Penulis Keparat tidak?


"God zegene je—Tuhan memberkati," kata Delilah sembari berbalik.


Sebuah truk kargo terparkir di depan pekarangan, satu per satu sepeda motor trail milik para racer Jakarta dinaikkan.


Sebuah minibus juga sudah menunggu di depan truk itu.


Sejumlah pemuda dan para racer pribumi berbaris dikawal aparat desa dan tokoh masyarakat, menyalami para racer Jakarta sembari tertawa-tawa, berbasa-basi sedikit dan mengucapkan selamat jalan.


Sejumlah warga dan para tetangga juga berkerumun di luar pagar, di sepanjang tepian jalan, bersiap untuk menggiring kepergian mereka, mengucapkan selamat jalan dengan melambai-lambaikan tangan.


Elijah keluar menjinjing ransel dan menyampirkan strap gitarnya.


Innu dan Igun mulai menghambur mengerumuninya dan berebut untuk membawakan barang-barang gadis itu. Maha memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik Elijah dan menuntunnya ke arah minibus.


Elijah memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.


Bang Wi segera merenggut lengan gadis itu dan menepiskan tangan Maha. "Kaga bole bat meleng dikit," gerutunya.


Evan melirik mereka dari belakang minibus—sedang sibuk menyusun barang-barang di bagasi.


Bibi Aria dan Delilah hanya tersenyum dan menggeleng-geleng, menyaksikan mereka dari tepi teras.


Ardian Kusuma sudah duduk manis di dalam minibus, bersandar dan bersedekap, tidak jelalatan seperti yang lain. Tetap cool down dan tidak bercela.


Galang berjalan melenggak-lenggok, melambai-lambaikan tangannya ke arah kerumunan warga seperti Miss Universe.

__ADS_1


Martin Hernandez menjewer telinga pria syantik itu dan menariknya ke dalam mobil. "Gosah sok cantik, gosah sok cantik!" cerocosnya memarahi Galang.


"Ish, kamu kasar, deh!" protes Galang---tetap sok cantik. "Cemburu, ya?" ejeknya dengan gaya manja.


"Gua cuma jijik!" sergah Martin.


Bemo dan Gigi terkekeh di belakang mereka.


"Lu duduk di depan, De!" instruksi Bang Wi pada Elijah sembari menuntunnya ke pintu penumpang depan.


"Lu pan yang tau jalan, Wi!" protes Evan sembari merenggut lengan Elijah dan menariknya.


"Astaga!" erang Elijah tak sabar. "Dikira gua tali tambang kali dari tadi betot sono betot sini."


"Aku kan yang ngajak kamu, Sayang!" tukas Evan---lebay.


Igun, Innu, Maha, sontak menyorakinya dengan makian sengit.


Evan dan Elijah mengernyit bersamaan sembari menutup telinga.


Bang Wi memelototi trio kacau itu dengan isyarat peringatan.


Cowok-cowok berengsek itu serempak mencelat ke arah pintu belakang dan mulai berebut masuk ke dalam mobil.


Evan melingkarkan sebelah lengannya di leher Elijah dan menariknya ke pintu belakang.


Bang Wi mendesah tak berdaya. Lalu membuka pintu depan dan menyelinap ke jok penumpang di sisi pengemudi.


Evan memilih tempat duduk paling dekat dengan pintu sementara trio kacau dihalau ke bangku paling belakang. Martin, Galang, Bemo dan Gigi duduk berderet di depan mereka.


Ardian Kusuma duduk sendiri di belakang jok kemudi di depan Evan dan Elijah. Tempat ekslusif untuk pria tampan eksklusif.


"Nere-Gandul! Nere-Gandul!" teriak Igun dari belakang. Minibus itu mengingatkannya pada angkutan umum pinggiran kota.


"Kacang-kacang!" timpal Innu.


"Yang aus, yang aus!" Maha tak mau ketinggalan.


"B a n g k e orok, b a n g k e orok!" sela Evan sembari menyandarkan punggungnya tanpa menoleh.


Seisi mobil tergelak menanggapinya.


Bang Wi sampai menoleh ke belakang sembari terkekeh.


Pengemudi minibus itu juga ikut terkekeh, tapi tidak menoleh. Pria seusia Bang Wi itu mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya diikuti truk kargo di belakang mereka.


Sejumlah warga yang berderet di sepanjang jalan desa melambaikan tangan ketika minibus itu melewati mereka.


"Berasa artis, ya?" cerocos Evan sembari nyengir kuda.


"Iya, artis skandal," sindir Elijah.

__ADS_1


Seisi mobil kembali tergelak.


__ADS_2