
Musik dangdut semi koplo menggema ke seluruh ruangan dalam gedung—di mana lagi kalau bukan—Diamond Billiards.
Ruang Pengawas di pusat olahraga itu sekarang sudah disulap menjadi ruang kostum sekaligus tempat istirahat untuk Elijah dan teman-temannya.
Wanda mengerang sembari memijat-mijat pangkal hidungnya akibat dentuman musik koplo.
Jati melemas di sampingnya seperti kain basah.
Di sampingnya lagi, Jimmy melipat sikunya di lengan sofa dan bertopang dagu sembari cemberut.
Devian dan Juna duduk bersisian di seberang mereka dengan gaya seragam---bersedekap dengan raut wajah masam.
Di sisi Devian, wajah Elijah lebih tak sedap lagi untuk dipandang. Lebih dari sekadar alunan musik dangdut, sofa lembut yang didudukinya juga terasa seperti kawat duri yang membuatnya terus beringsut karena tak nyaman.
Ditambah celoteh bernada prosais yang dilontarkan sang ketua Event Organizer.
Samar-samar gadis itu mendengar suara Evan.
"Pelaksanaan turnamen ini bertujuan untuk memberikan mengalaman dan pelajaran yang berharga dalam mengembangkan potensi diri para generasi muda, serta mampu memupuk kebersamaan dan persaudaraan."
Setiap inti sarafnya bereaksi aktif terhadap suara itu, membuat Elijah semakin gelisah. Ujung kakinya bergerak-gerak seperti ekor ular derik.
Devian menginjak kakinya yang tak mau diam.
Elijah terperanjat dan secara otomatis membuat Devian berdesis menahan tawa. Elijah memelototinya dengan isyarat peringatan.
Ketiga teman mereka di seberang meja serempak menoleh pada mereka.
Juna melirik mereka sepintas, lalu kembali menyimak penjelasan Oscar Tjang yang semakin lama semakin bertele-tele.
Elijah bahkan tak tahu apa saja yang dibicarakan pria itu. Pendengarnya terfokus pada pidato Evan di luar sana.
"Selain itu," Evan melanjutkan. "Diharapkan bisa menumbuhkan semangat sportivitas yang mengalir dalam semangat pemuda sebagai tulang punggung bangsa yang dapat melebur menjadi semangat pembangunan yang secara terus menerus menggelora dalam rangka menuju kemajuan Jakarta di masa yang akan datang."
Elijah mendesah kasar dan mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa dengan gerakan tak kalah kasar. Tak sabar untuk melompat dari tempat duduk sialan itu dan menghambur ke belakang gedung.
Jimmy dan Wanda sekarang meliriknya dan bertukar pandang.
"Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momen yang semarak bagi seluruh masyarakat, terutama bagi pecinta olahraga otomotif. Dan satu hal lagi," Evan menambahkan. "Guna mengembangkan dan membina Sumber Daya Manusia di bidang olahraga otomotif, kemungkinan turnamen ini akan dilaksanakan secara berkesinambungan dengan tujuan mencari bibit-bibit crosser yang handal khususnya di Jakarta untuk dapat berkompetisi pada event-event yang lebih tinggi."
Tepuk tangan meriah kembali menggema, disertai pekikan semangat para peserta.
“Saya berharap kepada seluruh pihak untuk memberikan dukungan sepenuhnya, sehingga turnamen ini berjalan lancar, tertib dan aman," lanjut Evan. "Dan kepada seluruh peserta," ia berpesan. "Saya berharap kalian semua bisa menjunjung tinggi sportivitas, jangan mudah tersulut emosi, utamakan keselamatan, memegang teguh sikap fair play sehingga dapat memaksimalkan potensi guna meraih prestasi. Salam olahraga!" Evan menutup pidato itu dengan mengepalkan tangannya, "Go EFS!"
__ADS_1
"Go EFS!" teriak seluruh anggota dan para peserta sembari mengacungkan tinju mereka ke udara.
Evan tersenyum dan berbalik, kemudian meninggalkan panggung melalui tangga belakang---menghindari Cici Maria. Lalu bergegas menuju gedung biliar.
Tak peduli gedung itu milik Ardian Kusuma, sesuai janjinya pada diri sendiri, Evan memutuskan untuk bersikap tak tahu malu.
Memangnya cuma bos yang bisa semena-mena?
Cowok berengsek juga bisa!
Maka dengan segenap keberengsekan yang dimilikinya, Evan memasuki pusat olahraga itu dan…
Langsung disembur Mbah Dukun-nya si Alan!
Pergilah kau setaaaan… jangan ganggu…🎶
Bersamaan dengan itu, Elijah tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dengan sentakan yang mengejutkan.
Seisi ruangan serempak terperangah.
Pasti bukan karena nyanyiannya, pikir semua orang.
"Gue pen ke toilet," katanya cepat-cepat, lalu bergegas keluar ruangan.
Oscar Tjang menelan ludah dan tersenyum masam, merasa sedikit jengkel.
BRUK!
Keduanya bertabrakan, tepat di depan Ardian Kusuma yang sedang berdiri sembari bersedekap mengawasi para karyawannya di dekat pintu ruang pengawas itu, dan secara otomatis membuat semua orang dalam ruangan---para pengunjung dan para wasit, menoleh pada mereka dengan terperangah.
Ardian Kusuma seketika kehilangan reputasinya sebagai pria elegan karena tersentak. Raut wajahnya terlihat syok.
"Jalan pake mata, dong!" sembur Evan tak bisa menahan diri.
Pertengkaran pun tak terelakkan.
"Di mana-mana orang jalan pake kaki!" sergah Elijah tak mau kalah. "Di mana otak lu?"
Cowok-cowok metal di dalam ruangan pengawas seketika berhamburan dari tempatnya dan berjejal di ambang pintu.
"Liat apa?" hardik Elijah pada mereka.
Cowok-cowok itu hanya melengak.
__ADS_1
Evan merenggut pergelangan tangan gadis itu dan menariknya. "Urusan kita belum selesai!"
"W---wait!" pekik Devian sembari melompat dan menangkap pergelangan lain tangan Elijah. "Bentar lagi dia mau perform!" geramnya pada Evan.
"Gua cuma pen pakein baju!" sergah Evan tanpa beban sedikit pun, kemudian menyentakkan tangan Elijah.
Juna tiba-tiba menerjang ke arah mereka dengan rahang mengetat, kemudian merenggut Elijah dari cengkeraman Evan.
Elijah mengerang tak tahan lagi.
"Lepasin!" geram Juna pada Evan.
Evan mengetatkan rahangnya dan balas menggeram, "Ini acara gua!" katanya tegas---singkat, padat, jelas, ketus.
Juna langsung terdiam---kalah telak hanya dalam satu langkah dan… sekakmat!
Devian mengerang dengan raut wajah tak berdaya.
Bahkan Ardian Kusuma, tidak berani memprotes ketika Evan akhirnya menggelandang Elijah keluar gedung.
"Evan—" Elijah memekik sembari menyentakkan tangannya dari cengkeraman Evan.
Evan tidak menggubrisnya. Cowok berengsek itu sekarang menyeretnya ke parkiran yang secara otomatis membuat semua orang yang dilewatinya melengak antara terkejut dan penasaran.
Igun, Innu, Dede dan Maha tergagap menatap keduanya dengan ekspresi terguncang.
Cici Maria terhenyak di tengah kerumunan---sama terguncang.
Evan melangkah ke atas sepeda motornya tanpa melepaskan cengkeramannya di tangan Elijah. "Naek!" desaknya pada gadis itu.
Elijah tergagap kebingungan sembari mengedar pandang.
"Naek!" ulang Evan tak ingin dibantah.
Innu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Elijah dan membuka mulut, tapi kemudian hanya membeku di tempatnya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Sejurus kemudian, Evan sudah melesat meninggalkan area sirkuit, melarikan Elijah entah ke mana.
"Kita mau ke mana sih, Bang?" Elijah bertanya setengah meratap begitu menyadari cowok itu membawanya ke jalur yang tak pernah dilewatinya. Ditinggal tengah jalan mati gua, pikirnya cemas.
Cowok itu tetap bungkam—membuat Elijah disergap anxiety.
Kurang dari lima menit, sepeda motor itu berhenti di depan gerbang sebuah rumah besar bergaya Prancis seukuran kantor pemerintah kota.
__ADS_1
Perbandingan antara rumah itu dengan sepeda motor Evan seperti langit dan… comberan. Tapi kedua petugas security yang berjaga di gerbang rumah itu langsung melompat dari pos jaga begitu melihat Evan, membuka pintu dengan tergopoh-gopoh, lalu membungkuk ketika Evan melewatinya.
Jangan bilang kalau gembel sialan ini tuan muda kaya juga?