Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-90


__ADS_3

"Gue gak enak sama Igun," jelas Evan. "Biar gimana juga Cici Maria deket banget sama dia!"


Elijah mendongak menatap Evan. "Jangan bilang kalo lu ngebonceng dia ke mana-mana juga karena gak enak sama Igun!"


"Itu gak kek yang lu bayangin, Lea!" tukas Evan.


"Oh, apa tepatnya yang gue bayangin menurut lu?"


"Gue ngebonceng dia karena waktu itu ban motor Igun bocor!"


Elijah langsung terdiam. Tapi tatapan tajamnya tak lepas dari sepasang mata cokelat Evan.


"Oke, gue salah!" kata Evan akhirnya. "Gue pergi gak bilang sama lu waktu itu." Ia mengaku. "Tapi gue berani sumpah, gue gak ada apa-apa sama Cici Maria."


Elijah mengerjap dan menelan ludah. Tatapannya mulai melembut.


Evan mendekat perlahan dan mengelus pelipis Elijah dengan sangat hati-hati, "Gue kangen sama lu, Lea!" bisiknya lirih.


Kelopak mata Elijah bergetar karena terharu. Tiba-tiba tersadar ia juga merindukan pria itu. Entah sudah berapa lama sejak terakhir mereka beradu pandang. Sesuatu yang paling dihindarinya setelah kepergian Denta.


Sekarang ia tahu kedua mata itu berbeda. Meski sama persis!


Tatapan teduh Denta yang menenangkan, meyakinkan Elijah bahwa pria itu bisa diandalkan, sementara tatapan liar Evan mampu mengobrak-abrik perasaannya, mengundang penasaran dan membuatnya berdebar-debar.


Sudah lama sekali ia tidak merasakan debaran seperti itu. Sekarang ia tahu di mana letak masalahnya. Ia tak pernah memandang mata itu lagi.


Evan bisa melihat sepasang mata Elijah sekarang berbinar-binar lagi. Jantungnya meletup seiring dorongan hasratnya yang kembali menggelora. Seraya tersenyum miring, ia menggenggam wajah Elijah dan menciumnya.


Elijah tidak menolak.


Pintu kamar itu tiba-tiba berderak membuka.


Elijah dan Evan terperanjat sementara mereka masih berpelukan.


"Evan—" wajah Cici Maria muncul di pintu dengan mata dan mulut membulat. "Kamu ngapain?" tanyanya tergagap. Lalu memelototi Elijah dengan mata terpicing. Meneliti tangan Evan dan Elijah yang saling memeluk. Lalu tiba-tiba wanita itu mencebik. "Oh, jadi kamu gitu, Van?" dengusnya tak jelas.


Evan mengerjap dan bertukar pandang dengan Elijah.


Lah, bocah ngapa ya?


Kira-kira begitulah isyarat dari tatapan keduanya.


"Katanya cuma ade-adean?" sindir Cici Maria tajam.


Elijah mengetatkan rahangnya dan melotot pada Evan, menuntut penjelasan.


Evan mengerang dan mendesah kasar. Ada lagi aja! pikirnya geram. "Lu apa, sih?" rutuknya pada Maria.


Wanita itu memutar tubuhnya dengan wajah cemberut, kemudian menghambur sembari menangis.


"Dia kenapa, sih?" Evan mengerang frustrasi. Lalu mengejar Cici Maria.

__ADS_1


Elijah tergagap dan terperangah. Begini lu bilang gak ada apa-apa? pikirnya merasa tersengat. Lalu menghambur keluar dan bergegas menyusul keduanya.


Pria itu menyeret Cici Maria menyisi ke pekarangan samping.


Elijah melihat mereka mulai bertengkar.


"Lu sebenernya kenapa, sih?" Evan berteriak pada Cici Maria.


"Kamu bilang dia cuma ade-adean, kan?" Cici Maria balas berteriak.


"Iya, terus kenapa?" Evan mengerang tak sabar.


"Terus ngapain kamu tadi di kamar Igun?" tuntut Cici Maria.


Tak butuh waktu lama untuk Elijah mencerna situasinya dan menyimpulkan bahwa hubungan mereka jelas tak sederhana. Gak ada apa-apa! Gak ada apa-apa! Kek taik! pikirnya geram. Lalu berbalik meninggalkan mereka sembari menendang tong sampah dengan sekuat tenaga.


BRUAK!


Ledakan suara itu menyentakkan semua orang.


Evan terperanjat dan menoleh pada Elijah dengan ekspresi kalut dan cemas.


Tong sampah itu terpelanting dan isinya berhamburan seperti habis dilindas truk.


Igun dan Innu menghambur ke pekarangan samping dan terperangah. Disusul Maha, Irgi dan Bemo.


Elijah melewati mereka dengan raut wajah angker.


"Lea—" Evan memekik tertahan ketika Cici Maria merenggut kasar lengan bajunya dan menahannya.


Elijah sudah menghambur keluar gerbang dan menghentikan sebuah angkot. Lalu mencelat ke dalam angkot itu dan melarikan diri.


"LEA!" teriakan Evan terdengar menggelegar. Ia menyentakkan tangannya dengan kasar dan menepiskan tangan Cici Maria dengan ketus.


"Evan!" Cici Maria meneriakinya.


Evan memelototinya dengan rahang mengetat. "Gua kasih tau sama lu, ya! Apa yang gue lakuin di tempat gue bukan urusan lu." Ia memperingatkan. "Dan satu hal lagi, dia pacar gua sekarang!" teriak Evan sembari menunjuk keluar gerbang di mana angkot yang membawa Elijah sudah menghilang.


"Jadi selama ini saya dianggap apa?" pekik Cici Maria menuntut.


Evan membelalakkan matanya dengan sikap mencela. "Lah, lu dateng ke sini sebagai apa?"


Cici Maria terperangah dengan raut wajah syok. "Jadi kedekatan kita selama ini gak ada artinya di mata kamu?"


"Kedekatan?" Evan mengulang perkataan Cici Maria dengan meninggikan suaranya. "Seinget gue lu juga deket sama semua orang di sini?"


"Saya deket sama mereka karena mereka temen-temen kamu!" tukas Cici Maria. "Saya kan datangnya ke sini, ke bengkel kamu—"


"Ya, ini bengkel gua!" sergah Evan. "Semua orang juga dateng ke sini buat manufaktur!"


"Nggak---Evan! Saya dateng ke sini buat kamu!" sanggah Cici Maria. "Jangan lupa, kita udah sering pergi bareng ke mana-mana!"

__ADS_1


Evan tertawa masam. "Lu yang minta anterin sono-sini!" dengusnya mengingatkan. "Lu yang terus ngikutin semua acara gua! Apa gua pernah ngajak lu?"


Cici Maria langsung terdiam.


Evan bukan tak sadar perkataannya bisa menyinggung perasaan Cici Maria. Tapi wanita ini sudah berpikir terlalu jauh dan tidak paham posisi. Bisa dibilang tak tahu malu.


Sedikit perkataan kasar tak membuat wanita itu lekas mengerti. Dia benar-benar perlu ditampar, pikir Evan tak sabar.


Apa yang memberinya keberanian sebesar ini?


Evan mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah memberi harapan pada Cici Maria.


Perempuan tak mungkin sepercaya diri ini jika tak pernah diberi harapan.


Tapi lalu ia ingat selama ini ia hampir tak pernah menolak Cici Maria.


Ramah-tamahnya selama ini ternyata disalahpahami.


Seharusnya aku tahu wanita ini bukan Elijah, sesalnya dalam hati.


Elijah tak pernah selancang ini sebelum yakin mendengar kata "I love you" meski jelas-jelas ia dipepet.


Kesadaran itu membuat Evan seketika menyesal telah berpikir untuk menyerah.


Elijah memang gadis yang layak untuk diperjuangkan! pikirnya sedih.


Evan berbalik dari Cici Maria yang sedang menangis memancing perhatian semua orang, ia mengambil sepeda motornya dan bergegas menyusul Elijah.


Tidak ada waktu untuk wanita lain! tekadnya dalam hati, lalu memacu sepeda motornya dalam kecepatan gila.


Begitu sampai di pekarangan rumah Bang Wi, ia mencampakkan sepeda motornya begitu saja, kemudian menghambur ke dalam rumah, melewati si pemilik rumah yang terperangah di teras depan.


Beberapa saat kemudian, ia kembali keluar dengan kalang-kabut. "Di mana Lea?" tanyanya setengah menghardik.


Bang Wi menanggapinya dengan tatapan tajam, "Dateng-dateng grasak-grusuk, maen nyelonong masuk, keluar lagi tereak-tereak. Keabisan obat lu?" semburnya sembari mengayunkan kakinya ke arah Evan. "Kalo sakit berobat sono, jan kemari!"


Evan melompat ke belakang menghindari tendangan Bang Wi. "Gua serius—di mana Lea?" tukasnya tak sabar.


"Ya, mana gua tau!" sergah Bang Wi berkilah. "Pulang kuliah aja belon dia!"


"Belon pulang?" Evan melengak tak yakin. "Dari tadi, Wi?"


Bang Wi memicingkan matanya. Menatap curiga pada Evan.


Evan mengerang frustrasi seraya mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Lalu memutuskan untuk menunggu sampai Elijah pulang. Ia mendesah dan menjatuhkan dirinya di kursi di sisi Bang Wi.


Kedua mata pria itu bergulir mengikuti gerakan Evan.


Evan tercenung dengan raut wajah kacau.


Keheningan menyergap mereka sampai waktu bergulir mencapai senja, dan Elijah tak kunjung kembali.

__ADS_1


__ADS_2