Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-43


__ADS_3

Sisa liburan tinggal sedikit lagi…


Semakin mendekati hari H, Evan semakin fokus pada tanggung jawabnya sebagai ketua komunitas dan semakin sibuk dengan urusan pelaksanaan event.


Rutinitas Elijah selama beberapa hari terakhir hanya seputar latihan, sarapan, latihan lagi, makan siang dan latihan lagi. Semakin maju kemampuannya, semakin jarang semua orang menegurnya, karena menurut mereka, Elijah tidak membutuhkan pengarahan lagi.


Demikian pada akhirnya, sisa liburan itu berlalu hampa tanpa dampingan Evan.


Sementara itu, Cici Maria semakin hari semakin rajin bertandang ke sirkuit dan semakin dekat dengan semua orang.


Cici Maria memiliki premis absolut untuk mendekati siapa pun yang dia inginkan dan menyela waktu semua orang di tengah kesibukan mereka. Cukup hanya dengan menunjukkan ID Card berlabel Pers, semua orang sudah dibuat tidak berkutik.


Kehadiran wanita itu terasa seperti dinding pemisah antara Elijah dengan semua orang, yang semakin lama semakin menjulang.


Dan yang paling buruk dari semua itu…


Di penghujung pekan, ayah Elijah tiba-tiba datang membawa seluruh keluarganya.


Dan…


Bersamaan dengan itu, Juna Lubis juga ikut serta bersama semua personel Babylon the Great.


Babylon the Great?


Elijah melengak tak yakin. Menatap teman-temannya dengan mata dan mulut membulat tanpa berani berkedip.


Hei—Penulis Keparat ini gak lagi vertigo, kan?


Keajaiban dunia ke-berapa yang membuat pak tua van Allent bersedia bergabung dengan teman-teman metalnya?


"Sejak kapan Dad akur sama mereka?" Elijah bertanya pada ayahnya sebagai ganti sapaan, "Halo!"


Ayahnya hanya mengangkat bahu, kemudian melewatinya dan menyalami Bang Wi sembari tertawa-tawa.


Keith dan Noah mencium pipi Elijah di kiri-kanannya, lalu keduanya pun melewatinya dan bergabung dengan ayah mereka.


Sementara mata Elijah masih terpaku menatap teman-temannya, Norah memeluknya dan berceloteh mengenai liburannya yang membosankan sembari bergelayut di leher Elijah. "Ayang kan, juga mau liburan di Jakarta!" rengeknya di akhir cerita yang entah apalah.


Elijah tidak terlalu memperhatikannya!


Keempat cowok di pekarangan rumah itu menatap Elijah tanpa berkata-kata. Juna dan Wanda menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana mereka. Jati melipat kedua tangannya di depan dada, sementara Jimmy mendongak sembari bertolak pinggang dengan gaya arogan.


"Lu berempat kek Ep-sye," cemooh Elijah pada mereka.


"Dan lu sedikit…" Jimmy mengomentari penampilan Elijah seraya meneliti gadis itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


"Four-G," sela Juna memotong perkataan Jimmy.


"Yeah---Gondrong!" timpal Jimmy.


"Ganteng," sambung Jati.

__ADS_1


"Gembel!" dengus Wanda.


"Gila!" tandas Juna.


Elijah tidak bereaksi. Norah masih menggelayuti lehernya. "Dad…" geram Elijah pada ayahnya.


"Norah!" hardik ayahnya pada si bungsu. "Kamu udah bukan anak kecil lagi. Berhentilah bersikap seperti bayi!"


Norah akhirnya melepaskan rangkulannya dari leher Elijah setelah ayah mereka merenggut pinggangnya dan menurunkannya dengan paksa.


Sementara Bang Wi menggiring keluarga Elijah ke dalam rumah, cowok-cowok metalhead itu beranjak perlahan ke arah teras tanpa bicara.


Elijah menjulurkan sebelah tangannya ke arah bangku rotan di dekat pintu masuk, mempersilahkan teman-temannya duduk. "Mau minum kopi? Teh?"


"Anggur!" potong Juna cepat-cepat.


"Kesemek!" seloroh Jati tanpa tertawa.


"Aer tajin buat Ijat!" cemooh Wanda.


"Aer keras buat si Juang!" balas Jati.


Elijah membeliak sebal, kemudian berbalik memunggungi mereka dan bergegas ke dalam rumah. "I'll be back!" katanya cepat-cepat.


Di ruang dapur, keluarga Elijah sudah duduk tertib di sekeliling meja makan, kecuali si Bungsu. Mata mereka bergulir ke arah pintu, ketika Elijah melangkah masuk.


Norah sedang mengendap-endap di dekat kompor minyak di sudut dapur dan bersiap untuk menempelkan telinganya pada benda itu.


Norah memiliki kebiasaan aneh, dia suka sekali menempelkan telinga pada benda-benda yang menurutnya sangat menarik. Katanya dia bisa mengetahui informasi mengenai benda terkait jika ia mendengarkan mereka.


"Dari mana Daddy tau aku di sini?" tanya Elijah sembari menggelandang Norah ke meja makan dan mendudukkannya di kursi.


"Coba tebak!" tantang Ayahnya seraya memutar kepalanya menghadap Elijah.


"Bibi Aria?" tebak Elijah.


"Siapa lagi?" tukas ayahnya sembari mengembangkan kedua tangan di sisi tubuhnya.


Elijah berbalik memunggungi meja makan, dan kembali ke sudut dapur. Lalu membungkuk di atas kompor minyak tanah tadi dan mulai menyalakannya menggunakan kawat yang mirip dengan kembang api.


Norah memperhatikannya dengan tatapan takjub. Lalu melompat dari tempat duduknya.


Ayahnya segera menyergap pinggang gadis itu dan mendudukkannya kembali ke kursi.


"Jangan bilang kalo Daddy ngajak mereka ke sini juga ide Bibi Aria!" Elijah mengayunkan ibu jarinya melewati bahu ke arah pintu setelah meletakkan cerek di atas kompor yang sudah berhasil ia nyalakan.


Ayahnya langsung menoleh, "Nee," sanggahnya. "Mereka sendiri yang punya ide buat jemput kamu di sini. Kebetulan—katanya, hari ini ada job di sekitar sini. Jadi…" ia menggantung kalimatnya dan mengedikkan bahunya sedikit.


"Dad izinin?" tanya Elijah tak yakin.


"Ya," jawab ayahnya singkat.

__ADS_1


"Hoi—Whoa…" Elijah tergagap. "Is het waar—Benarkah?"


"Niet alleen dat---bukan hanya itu," ayahnya menambahkan. "Kedua saudaramu juga akan menonton konsermu!"


"Maak je een grapje---Dad becanda?" Elijah membelalakkan matanya—menatap Keith dan Noah bergantian.


Kedua cowok itu menyeringai sembari mengacungkan dua jari mereka---telunjuk dan kelingking, membentuk simbol metal.


"Ayang juga mau nonton konser," teriak Norah menginterupsi—tidak ada menggubrisnya. Lalu ia mengacungkan telunjuk dan kelingkingnya juga mengikuti kakak-kakaknya.


"Dan, tolong berhenti ngomong Holland," protes Keith. "Otak gue langsung mengleng kalo denger bahasa asing."


Senyum Elijah langsung melebar.


"Dan satu hal lagi," ayahnya menambahkan, ia mengacungkan telunjuknya dengan isyarat "tunggu!" Kemudian merogoh ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan ponsel dan melemparkannya pada Elijah.


Elijah menangkapnya dengan mata dan mulut membulat.


"Hubungi pasangan duetmu!" ayahnya menandaskan.


Elijah berlanting dan menghambur ke arah ayahnya. "Dat is mijn dad---Itu baru ayahku!" pekiknya gembira, kemudian mendaratkan kedua lututnya di lantai dan memeluk lelaki tua itu setengah berjingkrak.


"Jangan coba-coba tautkan gelar Daddy Metalhead," seloroh Ayahnya sembari terkekeh dan mengusap-usap puncak kepala gadis itu. "Atau..."


"Papa Rock n Roll?" potong Elijah cepat-cepat.


Seisi ruangan spontan terkekeh.


Norah mengentak-entakkan kakinya di lantai dengan wajah cemberut. "Ish! Ayang dicuekin," rutuknya seperti akan menangis.


"Tipuan macam apa yang mereka gunakan untuk memperdaya Daddy?" kelakar Elijah sembari tertawa-tawa. Pasti bukan karena pesona Juna Lubis! katanya dalam hati.


"Nee!" tukas ayahnya di antara kekehan tipisnya. "Untuk pertama kalinya, mereka akhirnya tidak menipu Daddy!"


Seisi ruangan tergelak.


Norah tiba-tiba menggeram seperti harimau, menirukan gaya Devian saat performing. "GROAAAAAAARRR…."


Semua orang langsung terdiam dan menatapnya dengan terkejut.


Norah mengacungkan dua jari—telunjuk dan kelingkingnya, membentuk simbol metal di sisi wajahnya. "AAAAIIIING MAUUUUNG…!" geramnya masih menirukan vokalis metal, nyaring dan melengking. Lalu terbatuk-batuk akibat tersedak air liurnya sendiri.


Seisi ruangan terbahak-bahak.


"Hail!" Elijah menanggapi adik bungsunya, mengacungkan jari telunjuk dan kelingkingnya juga, membentuk simbol metal sembari terbahak-bahak.


"Itu sih bukan anak metal, Yang!" komentar Noah di antara gelak tawanya. "Tapi kena mental!'


Norah berhenti terbatuk-batuk. Kemudian bersedekap sembari membusungkan dadanya, mendongakkan rahang dengan mulut terkatup. Kedua matanya terpicing—menirukan gaya Elijah dalam foto sampul album Babylon the Great.


Semua orang sekarang terpingkal-pingkal.

__ADS_1


__ADS_2