
"Lu ngapain kemari bawa-bawa erte?"
"Gua—"
"Kenapa lu gak bawa keluarga lu sama anak-anak pemudanya sekalian?"
"Gua cuma—"
"Lu udah gua anggep kek adek gua sendiri, Bandi!" cecar Bang Wi, tak mau memberikan kesempatan sedikit pun pada Bandi. "Dan lu datengin gua bawa aparat?"
"Bang—"
"Gua mau semuanya dikumpulin!" sergah Bang Wi.
"Tapi, Bang… gua datang pen ngomong secara pribadi sebagai—"
"Pen ngomong secara pribadi?" Bang Wi memotong perkataannya lagi. "Dengan bawa erte?"
Kali ini Bandi langsung terdiam.
Ketua RT hanya tersenyum maklum.
"Duduk, Te!" Bang Wi mempersilahkan ketua RT mereka untuk duduk. "Sebelon dia ngumpulin semua orang, kita ngobrolin pepesan kosong aja dulu," selorohnya.
Bandi membeku dengan wajah tertunduk.
"Masih gak mau pergi?" hardik Bang Wi.
"I—iya, Bang! Gua cabut!" Bandi berbalik buru-buru dan bergegas meninggalkan pekarangan.
"Gua mau anak-anak yang tadi siang dibawa ke sini semua!" teriak Bang Wi.
"Siap, Bang!" Bandi mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh lagi.
"Sebenernya ada apa?" tanya ketua RT seraya menarik tempat duduk di teras itu.
"Gua yakin mereka udah cerita, kan?" tukas Bang Wi.
"Ya, tapi itu saya anggap cerita dari sebelah pihak," sanggah ketua RT itu—lumayan bijaksana.
Bang Wi mendesah pendek setelah mereka sama-sama duduk.
Waktu baru menunjukkan pukul lima sore, lewat sedikit.
__ADS_1
Bibi Aria muncul dengan nampan berisi tiga cangkir minuman panas dan sepiring ubi rebus. "Ke mana Bandi?" Ia bertanya seraya meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Gua suruh ngumpulin warga," jawab Bang Wi tanpa mengangkat wajahnya.
Bibi Aria mengerutkan dahi. Tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya mendesah tipis dan menggeleng sekilas, lalu kembali ke dalam rumah.
Delilah terlihat jauh lebih sibuk dari biasanya—membantu ibunya menyiapkan makan malam untuk semua orang. Hari ini terlalu banyak gangguan. Sementara Elijah harus merawat Evan, ayah dan ibunya harus kocar-kacir ke sana kemari, keluar-masuk rumah untuk menangani ini dan itu.
Kenapa sih, dia malah ambruk dalam keadaan begini? pikir Elijah frustrasi—otaknya terbalik!
Kenyataannya, keadaan menjadi begini karena Evan nyaris ambruk tadi siang.
Tapi akhirnya dia mau berlutut, berdoa di sisi tempat tidur menghadap ke arah Evan dan menutup mata, tapi lupa menutup pintunya.
Tuhan memerintahkan untuk menutup pintu dan menguncinya saat berdoa.
Tapi itu terlalu berisiko untuk saat ini.
Yah, Elijah tidak berpikir sampai sejauh ini sih! Terpikirkan saja tidak. Yang ia tahu, saat ini, ia perlu berdoa.
Semoga Tuhan maklum!
"Tuhan, Engkau berfirman supaya kami datang untuk meminta yang kami perlu. Aku pernah berdoa dalam hatiku, dan meminta pria ini untuk diri sendiri. Hari ini, Engkau memperlihatkan padaku bahwa aku bukanlah satu-satunya yang menginginkan pria ini. Kini, aku… bersama para malaikat-Mu dan semua orang percaya di seluruh dunia, bersatu hati dalam nama-Mu, kami berdoa… untuk semua wanita yang menginginkan dia…"
Maksudnya menginginkan Evan?
Termasuk dirinya?
Ya, Elijah sedang berdoa untuk dirinya, sekalian orang-orang yang bernasib sama.
"Puaskan mereka dengan kepastian supaya mereka berhenti bermain-main dengan dugaan dan angan-angan mereka," bisik Elijah pada Tuhan. "Berikanlah kerelaan dan ganti sepadan sekiranya pria ini tidak ditakdirkan untuk menjadi pasangan mereka."
Orang banyak mulai berduyun-duyun ke pekarangan rumah Bibi Aria.
Para pembalap pribumi juga berdatangan dengan mengendarai sepeda motor trail mereka.
Situasi di luar terdengar seperti bergemuruh.
Elijah bisa mendengar kegaduhan di luar sana. Jantungnya berdegup karena khawatir. Tapi dia masih berdoa dan tidak membuka mata. "Untuk pria ini… kami berdoa bagi kesembuhannya, pergumulannya, jiwa, raga dan rohnya, semuanya adalah milik-Mu, jadi, kami serahkan sepenuhnya hanya ke dalam tangan-Mu. Untuk Om Wi dan Bibi Aria, juga Delilah… mereka semua juga adalah milik-Mu, begitu pun rumah ini. Rumah ini berada di bawah kuasa-Mu, para malaikat-Mu berkemah di sekeliling rumah ini, jadi, siapa pun yang datang dan tidak sejalan dengan kehendak-Mu, mereka harus keluar. Sebanyak apa pun mereka yang datang dengan niat buruk terhadap penghuni rumah ini, Engkau akan membentengi kami. Sehebat apa pun mereka yang coba menyerang, Engkau jauh lebih hebat! Jadilah kehendak-Mu!"
"Amen!"
Elijah tersentak, membuka matanya dan terbelalak.
__ADS_1
Pria di tempat tidurnya menyeringai, menatap wajahnya. Wajah Evan masih terlihat sedikit pucat, tapi dia benar-benar sudah terbangun sepenuhnya. Hanya masih meringkuk. Kepalanya masih terasa sakit.
Sudah berapa lama dia sadarkan diri? pikir Elijah panik. Apa dia dengar semuanya?
Ya, Evan mendengar semuanya!
"Jadi gua satu-satunya cowok yang pernah lu doain?" goda Evan.
Elijah membekap mulutnya. Ia yakin sekarang wajahnya jauh lebih pucat dari wajah Evan.
"Kapan pertama kali lu doain gua?" cecar Evan sembari cengengesan. "Pacar bukan, apa bukan!"
Seketika Elijah berharap bumi terbelah dan menelan dirinya, lebih berharap lagi bumi terbelah dan menelan pria di depannya, mungkin itu jauh lebih baik daripada harus menyaksikan dia menikahi gadis lain.
Tuhan, tolong berhenti menggodaku! ratap Elijah dalam hati.
Keadaan di luar mulai kisruh. Tapi bukan karena serangan massa. Massa-lah yang sedang diserang. Giliran Bang Wi sekarang yang sedang mengamuk. Orang banyak itu sudah kehabisan kata-kata.
"Gua memang bukan orang sini. Tapi jan lupa siapa bini gua!" teriak Bang Wi sembari menunjuk istrinya. "Lu semua makan dari dia! Sawah lu, ladang lu, emang numpang di tanah siapa? Gak perlu mandang gua, tapi tolong pandang bini gua! Bini gua yang ngidupin setengah dari penduduk kampung ini!"
"Pah!" Bibi Aria menyentuh bahu suaminya, memberikan peringatan keras dengan sentuhan lembutnya. Ia tak berharap suaminya mengungkit hal ini.
Tapi Bang Wi tidak terpikirkan cara lain untuk menyelamatkan Evan. Bagaimanapun Evan dan teman-temannya adalah tanggung jawabnya. Bahkan Elijah. Tapi dia tidak memiliki kekuatan untuk membentengi mereka semua.
Bang Wi memang siap pasang badan untuk serangan fisik, tapi tak cukup siap untuk masalah peradaban.
Masalah peradaban selalu saja menjengkelkan!
Ini jelas hanya perang pengaruh.
Tidak ada cara lain selain memanfaatkan pengaruh istrinya sebagai tuan tanah.
Dan itu kelihatannya cukup berhasil.
"Satu hal lagi," lanjut Bang Wi, masih dalam nada tinggi yang menghardik. "Lu semua yang minta event ini dilaksanakan, lu semua yang minta anak-anak ini dibawa ke sini!" Bang Wi sekarang menunjuk barisan racer dari Jakarta yang turut dikumpulkan di pekarangan kecuali Evan. "Jangan lupa kalo mereka juga yang ngusahain pengajuan ke IMI sampe motor-motor ini bisa turun!" tunjuknya ke arah deretan sepeda motor trail yang terparkir di sepanjang pekarangan depan.
Para racer pribumi langsung tertunduk.
"Ini balesan lu semua atas jasa mereka?" geram Bang Wi dengan suara yang menggelegar.
"Pah—" Bibi Aria berbisik untuk menenangkan suaminya.
"Berapa unit motor trail yang lu dapet dari IMI?" gertak Bang Wi.
__ADS_1
Para pemuda pribumi tetap bungkam.