
Tiga buah mobil merangkak beriringan memasuki pekarangan rumah Bibi Aria.
Bibi Aria, Elijah dan Delilah menghambur ke depan dan berjejal di ambang pintu melongok keluar.
Satu per satu mesin-mesin dimatikan, lalu tak lama semua pintu mulai terkuak.
Mata ketiga wanita di ambang pintu itu serentak membulat dan berbinar-binar.
"Dad?" Elijah berlanting gembira sembari menghambur ke pekarangan, memeluk ayahnya dan mengedar pandang dengan mata bersinar.
Keith, Noah, Norah, Ira, Dian, Windy, Jati, Wanda, Jimmy dan Juna.
"Wat brengt jullie allemaal hier—Apa yang membawa kalian semua kemari?" Bibi Aria memekik takjub.
Elijah menghambur ke arah teman-teman Keith.
"Wie weet—Entahlah!" Ayah Elijah mengedikkan bahunya tak yakin. "Heimwee misschien---rindu rumah mungkin," jawabnya enteng.
Lalu Bibi Aria memeluknya.
"Trouwens---Omong-omong…" ayah Elijah menggantung kalimatnya seraya mengerling ke arah Elijah. "Waarom is deze stoute meid hier---Kenapa anak nakal ini bisa di sini?"
"Wel…" Bibi Aria mengikuti lirikan kakaknya.
Elijah tertawa gembira di tengah-tengah kerumunan teman-teman Keith, sementara Norah bergelayut di lehernya.
"Zoals ik zei… God gaf haar vleugels---Seperti kubilang… Tuhan memberinya sayap!" kata Bibi Aria seraya tersenyum penuh arti. "Kom binnen---ayo masuklah!" ajaknya kemudian.
Noah bergegas ke teras dan bercengkrama dengan Delilah, lalu berjalan beriringan mengikuti orang tua mereka.
"Aku tak percaya dia menghitungnya dengan tepat," Delilah bercerita mengenai persiapan yang dibuat Elijah di ruang makan.
Noah mengerling melewati bahunya, melirik ke arah Elijah. Dia terlihat kurus, pikirnya---gak nyambung.
Tak sampai dua menit, sejumlah sepeda motor sport berkonvoi memasuki pekarangan.
Semua mata serentak berpaling ke arah mereka.
Bibi Aria menghambur ke teras untuk melihat kegaduhan itu. Kemudian memekik, "Heb je ze uitgenodigd?---Kau mengundang mereka?" tanyanya pada Elijah.
Elijah tergagap dengan mata dan mulut membulat. "Nee—Tidak," jawab Elijah tanpa mengalihkan perhatiannya dari rombongan yang baru tiba itu. "Maar je hebt gelijk---Tapi Bibi benar," katanya lagi. "Ik heb me misrekend---aku salah menghitung!" ia menambahkan sembari mengedar pandang.
Innu, Maha, Irgi, Bimo, Dede, Gilang, Martin, Devian, dan terakhir…
Igun dan Bang Wi.
Bang Wi menurunkan helm dari kepalanya, kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Bibi Aria dari boncengan Igun.
"Papa?" Bibi Aria berlari menyongsong suaminya dengan wajah berseri-seri. Tapi tidak sampai bernyanyi sambil menari macam film Bollywood.
Tak lama kemudian, masuk lagi sebuah mobil…
Bugatti Masonry hitam-hijau!
Elijah menelan ludah dan membeku.
Semua mata sekarang tertuju pada pintu mobil yang mulai terkuak.
__ADS_1
Seorang pria tinggi melangkah keluar, mengenakan kaus tebal lengan panjang berleher tinggi berlapis long coat beludru tak kalah tebal, berdiri elegan di sisi mobilnya, menyapu seluruh tempat dengan tatapan teduh. Waktu seolah terhenti ketika pria itu mengedar pandang meneliti semua orang satu per satu, lalu berhenti pada Elijah.
Elijah tidak bergerak, tidak berkedip, dan tanpa sadar menahan napas.
Pria itu menutup pintu mobilnya dan melangkah perlahan ke arah Elijah.
Semua mata bergulir mengikuti gerakannya.
Igun dan Bang Wi sampai memutar kepala ketika pria itu melewatinya.
Pria itu berhenti selangkah di depan Elijah, kemudian merunduk mendekatkan mulutnya ke telinga Elijah dan berbisik, "Gue udah kek si Badai belon?" tanyanya.
Anak setan!
Elijah mengusap bagian belakang kepalanya sembari berpaling dan tertunduk, mengatupkan mulutnya mengulum senyum. Cowok berengsek! gumamnya dalam hati.
Devian menatap mereka di sisi sepeda motornya sembari berkacak pinggang. Lalu berdecak dan menggeleng-geleng. "Salah minum obat gua rasa, Si Anyeng!" komentarnya dalam gumaman datar.
Semua orang meledak tertawa. Baru sadar siapa yang datang.
"Evan!" Bibi Aria menghampirinya.
Evan menoleh seraya tersenyum simpul.
"Je ziet er… anders uit---Kamu kelihatan… beda!" Bibi Aria mengerling ke arah long coat Evan.
Elijah terkekeh gelisah tanpa berani mengangkat wajah.
Evan tertunduk mengawasi gadis itu seraya tersenyum samar. Kerinduan mencubit hatinya, menyayat sampai ke dalam-dalam.
"Ayo semuanya masuk!" Bibi Aria mengajak para tamunya seraya menggamit lengan suaminya.
Keduanya masih tertunduk dengan mulut terkatup.
Juna melirik mereka sekilas melalui sudut matanya, lalu tertunduk dengan raut wajah muram.
Evan berdeham. Sebelah tangannya terangkat, menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Sementara tangan lainnya bertolak pinggang.
Elijah mengangkat wajahnya perlahan, mencoba menatap Evan dengan ragu-ragu.
Pria itu sedang mengedar pandang ke seberang pekarangan. Rambut panjangnya tidak diikat seperti kebiasaanya. Dibiarkan tergerai begitu saja seperti kebiasaan Denta.
Sekarang Elijah mulai mengerti perbedaan paling mencolok antara kedua pria itu.
Evan suka mengikat rambutnya, sementara Denta lebih suka menggerai rambutnya.
Evan memiliki bentuk wajah oval berdagu bulat, sementara Denta berwajah tirus berdagu lancip.
Denta memiliki garis wajah yang lebih tegas. Menggambarkan watak yang keras jika dalam keadaan normal. Sementara Evan memiliki garis wajah yang halus namun terkesan lebih ketus.
Denta memiliki bulu mata tebal yang kaku, tapi memiliki tatapan teduh.
Bulu mata Evan jauh lebih lebat dan lentik. Tapi tatapannya terkesan liar.
Tiba-tiba tatapan liar itu beralih pada Elijah.
Elijah mengerjap dan terkesiap.
__ADS_1
Tatapan mereka bertemu dan… terkunci!
Perasaan Elijah berkecamuk antara rindu dan ragu. Pertemuan terakhir mereka menyisakan luka di hati Elijah, tapi kerinduan dalam hatinya lebih menyakitkan.
Elijah mengalihkan perhatiannya ke arah teras.
Teman-teman Babylon the Great-nya sedang merubung Devian dan menginterogasinya. Sesekali terdengar mereka saling memaki dan saling melempar lelucon, disertai gelegak tawa. Lama mereka tak bertemu, pasti acara temu-kangen itu tak akan cukup hanya sampai di situ.
Igun dan teman-temannya sedang menata parkiran sepeda motor di pekarangan samping.
Elijah kembali tertunduk dan melirik ke arah Bugatti Masonry yang dibawa Evan.
Evan mengikuti lirikan matanya dan tersenyum tipis. Mobil itu telah dibelinya dari ibu Denta.
"Ngerasa gak asing?" tanya Evan.
"Ya," jawab Elijah sembari tertunduk lagi. "Gue cuma heran gak liat Cici Maria!" ia menambahkan.
Evan tersenyum masam. "Setelah hari itu, Maria gak pernah ke bengkel lagi," jelasnya.
"Kenapa?" Elijah bertanya sinis. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Menatap Evan dengan skeptis.
"Seleksi alam," jawab Evan singkat.
Seleksi alam adalah prinsip dalam Teori Evolusi yang menyatakan bahwa makhluk hidup yang dapat beradaptasi akan tetap hidup sedangkan yang tidak akan berakhir.
Elijah langsung terdiam. Bola matanya kembali bergulir ke arah mobil Denta.
Evan mengawasi gadis itu untuk melihat reaksinya.
"Itu barang kedua yang gue beli dari hasil keringet sendiri," katanya berbasa-basi.
"Barang kedua?" Elijah menanggapi, juga dengan berbasa-basi.
Evan terkekeh tipis. "Apa yang gua punya selama ini… semuanya pemberian majikan gua, tau kan?"
Elijah terkekeh singkat sembari tertunduk. "Jadi… apa barang pertama yang pernah lu beli dengan hasil keringet sendiri?" tanyanya masih berbasa-basi.
Evan tidak menjawab.
Elijah mendongak menatap Evan lagi.
Evan mengerling ke arah kalung di leher Elijah.
Elijah mengerjap dan tertunduk seraya meraba bandul kalungnya.
Evan mendesah pelan dan mendekatinya. "Ik hoop… dat je een gevoel hebt van eigendom van wat ik heb—Kuharap… kau punya rasa memiliki atas apa yang kumiliki," ungkapnya dalam gumaman rendah, lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
Elijah menelan ludah dan mengangkat wajahnya lagi. Kelopak matanya bergetar saat menatap ke dalam mata Evan.
Mata Evan yang penuh kerinduan, memandang Elijah dengan rasa sayang, tak bisa menahan diri untuk tidak meraup gadis itu ke dalam dekapannya.
Elijah luluh lantak dalam dekapan Evan, tak berdaya melawan dorongan hasratnya yang sangat mendesak.
Setiap jengkal tubuhnya yang melekat dengan tubuh Evan, membuat semua semburan kalimat kemarahan di otaknya mendadak pergi berganti hasrat yang menggelegak.
Perasaan liar, panas, membakar dirinya tanpa kendali.
__ADS_1
Perasaan itulah yang dimaksud Evan dengan merasa memiliki apa yang dia miliki. Karena Evan memilikinya juga.