
Innu menyisi dari kerumunan dan memisahkan diri dari yang lain. Ia memesan segelas kopi dan duduk cemberut di bangku pojok pekarangan di bawah pohon---entah pohon apa—Author lupa.
Kalau tidak salah…
Pohon jamblang!
Pohon jamblang alias duwet atau biasa disebut jambu keling---Syzygium cumini adalah sejenis pohon buah dari suku jambu-jambuan---Myrtaceae.
Yodah—gosah dibahas lah, Jamblang!
Intinya ngupi di bawah pu'un memang pilihan terbaik saat Saudara sedang galau.
Makin ngaco kan, deskripsinya?
Kembali ke Innu yang masih syok melihat gadis pujaannya jatuh pingsan setelah terpelanting dari sepeda motornya. Perasaan kesalnya pada Evan sedikit berkurang setelah sejenak menenangkan diri. Sebagai gantinya, sekarang ia kesal kepada dirinya sendiri karena merasa gagal melindungi gadis itu.
Saat gadis itu jatuh…
Bukankah seharusnya ia menggendongnya ala-ala bridal?
Tapi kenapa dia malah meninggalkan gadis itu dan membiarkan Maha yang menggendongnya?
Bodoh! rutuk Innu dalam hati, memarahi dirinya sendiri.
Akibat terlalu panik, ia sampai tak bisa berpikir jernih. Alih-alih menolong Elijah, ia malah mengamuk memarahi Evan, mempermalukan dirinya di depan semua orang.
Ganbatte, Mas Nu!
Author bisa mengerti, kok!
Yah, sebetulnya bukan hanya Innu yang masih syok melihat Elijah tiba-tiba pingsan.
Devian juga tidak mengira hal itu bisa terjadi pada pasangan duetnya yang terkenal paling gahar di panggung festival. Meski ia sudah punya firasat—hari ini bakal gila, tapi bukan itu yang dibayangkan Devian.
Pasti bukan karena benturan di bagian belakang kepala atau apalah, pikir Devian. Biasa ga moshing sampe pusing!
Ga, ya---bukan gak---pronoun dari kata tidak. Ga di sini kependekan dari kata juga.
Istilah dan kata dalam bahasa gaul zaman now, seperti pen---pengin, kek---kayak---pron cak seperti, atau sapa---siapa, dan lain sebagainya, akan banyak ditemukan di sepanjang novel dalam cerita ini.
Maklum! Author-nya masih ada keturunan Arab—Arab maklom!
Devian tersenyum samar dan melirik sekilas pada Evan, lalu menatap Elijah. "Biasa maenan spul gitar, maenan spul motor," ejeknya sembari menyeringai.
__ADS_1
Semua orang tertawa menanggapinya.
Innu melirik mereka dengan tatapan muram, ketika Igun menyelinap ke tengah-tengah kerumunan dan menyodorkan sekotak susu kacang hijau pada Evan.
Evan memberikan susu itu pada Elijah dengan tatapan lembut yang... jelas terlihat dipenuhi perhatian.
Tiba-tiba Innu merasa tak yakin Evan tidak memiliki perasaan istimewa terhadap Elijah. Kalo suka bilang, A n j i r ! gerutunya dalam hati.
Seolah bisa merasakan dirinya sedang dihujat, Evan tiba-tiba bersin.
Elijah yang sedang menyesap susu kacang hijaunya spontan mengernyit sembari memundurkan kepalanya, menjauhkan wajahnya dari wajah Evan tanpa melepaskan sedotan dari mulutnya.
"Sapa yang maki Bang Tampan?" Evan merongos pada gadis itu seolah semua salah Elijah.
Gua sih muji elu terus, Bang! Elunya aja yang kaga peka, kata Elijah dalam hati. Tapi tidak mengatakan apa-apa, hanya menatapnya dengan alis bertautan.
Cowok itu balas menatapnya juga dengan alis bertautan.
Dan tanpa disadari, keduanya beradu pandang---cukup lama untuk menjadi tontonan semua orang.
Devian tiba-tiba melingkarkan sebelah lengannya di seputar leher Evan dan menarik kepala bajingan itu, mendekatkan mulutnya ke telinga Evan, "Masih mau bilang gak suka sama dia?" bisiknya setengah menggeram.
Evan menyeringai sembari balas berbisik—juga setengah menggeram, "Gua pan kagak bilang kalo gua gak suka," tukasnya beralasan. "Gua cuma bilang doi masih bocah!"
"Udah mulai murtad lu ya, sama Bang Tampan," ancam Evan di antara senyum palsunya yang menjengkelkan.
Devian membalasnya dengan senyum palsu yang sama dan kembali berbisik, "Sekarang lu bebalik bocah, bukan lagi Kakak Senior," cemoohnya.
Evan tersenyum semakin lebar pada Devian sementara kakinya menginjak kaki bajingan itu diam-diam dengan tekanan pengkolan.
Devian meringis di antara senyum palsunya yang semakin lebar.
Elijah memperhatikan keduanya sembari menyesap susu kacang hijaunya menggunakan sedotan dengan raut wajah polos—kebalikan dari sebelumnya, kali ini Elijah tidak bisa mendengar pembicaraan kedua cowok itu meski jaraknya relatif dekat.
Seorang anak laki-laki seusia Igun menghampiri Evan dan menyela pembicaraan. "Bang Je, ada yang mau registrasi," katanya memberitahu.
Semua orang serentak menoleh pada anak itu, kemudian meneropong ke arah sirkuit.
Sejumlah pengendara sepeda motor trail bergenre dual-sport berbondong-bondong memasuki area sirkuit.
Elijah mengerutkan keningnya dan melirik Evan dengan tatapan curiga.
Dia bilang kompetisi grasstrack gak pake motor trail? Terus kenapa para peserta yang mau registrasi ini pada bawa motor trail semua? Elijah mulai bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Meski berbeda genre, di mata Elijah sepeda motor trail itu tetap saja kelihatan sama. Lagi pula dia masih belum mengerti apa-apa soal grasstrack dan motocross. Tapi perasaannya mengatakan ada yang salah dengan penjelasan Evan.
"Gi! Moh!" Evan melirik ke arah Gigi dan Bemo dengan isyarat perintah, yang secara otomatis membuat kedua cowok itu bergegas ke sirkuit.
Lalu semua orang mengikuti mereka, kecuali Evan.
Elijah merenggut lengan kemeja cowok itu dan menahannya.
Devian menoleh sekilas ke arah mereka dan melirik pada Innu yang mulai beranjak dari bangkunya sembari mendelik pada Evan dengan ekspresi cemberut, lalu bergegas mengikuti yang lain.
Devian melanjutkan langkahnya dan mengabaikan pasangan keparat itu. Elijah akan baik-baik saja, pikirnya menenangkan diri. Evan takkan meninggalkannya!
Lu yakin, Pé?
Yupz!
Devian berani bertaruh Evan takkan bisa tenang kalau harus meninggalkan Elijah sekarang.
"Lu punya utang penjelasan sama gue," geram Elijah pada Evan setelah semua orang pergi, kecuali kedua orang tua Igun tentunya—mereka pemilik warung. Kalau mereka ikut pergi juga siapa yang mau jualan? Evan?
Penulis Keparat mulai sakit jiwa!
"Penjelasan apa?" Evan menoleh pada Elijah sembari menaikkan sebelah alisnya, pura-pura tak mengerti.
"Lu bilang grasstrack gak pake motor trail!" sembur Elijah sembari mencubit lengan Evan.
Evan spontan memalingkan wajahnya ke sembarang arah sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, menyembunyikan senyuman geli. Anak ini… ternyata gak bocah-bocah amat meskipun kelakuannya masih kayak bocah esde, batinnya merasa tergelitik. Kagak bisa diboongin!
"Lu mau jelasin soal ini… Pelatih!" tuntut Elijah sembari menggemeretakkan gigi.
Evan mengernyit sembari menggigit bibir bawahnya menyembunyikan tawa, lalu kembali duduk di samping Elijah tanpa berani menoleh pada gadis itu. "Begini," katanya pura-pura bijak sementara isi kepalanya mulai memikirkan modus baru.
Bersamaan dengan itu, Dede muncul menyela mereka. "Bang, ada temen media yang pen ngobrol sama Abang!"
Jiah!
Sialan!
Dua orang wartawan---pria dan wanita, berjalan ke arah warung seraya tersenyum lebar dan mengangguk sekilas pada Evan.
Elijah menggembungkan pipinya sembari memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak. Merasa tersengat melihat senyuman lembut Evan yang ditujukan pada tamunya.
Salah satu dari wartawan itu seorang wanita cantik berusia kira-kira dua puluh lima tahun, yang senyuman dan tatapannya tidak bisa menutupi isi kepalanya---jelas sekali wanita itu mengagumi Evan.
__ADS_1