
"El?!" Denta memekik terkejut ketika Elijah kembali dalam keadaan panik.
Elijah melepas helmnya dengan kasar, kemudian melompat turun dari sepeda motor dan menghela napas dalam-dalam. Gadis itu berdiri limbung dengan kedua lutut gemetar.
Denta mengerutkan dahinya.
Elijah menghembuskan napas berat dan menatap ke arah Denta. Lalu memaksakan senyum.
"Kamu baik-baik aja, kan?" Denta menghampiri gadis itu dengan tatapan khawatir.
"Gapapa," Elijah menjawab cepat-cepat, sedikit terengah-engah. "Gue cuma… rindu," katanya menirukan gaya gombal Denta.
Denta mengulum senyumnya. Kau pikir aku percaya? katanya dalam hati. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengusap puncak kepala Elijah seperti kebiasaanya.
Sejak pertama melihat Elijah, Denta tahu gadis itu tidak selalu terbuka. Banyak hal disembunyikan darinya. Tapi Denta tidak ingin tahu.
Yang penting dia di sini! pikirnya.
Bagi Denta, kehadiran Elijah dalam hidupnya bukan semata karena kebetulan, tapi sebagai jawaban atas doanya.
"Bawalah kepadaku seseorang yang kepadanya aku bisa menitipkan mimpiku!"
Dan Tuhan mengirim Elijah.
Begitu besar kecintaannya pada motocross, sampai-sampai ia mengira bahwa ia mungkin takkan mati dengan tenang sebelum yakin sepeda motornya diwariskan ke tangan yang tepat.
Ini bukan tentang materi duniawi atau hasrat kedagingan yang tak bisa ia relakan. Tapi tentang spirit yang perlu ditularkan.
Aku tak peduli bagaimana aku akan mati, atau kapan aku mati. Tapi sisa hidup yang menjadi berkat sepertinya jalan terbaik untuk pergi dalam damai.
.
.
.
Suara-suara sepatu berdebuk di lantai koridor, riuh rendah tawa dan perbincangan menggema di selasar-selasar Institut Kesenian Jakarta.
Elijah berjalan ke arah tangga, sementara bunyi berdebuk-debuk itu terdengar semakin ribut. Para pelajar berkeriap di sepanjang koridor, sebagian berkelompok dan berjalan pelan sembari berbicang-bincang, sebagian bergegas tanpa menoleh ke sana kemari, tak sabar untuk segera sampai di pekarangan.
Elijah berbelok di sudut dan menuruni tangga yang menuju pekarangan. Ketika ia membetulkan letak ranselnya, sejumput rambut ikal badainya yang sekarang sudah mencapai pinggang terjepit tali ranselnya. Ia berhenti berjalan, mencoba melepas rambutnya.
"El, tunggu! El!" Seseorang tiba-tiba memanggilnya.
Elijah berpaling dengan alis tertaut, terkejut melihat wajah familier di tempat yang masih asing.
Deny Darmawan—DeDe, melambai-lambai kepadanya di atas kepala orang-orang. "Tunggu!" teriaknya lagi.
Elijah balas melambai, kemudian menyisih ke pinggir selasar. Ia bersandar pada pilar, merogoh saku celana jeans-nya untuk mencari ikat rambut.
Ia melihat Dede berlari menembus kerumunan ke arahnya. Penampilannya terlihat keren tanpa wearpack. Rambutnya OTW gondrong.
__ADS_1
"Lu kuliah di sini?" seru Dede gembira. Matanya yang hitam berbinar-binar.
"Kagak!" kelakar Elijah sembari menguncir rambutnya dan kembali berjalan. "Gue lagi ngemis!"
Dede terkekeh sembari menjejeri Elijah. "Lu masih tinggal di rumah Bang Wi, kan?" tanya Dede—sok kepo. "Kok, lu gak pernah nongol lagi di sirkuit?"
Elijah hanya mengangkat bahu. Tak ingin menjawab pertanyaan Dede yang jelas sekali cuma basa-basi-busuk.
Dede mungkin tak tahu permasalahannya dengan Evan. Dede tidak di sana saat Turnamen Grass Track.
"Dua minggu lagi kejurda motocross. Lu gak mau ikutan?" lanjut Dede.
Elijah tidak menjawab. Tak yakin apakah dia benar-benar siap untuk kembali ke sirkuit, meski di sisi lain, Denta juga terus mendesaknya.
Ketika langkah mereka hampir mencapai dasar tangga, seseorang mendorong Elijah dari belakang. "Monyet!" gerutunya spontan---keluar aslinya.
Orang-orang serentak menoleh.
Elijah merasa di dorong ke samping dengan keras. Buku-bukunya berjatuhan dari tangannya, tas punggungnya melorot dari bahunya.
Di dasar tangga, kerumunan mahasiswa terlihat makin padat. Dan sekarang mereka semua menatap Elijah.
Elijah menyentakkan kepalanya ke samping, menoleh ke belakang—bertanduk!
Dede mengikuti arah pandangnya.
Seorang gadis membeku di belakangnya memandang Elijah dengan ketakutan. "Ma—maaf!" sesalnya terbata-bata. "Gu---gue… gue kepeleset. Gue gak maksud dorong elu! Sumpah!"
Dede mengerjap dan melirik Elijah dengan takut-takut, lalu melirik gadis di belakangnya dengan prihatin. "Udah, yuk! Cabut!" ajak Dede cepat-cepat. Barangkali khawatir Elijah akan meledak.
Baru ga masuk, udah pen rusuh!
Lalu keduanya bergegas meninggalkan tangga.
Kerumunan di dasar tangga tadi serentak menyisi ketika Elijah melewatinya.
Mencapai pintu gerbang, sebuah bugatti mansory sudah terparkir menunggu Elijah.
Dede terperangah dengan mata dan mulut membulat ketika si pengemudi mobil mewah itu mendekat menyongsong Elijah dan melingkarkan sebelah tangannya di bahu gadis itu.
"Gue duluan ya, De!" Elijah berpamitan. "Salam buat anak-anak!" katanya tanpa menoleh lagi.
Dede tidak menjawab, tatapannya tidak beralih dari wajah tampan yang mirip sekali dengan Evan. Mulutnya tergagap-gagap, ketika ia mencoba mengatakan sesuatu tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Denta melirik sekilas pada Dede dan tersenyum samar, lalu menghilang ke dalam mobilnya.
Dede masih membeku menatap kendaraan itu seperti melihat hantu.
"Gue pen ke tempat om gue sebentar," kata Elijah setelah mereka meninggalkan kampus, tidak menyadari apa yang terjadi. "Gue pen ngambil buku."
"Di mana alamatnya?" tanya Denta. Lalu berbelok setelah Elijah mengatakan alamat Bang Wi.
__ADS_1
Mendekati gang menuju rumah Bang Wi, Denta menyisikan mobilnya di depan sebuah minimarket.
Elijah spontan mengerutkan dahi. "Kenapa parkir di sini? Di rumah om gue pekarangannya luas, kok! Bisa buat parkir mobil."
Denta menanggapinya dengan senyuman tipis, "Ada sesuatu yang mau saya beli," katanya datar.
Elijah mendesah dan memaksakan senyum, lalu membuka pintu dan menyelinap keluar.
Denta mengawasinya dengan dahi berkerut-kerut, seperti sedang berpikir keras. Tapi kemudian mendesah dan terkekeh tipis seraya menjatuhkan kepalanya ke sandaran jok. Ia bahkan tidak keluar setelah Elijah pergi.
Sekali lagi, Elijah tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Gadis itu sudah mencapai pekarangan ketika didapatinya pintu depan rumah pamannya terbuka lebar.
Ia bergegas ke dalam dan membeku di pintu ruang makan. Merasa tersengat melihat dua wajah yang paling dihindarinya—-Evan dan Cici Maria.
Kenapa mereka ada di sini?
Ngapain si kampret ngajak Maria ke rumah om gue?
Apa mereka sekarang pacaran?
"Lea!" seru pamannya di dekat kompor.
Evan dan Cici Maria serempak menoleh ke arah pintu dan terkesiap.
Elijah menelan ludah dan mengetatkan rahangnya. Ya, pikirnya merasa terbakar. Mereka udah pacaran! Kalo nggak ngapain sampe ke sini aja mereka berdua-duaan? Ia menyimpulkan. Lalu berbalik menuju kamarnya.
Suara berderak dan berdebuk ribut terdengar dari ruang makan.
"Lea!" Evan memekik dan menghambur dari pintu dapur.
Elijah tidak menggubrisnya. Ia bergegas ke dalam kamarnya, mengumpulkan semua barang-barangnya dan mengemasnya dengan buru-buru.
"Lu mau ke mana lagi?" pamannya berteriak gusar di pintu kamarnya.
"Gue udah dapet tempat tinggal, Om!" kata Elijah tanpa menoleh.
"Lu yakin masih mau nge-kost?" Pamannya bertanya lagi.
Elijah tidak menggubrisnya juga.
Kedua pria di pintu kamarnya bertukar pandang.
Evan memberanikan dirinya memasuki kamar dan mendekati Elijah, "Lea—"
Elijah menutup kopernya dengan kasar dan menyeretnya tak kalah kasar. Lalu bergegas keluar melewati Evan, mendorong pamannya dengan sikap ketus.
"Lea!" Bang Wi tersentak dan terbelalak. Terkejut melihat perangai keponakannya.
Evan membeku di tempatnya, menatap punggung Elijah dengan perasaan terluka.
__ADS_1