
Satu tembang pembuka—Bicycle Race, sebuah mahakarya musisi legendaris dunia—Queen, disuguhkan Devian dan teman-temannya sebagai pengantar sebelum acara resmi dibuka.
Mungkin tidak terlalu tepat mengingat isi lagu itu bercerita tentang balap sepeda, tapi jelas pilihan yang bijak dibanding harus menyuguhkan lagu-lagu asli mereka yang rata-rata berisi kutukan dan kegelapan.
"Bicycle, bicycle, bicycle…" Song awal dinyanyikan semua personel Babylon the Great dengan cara akapela—tanpa instrumen, namun masing-masing player sudah bersiap dengan alat musiknya.
"I want to ride my…" Devian mengambil bagiannya.
Disambut kor personel lainnya, "Bicycle, bicycle, bicycle…" secara bersahut-sahutan sebagai penggebrak, sesaat sebelum musik dimainkan.
Tepuk tangan meriah para penonton menggelegar bersama pekik-jerit para wanita pengagum Devian.
Grup band beraliran keras itu tampil memukau dan lebih elegan dengan tema klasik rock, meski kostum mereka tetap dominan hitam.
Tiba-tiba…
Dari balik punggung Devian, muncullah Elijah mengambil bagiannya, "I want to ride my bicycle, I want to ride my bike… I want to ride my bicycle, I want to ride it where I like…"
Tepuk tangan dan teriakan histeris semakin meninggi seperti mesin penggiling raksasa yang mendirikan bulu roma. Bukan hanya para wanita yang menjerit histeris, para pria bersorak sembari berjingkrak seiring kemunculan Elijah.
Vocal female itu tampil s e x y dengan blus ketat bertali tipis yang silang-menyilang, ditunjang korset Gothic Underbust bergaya Steampunk yang menonjolkan belahan dadanya, dipadu celana ketat dengan sepatu boots selutut berwarna—apa lagi kalau bukan—hitam.
Evan sampai tak berkedip menatap gadis itu dari seberang lapangan. Bukan karena kostumnya, tapi karena suara gadis itu terdengar… tak asing.
"You say black," vocal female.
"I say white," vocal male.
"You say bark!"
"I say bite!"
Lagu itu menggetarkan jantungnya begitu vocal female mengambil perannya, membuat Evan spontan menoleh ke arah panggung dan terkesiap. Udara di paru-parunya berdesing keluar, begitu ia menyadari sosok vocal male adalah Devian.
Tidak salah lagi, pikirnya. Kalau vocal male adalah Devian, sudah bisa dipastikan vocal female adalah Elijah. Darahnya seketika berdesir memompa jantungnya hingga meletup-letup.
Lalu…
Semuanya menjadi semakin jelas ketika vocal female itu membungkuk di tepi panggung sembari menunjuk ke arah penonton dengan teriakan berima yang menggetarkan, ditambah pose menantang khas Lady Metalhead. Sebelah kakinya terangkat menjejak perangkat sound monitor dengan sebelah tangan terlipat di atas lututnya. "I say hey man…"
Para penonton pria spontan menggila.
Igun, Innu, Dede dan Maha serempak tergagap di samping Evan, menatap ke arah panggung dengan mata dan mulut membulat. Keempat cowok itu juga hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Kecuali tidak melihat Devian, cowok-cowok berengsek itu juga takkan mengenali siapa penyanyi wanita itu.
Elijah terlihat sangat… berbeda!
__ADS_1
"Cewek banget!" pekik Igun spontan.
"Cantik banget!" komentar Innu setengah menggumam, lebih kepada dirinya sendiri.
"S e x y banget!" gumam Maha setengah tak sadar.
"Gede banget!" decak Dede.
"Sengaja banget!" geram Evan mengejutkan para bajingan di kiri-kanannya. Kilatan di matanya menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Semangat hidupnya kembali berpendar.
Knalpot racing kembali beraksi!
Semburan perkataan kasar dan hujatan meluncur dari mulutnya tanpa kendali. "Sialan!"
Apa gua ngomong kurang jelas kemaren? rutuknya dalam hati. Gua kata gak suka dia jadi pusat perhatian. Sekarang area keramatnya malah diumbar!
Innu dan Maha menatapnya dengan alis bertautan.
"Kenapa si Dwi gak bilang kalo konsernya di mari?" gumamnya tak jelas. Sekadar mengalihkan perasaannya yang juga tak jelas. Jantungnya berdebar-debar karena gembira.
Ia belum kehilangan gadis itu!
Tapi…
Bukan knalpot racing namanya kalau tidak meraung-raung.
Igun terkekeh dan menggeleng-geleng. "Jangan lupa bahagia, Bang!" responnya.
"I want to ride my bicycle, bicycle, bicycle, bicycle… bicycle… race!" Sekarang semua personel menyanyi bersama secara serempak dan bersahut-sahutan.
Sela—Musik terjeda.
Di bagian ini seharusnya didukung suara bel sepeda bersahut-sahutan. Tapi karena konser ini terlalu mendadak, Wanda sebagai keyboardis tak sempat merekam efek suara itu. Jadi sebagai gantinya, para racer—yang tentu saja sudah di-setting Devian sebelumnya—menyalakan klakson sepeda motor secara bersahut-sahutan.
Satu lagu pembuka itu akhirnya sukses menuai kemeriahan.
Pihak Event Organizer---Oscar Tjang tersenyum puas atas kerja para personel itu. Begitu pun Ardian Kusuma yang mensponsori seluruh acara.
Selesai satu lagu, grup band itu turun panggung sementara dua MC menggantikan mereka sembari bersorak gembira dan berceloteh bersahut-sahutan dengan penuh antusias.
Tepuk tangan meriah dan teriakan para penonton gegap-gempita menyemarakkan suasana.
Evan segera menyeruak ke belakang panggung, menguak kerumunan para penonton. Beberapa orang menggerutu dan meneriakinya. Evan tidak menggubris mereka.
Mencapai belakang panggung, Evan menghentikan langkahnya secara mendadak, kemudian menenggelamkan diri di antara kerumunan banyak orang.
__ADS_1
Target incarannya sedang berdiri di anak tangga terakhir di belakang panggung, di sambut seseorang yang sepintas saja sudah dikenali Evan—Ardian Kusuma.
Evan mendesah berat dan mengatupkan mulutnya. Tiba-tiba saja ia mengerti kenapa pihak Event Organizer memilih grup band Devian sebagai pengisi acara.
Ardian Kusuma sudah jelas memegang peranan penting.
Baiklah, geram Evan dalam hatinya. Karena Tua Bangka ini gak tau malu, jan salahin gua kalo gua bersikap lebih gak tau malu!
Lu lebih muda sedikit dibanding dia, katanya pada diri sendiri. Dibanding Ardian, lu masih lebih pantes godain Anak Esempe Nyang Mukanya Norak!
"Berikutnya kita dengarkan sambutan dari pihak panitia penyelenggara," teriak MC melalui pengeras suara. "Kepada ketua komunitas Everlasting Flower Street, waktu dan tempat kami persilahkan!"
Tepuk tangan meriah kembali menggelegar.
Elijah mengerjap dan mengedar pandang. Meneliti kerumunan dengan tatapan mencari-cari yang tajam.
Ardian Kusuma memicingkan matanya, kemudian mengikuti lirikan mata Elijah.
Irgi dan Bimo mendadak panik menyadari ketua mereka tidak berada di tempat yang seharusnya.
"Di mana Bang Je?" Beberapa orang mulai bertanya-tanya.
"Bang Je!" Teriakan seseorang di belakang panggung menarik perhatian Elijah dan Ardian Kusuma.
Evan membeku di tengah-tengah kerumunan. Menatap Elijah dengan terperangah.
Elijah menelan ludah.
Sekal lagi…
Tatapan mereka bertemu dan terkunci. Jantung keduanya bergetar bersamaan, kemudian meledak memporak-porandakan seisi dada mereka, memukul setiap titik saraf dan membakar seluruh isi kepala mereka.
Ardian berdeham sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Elijah kembali mengerjap.
Evan memutar tubuhnya membelakangi gadis itu, kemudian bergegas bersama seseorang yang tadi menghampirinya---Cici Maria.
Lagi? pikir Elijah muram.
Lagi-lagi pria itu terasa seperti mimpi yang takkan tergapai.
Cici Maria menggamit lengan Evan seolah dia miliknya. Menghantarkan pria itu menaiki panggung melalui tangga depan.
Sementara itu, Ardian Kusuma menuntun Elijah ke gedung biliar mengikuti personel lainnya untuk beristirahat sembari mendiskusikan materi lagu yang akan dibawakan berikutnya.
__ADS_1
Kompetisi drama itu berakhir imbang. Keduanya sama-sama patah hati sekarang.