Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-81


__ADS_3

Deru mesin meraung di dalam Pit Box. Suara-suara berdebuk dan berkeriat-keriut terdengar hidup dan sibuk.


Sejumlah pria berseragam hitam-hijau lengkap dengan helm full face sewarna, berkerumun di seputar sepeda motor trail kompetisi yang juga berwarna hitam-hijau bernomor 666.


Elijah duduk membungkuk di kursi lipat di sudut pit box, memperhatikan para pria berseragam itu dengan kedua sikut bertopang pada lututnya. Gadis itu juga mengenakan wearpack yang sama—hitam-hijau. Raut wajahnya terlihat dingin dan datar.


Ini adalah hari Kejurda Motocross.


Hari penting sekaligus puncak dari cerita ini.


Hari di mana nasib Elijah akan ditentukan.


Saat di mana janji Tuhan pada Elijah akan digenapi.


Tapi Elijah bahkan tak bisa memprediksikan apa yang sedang menunggunya di tengah lintasan.


Ia sudah lolos babak kualifikasi! Itu yang paling penting.


Ia sudah berhasil melewati Moto Satu, tanpa hambatan yang berarti. Tak ada yang mencurigakan selama babak kualifikasi.


Tak ada yang menarik perhatian!


Semuanya berjalan datar seperti ambisinya yang telah mengkristal.


Sekarang ia siap menghadapi Moto Dua, tanpa gejolak ambisi, tanpa debaran mendesak yang menggebu-gebu seperti biasa.


Tidak ada kekhawatiran mengenai risiko kekalahan, tidak ada tuntutan untuk membuktikan diri.


Yang perlu ia lakukan hanyalah tidak berhenti. Itulah yang ditekankan Denta.


"Tak perlu takut kalah, tak perlu ingin menang. Karena sejatinya tugas seorang pembalap adalah balapan." Itulah yang dikatakan Denta. "Lakukan saja bagianmu, sisanya bagian Tuhan!"


Jadi, di sinilah ia sekarang. Tercenung dalam kehampaan yang damai. Menunggu kendaraannya selesai dimodifikasi.


Sesekali terdengar suara gumaman dan benturan logam dari aktivitas para Pit Crew yang sedang berkerja. Tak jarang terdengar tawa renyah dan teriakan seseorang menginstruksikan sesuatu. Tak jarang pula terdengar mereka saling melempar lelucon satu sama lain.


Elijah hanya tersenyum tipis menanggapinya tanpa minat.


Denta baru menyusul ke sirkuit dua jam kemudian bersama ibunya. Untuk berjaga-jaga, ia meminta bantuan Galang untuk menjadi supir pribadinya selama sehari penuh. Pria Syantik itu menurunkan mereka di jalan masuk sementara ia mencari tempat parkir.


Begitu memasuki area parkir, Bugatti Masonry itu otomatis menjadi pusat perhatian. Terutama Evan yang masih penasaran terkait pemilik kendaraan itu.


Akhirnya ia akan tahu siapa pemilik Bugatti Masonry itu!


Ia mengurungkan niatnya untuk bergegas ke Pit Area, menunggu sejenak sembari mengawasi pintu pengemudi Bugatti Masonry.


Tapi sayangnya Evan harus kecewa.


Begitu kaca diturunkan, seraut wajah familer yang paling sok cantik membuatnya mengerang muak sembari memutar-mutar bola matanya.

__ADS_1


"Halo, Tampan…" sapa pria melambai di balik kemudi sembari mengedipkan sebelah matanya. Lalu mengibaskan rambutnya dengan gaya elegan yang jelas dibuat-buat, "Ikut Tante m e l a c u r, yuk!" godanya mendirikan bulu kuduk. "Tante puas, Tante bayar!"


"Najis!" dengus Evan disambut gelak tawa bajingan lain di kiri-kanannya. Igun, Maha, dan Devian.


Ketiga cowok itu mengenakan wearpack seragam dengan sepeda motor Evan---hitam bergaris putih abu-abu, berperan sebagai Pit Crew bersama Bang Wi yang sudah menunggu di Pit Area sana.


Ya! Evan-lah yang akan balapan hari ini.


Dan Elijah belum tahu!


Begitu pun sebaliknya.


Bagaimana bisa begitu?


Bukankah sebelumnya mereka sama-sama mengikuti babak penyisihan?


Jumlah peserta di babak penyisihan lebih dari ratusan, tidak satu pun dari peserta memperhatikan peserta lain.


Jadi, di dalam hal ini, Author tidak berlebihan!


Gilang terkikik sembari membekap mulutnya dengan jemari keriting. Lalu melangkah keluar dengan gerakan gemulai, mengibaskan Rambut Iklan Shampo-nya sekali lagi sembari menutup pintu dan memutar tubuhnya membelakangi Evan, kemudian berjalan melenggok menjauhi parkiran sembari menenteng paper bag dan helm berwarna hitam-hijau, sewarna dengan mobilnya.


Evan mengawasi helm itu dengan alis bertautan. Lalu melirik Bugatti Masonry dengan mata terpicing.


Tak pernah terlintas sedikit pun di kepala Evan bahwa si pemilik Bugatti Masonry itu adalah Gilang. Bahkan ketika jelas-jelas Pria Syantik itu keluar dari sana di depan matanya.


Deny Darmawan tak perlu sampai menghilang demi melindungi Gilang.


Tunggu dulu! pikirnya tiba-tiba.


Dede-Gilang, kenapa rasanya seperti Dejavu?


Di mana mereka pernah sejalan menyepakati sesuatu?


Secara pribadi, keduanya tak pernah sejalan kecuali sebagai... Pit Crew.


Benar, katanya dalam hati. Mereka pernah satu tim sebagai Pit Crew di masa lalu.


Tapi di Pit Box siapa? Evan mencoba mengingat-ingat.


Lalu rahangnya mengetat bersama sebuah kesimpulan yang tiba-tiba melintas dalam kepalanya---Denta!


"Si Badai turun ke track!" katanya setengah menggumam.


Maha, Devian dan Igun serentak menoleh pada Evan dan bertukar pandang.


Badai adalah nama punggung Denta. Rival sejati Evan di masa jayanya. Masa di mana mereka dijuluki Yin dan Yang.


Badai dan Halilintar.

__ADS_1


Pantas saja ia merasa familier dengan kombinasi warna Bugatti Masonry itu. Corak masonry pada rodanya juga terasa khusus.


Sekarang Evan ingat di mana ia pernah melihat pola khas masonry itu—tromol sepeda motor Denta.


Jantungnya spontan meletup. Akhirnya ia tahu siapa yang menaungi Elijah selama ini.


Denta!


Kenapa harus Denta? pikirnya pahit.


Apakah Lea akan mendampinginya hari ini?


Apakah dia di sini?


Lea ada di sini!


Evan hampir menghambur mengikuti nalurinya untuk mencari Elijah. Tapi suara Devian menarik dirinya pada kesadaran.


"Tau dari mana lu si Badai turun ke track?" tanya Devian tak yakin.


Evan mengerjap dan menelan ludah, lalu memasang wajah datar. "Liat itu!" Ia menunjuk helm di tangan Gilang.


Devian spontan menoleh pada Gilang dan mengerutkan dahi.


Igun dan Maha serempak mengikuti arah pandang mereka.


"Dia bawa helm ijo!" Igun akhirnya menyadari.


Devian dan Maha serentak menoleh pada Igun dan tertegun.


Mereka semua tahu sepeda motor Gilang dominan merah-putih. Jadi tak mungkin memakai helm hijau jika dia memang berniat turun ke sirkuit.


"Dan satu hal lagi," Evan menambahkan. "Sekarang kita tahu kenapa Dede gak pernah nongol di sirkuit!" Dia pasti takut ketemu gue, katanya dalam hati. Takut ditanya-tanya soal Lea.


Semua orang tahu, Dede dan Gilang tim solid Denta. Tapi hanya Evan yang tahu alasan yang sebenarnya. Alasan Dede menghilang bukan semata-mata karena persiapan kompetisi ini. Tapi karena ada hati yang harus dijaga.


Lebih dari sekedar tim solid, Dede juga pengikut setia Denta. Sama halnya seperti Igun di kubu Evan.


"Tapi…" Devian menggumam menggantung kalimatnya.


Evan tersenyum maklum. Ia mengerti beban perasaan Devian. "Ya," katanya menyela. "Gue juga benci ngebahas hal ini, tapi… kek'nya demi hari ini dia mempertaruhkan segalanya," tuturnya muram. "Gue pasti jabanin seprofesional mungkin!" janjinya. Lalu matanya berkaca-kaca. Ia mengerjap dan memalingkan wajah, menghindari tatapan semua orang.


Devian tertunduk pura-pura tak melihat.


Igun dan Maha serentak bertukar pandang.


Bersamaan dengan itu, Ardian Kusuma muncul di jalan masuk, melewati mereka dan memarkir mobilnya tak jauh dari Bugatti Masonry Hitam-Hijau itu.


Ia melangkah keluar dan mengamati mobil itu, lalu melirik ke arah Evan melalui sudut matanya seraya tersenyum samar. Tampaknya hari ini akan ada pertunjukan bagus, katanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2