Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-88


__ADS_3

"Lama gak ada kabar, sekalinya ada kabar malah kabar duka, Badai… Badai!"


"Omong-omong… bininya boleh juga!"


"Emang dia udah kawin?"


"Belum, ah! Mereka masih pacaran tapi udah tinggal bareng!"


Suara bisik-bisik itu berasal dari barisan bangku kedua atau ketiga di belakang Evan.


Perlahan suara mereka menembus keheningan Elijah yang sedang berkabung, menarik perhatiannya yang sedang kosong. Ia mengalihkan pandangannya dari derai air hujan yang mengenai jendela tinggi gereja kecil mereka, juga dari celotehan pidato sang wali---paman Denta, Johan Maharaja---ayah Evan.


Dari balik kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya, raut wajah Elijah yang lelah karena berduka berubah menjadi syok, kemudian menjadi kekesalan murni seiring berlanjutnya bisik-bisik itu.


Ia telah menghabiskan dua hari terakhir dalam kabut, berkubang dalam kesedihan dan merasa begitu lelah setelah pekan perjuangannya di bawah asuhan Denta yang sedang sekarat, hingga ia berhasil memuncaki kejuaraan daerah dan pada saat yang sama dia juga kehilangan Denta.


Semua itu hampir tak tertanggung oleh Elijah.


Dan sekarang, seseorang menggosipkan mereka, tepat di tengah acara pemakaman Denta.


Dasar tukang gosip! pikir Elijah sambil tetap mendengarkan meski sedikit kesal.


"Masih perawan kagak tuh, kira-kira?"


Sama sekali bukan urusanmu! geram Elijah dalam hati. Rahangnya bergemeretak.


"Pegimana kalo dia bunting pas ditinggal mati?"


"Kalo secakep itu sih gua kagak keberatan gantiin tanggung jawab si Badai!"


Terdengar cekikikan.


Mendengar hal itu, Elijah merasakan darah mengaliri wajahnya. Seluruh tubuhnya menegang atau sedikit limbung, ia berusaha menjaga keseimbangan dan menyembunyikan kepalan tangannya yang tertutupi saputangan kusutnya.


Evan meringis mendengar sindiran itu. Ia mencoba mengingat-ingat siapa saja kiranya teman-teman Denta yang berasal dari kalangan pembalap yang duduk di belakangnya. Lalu mengerling ke arah Elijah.


Postur Elijah yang sedang berdiri tegak di depan podium seolah sedang duduk di bangku kayu, meyakinkan Evan bahwa ia juga mendengar pembicaraan yang kurang ajar itu.


Perlahan Evan memutar kepalanya dan melemparkan tatapan tajam ke arah para pembalap yang sedang bergosip itu.

__ADS_1


Dua di antaranya adalah wanita, pasangan para pembalap yang suka mengunggah foto selfie di atas sepeda motor balap di media sosial, bergaya seolah-olah mereka pembalapnya.


Tatapan dingin Evan memukul mereka seperti tamparan es yang dihembuskan angin Nordik.


Terdengar tawa kecil menutupi rasa malu, dan itu tidak mengejutkan Elijah sama sekali. Ia tahu persis bagaimana tatapan itu.


Ketika Evan kembali berbalik ke depan dengan wajah yang begitu tenang, wajah mulusnya terlihat seperti topeng marmer, keras dan putih, kontras dengan setelan berkabung yang dikenakannya. Setelah menangani kekacauan di belakang, ia mengerling pada Elijah dengan tatapan dingin yang penuh kemenangan.


Itulah gunanya cowok berengsek! pikir Evan.


Elijah merespon dengan senyuman samar, bisa dibilang senyuman tak berdaya. Kemudian mencoba mengembalikan perhatiannya pada pujian dalam pidato yang dilantunkan ayah Evan, walaupun sebenarnya sulit mencerna kalimat-kalimat diplomatis tentang lelaki yang mati.


Ketika gadis itu semakin terserap lebih jauh dalam kekosongan, prosesi pemakaman telah berakhir. Para kekasih pembalap yang bergosip tadi telah menghambur keluar bersama dengan iringan jemaat, mengikuti barisan pengangkat jenazah yang berjalan pelan dengan wajah muram.


Sementara para lelaki berkonvoi dengan sepeda motor trail untuk mengiring jenazah sebagai penghormatan terakhir bagi sang pembalap, para wanita menaiki mobil keluarganya masing-masing untuk mempersingkat perjalanan ke kediaman keluarga Denta, di mana Nyonya Tatiana menawarkan sebuah resepsi sederhana.


Elijah berjalan dalam balutan busana anggun, mengangkat ujung rok hitamnya di atas genangan lumpur.


"Ayo, Eli!" Ibu Denta memanggilnya. "Kita harus bersiap menyambut para tamu."


Elijah tidak bergerak sedikit pun untuk mengikutinya. "Saya…" Elijah berkata terbata-bata sembari melirik Evan yang sedang mendorong sepeda motor trail ke arah mereka. Ia sebenarnya ingin menumpang di boncengan Evan untuk berkonvoi bersama yang lain, tapi tak tega mengutarakannya setelah melihat pandangan memelas yang dilontarkan ibu Denta.


"Kak Eden sama Mama kan, bisa gantiin dia!" Evan membela Elijah sembari melirik penuh arti ke arah ibunya. "Kita gak lama, kok!"


"Biar aku aja yang jaga di dekat pintu," Eden Hosea mengajukan diri.


Ibu Denta menimang ragu sambil melirik ke arah Eden, kemudian menatap kakak iparnya yang angkuh dan tak dapat diandalkan namun baik hati.


"Oh, sudahlah! Biarkan mereka, Tatiana!" desak ibu Evan. "Mereka tak bisa dipisahkan!"


Evan dan Elijah saling melirik, sedikit tersipu.


Ibu Denta memutar bola matanya. Ia melirik sekilas ke arah barisan sepeda motor trail yang kian menjauh, kemudian mengangkat bahu. "Jangan lama-lama," katanya. "Dua puluh menit lagi, rumah akan dipenuhi tamu. Saya akan memerlukan bantuan kalian!"


Elijah dan Evan mengangguk bersamaan.


Elijah melirik Eden dengan isyarat terima kasih, ketika ibu Denta berbalik meninggalkannya.


Kemudian ibu Denta dan ibu Evan beserta anggota rombongan yang tersisa, menaiki mobil yang dikendarai Eden Hosea, sementara Elijah naik ke boncengan sepeda motor Evan.

__ADS_1


Saat melihat iringan sepeda motor trail bergerak perlahan di area pemakaman, Elijah termenung dalam ketakjuban atas sisa hidup Denta yang luar biasa.


Air matanya merebak ketika ia melihat mereka menurunkan peti mati Denta ke dalam tanah, saat rintik hujan membuih seperti taburan bunga poplar dan dandelion. Seperti bunga surga yang khusus bagi Denta. Tubuh Elijah terhuyung dan nyaris ambruk dalam rengkuhan tangan Evan yang tak lengah menjaganya.


Dalam perjalanan pulang, entah bagaimana hujan berhenti secara ajaib, dan Elijah merasa dunia di sekitarnya seolah ikut terhenti.


Hening.


Ia melihat Evan tersenyum lembut, mengatakan sesuatu.


Tapi Elijah tidak mendengar suara apa pun.


Tubuhnya terasa ringan, dunia di sekelilingnya terlihat bercahaya dan terang-benderang.


Tapi satu-satunya hal yang dapat ia lihat hanyalah wajah Evan. Ia melihat pria itu menerjang ke arahnya, berteriak dalam gerak lambat… tanpa suara.


Ia bisa merasakan rengkuhan kedua tangan Evan di punggungnya, menahannya.


Tapi tubuhnya seperti hanya mengambang dalam air, meluncur pelan, menjauh dari Evan, merayap naik terseret arus yang tidak terlihat.


Seraut wajah putih bercahaya menyongsongnya di atas kepala, tersenyum dan menggeleng. Lalu berbalik memunggunginya, memperlihatkan sepasang sayap menyala dan mengibaskannya hingga Elijah terhempas.


Elijah memekik dan terhenyak. Seperti keluar dari air. Lalu mengerjap dan terengah-engah.


Seraut wajah yang sama menyongsongnya di atas kepala.


Elijah tersentak menjauhinya. Tapi tubuhnya tak seringan sebelumnya. Sepasang tangan kokoh menahan kedua bahunya.


"Lea!"


Suara di atas kepalanya terdengar familier. Dan Elijah mulai ingat siapa pemilik wajah putih bercahaya itu.


Evan!


Pria itu bersandar di kepala tempat tidur, sebelah kakinya menjadi bantal untuk menopang kepala Elijah.


Elijah terbangun penuh ketakutan dan bangkit dari tempat tidurnya, secara spontan menyapu seluruh ruangan dengan tatapan nyalang. Matanya yang masih kabur mengerjap terbuka, dadanya terasa berat saat tatapannya yang panik menyapu ruangan.


Pada saat itu ia baru menyadari bahwa ia sedang berada di kamar lamanya, di rumah Bang Wi.

__ADS_1


__ADS_2