Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-74


__ADS_3

"Mobil apaan?"


"Mobil apa dah, kek mobil Komar, lah! Cuma lebih gahar!"


"Mobil siapa?"


Perkataan Irgi terngiang di kepala Evan. Ia mengawasi Bugatti Masonry itu dengan dahi berkerut-kerut—berpikir keras, mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat kendaraan itu.


Tapi suara gadis di belakangnya kemudian menyentakkan Evan. "Dih! Udah, Bang! Cabut!"


Evan mengerjap dan menoleh sekilas ke belakang. "Oh---oke!" sahutnya setengah tergagap. Lalu menyalakan mesin. Ia melirik sekali lagi ke arah mobil Denta, kemudian melesat meninggalkan tempat itu.


Denta memundurkan mobilnya perlahan, kemudian melaju dalam kecepatan sedang.


Elijah menelan ludah dan melirik pria itu melalui sudut matanya.


Denta terus terdiam sepanjang perjalanan. Wajahnya terlihat kencang.


Dia kenapa, ya? Elijah bertanya-tanya dalam hatinya. Apa dia marah liat si Dede melukin gue? Tapi kan gak sengaja!


.


.


.


"Jadinya berapa, Bang?" Mahasiswi IKJ yang sudah dua kali menabrak Elijah itu melompat turun dari sepeda motor Evan, kemudian menghampiri sepeda motornya sendiri.


Ban sepeda motor itu bocor saat ia berangkat. Tapi karena ia sedang terburu-buru, ia terpaksa meninggalkan sepeda motor itu di bengkel Evan.


Dan sebagai mekanik yang baik, Evan menawarkan jasa antar jemput untuk mempermudah segala urusan.


Begitulah ceritanya!


Tapi tentu saja Evan tahu Elijah pasti salah paham lagi. Peduli setan! pikirnya berusaha mengenyahkan perasaan jengkelnya. Dia udah punya Bugatti Masonry! batinnya sinis.


"Jiah! Dia bengong!" seloroh mahasiswi IKJ tadi. Maklum seniman---ekspresinya mana?


"So—sori!" Evan mendadak gelapan. Tidak terlihat seperti dirinya, hingga semua orang yang sedang berada di tempat itu terperangah memperhatikannya. Igun, Innu, Maha---anak-anak setan yang biasa.


Mahasiswi IKJ itu mengerang seraya memutar-mutar bola matanya. "Masih muda udah banyak pikiran," gumamnya---sok tua. "Jadi berapa, nih?"


"Tiga lima," jawab Evan.


"Hah?" Gadis itu spontan terperangah. "Lu kaga itung jasa anter-jemputnya juga, kan?" protesnya.


"Ban lu gak bisa ditambel. Jadi, gue ganti ban dalem!" tukas Evan.


"Pan gak parah?" sergah gadis itu. "Paling bocor Alus!"


"Bocornya emang gak parah," sanggah Evan. "Tapi pas di valve cap!"


"Apaan valve cap?" tanya mahasiswi itu.


"Ini, nih!" Evan membungkuk menunjuk katup ban sepeda motornya. "Ini namanya valve cap, nih!"

__ADS_1


"Maksudnya p e n t i l?"


"Iya udah itu dia!"


"Bilang aje p e n t i l!" gerutu mahasiswi itu.


"Disensor, B e g o! Dikira p e n t i l nyang laen!" sergah Evan merongos.


Igun dan teman-temannya tergelak mendengar perdebatan mereka.


"Biasa aje, dong, ngomongnya! Gosah tereak!" protes mahasiswi itu. "Gue ini seniman," katanya dramatis. "Hati gue halus!"


"Kagak peduli gue!" bantah Evan tak sabar. "Mau makhluk alus kek, mau makhluk astral kek. Valve cap aje kagak tau!"


Keesokan harinya…


Mahasiswi itu benar-benar dalam bahaya.


Elijah sudah menunggunya di dasar tangga yang menuju pekarangan ketika gadis itu sedang bergegas turun.


Gadis itu berhenti di tangga kelima dari bawah dan melengak menatap Elijah.


Elijah balas menatapnya dengan intensitas tatapan yang bisa membakar seisi gedung.


Gadis itu berjalan menyisi untuk menghindari tabrakan ketiga dengan Elijah.


Tapi Elijah juga bergerak menyisi.


Gadis itu menautkan alisnya. Sebelah alis rampingnya terangkat tinggi. Lalu ia kembali bergeser ke sisi lain.


Elijah juga mengikutinya.


Gadis itu mengernyit sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. "Lu ngapa, dah?" tanyanya dengan raut wajah tolol. "Hari ini kan gue gak nabrak elu. Lu romannya menta ditabrak?"


Elijah tetap bungkam. Tatapannya masih berpotensi kebakaran.


Para pembaca pasti paham ini bukan perkara tabrak-menabrak. Tapi karena hal lain.


Elijah sedang terbakar cemburu!


Padahal dia udah punya Bugatti Masonry---yekan?


"Gue… gue beneran gak sengaja kemaren," gadis itu mencoba memberinya pengertian.


Elijah tetap bergeming.


"Sebelumnya, gue beneran kepeleset. Nah, kemaren, gue juga lagi buru-buru. Gue minta maaf, sumpah! Gue gak sengaja." Gadis itu masih mencoba memberikan penjelasan.


Elijah tidak peduli. "Siapa nama lu?" tanya Elijah seperti orang sedang menodong.


"Gu---gue…" gadis itu menggantung kalimatnya dan mengerutkan dahi. Waduh! pikirnya ngeri. Ngapain dia nanyain nama gue? Jangan-jangan mau disantet!


"Nama lu sape?" ulang Elijah seraya menaikkan suaranya.


"Gu---gue Sisca—six, anak-anak biasa manggil gue… sik asyik!" kelakar gadis itu mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Giliran Elijah sekarang yang mengerutkan dahi. "Lucu, ya?" geramnya sembari tersenyum jahat.


"Ah—" gadis itu tersenyum gugup. "Gak lucu, ya?" gumamnya balas bertanya, lalu kembali menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


Elijah mengawasi gadis itu dengan mata terpicing. Tatapan tajamnya menelisik gadis itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Potongan mahasiswi itu sedikit mirip dengan Elijah sewaktu SMU, masa di mana gencar-gencarnya dia mengejar Evan. Rambut pendek, berpakaian serba hitam. Celana jeans robek-robek, t-shirt hitam, hoodie sweater dan sepatu bot selutut. Hanya wajahnya dominan Asia---mata sipit, kulit putih-kuning langsat.


Jadi selera bajingan itu ternyata yang kek Cici Maria? pikir Elijah---gak nyambung. Otak sama matanya gak sinkron.


Ini baru lucu!


Merasa tersengat oleh pemikiran itu, Elijah merenggut pergelangan tangan Sisca, kemudian menyeretnya ke tengah pekarangan. "Lu sebenernya punya dendam apa sama gue, hah?" geramnya—nantang ribut.


Ditanya begitu, Sisca langsung gelagapan. "Gu---gue… gue beneran gak kenal elu. Gak mungkin punya dendam pribadi. Sumpah! Gue gak punya masalah sama lu!"


"Gak punya masalah?" Elijah menggeram lagi, kali ini sembari merenggut kerah t-shirt gadis itu. "Dua kali, A n j i r!" tukasnya dalam gumaman rendah. Lalu meninggikan suaranya dalam pekikan nyaring. "Dua kali lu ngedorong gue!"


Dan seketika itu juga, mereka menjadi pusat perhatian.


"Gue gak ngedorong, sumpah!" bantah Sisca. "Gue cuma nabrak! Dan itu beneran gak sengaja. Meskipun sengaja, pasti cuma kerjaan iseng Penulis Keparat!"


Lah!


"Gosah bawa-bawa Penulis Keparat!" geram Elijah sembari mengetatkan cengkeramannya. "Asal lu tau ya, kisah ini diangkat berdasarkan kisah nyata. Jadi jangan coba-coba berdalih kalo semua yang terjadi di sini cuma akal-akalan Penulis Keparat."


Ea… ea… ea…


"Tunggu dulu!" protes penonton di sekeliling mereka. "Siapa sih, Penulis Keparat?"


Belum sih, gue hapus-hapusin dari cerita!


Bersamaan dengan itu, Dede yang melihat perseteruan itu serentak menghambur, menyeruak dari kerumunan ke arah mereka. "Lea!" pekiknya berusaha melerai.


"Lu diem!" hardik Elijah. "Jangan ikut campur!"


Dede menarik paksa bahu gadis itu dan menyentakkannya menjauhi Sisca. "Lea—Udah! Lu gak nyadar lu jadi tontonan?"


Elijah tidak peduli. "Gue anak fakultas seni pertunjukan," ia berdalih. "Jadi wajar kalo di mana-mana jadi tontonan!"


"Ya, tapi kaga rusuh juga, A n j i r!" geram Dede di kupingnya. Ia menarik bahu gadis itu sekali lagi.


Melihat peluang itu, Sisca segera menjauh dan melarikan diri.


"Hei—" Elijah menyambar bahu Sisca.


"Udah! Oke?" sergah Dede sembari menepiskan tangan Elijah dari bahu Sisca. "Si Denta ngeliatin, noh!" katanya—keceplosan.


Elijah spontan melengak, ia menyentakkan kepalanya ke samping, mengawasi Dede dengan mata terpicing, kemudian melayangkan pandangan ke seberang pekarangan.


Benar saja, Denta memang sedang mengawasinya di dekat pintu gerbang.


Tapi bukan itu yang membuat Elijah melengak.


"Lu kenal Denta?" Elijah menoleh pada Dede dengan tatapan curiga.

__ADS_1


Dede mengerjap dan tergagap.


Sementara itu, Sisca sudah melarikan diri entah ke mana.


__ADS_2