
"Satu lagu untuk Bung Evan!" seru Devian dari atas panggung seraya membungkuk dan melayangkan sebelah tangannya ke arah Evan dalam sikap hormat bangsawan Eropa.
"Gua lagi ajah!" gerutu Evan sembari membeliak sebal.
Semua orang menoleh pada Evan sembari tergelak.
"To really… Love a women…" Devian menyenandungkan song pertama tanpa iringan musik, sebelah tangannya masih terulur ke arah Evan. "To understand her, you gotta know her deep inside…" Devian melanjutkan senandungnya dengan iringan solo gitar.
Satu lagi dari musisi legendaris: Bryan Adams.
Have You Ever Really Loved a Woman?
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
Evan mengulum senyumnya dan memalingkan wajah, menghindari tatapan semua orang.
Tahu kan, arti lagu itu?
Pernahkah Kau Benar-Benar Mencintai Seorang Wanita?
Untuk benar-benar mencintai seorang wanita, untuk memahaminya, kau harus mengenalnya jauh ke dalam…
Bagaimana Evan tak langsung bertanduk?
"See every dream, and give her wings when she wants to fly…"
Dengarlah setiap curhatan nya, pahami setiap impiannya dan beri dia pertolongan ketika dia membutuhkannya.
"Then when you find yourself layin' helpless in her arms… You know you really love a woman!"
Maka saat kau menemukan dirimu terbaring tak berdaya di pelukannya, kau tahu kau benar-benar mencintai seorang wanita.
"Please, jan mancing tanduk yang lain," geram Evan sembari memutar-mutar bola matanya dan mengetatkan rangkulannya di bahu Elijah, kemudian mencium pelipis gadis itu.
Semua orang spontan menyorakinya hingga ayah Elijah, juga paman dan bibinya, menoleh ke arah Evan dan Elijah.
__ADS_1
Evan buru-buru memalingkan wajahnya lagi, sementara Elijah tertunduk mengulum senyumnya.
Malam beranjak mencapai puncaknya, detik-detik pergantian tahun sudah di depan mata.
Evan menghubungi keluarganya melalui grup panggilan video untuk mengucapkan selamat tahun baru.
"Aku tak percaya aku merayakan malam pergantian tahun pada pukul dua belas siang," gumam Tante Tatiana di Brazil sana. Perbedaan waktu Indonesia dengan negara Brazil terpaut dua belas jam.
Well, sebetulnya tema ini sedikit terlalu cepat dari perhitungan Author. Tapi minimal author gak ngaco-ngaco amat karena mengangkat tema malam pergantian tahun di bulan Desember meskipun masih terlalu awal.
Semoga pembaca maklum!
Author sebetulnya sudah memperhitungkan adegan ini di akhir Desember, tak disangka tamatnya malah di awal Desember.
Mau dipanjang-panjangin keburu bosen. Kalo penulisnya aja bosen. Apa kabarnya yang baca, yekan?
Mohon bersabar, sembari menunggu Author menyiapkan karya baru, Author berharap kalian tetap setia.
Iya, kalian!
Para pembaca setia karya Penulis Keparat yang cuma segelintir.
Terima kasih sudah setia mengikuti karyaku sampai sejauh ini. Baik kalian yang rajin komentar atau yang hanya mendaratkan like dan memberikan hadiah, mendaratkan vote mingguan tanpa komentar. Baik yang hanya membaca diam-diam tanpa like dan berkomentar, atau yang bot like tanpa mau repot-repot membaca, semuanya. Dukungan kalian semua sangat berarti.
Tanpa pembaca, penulis tak ada artinya!
Jangan kemana-mana sebelum novel ini di-tag tamat.
Sembari curhat, Author masih akan melanjutkan sisa cerita sampai tuntas meskipun akan membosankan.
"Selamat tahun baru untuk kalian semua!" Ibu Evan melambai-lambaikan tangannya di seberang panggilan seraya tersenyum lebar.
"Kau benar-benar terlihat mirip dengan putraku!" komentar ibu Denta.
Elijah melirik Evan seraya tersenyum simpul. Akhirnya dia mengerti kenapa Evan masih bertahan menggerai rambutnya dan mengenakan pakaian serba tebal itu meski ia kelihatan sudah tidak tahan untuk segera melucutinya.
__ADS_1
Evan menunggu sampai bisa terhubung dengan tantenya.
"Aku tidak merasa kehilangan Denta setelah melihatmu," ungkap ibu Denta seraya tersenyum gembira. "Terutama karena El berada di sampingmu!"
"Dan aku merasa aneh melihat anak nakal ini berpakaian rapi," ibu Evan menimpali. "Dan aku terkejut gadis secantik Lea masih tertarik padanya!"
"Itu karena Evan tampan!" sergah Evan.
"Kakak bikin ayam panggang kesukaan kamu tapi kamu malah gak pulang," gerutu Eden Hosea.
"Ayam panggang itu gak bakal kabur sampe Evan pulang!" kata Evan pada kakaknya.
"Basi, Tolol!" sembur Eden.
"Yang penting kan, gak kabur!" bantah Evan semena-mena jempol penulis.
"Gadis di sampingmu mengingatkan Papa pada mamamu sewaktu muda!" Ayah Evan menyela.
"Bisa kupastikan aku tidak akan memilihmu kalau aku secantik dia!" tukas ibu Evan.
"Sebenarnya Mama lebih cantik dari Lea!" sergah ayah Evan.
"Maksudmu El?" Tante Tatiana menginterupsi.
"Evan gak mungkin milih dia kalo gak lebih cantik dari Mama!" Evan menyeringai sembari menunjuk Elijah dengan lirikan matanya.
"Lagi pula dia istriku, Anak Muda!" sembur ayah Evan seraya merangkul bahu istrinya. "Kau harus belajar melupakannya."
Elijah terkekeh di samping Evan yang masih saja melingkarkan sebelah tangannya di bahu gadis itu, seolah jika ia melepaskannya Elijah akan menguap atau direnggut bajingan lain yang masih mencuri pandang secara diam-diam, bahkan mereka yang sudah punya pasangan seperti Gilang dan Jimmy.
Gue emang gak salah pilih, pikir Evan—bukannya cemburu, malah bangga. Tanpa dia sadari, cewek-cewek juga mencuri-curi pandang padanya saat Elijah lengah.
Pasangan itu semacam barang bagus yang didambakan semua pasangan. Bukan saja karena daya tarik keduanya yang membuat semua orang mendambakan pasangan yang sama, tapi bahkan adegan mesra mereka membuat pasangan lain ingin meniru. Padahal apa bagusnya pasangan knalpot racing?
Kalau dipikir-pikir, dua-duanya knalpot racing sekarang.
__ADS_1
Elijah yang khas dengan suara vocal growl-nya, Evan yang suka nyerocos, bukankah tidak ada bedanya?
Ditambah dua-duanya pembalap tercepat.