
"Lu sebenernya udah jadian belum sih, sama si El?" Devian bertanya setelah Evan menurunkan ponsel dari telinganya, memutus panggilan dan mengunci layar.
Evan terdiam dalam posisi tertunduk, menatap layar ponselnya yang sudah mati.
"Lu sebenernya suka kan, sama dia?" Devian bertanya lagi.
Evan tetap bergeming.
"Lu juga sebenernya tau kan, kalo dia tergila-gila sama lu?" cecar Davian tak mau menyerah.
Evan akhirnya mengerjap dan mengangkat wajah, tapi masih mengatupkan mulutnya dan tidak menatap Devian.
"Apa yang lu tunggu?" desak Devian.
"Dia masih sekolah, Pe!" sergah Evan, akhirnya menoleh dan membuka suara.
Devian terkekeh tipis, lalu balas menoleh, "Gua malah khawatir setelah dia lulus sekolah seleranya bukan lu lagi!"
Evan kembali terdiam.
Devian mendesah pendek dan menyandarkan punggungnya, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Lu masih inget nggak bassis gua yang pernah ngenosin lu di biliar?" ia bertanya tanpa menatap Evan.
"Arjuna the Great?" Evan balas bertanya dengan senyuman sinis.
"Ya," jawab Devian tetap mempertahankan nada datarnya yang setengah menggumam. "Dulu si El pernah tergila-gila sama dia."
Evan kembali tertunduk, mengamati perkakas montirnya yang belum sekali pun disentuhnya sejak ia tiba di bengkelnya.
"Juna sama kek lu," lanjut Devian masih dalam gumaman datar. "Nganggap dia masih bocah!" Ia menambahkan seraya melirik sekilas pada Evan melalui sudut matanya. "Sekarang si El berpaling sama lu!"
Evan menelan ludah dan mendesah, "Apa caranya harus jadian?" tanyanya menggumam. "Maksud gue… apa gak cukup cuma kasih perhatian? Gue yakin dia paham perasaan gue!"
"Gua gak yakin!" tukas Devian.
Evan langsung tergagap.
"Kalo dia ngerti perasaan lu, dia gak mungkin krisis percaya diri!" kata Devian.
Evan melirik Devian dengan alis bertautan.
"Asal lu tau, si El itu urat malunya udah putus," lanjut Devian sedikit meninggi. "Gua kenal dia bukan sejumat dua jumat!"
Evan kembali terdiam.
"Sejak kenal lu dia jadi baperan!" Devian menambahkan.
Evan meliriknya dengan raut wajah prihatin. Tapi tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Perempuan butuh kejelasan, Van!" nasihat Devian—sok iye. "Mereka butuh mendengar kalimat sederhana yang berarti, kek… sorry, thank you, I love you…"
"I love you too, Pe!" kelakar Evan dengan raut wajah serius.
Devian memutar bola matanya dengan tampang muak. "Giliran nyeletuk aja, bacot lu gak ketulungan, Van… Van!"
Evan cuma cengengesan.
"Nembak cewek aja lu gak becus!" dengus Devian.
"Emang lu pernah nembak cewek, Pe?" tanya Evan setengah mengejek.
"Jiah! Gua sih jan ditanya! Item-item juga kereta api," sergah Devian membual.
"Artinya?" tanya Evan tak sabar.
"Ya… gitu," jawab Devian sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah dengan ekspresi tolol. "Udah item, jomblo abadi," tandasnya.
Evan tergelak dan terbahak-bahak.
.
.
.
Dua tahun kemudian…
Elijah sekarang sudah lulus sekolah, dan siap kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Lalu ia tinggal bersama pamannya.
Jarak mereka sudah semakin dekat. Tapi hubungan keduanya tak pernah berubah.
Perasaan keduanya juga tak berubah.
Begitu pun kemampuan Elijah.
"Dua taon!" teriak Evan pada Elijah. "Kenapa cuma gini-gini aja?"
Elijah tetap bungkam dengan ekspresi terluka. Gadis itu baru saja selesai mengikuti Turnamen Kelas Sport Trail 4 Tak, dan—seperti biasa, ia bahkan tak masuk sepuluh besar.
Mereka bahkan masih di Pit Box ketika Evan meledak.
Tunggu dulu!
Apa maksudnya Pit Box?
Sebelum membahas Pit Box, kita bahas dulu Paddock. Merupakan area terlarang. Menjadi tempat parkir truk pengangkut motor balap, mobil supporting area dan kebutuhan semua tim balap. Nah, di dalam Paddock ini, terdapat ruangan berdimensi kotak—box yang berfungsi sebagai garasi sementara dengan akses langsung ke Pit Lane.
__ADS_1
Jangan tanya dulu, apa itu Pit Lane!
Di dalam Pit Box hanya terdapat motor balap, pembalap, mekanik dan sebagian kecil part kebutuhan balap. Sementara cadangan part dalam jumlah besar biasanya diletakkan di Pit Area yang lokasinya berada di belakang Pit Box.
Ini adalah daerah paling privasi bagi sebuah tim. Sehingga tidak semua orang bisa masuk. Hampir semua tim memasang pagar pembatas untuk menghalau orang yang tidak berkepentingan. Karena rahasia tim ada di dalam Pit Box ini. Jadi, jangan sekali-kali kita melangkah masuk ke area ini jika tidak ingin berurusan dengan tim dan panitia balapan. Sangsinya, bisa dikeluarkan dari area Paddock.
Ketika ada ubahan part motor atau merancang strategi, biasanya pintu Pit Box model rolling door ditutup oleh tim. Agar segala riset tidak terekspos keluar.
Sampe di sini paham?
Peduli setan, kata Pembaca.
Kembali ke Evan!
"Gua gak masalah lu gak pernah juara," lanjut Evan, memelankan suaranya. "Gua cuma…" ia menggantung kalimatnya dan mengerang sembari memalingkan wajahnya dari Elijah. Lalu mendesah kasar dan tertunduk, menatap lantai semen bernoda pelumas di bawah kakinya. "Gua gak ngerti," lanjutnya dalam gumaman pelan yang nyaris tidak terdengar. "Kenapa semua yang udah gua ajarin kek gak guna?" desisnya lirih.
Elijah mengerjap dan menelan ludah, kemudian membuka mulutnya, bersiap mengutarakan pembelaan diri. Tapi segera sadar argumentasinya takkan berguna.
"Dua taon bukan waktu sebentar, Lea!" Evan melanjutkan, kembali meninggikan suaranya. "Kenapa masih aja squid?"
Squid adalah istilah yang menggambarkan pembalap pemula yang masih ketara grogi lantaran baru kali pertama ikut balapan.
"Lu gak bakat jadi Racer!" tandas Evan dingin.
Elijah membekap mulutnya dengan sebelah tangan, kemudian tertunduk dan berbalik. Lalu menghambur keluar meninggalkan Pit Box, tak mampu membendung air matanya.
Semua Pit Crew terdiam tak berdaya. Bahkan Bang Wi---hari itu Bang Wi juga bertugas sebagai Pit Crew.
Pit Crew adalah orang-orang yang berhubungan langsung dengan tim dan pebalap. Mulai dari mekanik hingga manajer tim. Mereka bekerja sesuai bidangnya masing-masing. Dari urusan sasis, mesin, elektrikal hingga keperluan pebalap. Selama di dalam Pit Box, para Pit Crew ini pun diikat dengan regulasi ketat. Mulai menunjukkan identitas tim dengan jelas, hingga wajib memakai helm saat bertugas di area Pit.
"Bang…" Innu menginterupsi, "Apa perlu lu bilang dia gak bakat?" protesnya memberanikan diri.
"Emang masih kurang jelas?" sergah Evan ketus.
Innu terpaksa diam.
Cowok berengsek ini sedang tak bisa diajak kompromi. Sama sekali tidak lucu!
"Siapa lagi di sini yang kurang puas sama pendapat gua?" Evan menghardik semua orang sembari mengedar pandang.
"Dia kan cuma cewek, Bang!" protes Igun dalam gumaman pelan.
"Dia pan masih bocah, Kuy!" sindir Bang Wi menimpali.
"Udah dua taon, Wi! Dia udah bukan bocah lagi!" sergah Evan merongos. "Dua taon!" ulangnya setengah berteriak. "Dua taon gak jadi apa-apa?" Jadi pacar, kek! rutuknya dalam hati.
"Ya," tukas Bang Wi sinis. "Udah dua taon dia ngikutin lu, dan lu gak pernah ngajarin dia balap!"
__ADS_1
"Apa maksud lu gak pernah gua ajarin balap?" bantah Evan ketus.
"Pikir aja sendiri!" dengus Bang Wi dingin.