Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-84


__ADS_3

Aku berhasil! pikir Elijah tak percaya.


Evan membanting sepeda motornya dan mencampakkannya begitu saja, kemudian menghambur ke arah Elijah dan memeluknya.


Denta mengerjap dan terkesiap, merasa sedikit tersengat melihat adegan itu, tapi lalu hanya membeku menatap mereka dari area pit line.


"Welcome back, Dai!" pekik Evan gembira.


Elijah tergagap dan terperangah. Masih bertengger di atas sepeda motornya. Membeku dalam dekapan Evan. Jantungnya meletup-letup seperti akan meledak. Lututnya gemetar tak terkendali. Kegembiraan yang menggelisahkan menyergap dirinya, mengetuk setiap ujung sarafnya. Membuat sekujur tubuhnya melemas seketika.


Dia memelukku! batinnya antara senang dan getir. Sebuah kesadaran paling mengerikan seketika muncul mengejutkan dirinya, kesadaran betapa rindunya Elijah pada pria itu.


Kesadaran lainnya yang lebih mengejutkan lagi—betapa dekatnya Evan dengan Denta!


Elijah bisa merasakan getaran hebat di tubuh Evan. Pria itu sedang menangis!


Hubungan mereka jelas tak sederhana.


Sedekat apa mereka sebenarnya? pikir Elijah.


Apakah mereka punya hubungan darah?


Tunggu dulu! Hubungan darah dari mana?


Denta berdarah Medan-Portugis, sementara Evan Belanda… Betawi? Mungkin!


Apakah mereka sahabat karib?


Lalu kenapa mereka begitu mirip?


"Selamat, ya!" Evan melepas pelukannya, kemudian mengguncang kedua bahu Elijah, "Hari ini, lu jagoannya!" katanya bersemangat. "Tapi jan harap ada laen kali!"


Elijah masih membeku. Tak tahu bagaimana ia harus bereaksi.


Evan menurunkan tangannya dari bahu Elijah, kemudian merenggut pergelangan tangan gadis itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, mengacungkannya ke arah penonton.


Tepuk tangan meriah dan pekikan semangat para suporter dan para penonton menggelegar sekali lagi.


Denta menghela napas dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu terbatuk-batuk.


Dede dan Gilang serempak menoleh pada Denta dengan tatapan cemas.


Denta membungkuk memegangi dadanya dan terhuyung.


Gilang spontan menangkap bahunya. "Lu gapapa, Dai?" tanyanya khawatir dan mendadak laki.


Denta menggeleng seraya mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan jawaban "okay." Tapi batuknya tak mau berhenti.


Devian meliriknya dengan mata terpicing.


Ardian juga mengawasinya di sisi lain.

__ADS_1


Dede dan Gilang membantu Denta menyisi ke bawah tenda promosi dan mendudukkannya di bangku plastik. Seorang gadis pit membawakan sebotol air mineral.


"Saya gak apa-apa," Denta bersikeras.


"Udah, minum dulu!" desak Gilang memaksa.


"Você está bem---kamu baik-baik saja?" Ibu Denta menghambur ke arah mereka dengan tergopoh-gopoh. Sesaat yang lalu, wanita paruh baya itu masih bergosip bersama beberapa gadis pit di tenda lain, tidak terlalu fokus menonton karena cuaca panas.


"Estou bem---saya tidak apa-apa," jawab Denta menenangkan ibunya.


"Não, você claramente não está bem—tidak, kamu jelas tidak baik-baik saja," cecar ibunya. "Apenas vá para casa---ayo kita pulang saja!"


"Não---tidak," Denta tetap berkeras. "Estou bem---saya tidak apa-apa!" Ia memutuskan untuk bertahan sampai Elijah naik podium.


Dan ketika semua para pendukung mendekat ke podium, Denta mendesak ibunya untuk mengizinkannya melihat Elijah.


Perempuan itu akhirnya menuntunnya ke tengah kerumunan bersama Gilang.


Batuknya semakin parah. Denta berjalan terseok-seok ditopang Gilang dan ibunya di kiri-kanan.


Elijah melangkah naik ke puncak podium tanpa melepaskan helm.


Evan dan Innu berdiri di kiri-kanannya sebagai juara dua dan tiga, melirik gadis itu dengan mata terpicing.


Evan tiba-tiba tertegun. Lalu melirik ke arah Elijah dengan terkejut. Tinggi badan Elijah di puncak podium menarik perhatiannya.


Elijah berdiri di podium paling tinggi, tapi tinggi badannya hampir setara dengan Evan dan Innu.


Bagaimanapun Evan tahu seberapa tingginya sosok seorang Denta.


Meski berat badannya menyusut karena sakit, tidak mungkin tinggi badannya juga ikut menyusut, kan?


Devian benar, pikirnya. Dia terlalu kecil!


Ketika seorang pejabat daerah menyerahkan trofi pada Elijah, Evan akhirnya menemukan Denta yang asli.


Di tengah kerumunan para suporter, pria itu menurunkan masker dan mengacungkan tinju ke arah Elijah.


Elijah mengacungkan trofi ke arah pria itu.


Evan menelan ludah dan membeku.


Pejabat daerah tadi menyerahkan trofi kedua pada Evan.


Cowok itu mengerjap dan tersenyum kikuk karena terkejut. Lalu melirik ke arah Elijah. Jadi, siapa orang ini? pikirnya.


Begitu Elijah turun dari panggung, Denta mulai menyerah dan nyaris ambruk.


Gilang terpaksa menggelandangnya ke mobil, diikuti ibunya dengan tergopoh-gopoh.


Beberapa orang memandang mereka dengan terkejut, sementara Elijah terjebak di tengah kerumunan para suporter, tidak dapat melihat ke mana mereka pergi.

__ADS_1


Evan tergagap kebingungan antara ingin mengejar Denta atau mengejar sang juara.


Kondisi Denta kelihatannya cukup gawat, tapi di sisi lain ia harus membongkar kedok sang juara sebelum dia kabur dan menghilang. Evan tak yakin apakah setelah ini ia masih punya kesempatan untuk bertemu lagi.


Kalau tidak sekarang, maka selamanya aku tidak akan tahu! Evan mengambil keputusan.


Orang banyak masih mengerumuni Elijah, sementara para pit crew berusaha membentengi juara mereka dan membimbingnya ke arah pit box.


Dede mengambil alih trofinya untuk meringankan beban Elijah supaya mereka bisa bergerak lebih cepat.


Evan menyerahkan trofinya pada Maha, kemudian menghambur dan menyeruak di tengah kerumunan mengikuti Elijah.


Devian dan Maha spontan terperangah.


Elijah mengedar pandang sedikit gelagapan, menoleh ke sana kemari dengan gelisah. Di mana Denta? pikirnya gusar.


Begitu sampai di pit box, Elijah menghambur ke dalam dan merenggut helm dari kepalanya dan menurunkannya sembari terengah-engah. "Di mana Denta?" tanyanya hampir menangis.


Para pit crew terperangah menatap Elijah.


Elijah memutar tubuhnya dan menghambur lagi keluar sembari menenteng helmnya di satu tangan. Kemudian menyapukan pandangannya ke segala arah, menyisir seluruh tempat di area Paddock. "Dentaaaa…!" jeritnya histeris. "DI MANA DENTA?" Ia meneriaki semua orang yang secara otomatis ditanggapi tatapan terkejut semua pit crew.


Elijah menerjang ke arah Dede dan mengulang pertanyaan yang sama, "Mana Denta?"


Cowok itu juga hanya tergagap menanggapinya.


"Aaaargh!" Elijah mengerang frustrasi dan berlari keluar pit box.


Bersamaan dengan itu, Evan juga sedang berlari ke arah pintu, dan…


BRUK!


Mereka bertabrakan.


Detik berikutnya, keduanya saling menatap dan terperangah. Tatapan mereka bertemu dan terkunci.


Evan membuka mulutnya dan hanya tergagap karena tak berhasil menemukan kata yang tepat untuk memulai interogasinya.


Elijah menelan ludah dan menatap wajah Evan dengan kelopak mata bergetar. Matanya serentak berkaca-kaca. Tersengat keinginan antara ingin menghalau dan menyongsongnya.


Evan mengerjap, kelopak matanya juga bergetar dan matanya juga berkaca-kaca. Ia mendekat perlahan pada Elijah dan memeluk gadis itu tanpa bicara. Menangis dalam diam sembari menyusupkan wajahnya di bahu Elijah.


Elijah meledak dalam tangisnya, tenggelam dalam pelukan Evan dan luluh lantak oleh kelegaan yang memilukan. Helm di tangannya terlepas dan jatuh berderak di dekat kakinya.


Dede dan dua pit crew lainnya spontan menghambur ke arah pintu dengan ekspresi cemas, terkejut mendengar suara berderak tadi, merasa janggal dengan keheningannya yang tiba-tiba, mereka melongok keluar untuk memastikan keadaan Elijah dan memekik tertahan, lalu hanya membeku di ambang pintu.


Evan mengetatkan pelukannya dan menyusupkan wajahnya makin dalam, tidak menyadari situasi di sekitarnya.


Tubuh keduanya bergetar seiring kerinduan mereka yang kian tertumpah.


Dede bertukar pandang dengan kedua pit crew di kiri-kanannya, kemudian berpaling dan memutar tubuhnya membelakangi pasangan itu tanpa suara. Kedua pit crew itu serentak mengikutinya, kembali ke dalam dengan mengendap-endap.

__ADS_1


__ADS_2