Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-20


__ADS_3

Block pass dan brake check merupakan tantangan umum dalam zona trek motocross, adalah hal yang lumrah. Tapi apa jadinya jika itu menimpa seseorang yang baru pertama belajar berkendara?


Block pass adalah istilah yang biasa dipakai ketika ada pembalap yang menyalip secara agresif, bahkan sampai menjatuhkan pembalap di depannya. Sementara brake check menggambarkan trik pembalap yang berusaha menjatuhkan pembalap lain tepat di belakangnya.


Ini adalah perundangan!


Pukulan mental terkeras bagi Elijah.


Sekali lagi, dunia di sekelilingnya kembali berputar dan bergoyang-goyang. Tubuhnya berguncang seiring ban sepeda motornya menggaruk tanah, melindas gundukan, mengais lekukan, dan selama itu pula ban sepeda motornya terus tergelincir.


Badai pasir menyembur ke wajah Elijah ketika seorang pengendara di depannya melakukan stoppie---mengangkat ban belakang setelah melaju dengan kecepatan tinggi, berhenti secara mendadak dan menggaruk tanah di belakangnya, kemudian menyemprotkannya ke arah Elijah.


Kegelapan dan keheningan seketika menyergap Elijah, semburan pasir itu mengenai matanya, menembus rongga hidung dan telinga juga mulutnya. Elijah tersedak hingga tak dapat bernapas. Tiba-tiba ia menyesal tidak memakai helm. Padahal Evan sudah memperingatkannya.


Bersamaan dengan itu, pengendara lain di belakangnya menyeruak cepat dan menyerempetnya.


Konsentrasinya terkecoh, bannya tergelincir ke sisi yang curam dan sepeda motornya terjungkal sementara tubuhnya terpelanting jauh.


"Van—" Martin memekik cemas dan melompat dari sepeda motornya yang terparkir di tepi sirkuit, mencelat keluar parkiran.


Tapi Evan menyergap bahunya dan menahannya.


"Lu gila, ya?" Martin spontan menghardiknya. "Rutted, Van! RUTTED!"


Rutted adalah istilah untuk menggambarkan kondisi trek amat gembur sehingga membuat kendaraan para pembalap terlihat menggaruk-garuk tanah saat melewati trek tersebut.


"Lu gak liat itu goon riding semua?" teriak Martin sembari menunjuk ke arah sirkuit. "Dia masih pemula!"


Goon riding adalah istilah untuk pembalap yang bergaya ugal-ugalan saat mengendarai motor trailnya.


Innu mendesah dan mengetatkan rahangnya, lalu bergegas ke arah sirkuit.


"Lu berani?" geram Evan pada Innu.


Innu langsung terdiam.


Evan mengedar pandang mengamati wajah rekan-rekannya satu per satu. "Siapa lagi yang berani?" tantangnya, lalu berhenti pada Ardian.


Ardian tetap cool down---tidak bercela.


"Tapi dia baru belajar riding, Bang! Bukan racing!" protes Igun. "Lagian dia cuma cewek!"


"Jadi siapa di sini pelatihnya?" tukas Evan.


"Suka-suka lu, dah!" Igun mengerang tak berdaya.

__ADS_1


Yang lain-lainnya serempak membisu.


Elijah berguling di kaki bukit yang landai, merangkak pelan ke arah sepeda motornya, lalu menghela kendaraan itu hingga berdiri seraya mengerling ke tepi sirkuit.


Evan mengawasi gadis itu tanpa ekspresi.


Sialan! rutuk Elijah dalam hati. Ini adalah kelima kalinya dia terjungkal ke jurang, dan cowok berengsek itu tidak sedikit pun mempedulikannya.


Begitu melihat Elijah kembali ke atas sepeda motornya dan mulai berjalan lagi, Evan mendesah pendek dan berbalik, melirik ke arah Innu dan Igun, setengah mendengus setengah menyeringai, lalu berjalan dengan santainya ke warung kopi.


Martin memelototi punggungnya.


"Cowok berengsek," gerutu Innu sembari mendelik pada Evan.


"Bajingan egois!" Igun menimpali.


Ardian Kusuma mendesah sembari mengusap wajahnya. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap Elijah dengan raut wajah prihatin.


Elijah menyisikan sepeda motornya ke tempat parkir, berniat untuk mengenakan helm. Tapi ia terkejut cowok berengsek itu bahkan sudah tidak berada di tepi sirkuit. "Ke mana dia?" tanya Elijah pada Igun.


Igun menunjuk dengan dagunya.


Elijah mengerjap dan menoleh ke arah warung, mendesah pendek dan menstandarkan sepeda motornya, lalu bergegas ke arah warung.


Evan berbaring terlentang di balai bambu di teras warung kopi itu, sementara si gadis pemilik warung duduk menyamping di sisinya sembari tertunduk.


Akrab sekali!


Isi kepala Elijah serasa tersengat. Isi dadanya bergemuruh seperti akan meledak. "Bagus lu, ya…" geram Elijah sembari berkacak pinggang, memelototi Evan dari tepi teras.


Gadis pemilik warung tersentak dan langsung beringsut.


Evan melirik Elijah sembari mendesah berat. "Apa sih, lu? Kan, belum tiga puluh menit…"


"Jadi durasi tiga puluh menit… plus dua lap, itu maksudnya waktu standar racer buat ngelobi?" sindir Elijah.


"Itu memang durasi standar motocross," tukas Evan sembari menarik duduk tubuhnya dengan malas, kemudian menatap Elijah dengan mata terpicing. "Lu nyerah?" ejeknya.


Elijah menelan ludah dan mengetatkan rahangnya, lalu berbalik dan tidak menoleh lagi. Nyerah? pikir Eljah sinis. Enak aja! Udah berjalan sejauh ini. Ia kembali ke parkiran, dan mendekat pada Igun. "Gua boleh pinjem helm lu nggak?" tanyanya pada Igun. Wajahnya tampak mengerikan.


Igun sampai tergagap dan menelan ludah sebelum dapat menjawab, "Pa---pake aja!" katanya terbata-bata, lalu menyodorkan helmnya dengan grogi.


Innu dan Maha bertukar pandang. Martin dan Ardian mengamati gadis itu dengan alis bertautan. Pria syantik sampai tak berkedip.


"Cewek ini punya aura mistis," gumam Igun, setelah Elijah memacu sepeda motornya kembali ke sirkuit.

__ADS_1


Melewati satu putaran…


Gigi dan Bemo memekik tertahan sambil menunjuk ke arah sirkuit.


Semua orang serentak mengikuti arah pandang mereka dan terkesiap.


"EVAAAAAAAAAN…!" Galang menjerit seperti perempuan.


Evan tersentak dan melompat dari tempatnya, kemudian menghambur ke parkiran. Lalu tergagap dan mengedar pandang, meneliti wajah rekan-rekannya satu per satu. Mata semua orang terpaku ke arah sirkuit---tidak ada yang salah, pikirnya. "Apaan sih, lu? Ngagetin aja!" hardiknya sembari menoyor pelipis Galang.


"Siapa yang ngajarin dia block pass?" pekik Innu tanpa mengalihkan pandangannya dari sirkuit.


Evan mengerutkan keningnya dan mengikuti arah pandang teman-temannya.


Rupanya Elijah sedang mengamuk di sirkuit!


Gadis itu menyerampang di tengah-tengah para pembalap pribumi, menyerempet beberapa pengendara, dan… tertawa terbahak-bahak.


Tertawa?


Evan spontan membeku dengan alis bertautan. "Kira-kira doi sakit ape, ye?" gumamnya terguncang.


Cowok berengsek lainnya tidak bereaksi. Semuanya terkesiap dengan mata dan mulut membulat. Di samping itu juga tak mau melangkahi sang pelatih, kan?


"Braapp-braapp! Braapp-braapp!" teriakan-teriakan bersemangat dan gelak tawa para pembalap pribumi di sekitar Elijah membuat Evan melengak.


Braapp-braapp adalah istilah yang digunakan ketika pembalap tengah merasa good mood atau onfire.


Elijah menghilang dari pandangan semua orang yang berdiri di tepi sirkuit, tengelam di balik bukit.


Para pembalap di tepi sirkuit masih bergeming---menunggu. Mencoba memahami apa sebenarnya yang terjadi.


Sejurus kemudian, Elijah kembali ke lintasan di depan mereka dengan diapit dua pembalap pribumi di kiri-kanannya, berderet sejajar dan beriringan. Kedua pembalap pribumi itu menghimpit Elijah sembari membentur-benturkan kendaraan mereka dengan agresif---setidaknya itulah yang terlihat dari tepi sirkuit.


Evan menelan ludah dan menegang, lalu melompat ke atas sepeda motornya, menyalakan mesin dan menghambur ke sirkuit.


"Lah, dia baru inget itu, kalo dia pelatihnya di sini?" Igun berteriak merutuki Evan. "Dari tadi ke mana aja?"


"Ditenung kang kopi gua rasa," timpal Innu sembari mencebik.


Evan melesat ke arah Elijah dari arah berlawanan, kemudian mengerem sepeda motornya secara mendadak, beberapa meter di depan Elijah.


Elijah memekik dan terbelalak.


"Transmisi satu---hop!" Pengendara di sampingnya meneriaki Elijah sembari menjejakkan kakinya di ban belakang kendaraan gadis itu. Sejurus kemudian, ban depan Elijah melejit seperti ingin menerkam sepeda motor Evan.

__ADS_1


Evan memekik tertahan dan terkesiap. Waktu serasa terhenti ketika tunggangan gadis itu melayang di atas kepalanya, sementara dua sepeda motor lainnya menyeruak cepat melewatinya seperti tanpa suara.


SRAAAKK!


__ADS_2