Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Menyerah


__ADS_3

Om Bryan membopong tubuh Zia masuk ke dalam kamar dan membaringkan di ranjang besarnya. Kemudian Om Bryan melepaskan sepatu hak tinggi yang Zia kenakan dan menyelimuti seluruh tubuhnya yang begitu berantakan karena paksaan dari David. Lalu Bryan menyeret kursi untuk dirinya duduk dan menyangga kepalanya


dengan rasa bersalah yang teramat sangat,


Bryan mengusap pipi Zia yang masih menyisakan air matanya.


Hatinya benar-benar merasa sakit melihat keadaan gadis kecil yang selalu ceria mendambakan cinta darinya begitu tersakiti karenanya.


"Maafin Om Sayang." sesal Bryan.


Zia hanya memejamkan mata tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Kemudian Bryan mengusap-usap kepalanya hingga Zia benar-benar tertidur.


Drrrttttttt... Drrrttttttt....


Bryan mengambil ponsel di sakunya namun ternyata bukan ponselnya yang bergetar. Kemudian Bryan membuka tas kecil yang Zia bawa dan mengambil ponselnya.


"Faraz." lirih Bryan yang melihat Nama Faraz tertera di layar ponsel Zia.


Bryan menatap Zia yang sudah tertidur pulas, Sedangkan ponselnya terus saja berdering. Bryan yang merasa bingung, Memutuskan untuk mengetik pesan dengan meniru cara ketikan tangan Zia.

__ADS_1


"Semoga Faraz tidak curiga," batin Bryan.


Faraz yang membaca pesan dari nomor Zia yang mengatakan jika Ia akan menginap di rumah temannya dan tidak bisa mengangkat telfon karena teman di sebelahnya sudah tidur mempercayai begitu saja tanpa mencurigai apa yang sedang menimpa Putri remajanya.


🍃 Pagi Hari 🌻


Zia membuka mata dan melihat Om Bryan yang masih tdur dalam posisi duduk dan menyangga kepala dengan satu tangannya.


Zia terseyum haru karena Om Bryan terus menunggunya sepanjang malam, Apa lagi mengingat saat Om Bryan menolongnya dan memanggilnya dengan sebutan Sayang. Zia merasa cintanya kini memiliki sedikit harapan. Namun seketika senyumnya pudar saat mengingat kata-kata Om Bryan yang mengatakan akan menikah dengan wanita lain.


Zia membuka selimut yang menutupi kakinya.


Om Bryan yang bterusik karena pergerakannya membuka mata dan mengkhawatirkan Zia yang akan turun dari ranjangnya.


Zia hanya mengangguk pelan dan menyingkirkan tangan Om Bryan yang ada di lengannya kemudian turun dari ranjangnya.


Zia meraih sepatunya dan bersiap meninggalkan kamar Om Bryan.


"Tadi malam Papa Faraz terus menelfon, Om telah mengirim pesan dan mengatakan Kamu menginap di rumah teman, Om rasa Papamu tidak curiga."


"Terimakasih, Sekarang bisa antar Zia pulang?"

__ADS_1


"Zia tidak mau sarapan dulu? Atau..."


"Tidak Om." Zia langsung melangkah keluar mendahului Bryan.


Dengan terpaksa Om Bryan mengikuti kemauan Zia dan mengantarnya pulang.


•••


Om Bryan merasa sikap Zia tidak seperti Biasanya, Bahkan sepanjang perjalanan Zia hanya diam, Tanpa bicara sepatah katapun.


"Sampai sini saja Om," ucap Zia yang meminta di turunkan sebelum gang perumahan mewahnya.


Belum sempat Om Bryan bicara, Zia sudah turun dari mobilnya.


"Zia..." Om Bryan turun dari mobil berharap Zia mengatakan sesuatu sebelum Ia pergi. Zia pun menoleh ke belakang dan mendekati Om Bryan.


"Setelah ini, Zia akan fokus belajar untuk kenaikan kelas, Jadi Zia tidak akan menganggu Om lagi, Jika Om akan menikah dalam waktu dekat, Semoga Om bahagia dengan pilihan Om."


Mendengar ucapan itu Om Bryan merasa hatinya begitu sakit, Apa lagi melihat bagaimana cara Zia menyampaikan, Tatapan yang dingin tidak seperti biasanya yang terlihat begitu banyak cinta di matanya.


Om Bryan menatap punggung Zia yang terus melangkah jauh meninggalkannya. Kali ini hatinya terasa begitu berat melepaskan gadis kecil dari sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Seharusnya Aku merasa bahagia, Bukankah ini yang Aku harapan saat menyampaikan pada Zia jika Aku akan menikah dengan Anita, Tapi kenapa hatiku begitu sakit mendengar ucapannya, Kenapa Aku merasa tidak rela jika Zia benar-benar tidak menemui ku lagi?" batin Bryan yang merasa bimbang untuk menentukan pilihan hatinya.


Bersambung...


__ADS_2