Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Kembali Bersemi


__ADS_3

"Kenapa Zia lakukan ini pada Om?" dengan memegang kedua sisi pipi Zia, Bryan menengadahkan wajah Zia ke arahnya dan langsung melu'mat bibirnya.


Dengan rasa kesal, Sedih dan pikiran yang kacau Bryan meluapkan pada lum'atan yang kasar hingga Zia kesulitan bernafas.


"Eumh!" Zia memukul-mukul lengan Bryan agar melepaskannya.


Namun Bryan tak peduli dan terus mengesap bibir Zia dengan gerakan mendorong hingga tubuh Zia terbanting di atas ranjang.


Keduanya terdiam sesaat dan saling memandang satu sama lain.


Zia yang awalnya menolak, Kini tak lagi melawan saat lidah Bryan kembali menerobos masuk ke rongga mulutnya.


Lilitan dan esapan hingga menimbulkan decapan khas mengiringi panasnya ciuman yang semakin lama semakin berga'irah seolah meluapkan kerinduan yang terpendam selama lebih dari satu minggu mereka tak bertemu.


Setelah puas menyesap bibir dan lidah Zia, Bryan menurunkan kecupannya ke tengkuknya.


Seolah mempersilahkan Bryan untuk terus melakukannya, Zia menengadahkan kepalanya hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Mendapat lampu hijau Bryan terseyum dan mengecup setiap inci dengan meninggalkan tanda cinta yang begitu banyak di sana. Kemudian Bryan menangkup wajah Zia dengan menyatukan kening dan hidung mereka.


"I love you Zia, I love you so much." ucap Bryan dengan suara parau.


Zia memejamkan mata dan memegang tangan Om Bryan yang berada di tengkuknya.


Kemudian Bryan kembali melanjutkan aksinya dengan memutar tubuh Zia menjadi di atasnya.


Bryan terseyum penuh arti melihat Zia yang tidak nyaman dengan posisi demikian.


"Zia merasakan sesuatu?" goda Bryan.


Seketika Zia memerah dan mencoba bangkit dari atas tubuh Bryan.


Namun Bryan ikut bangkit dan membuat posisi Zia berada di pangkuan Pria dewasa tersebut dengan kedua kaki melingkar di pinggangnya.


Rok sekolah dengan model memayung sebatas lutut memperlihatkan kedua kaki mulusnya membuat siapapun pasti akan menelan salivanya. Tak terkecuali dengan Bryan yang mulai nakal dengan memegang paha Zia untuk lebih merapatkan tubuhnya.


Zia yang sudah mulai mabuk dengan sentuhan-sentuhan yang Om Bryan berikan, Dengan sendirinya melingkarkan kedua tangannya di leher Om Bryan, Posisi seperti ini sangat memudahkan Bryan mendaratkan bibirnya kemanapun ia suka, Tak terkecuali ke kedua bulatan kenyal yang tersembunyi di balik seragam sekolahnya.

__ADS_1


"Om... Ahh..." lenguh Zia menahan rema'san kuat tangan kekar Om Bryan.


Mendengar lenguhan kekasih kecilnya, Bryan terseyum dan memeluk erat tubuh mungilnya.


Begitupun dengan Zia yang tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya jika sebenarnya ia juga masih sangat mencintai Om Duda yang selalu membuatnya tak berdaya.


"Jangan pernah lagi tinggalin Zia Om," ucapanya sedih.


"Tidak akan Sayang, Tidak akan." Bryan menciumi wajah Zia bertubi-tubi.


Kemudian Zia kembali memeluk Om Bryan yang begitu sangat ia rindukan.


"Maafin Om ya, Om terpaksa melakukan ini, Agar kita bisa bersama selamanya."


Zia mengangguk dan menaikan kepalanya di ceruk leher Om Bryan, Menghirup aroma tubuh Om Bryan yang sudah lama tidak Ia rasakan.


Dengan penuh kasih sayang Bryan membelai rambut Zia yang kini seperti anak kecil memeluk Ayahnya.


"Malam ini tidur di rumah Om ya?"


Zia yang mendengar pertanyaan Bryan langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Om Bryan.


Zia menggelengkan kepalanya dengan sedikit menunduk.


"Kenapa, Takut sama Papa Faraz?"


"Nggak,"


"Lalu?"


"Takut sama Om."


Bryan terseyum menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan nakalnya Bryan mengarahkan tangan Zia memegang miliknya dari luar celananya.


Seketika Zia langsung membulatkan mata sembari menelan salivanya dengan susah payah.


Bryan kembali tertawa lebar melihat ekspresi wajah Zia yang begitu menggemaskan baginya.

__ADS_1


"Mau Om liatin?"


"Iih.. Om apaan sih, Dasar mesum!"


Dengan gemasnya Om Bryan mendekap erat tubuh Zia dan kembali menjatuhkannya ke ranjang.


"Jangan pernah tinggalin Om Zia, Hanya Zia yang mampu membuat Om gila seperti ini."


"Zia tidak pernah meninggalkan Om, Tapi Om yang meninggalkan Zia."


Bryan menangkup wajah Zia dan menengadahkan wajahnya agar menatapnya.


"Om hanya meminta waktu untuk membujuk Bella, Tapi kamu malah jalan dengan Dimas."


"Siapa Dimas?"


"Harusnya Om yang tanya, Siapa Dimas? Saat Om datang ke rumah mu Papa Faraz bilang kalian mau makan siang bersama?"


"Sepertinya itu hanya karangan Papa untuk memberi Om pelajaran," ucap Zia tertawa.


"Zia serius?"


"Beneran Om, Zia sangat mencintai Om, Gak mungkin lah dalam waktu singkat Zia bisa lupain Om dan pacaran dengan pria lain."


Bryan yang mendengarnya merasa sangat lega dan bahagia.


Ternyata kecemburuannya tidak terbukti adanya.


Dengan penuh semangat Bryan kembali menindih tubuh Zia.


"Zia, Kamu membuat Om tidak sabar ingin segera memakan mu." Bryan kembali menciumi Zia bertubi-tubi seolah tak sabar lagi ingin melakukan hal yang lebih lagi.


Bersambung...


📌 Mohon pengertiannya. Menulis tidak semudah membaca.


Dari tiga hari lalu meskipun Author kurang sehat Author paksakan untuk tetap menulis demi kalian, dan akhirnya hari kemarin Author benar-bebar tumbang dan gak bisa pegang hp sama sekali, Mata seolah ingin terus terpejam tanpa bisa di buka, Kepala sakit, Badan pun terasa sakit semua.

__ADS_1


Author berterimakasih sekali kalian menyukai Novel Author, Tapi mohon pengertiannya juga, Kalau Author terkadang sibuk dan tidak selamanya sehat 🙏


__ADS_2