Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Hampir Di Perko'sa


__ADS_3

Seteah perjalanan kurang lebih 2 kilometer, David menghentikan mobilnya dan mencoba menenangkan Zia yang terus menangis.


David mengusap kepalanya dan membuat kepala Zia bersandar di bahunya. Kemudian David mengusap pipinya dan menyeka air matanya.


Tidak ada kata-kata yang terucap dari keduanya.


Hanya tangisan Zia yang tidak berhenti dan belaian lembut dari David.


Namun kelembutan David berubah saat rasa tertariknya pada Zia tidak bisa lagi Ia tahan ketika melihat belahan dada Zia yang terlihat karena kembennya yang sedikit melorot.


Dengan nafsunya yang mulai tidak bisa kuasai, David mengecup kening Zia, Hal ini membuat Zia tersentak dan mengangkat kepalanya dari bahu David.


Zia menjadi canggung meskipun tidak menaruh curiga pada David.


"Zia, Apa Kamu sudah baik-baik saja?" tanya David mencoba membelai wajah Zia.


Dengan halus Zia menurunkan tangan David dari pipinya.


"Kita pulang," ucap Zia yang semakin tidak nyaman dengan sikap David.


"Iya, Tapi ceritakan dulu, Apa yang terjadi?" kini tangan David meraba paha Zia yang memang memperlihatkan setengah pahanya karena dress-nya yang tersibak.


"DAVID, PLAAKKKKK...!!!" refleks Zia menamparnya.


David memegangi pipinya dengan menahan kemarahannya.

__ADS_1


"David, Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud menampar mu," sesal Zia.


David mengeraskan rahangnya dan menangkup wajah Zia untuk menciumnya secara paksa.


"David... Apa yang Kau lakukan, Lepaskan!" berontak Zia menghindari ciu'man David.


"Aku tidak akan melepaskan mu Zia! Sudah cukup Aku menunggu mu selama ini, Tapi Kau malah sibuk mengejar Pria lain dan tidak pernah melihat betapa Aku mencintaimu," ucap David di sela-sela aksinya yang terus berusaha mencium Zia.


"David.. Aargh!!!" seakan sudah hilang kendali, David meremad dada Zia sembari mencium lehernya yang memang hanya itu yang bisa David jangkau karena Zia terus menengadahkan kepalanya untuk menghindari ciu'man nya.


Zia semakin berderai air mata, Karena tidak pernah menyangka David akan melakukan ini padanya padahal selama ini David selalu memperlihatkan sikap manisnya.


Tidak mempedulikan tangisan Zia, David menurunkan jok mobil dan


bertumpu pada kedua lututnya untuk melanjutkan keinginannya yang belum tercapai. Namun baru saja David kembali menangkup wajah Zia dan ingin melu'mat bibir ranumnya, David di kagetkan oleh kaca mobilnya yang pecah menghantam tubuhnya.


Setelah melindungi wajahnya dari pecahan kaca, David melihat Pria yang Zia kejar dengan kayu balok di tangannya.


"Om Bryan..." lirih Zia yang terlihat sudah lemah.


Bryan membuang balok di tangannya, Kemudian membuka pintu mobil dan menyeret kerah belakang David hingga terjungkal ke tanah.


Bryan kembali membuatnya berdiri dengan menarik kerah bajunya.


"Berraninya Kau menyentuh Zia ku, Bhug!!!" satu tonjokan mendarat di hidungnya hingga membuat David kembali terjungkal ke tanah.

__ADS_1


"Jika Kau bukan Anak kecil, Pasti Aku akan menghajar mu lebih dari ini!" tegas Bryan meninggalkan David dan melihat keadaan Zia di dalam mobil.


"Zia Sayang..." dengan perasaan yang seperti tertusuk-tusuk belati, Bryan mengusap air mata Zia yang mengalir deras membasahi pipi hingga ke lehernya.


"Maafkan Om Sayang, Ini semua terjadi karena Om, Tidak seharusnya Om menyakiti mu." Bryan memeluk tubuh Zia yang terlihat masih begitu shock dengan apa yang baru saja Ia alami.


"Bawa Zia pergi Om," lirih Zia.


Bryan menganggukkan kepala dan mengurai pelukannya.


Kemudian membopong tubuh Zia dan membawanya ke taksi yang dari tadi menunggunya.


"Om antar pulang ya," ucap Bryan dengan lembut.


"Nggak Om, Jika Papa tau, Papa akan marah besar."


"Tapi gimana kalau Papa Faraz nyariin?"


"Please Om, Untuk malam ini saja, Zia ingin bersama Om."


Bryan yang tidak tega melihat keadaan Zia menganggukkan kepalanya dan meminta supir mengantar Mereka ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan Bryan mendekap tubuh Zia yang tertidur bersandar di dada sebelah kirinya.


Bryan benar-benar tidak bisa lagi membohongi perasaannya jika sebenarnya Ia juga begitu menginginkan Zia dalam hidupnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2