
Selang satu minggu kemudian Bryan pulang ke rumah bersama salah seorang teman beserta istri dan Anak lelakinya setelah melakukan perundingan terlebih dahulu di rumah mereka. Bryan mempersilahkan mereka duduk dan meminta izin untuk memanggil istrinya untuk memperkenalkan pada Mereka. Namun belum sempat Bryan meninggalkan ruang tamu, Zia sudah nampak menuruni anak tangga.
"Oh itu dia istriku," ucap Bryan antusias.
Para tamu pun beranjak dari duduknya dan menatap ke arah Zia.
"Zia, Perkenalkan ini adalah Tuan Hadi Wijaya, dan ini isteinya Nyonya Farah, Sementara ini..."
"Bimo?" sambung Zia.
"Kamu sudah mengenalnya?" tanya Bryan.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" sambung Tuan Hadi.
"Zia? Kamu Zia adiknya Zayn kan?"
"Ya, Hey bagaimana ini mungkin... Mas?" Zia menatap Bryan mencari jawaban bagaimana Bimo dan keluarganya bisa berada di rumahnya, Padahal saat pernikahan Zayn mereka sempat bertemu dengan Bimo, Tapi tak terlihat Bryan mengenalnya, Namun sekarang Bryan malah mengajaknya ke rumah.
"Kamu merasa bingung?"
Zia mengangguk-anggukkan kepalanya menunggu penjelasan dari Bryan.
"Saat kita bertemu dengan Bimo itu kan hanya sebentar dan lagi rame-ramenya tamu, Jadi Aku tidak begitu memperhatikan dia apa lagi berbincang dengan nya cuma memang Aku merasa tidak asing dengan nya. Nah pada saat tadi Aku ke rumah Tuan Hadi ternyata memang benar Jika Bimo ini putra Tuan Hadi." jelas Bryan.
"Dan Tuan Hadi ini?" tanya Zia lagi.
"Tuan Hadi ini adalah teman lama ku, Yang kebetulan sedang mencarikan jodoh untuk putranya yang baru lulus dari pesantren dan putranya itu tak lain adalah Bimo."
Zia menutup mulutnya dengan jari jemarinya karena begitu terkejutnya. Ia tidak menyangka teman baik Kakaknya akan di jodohkan dengan putri sambungnya.
"Jadi Maksud Mas, Bimo akan di jodohkan dengan Bella?" bisik Zia.
__ADS_1
"Iya, Jika mereka menyukai Bella, Semoga saja." bisik Bryan.
"Dimana putrimu?" tanya Tuan Hadi yang mengagetkan Bryan dan Zia yang tengah berbisik-bisik.
"E... Akan ku panggilkan, Tunggu sebentar." Bryan beranjak pergi memanggil Bella, Sementa Zia beramah-tamah dengan Bimo dan keluarganya.
Tok... Tok... Tok...
"Bella... Ckleekkk..." Bryan langsung membuka pintu perlahan melihat ke dalam. Ia melihat putrinya yang tengah melipat wajahnya sambil memeluk guling memainkan tombol lampu tidurnya.
"Sayang, Bisa kita keluar sebentar?"
"Kemana?" tanya Bella dengan malas.
"Menemui calon suami mu."
"Apa!" Bella langsung bangkit dari tidurnya dan menatap Papahnya tak percaya.
"Ya, Papah serius dan tidak main-main, Jadi sekarang bersiaplah dan pakai pakaian yang sopan, Jika perlu pakai penutup kepala karena calon suami mu keluaran dari pesantren."
"Apa! Pesantren?"
"Ya, Dia akan mendidik mu jauh lebih baik dari Papah, Cepat jangan banyak tanya lagi dan hangan membuat mereka menunggu terlalu lama." Bryan mengambilkan pakaian panjang yang paling di pakai sekali saat momen lebaran.
"Papah ini namanya pemaksaan, Ini bukan jamannya lagi jodoh-jodohan."
"Kamu yang memaksa Papah nelakukan ini, Jika kamu nurut apa yang Papah katakan maka Papah tidak akan melakukan ini."
"Apa yang akan Papah lakukan jika Aku menolak perjodohan ini?" tantang Bella.
Bryan menatap putrinya dengan menahan kekesalan di hatinya. Dengan mengeratkan giginya sekali lagi Bryan memberikan ancamannya pada Bella.
__ADS_1
"Jika kamu menolak perjodohan ini, Maka jangan pernah lagi menganggap ku sebagai Papah mu!"
Bella tercengang mendengarnya, Ia hampir tak percaya jika Papahnya yang selama 19th ini tidak pernah menunjukkan kemarahannya dan selalu mengalah apapun keinginannya kini seolah berubah seratus delapan puluh derajat setelah menikah dengan Zia. Kebencian terhadap Zia pun semakin tumbuh di hatinya tanpa menyadari jika Papahnya melakukan itu karena kesalahannya sendiri.
"Bella, Kamu masih tidak mendengar apa yang Papah katakan?"
Tanpa membantah lagi, Bella turun dari ranjangnya dan mengambil pakaian yang Papahnya berikan kemudian pergi ke mengganti kamar mandi.
Bryan menghelai nafas panjang dan menatap jamar mandi yang tertutup. "Maafkan Papah Sayang, Tapi Papah harus tegas padamu, Papah tidak ingin lagi kamu salah dalam memilih pasangan." batin Bryan.
Ckleekkk...
Bryan menatap Bella yang sudah mengganti pakaiannya. Kemudian Bryan mendekati Bella dan menyuruhnya mengikat rambutnya agar rambutnya tidak keluar dari pasmina nya. Kemudian Bryan menggandeng tangan Bella dan mengajaknya turun kebawah.
"Nah itu Bella," ucap Zia menunjuk Bella yang tengah menuruni anak tangga dengan di gandeng Papahnya.
Kedua orang tua Bimo menatap Bella yang sebelumnya ia lihat hanya melalui foto yang Bryan berikan. Begitupun dengan Bimo yang cukup membuatnya terpesona hingga membuatnya tak berkedip.
"Maaf jika menunggu lama," ucap Bryan.
"Tidak apa-apa, Santai saja." saut Tuan Hadi.
"E... Bella, Beri salam pada mereka."
Dengan menarik sedikit ujung bibirnya Bella menjabat tangan Tuan Hadi dan Nyonya Farah, Kemudian Ia mengulurkan tangan pada Bimo. Namun Bimo melipat kedua tangannya dan hanya melempar senyum padanya. Hal itu membuat Bella kesal dan merasa pria yang akan di jodohkan dengan nya adalah pria sok suci yang tidak mau bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya.
"Jangan tersinggung Nak Bella, Itu yang sudah ia pelajari di pesantren," ucap Nyonya Farah.
"Tidak masalah, Aku juga tidak tertarik dengannya," ucap Bella dengan juteknya hingga membuat orang tercengang.
"Tapi Aku tertarik padamu." saut Bimo yang tidak kalah membuat semua orang tercengang, Termasuk Bella.
__ADS_1
Bersambung...